• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 PERAN SANDO DALAM PENJAGA TRADISI KESEHATAN

4.2.2 Menolong Persalinan

a. Belajar Membantu Kelahiran dari Sando Pendahulu

Sando yang merupakan sebutan bagi bidan kampung masih memiliki

peran yang cukup besar dalam sebuah prosesi kelahiran di Sambujan, baik itu dalam menolong persalinan ibu hamil secara langsung, bekerjasama dengan bidan, maupun berupa perawatan ibu melahirkan beserta bayinya pasca proses persalinan. Perawatan ibu melahirkan yang diberikan oleh

Sando biasanya adalah berupa urut selama 3 hari berturut-turut,

memandikan ibu dengan air rebusan 7 daun yang ditiup, mempersiapkan prosesi dipupu atau diasap, dan membuatkan bedak dingin untuk dibalurkan pada ibu. Sedangkan perawatan pada bayi yang diberikan adalah berupa memandikan bayi hingga tali pusat bayi lepas. Sando yang merupakan bidan

kampung ini pun bisa melakukan tiup-tiup, namun hanya pada saat ibu yang

ditanganinya sulit melahirkan dan saat bayi yang dilahirkannya mengalami masalah, seperti pendarahan tali pusat.

Tak ketinggalan, peran Sando yang lain adalah sebagai pemimpin atau sebagai pengatur dalam acara yang berhubungan dengan tradisi ibu hamil dan upacara untuk anak, seperti misalnya saat diadakannya tradisi

mogelut (pegang perut), monggulangan (naik ayun), turun tanah, i kenpi

atau sunat pada perempuan dan terkadang berperan pula pada saat acara

bagunting rambut meskipun untuk tradisi yang terkahir ini biasanya yang

lebih berperan adalah tokoh agama.

Di dusun I Sambujan (Sambujan pulau) sudah pernah terdapat dua

Sando sebelum Sando yang sekarang. Namun, sejak Sando kedua meninggal,

di dusun ini tidak lagi ada Sando hingga kemudian 2 tahun yang lalu tepatnya tahun 2013 Sando yang sekarang pindah ke dusun ini. Menurut keterangan dari Sandoyang sekarang, yaitu Nenek Mt, ia baru mulai membantu persalinan di Sambujan semenjak pindah ke dusun ini.

77

Pada awalnya, Nenek Mt sebenarnya bukanlah Sando. Pada waktu itu, Nenek Mt menolong persalinan seorang ibu hamil untuk pertama kali karena ada pihak keluarga yang datang meminta pertolongan kepadanya untuk membantu persalinan. Karena ada seseorang yang meminta bantuan, dan karena pada waktu itu akses transportasi masih belum baik serta belum ada tenaga kesehatan yang menetap, maka akhirnya Nenek Mt membantu persalinan ibu hamil tersebut. Selanjutnya, ketika ada orang yang meminta bantuan kepadanya untuk membantu persalinan, Nenek Mt akan bersedia membantu, dan hal ini masih dilakukannya hingga sekarang.

Nenek Mt mengaku tidak pernah belajar tentang bagaimana membantu proses persalinan. Kenyataannya, ia pernah tinggal dengan kakaknya di Labuan Lobo, yaitu Nenek Jr (ket: desa lain di Kecamatan Ogodeide). Kakak dari Sando ini, ternyata juga merupakan seorang Sando, begitu pula dengan seorang kakaknya yang lain. Namun, berbeda dengan Nenek Mt, dua orang kakaknya merupakan bidan kampung terlatih yang sudah pernah mendapatkan pelatihan.

b. Tradisi Untuk Ibu Melahirkan

Proses pengeluaran dodomi atau plasenta bayi oleh Sando adalah hanya dengan cara ditunggu saja. Selanjutnya, tali pusat akan dipotong menggunakan gunting oleh Sando. Hal ini berbeda dengan jaman dahulu, menurut Ibu Slk maupun Nenek Jr, Sando desa sebelah, alat yang digunakan untuk memotong tali pusat dari dodomi pada jaman dahulu adalah sembilu, yaitu bambu yang diruncingkan.

