• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Inovasi dalam Program Deng SIBA “Desa Siaga Bencana” Peduli Difabel

3. Menjalin Kerjasama

Kerjasama adalah sebuah sikap mau melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama tanpa melihat latar belakang orang yang diajak bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Kerjasama atau belajar bersama adalah proses berkelompok dimana anggotaanggotanya mendukung dan saling mengandalkan untuk mencapai suatu hasil mufakat.

Implementasi program desa siaga bencana peduli difabel Kabupaten Bone dilaksanakan berdasarkan proses kerjasama yang dibangun BPBD bersama kelompok peduli difabel dalam menjalankan program-program yang berkaitan dengan pelaksanaan siaga bencana di tingkat desa.

“Sebuah program akan berjalan maksimal jika melalui kerjasama, terkait program desa siaga bencana peduli difabel tentu kita membangun relasi dengan beberapa kelompok seperti pemerintah desa, sektor swasta yang bermukim di desa tersebut, dan utamanya masyarakat sebagai sasaran program. Kerjasama lebih banyak pada upaya pengendalian bencana itu sendiri tentang apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana sebagai pelaksana yang mengurusi masalah kebencanaan tentu kami harus hadir untuk menjawab semua itu. Terkait kaum disabilitas kita membangun komunikasi dengan beberapa stakeholder dan komunitas-komunitas peduli kelompok difabel utamanya dalam menyampaikan pesan kepada mereka tentang tujuan dari kegiatan desa siaga bencana.” (Wawancara dengan AJ Tanggal 09/9/2020)

Hasil wawancara dengan informan dapat dilihat bahwa dalam pelaksanaan program Deng SIBA peduli difabel BPBD Kabupaten Bone melakukan kerjasama dengan kelompok peduli disabilitas dalam penentuan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan siaga bencana.

Kerjasama perlu diadakan dengan kekuatan yang diperkirakan mungkin akan timbul. Kerjasama tersebut dapat didasarkan atas hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing - masing orang untuk mencapai tujuan. Di samping teori berbasis norma, faktor lain yang terkait dengan proses pembentukan kemitraan regional adalah kebutuhan-kebutuhan daerah.

Program Deng SIBA pada dasarnya adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berada di desa dalam mendorong partisipasi pada kegiatan siaga bencana. Salah satunya mengantisipasi kelompok rentan seperti masyarakat disabilitas. Sehingga dalam rangka mewujudkan desa siaga bencana peduli difabel BPBD Kabupaten Bone bermitra dengan organisasi penyandang disabilitas Indonesia

“Desa siaga bencana pada dasarnya memberikan hak yang sama kepada masyarakat dalam konteks pelayanan kebencanaan, namun dalam kegiatan tersebut ada kelompok masyarakat yang masuk kategori rentan seperti kelompok masyarakat disabilitas. Sehingga kita membangun kerjasama dengan persatuan penyandang disabilitas Indonesia (PPDI) kelompok tersebut diakui oleh Negara dengan menjadi kelompok yang formal sehingga fokus kerjasama kami dalam pelayanan terhadap kelompok disabilitas.” (Wawancara dengan MI Tanggal 09/9/2020) Hasil wawancara dengan informan dapat dilihat bahwa program desa siaga bencana peduli difabel pada dasarnya memberikan pelayanan kepada kelompok disabilitas dalam rangka kegiatan siaga bencana. Pelayanan

terhadap kelompok difabel merupakan sebuah keharusan terlebih kaum disabilitas merupakan kelompok rentan pada saat terjadi bencana.

Secara teoritis, kerjasama pada hakekatnya mengindikasikan adanya dua pihak atau lebih yang berinteraksi secara dinamis untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dalam pengertian itu terkandung tiga unsur pokok yang melekat pada suatu kerangka kerjasama, yaitu unsur dua pihak atau lebih, unsur interaksi dan unsur tujuan bersama.

Melibatkan organisasi yang ada pada tingkat desa dalam mendorong berjalannya program Deng SIBA di Kabupaten Bone merupakan salah satu bentuk kerjasama dalam mewujudkan desa saiaga bencana. Keterlibatan kelompok pemuda dalam rangka mewujudkan desa siaga bencana tidak terlepas dari harapan peran sentral pemuda yang dianggap memiliki kondisi fisik yang dapat diandalkan pada saat terjadi bencana.

