• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 POTRET KESEHATAN

3.4 Penyakit-penyakit dalam Masyarakat

3.4.2 Penyakit Menular

a. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai hidung hingga alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura). Salah satu penyebab ISPA adalah faktor risiko polusi udara seperti asap rokok, asap pembakaran di rumah tangga, gas buang sarana transportasi dan industri, kebakaran hutan dan lain-lain. Penyakit ini merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak, serta merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas yaitu sekitar 40%-60% dan rumah sakit sekitar 15%-30% (Kemenkes RI, 2012).

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari profil dinas kesehatan Kabupaten Tolitoli tahun 2013, didapatkan informasi bahwa angka kejadian ISPA di kabupaten ini menempati ranking tertinggi pada daftar 10 penyakit terbanyak, yaitu sejumlah 29.248 kasus. Sedangkan untuk wilayah kecamatan Ogodeide, urutan 10 penyakit terbesar dapat dilihat pada grafik 3.3.

58

Grafik 3.4 Persentase Jumlah 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas Ogodeide Tahun 2013

Sumber: Profil Puskesmas Ogodeide tahun 2013

Dari grafik 3.3 terlihat bahwa kasus ISPA masih menempati urutan teratas pada daftar 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Ogodeide pada tahun 2013. Begitu pula di Desa Sambujan, ranking tertinggi pada 10 penyakit terbanyak masih dipegang oleh angka kejadian ISPA. Berdasarkan data yang diperoleh dari daftar kunjungan berobat di Poskesdes (dusun I) Sambujan diperoleh pula data bahwa sepanjang tahun 2014 didapatkan sejumlah 48 kejadian ISPA, namun jumlah angka kejadian tersebut masih menempati urutan kedua yaitu setelah angka kejadian hipotensi.

Untuk tahun 2015, hingga awal bulan Mei ini didapatkan kejadian ISPA sejumlah 44 kejadian, beda tipis dengan kejadian hipotensi yang menempati urutan kedua dengan jumlah 40 kejadian. Menurut bidan desa, kejadian ISPA di dusun I Sambujan tergolong tinggi dikarenakan kondisi lingkungan berupa udara yang kurang bersih, asap rokok, dan asap hasil pembakaran. Seperti yang dikatakan oleh bidan desa, sebagai berikut:

“...ISPA, kan ya... menghirup udara-udara yang kotor apa segala macam itu, tinggal... asap rokok, a ini kan. Sembarang asap obat nyamuk, bakar-bakar di desa... he-ehm, kayu bakar apa itu kan... Masih lumayan (banyak) ISPA. Masih ada ISPA...” Hal ini juga sesuai dengan hasil observasi tim peneliti yang menemukan bahwa kebersihan di sekitar rumah kurang terjaga, banyak warga yang menggunakan tungku berbahan bakar kayu untuk memasak

0 20 40 60 80 100

59

tanpa saluran udara yang memadai, penggunaan obat nyamuk bakar, dan juga banyaknya lelaki yang merokok, termasuk pada saat di dalam rumah bersama anak-anaknya.

Berdasarkan kacamata beberapa informan sendiri, penyakit ISPA cenderung merujuk pada baingus atau pilek dan batuk serta demam. Penyakit ini merupakan penyakit yang dianggap biasa bagi mereka, dan menurut masyarakat disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu. Pengobatan yang diberikan saat terserang ISPA adalah pengobatan sendiri dengan membeli obat di warung, seperti mixagriph dan paramex. Hal ini sesuai dengan yang diucapkan oleh ibu Sg, “... sering (terkena batuk dan

pilek). Penyakit, jahatnya itu penyakit hari-hari. Kalau macam cuaca tidak bagus begini, sedikit... panas, sedikit ada hujan. Iya... (penyebabnya itu).”

b. Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Gejala pada balita ditandai dengan batuk atau kesukaran bernapas seperti cepat napas, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK), atau gambaran radiologi foto thorax/dada yang menunjukkan infiltrat paru akut. Penyakit ini merupakan pembunuh utama pada balita di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan gabungan penyakit AIDS, malaria dan campak (Kemenkes RI, 2012).