Selanjutnya, dodomi yang selesai keluar akan dirawat oleh Sando dengan cara dicuci, kemudian ditaruh di suatu wadah, bisa berupa kaleng atau wadah lain. Wadah berisi dodomi itu kemudian akan ditanam di depan rumah atau di kebun, dan diatasnya akan ditaruh kelapa yang muncul tunasnya. Penaruhan tunas kelapa tersebut berfungsi sebagai penanda bahwa di bawah tanah yang di tempati tunas kelapa tersebut merupakan tempat penanaman dodomi bayi. Tunas kelapa ini biasa dibiarkan tumbuh hingga dewasa, namun tidak terdapat larangan untuk menebangnya. Di atas tunas kelapa tersebut juga diberikan semacam peneduh dan juga sebuah pelita atau semacam lampu minyak. Terdapat pula kepercayaan bahwa

dodomi merupakan kakak dari bayi yang dilahirkan tersebut, karena sebelum

78

c. “Papalomo:” Tiup Memperlancar Proses Kelahiran

Ada kalanya Sando akan dimintai bantuan apabila proses melahirkan dari ibu hamil dirasa sulit. Pak Ks sendiri juga memiliki do’a khusus untuk

ditiupkan pada Ibu yang proses melahirkannya dirasa sulit. Kondisi sulit pada

saat melahirkan ini dalam bahasa Bugis disebut sebagai Papalomo. Tata cara melalukan pengobatan tiup-tiup adalah dengan membaca bacaan yang bersumber dari buku kumpulan bacaan tiup-tiup milik Pak Ks, sebagai berikut: “... runtu kenuku Allah pepalomona lataAllah Lailahaillallah.”

Kemudian perut ibu harus disapu atau diusap oleh Sando, dan usapan tidak bisa dilakukan dengan media air ataupun diminum. Berbeda dengan tiup-tiup untuk memperlancar kelahiran yang sulit, untuk pencegahan terjadinya kesulitan saat melahirkan dapat digunakan obat

kampung berupa air yang sudah ditiup-tiup. Seperti misalnya yang diminum

Ibu Rn saat menjelang melahirkan. Ia mengaku diberikan air minum yang sudah dido’akan oleh orang yang dianggap ‘tahu’, yaitu Neneknya sendiri. Air putih yang sudah ditiup-tiup tersebut kemudian masih diminumnya setelah selesai melahirkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk menghilangkan rasa sakit setelah melahirkan, bersumber dari kumpulan ‘bacaan’ tiup-tiup Pak Ks, ia memiliki bacaan tersendiri, yaitu sebagai berikut: ”...Puntiana raja kuning, raja itam, raja puti.”Bacaan tersebut seperti biasa, dibaca setelah mengucapkan kalimat tobat, syahadat dan basmallah. Kemudian dapat ditiupkan secara langsung, atau melalui media air.

Gambar 4.1 Pohon Daun Balacai Merah Sumber : dokumentasi peneliti

79

d. Pemberian Makanan untuk Ibu Bersalin

Biasanya, ibu yang baru selesai melahirkan diberikan minuman dari bahan madu dan telur ayam kampung oleh Sando ataupun keluarga yang melahirkan. Minuman ini dibuat dengan mencampurkan setengah cangkir madu dan satu butir telur ayam kampung. Campuran bahan tersebut dipercaya dapat memulihkan tenaga ibu yang baru saja melahirkan. Seperti kata Ibu As, sebagai berikut: “...biasa dikasih minum anu juga, madu, dengan telur. Waktu habis melahirkan, baru-baru habis melahirkan begitu.” Sedangkan pada saat bersalin tersebut menurut Nenek Jr, ia terbiasa memberikan anjuran agar ibu tetap diberikan makan, agar ia kuat untuk mengejan.

4.3. SANDO SEBAGAI PERAWAT PASKA KELAHIRAN

Dokumen terkait