“Semua kelompok berkepentingan yang ada pada tingkat desa kami rangkul semua, termasuk kelompok pemuda yang tergabung dalam karang taruna. Bagi saya memberdayakan anak muda dalam kegiatan siaga bencana merupakan salah satu strategi guna menyukseskan program ini, karena pemuda masih mempunyai fisik yang prima serta mampu berimprovisasi sendiri tinggal bagaimana mereka dapat diarahkan dengan baik.” (Wawancara dengan AJ Tanggal 11/9/2020) Hasil wawancara dengan informan dapat dilihat bahwa mendorong peran pemuda melalui organisasi karang taruna yang ada pada tingkat desa memberikan kesempatan khususnya bagi pemuda agar terberdayakan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada pelaksanaan kegiatan siaga bencana.

Semenjak era desentralisasi, daerah berupaya melakukan pembangunan di daerahnya masing-masing serta berusaha untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Dalam hal ini salah satu upaya yang dilakukan adalah bekerja sama antara instansi yang memiliki kepentingan dalam proses siaga bencana agar dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Keterlibatan kelompok persatuan penyandang disabilitas Indonesia dalam mewujudkan program Deng SIBA peduli difabel merupakan pembagian wewenang, dimana hadirnya pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Bone yang menjelaskan terkait pelaksanaan siaga bencana dan kelompok penyandang disablitas melalui manajemen khusus dalam memberikan pelayanan terhadap kelompok disabilitas.

“Pemerintah dalam menjalankan program kepeduliaan terhadap disabilitas dalam rangka siaga bencana tentu banyak bekerjasama dengan kami. BPBD melalui pengetahuan kebencanaannya sementara kami pada aspek masyarakat disabilitas. Melalui kolaborasi keduanya tentu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat utamanya bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas jenis tertentu.” (Wawancara dengan AT Tanggal 10/9/2020)

Hasil wawancara dengan informan dapat dilihat bahwa pelaksanaan kerjasama antara BPBD dan PPDI Kabupaten Bone merupakan wujud pengendalian bencana di setiap desa dengan mengedepankan perhatian terhadap kelompok rentan seperti kaum disabilitas.

Pelaksanaan kerjasama hanya dapat tercapai apabila diperoleh manfaat bersama bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Apabila satu pihak dirugikan dalam proses kerjasama, maka kerjasama tidak lagi terpenuhi.

Dalam upaya mencapai keuntungan atau manfaat bersama dari kerjasama, perlu komunikasi yang baik antara semua pihak dan pemahaman sama terhadap tujuan bersama.

Menjalin kerjasama dengan masyarakat dalam rangka mewujudkan program Deng SIBA peduli difabel lebih kepada peningkatan pengetahuan masyarakat terkait kegiatan siaga bencana secara ilmu pengetahuan dengan tetap memperhtaikan unsur kebudayaan lokal serta menghormati adat istiadat yang berkembang di masyarakat.

“Sejauh ini bentuk kerjasama yang banyak dilakukan dalam rangka program desa siaga bencana lebih kepada mengedukasi masyarakat tentang pemahaman masalah kebencanaan. Masyarakat desa masih menggunakan pendekatan lokal dalam rangka menanggulangi bencana seperti, tolak bala, baca-baca atau ritual-ritual lainnya yang secara logika sangat berbeda dengan aksi nyata di masyarakat. Kepala desa saya fikir tetap menghormati tradisi-tradisi leluhur semacam itu namun dengan berkembangnya zaman tentu kita harus memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru utamanya dalam siaga bencana.” (Wawancara dengan RN Tanggal 11/9/2020)

Hasil wawancara dengan informan dapat dilihat bahwa pemerintah daerah lebih menekankan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program Deng SIBA Kabupaten Bone. Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi terkait kegiatan siaga bencana merupakan aspek yang mendukung kerjasama pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan program siaga bencana.

Berdasarkan hasil observasi penulis dilapangan terkait menjalin kerjasama dalam pelaksanaan program Deng SIBA peduli difabel Di Kabupaten Bone dimana BPBD selaku penanggung jawab masalah kebencanaan di daerah dengan mendorong program desa siaga bencana

peduli difabel senantiasa menggandeng persatuan penyandang disabilitas Indonesia dalam mengedukasi masyarakat terkait program siaga bencana dengan memperhatikan kelompok rentan seperti kaum disabilitas. Pemberdayaan kelompok karang taruna juga sebagai bentuk kerjasama dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkompeten di tingkat desa agar mempunyai pengetahuan terkait siaga bencana.

Dokumen terkait