Berdasarkan data dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tolitoli didapatkan informasi bahwa jumlah kasus pneumonia masih masuk dalam daftar 10 penyakit terbanyak pada instalansi rawat jalan dan rawat inap RSU Mokopido (RSU Kabupaten Tolitoli), namun tidak terdapat dalam daftar 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Kabupaten Tolitoli. Untuk wilayah Puskesmas Ogodeide, berdasarkan profil Puskesmas Ogodeide tahun 2013 didapatkan informasi bahwa meskipun kasus ISPA banyak, namun hanya ditemukan 1 kasus pneumonia.

60

Gambar 3.6 Bayi yang terkena Pneumonia Sumber : dokumentasi peneliti

Di Desa Sambujan sendiri, terdapat 1 kasus pneumonia yang ditemukan pada seorang bayi berusia 4 bulan. Namun, bayi tersebut sebenarnya berasal dari luar Sambujan, yang kemudian diasuh oleh salah satu keluarga yang tidak memiliki anak. Berdasarkan keterangan informan, Ibu Mr, didapatkan informasi bahwa bayi tersebut adalah bayi kembar yang orangtuanya sudah meninggal. Salah seorang bayi kembar tersebut kemudian diambil oleh Ibu Mr, yang merupakan saudara dari orangtua bayi, untuk dirawat.

Bayi tersebut tampak terdeteksi memiliki gejala pneumonia pada saat posyandu yang diadakan tanggal 4 Mei 2015. Meskipun belum diperiksa lebih lanjut di laboratorium, namun cara bernafasnya sudah terlihat susah dengan kondisi mulut terbuka dan dada masuk ke dalam (seperti berlubang). Namun, meski terlihat bahwa pernapasan bayi sudah berat dan terlihat seperti berlubang ketika bernafas, orangtua asuh bayi enggan untuk membawanya ke rumah sakit dikarenakan biaya. Bayi ini kemudian hanya dicarikan pengobatan dengan tiup-tiup.

61

c. Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu jenis penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kuman TB, yaitu Mycobacterium Tuberculosis (Kemenkes RI, 2011). Salah satu kunci keberhasilan dari pengobatan TB adalah kepatuhan dari penderita

(adherence), oleh karena itu perlu peran aktif dari tenaga kesehatan maupun

keluarga sehingga keberhasilan terapinya dapat dicapai. Salah satu strategi yang dianjurkan untuk menanggulangi TB pada saat ini adalah strategi DOTS, yang mana salah satu komponennya adalah pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) (Depkes RI, 2015).

Berdasarkan data yang diperoleh dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tolitoli, didapatkan informasi bahwa CNR (case notification rate) BTA+TB Paru pada tahun 2013 mencapai 167.32 kasus, sementara CNR seluruh kasus TB Paru Kabupaten Tolitoli mencapai 189.39 kasus. CNR adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien TB semua tipe yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk pada saat periode tertentu di suatu wilayah tertentu (Dinkes Kabupaten Tolitoli, 2013).

Sedangkan di wilayah Puskesmas Ogodeide, kasus TB Paru pada tahun 2013 dapat dilihat pada grafik 3.4 berikut.

Grafik 3.5. Jumlah Penderita TB Paru Wilayah Kerja Puskesmas Ogodeide Tahun 2013

Klinis 92 Suspek 8

62

Berdasarkan data dari profil puskesmas diperoleh informasi bahwa selama tahun 2013 terdapat 8 kasus positif TB dari sejumlah 92 kasus yang diperiksa di laboratorium. Untuk desa Sambujan wilayah dusun I, terdapat 1 orang yang diketahui suspek TB sejak kurang lebih 4 tahun lalu.

Penderita bernama Hm, berusia 28 tahun. Pada saat observasi, penderita TB Paru beristirahat di kamarnya. Menurut masyarakat sekitar Hm, penyakit tersebut menyerang Hm dikarenakan keturunan, yaitu dari ayah Hm yang sedang berada di Tarakan. Selain itu, Hm juga dulunya sering kerja malam sehingga menyebabkan long, mengkonsumsi obat-obatan, minum-minuman dan kurang tidur. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Sg, sebagai berikut:

“Tapi kalau ini anu, anaknya ini memang pengaruh minuman. Umur belum sesuai to, sudah minum dia. Akhirnya itu paru-paru di dalam itu hangus. Bawah umur masih usia anak-anak sekali. Itu minum-minuman itu, eh, panas itu kalau macam ter-anu itu, cap tikus itu. A mak, bukan gampang itu.”

Berdasarkan informasi dari bidan desa, Hm sempat meminum obat TB, namun tidak dituntaskan. Saat ia merasa dirinya sehat, ia berhenti meminum obat dan kembali bekerja. Menurut Pak Sg, salah seorang keluarga Hm, Hm tidak dibawa berobat lebih lanjut dikarenakan alasan ekonomi yang kurang. Selanjutnya, saat penyakitnya kambuh, ia hanya mengkonsumsi obat dari Tiens dan Paramex. Saat dirasa obat tersebut tidak mempan, ibunya meminta bidan desa agar dibawakan obat TB untuknya. Namun sebelum obat datang, keluarga Hm akhirnya memutuskan untuk membawa Hm ke rumah sakit di kota karena dirasa sudah semakin parah. Sayangnya, pasien meninggal setelah meminta untuk keluar dari rumah sakit di hari yang sama.

Dahulu, menurut informasi yang diperoleh dari tenaga kesehatan maupun salah seorang masyarakat setempat, di Desa Sambujan sempat terjadi wabah TB. Hal ini sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh informan, Pak Sn, salah seorang guru di SDN I Sambujan, sebagai berikut:

“...dulu ada banyak penyakit TB, sebelum ada tenaga kesehatan. Yang kena TB pasti mati, belum ada yang selamat...”

63

Dahulu, menurut keterangan salah seorang warga, penyakit ini disebut juga dengan penyakit long oleh warga. Menurut Pak Sn, kemungkinan penyakit long ini dikarenakan pekerjaan warga yang mengharuskan mereka turun ke laut ketika malam hari. Pada saat itu, kunjungan oleh tenaga kesehatan masih jarang atau masih belum rutin dilakukan, minimal tiga bulan sekali. Penyakit ini akhirnya diketahui sebagai penyakit TB saat ada salah satu warga yang memeriksakan diri ke kota. Sejak saat itu, akhirnya warga mengenal penyakit long ini sebagai penyakit TB. Angka TB yang tinggi kemudian dapat dikendalikan, bahkan sudah hampir tidak ada di Sambujan. Salah satunya adalah karena sudah ditangani oleh Tim P2TB Puskesmas Ogodeide.

Menurut persepsi masyarakat sendiri, long dipersepsikan sebagai penyakit yang diakibatkan oleh kebiasaan mandi malam atau kedinginan. Darisanalah kemudian muncul larangan untuk mandi malam agar tidak terkena long. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Wdh, sebagai berikut:

“... itu kan, kalau orang bilang long itu kan, kalau saya dengar orang-orang di sini kan, jangan sering mandi malam itu, dingin, bisa keluar darah di hidung. Itu namanya penyakit long. Kalau datang penyakitnya... tidak bisa kerja berat betul.. biasa orang bilang kan, jangan sekali-sekali mandi malam, nak. Kena long kau itu.”

Menurut Pak Sg dan Bu Sg, penyakit long dan TB merupakan penyakit yang serupa, tapi tak sama. Kedua penyakit itu adalah penyakit yang bersaudara. Penyakit long disebabkan oleh hawa dingin. Salah satu sebabnya, ketika melaut di malam hari, nelayan membuka baju karena merasa panas, sehingga dingin tanpa terasa merasuk.

Perbedaan antara TB dan long menurut keduanya lagi, adalah bahwa penyakit TB bisa menyerang perempuan maupun laki-laki, sedangkan long kebanyakan menyerang kaum lelaki saja dikarenakan kaum lelaki sering turun ke laut di malam hari dan perempuan lebih banyak di rumah. Disebutkan pula bahwa ciri-ciri TB adalah batuk terus menerus, sesak nafas atau bahosa, kurus, dan ada yang muntah darah dan adapula yang tidak. Sedangkan untuk pengobatan baik long maupun TB adalah melalui pengobatan dokter.

64

e. Sarampah (Campak)dan Puru Api (Cacar)

Secara umum terdapat bias pada penamaan antara campak dan cacar oleh masyarakat Sambujan, sebab, masyarakat setempat tidak familiar dengan sebutan campak. Baik campak maupun cacar dianggap sebagai jenis cacar dengan sebutan yang berbeda, yaitu sarampah untuk jenis cacar yang bercaknya bisa menghilang (masuk ke dalam tubuh), dan puru api sebagai cacar yang gelembungnya mengandung nanah. Namun demikian, berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan, dapat diketahui bahwa sebutan

sarampah diperuntukkan bagi campak, sedangkan puru api diperuntukkan

bagi cacar.

Campak adalah meruapakan penyakit yang ditandai dengan adanya ruam kulit (skin rash) yang sifatnya maculo-papular dengan demam, disertai

conjungtivitis dan/atau batuk-pilek (Kemenkes RI, 2011). Campak atau yang

disebut dengan sarampah merupakan salah satu penyakit langganan yang hampir setiap tahunnya masih ditemukan di Kabupaten Tolitoli. Menurut data sekunder yang diperoleh dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tolitoli, diperoleh informasi bahwa hingga akhir tahun 2013 terdapat sejumlah 48 kasus campak, turun sebesar 43 kasus jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2012. Wilayah puskesmas yang menjadi wilayah dengan jumlah kasus campak tertinggi di tahun 2013 adalah wilayah Puskesmas Kota, yaitu sebanyak 20 kasus. Sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Ogodeide sendiri hanya terdapat 2 kasus (Dinkes Kabupaten Tolitoli, 2012).

Namun, menurut keterangan dari tenaga kesehatan, Pak Rn, di Desa Sambujan, khususnya di Sambujan Pulau, sempat pernah terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) campak. Hal yang sama juga disampaikan oleh informan lain, Pak Sn, yang merupakan salah satu guru di SDN Sambujan I. Menurut Pak Sa, pada jaman dahulu cara pengobatan untuk penyakit ini adalah dengan menggunakan sagu yang dibalutkan di badan, ditaburi dengan bedak, atau dengan meminum air kelapa. Menurutnya, mungkin pembalutan badan dengan sagu, penaburan bedak atau meminum air kelapa dipercaya dapat mempercepat kesembuhan oleh orang dahulu. Menurutnya, pada saat itu, ada banyak korban cacar, bahkan hingga meninggal.

Kejadian KLB campak ini menurut Pak Rn, selaku tenaga perawat di desa, terjadi karena banyak orang yang tidak mendapat imunisasi campak,

65

sehingga ketika ada penderita campak dari luar yang masuk ke desa, warga langsung tertular. Sedangkan korban bisa sampai meninggal dikarenakan pada waktu itu petugas baru datang ke pulau minimal 3 bulan sekali.

Menurut keterangan warga lain, Ibu Sg, ciri-ciri cacar, adalah demam tinggi, kemudian muncul bercak-bercak merah. Menurutnya, cacar sendiri diklasifikasikan ke dalam dua jenis, yaitu sarampah dan puru api. Sarampah adalah cacar berupa bercak-bercak merah di seluruh tubuh, sedangkan puru

api adalah cacar yang bernanah dengan besar seperti biji jagung.

“..he.. ciri-ciri cacar.. demam tinggi dulu, panas. Panas tinggi, kemudian keluar bercak-bercak merah di badan. Iya, cacar... satu badan itu bu. Itu bu, sarampah tu. Ya.. orang di sini... A... kalau itu yang sudah, keluar-keluar nanah itu Cuma kaya anu biji-biji jagung sudah, itu, orang bilang di sini puru api.. ndak tau saya (klasifikasi cacar), mungkin semua sebutannya saja, cacar. Kalau cacar air, dia berair...”

Menurut masyarakat desa setempat, penderta cacar ini memiliki pantangan. Pertama, tidak boleh terkena angin. Bila terkena, bercak-bercak itu dipercaya masuk ke dalam kulit dan bisa menyebabkan kematian. Kedua, tidak boleh makan rica atau cabai. Rica dianggap rica bersifat panas, sehingga luka bisa terasa sakit. Ketiga, tidak boleh makan gula merah. Bila mengkonsumsi rasa sakitnya menjadi mamucu, yaitu terasa ada yang tiba-tiba menggigit dan menyebabkan kesakitan. Pengobatan, menurut keterangan Ibu Sg lagi, adalah dengan bantuan dukun kampung melalui

tiup-tiup. Seperti yang diungkapkannya sebagai berikut:

“Kalau pengobatan kita di sini, kalau kakek itu yang disana.. suaminya nenek, hh.. kalau-kalau bisa tidak mau keluar atau sudah habis keluar baru bilang dia tiupkan air kelapa. baru dia suruh minum. keluar ulang, muncul ulang nanti di permukaan. eh.. baru pantangannya itu banyak, dia bilang, jangan makan rica dulu, jangan makan gula merah. ndak tau apa semua, dia punya pantangan itu sebelum sembuh.”

66

3.4.3. PENYAKIT TIDAK MENULAR

Dokumen terkait