BAB 3 POTRET KESEHATAN
3.1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
BAB 3
POTRET KESEHATAN
3.1 PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)
3.1.1. Persalinan ditolong oleh Tenaga KesehatanBila mencermati data Puskesmas Ogodeide (2013, lihat Grafik 3.1.), maka sebagian besar dibantu tenaga kesehatan, hanya sekitar 17,65% persalinan masih dibantu oleh Dukun. Dari sejumlah pengamatan di lapangan, dua pola persalinan merupakan dua kutub yang berlawanan. Ada pola ketiga yang selalu dicatat sebagai persalinan dengan tenaga kesehatan, yaitu persalinan kombinasi antara Sandodan tenaga kesehatan.
Grafik 3.1
persalinan wilayah kerja Puskesmas Ogodeide Tahun 2013 Sumber: Profil Puskesmas Ogodeide 2013
Pola kombinasi ini hanya terjadi bila Sando merupakan bidan kampung yang terlatih dan mau diajak bermitra. Sando yang tidak pernah terlatih tidak bersedia bekerja sama. Hal itu yang diutarakan oleh salah satu bidan desa di Puskesmas Ogodeide:
“Kalau soal kerjasamanya sih dengan dukun itu, saya selama bertugas di sana, kurang lebih satu tahun. Saya belum pernah kerjasama dengan Sando di sana.Awalnya sih kan saya datangi si
Persalinan ditolong Nakes Ditolong dukun 204 168 36
40
Sando, saya dekati. Saya bilang saya yang bertugas di sini. Ya,
maksudnya dia welcome. Tapi pada saat nanti ada yang melahirkan begitu, Sando menghindar dari saya. Bila ibu hamil sudah merasa sakit-sakit, suaminya panggil Sando. Ndak panggil lagi saya. Sando juga ndak suruh panggil saya. Dia ndak mau....”
Selain itu, meskipun terdapat sebuah Poskesdes, pertolongan persalinan masih banyak dilakukan di rumah. Para ibu merasa nyaman melahirkan di rumah.
“... iya, kan itu istilahnya tidak tahan itu dari melahirkan, mau bapindah-pindah rumah... Kan kalau di rumah to, ndak kesana kemari lagi. Kalau di sana to, datang saja, pulang lagi ke rumah... (tertawa) jadi... lebih baik anu... panggil bidan ke rumah... kayak orang di kota juga begitu kebanyakan....”
3.1.2. Memberi ASI Ekslusif
Menurut Prasetyawati (2012), cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan. Ibu bisa meneruskan menyusui hingga anak berusia 24 bulan dengan memberikan makanan tambahan pendamping ASI. Tradisi menyusui ini juga dilakukan pada ibu-ibu Tolitoli. Mereka mengaku menyusui hingga anak berusia 2 tahun (24 bulan). Kenyataannya, ibu-ibu jarang memberikan ASI ekslusif. Alasannya, air susu tidak keluar pada waktu bayi lahir. Untuk mengganti ASI, ibu memberikan air kopi atau susu formula. Pemberian air kopi akan di-hentikan dan diganti dengan ASI.
Menarik untuk dicatat adalah pemberian air kopi pengganti ASI. Di masyarakat Tolitoli, ada keyakinan bahwa mencegah terjadinya mata tinggi pada bayi. Seperti yang diungkap oleh Ibu As, “... di sini, biasa kalau... kopi cair,
tidak mata tinggi tu anak-anak, tidak kejang-kejang begitu, tidak mau dia..”
Sebagian dari mereka juga mengetahui bahwa air susu pertama mengandung colostrum. Colostrum baik untuk bayi. Namun demikian, ada pula ibu yang membuang air susu pertama harus dibuang dahulu sebelum diberikan kepada bayinya. Hal itu dianggap syarat ketika menyusui, seperti yang dikatakan oleh Nenek K, “...Kalau tetek (menyusui) pertama itu, buang dulu. Kalau tetek
41
Pemberian makanan tambahan bagi bayi sebelum usia 6 bulan juga kerap kali diberikan, meski hanya sedikit. Alasannya adalah sebagai pengganti ASI karena ibu tidak bisa meneteki. Hal itu dilakukan bila ibu bekerja, seperti dilakukan Ibu As, “..separuh ada yang dikasih makan 4bulan, 5 bulan. Tapi sedikit saja untuk membantu air tetek kalau kita kerja itu..” Hal itu diamini oleh ibu Ch, “...kalau Rr (anak Ibu Ch), biasa kalau kerja itu saya berikan susu formula..”
3.1.3. Menimbang Bayi dan Balita
Menimbang bayi dan balita dilakukan sebagai suatu langkah untuk mengetahui status gizi. Dari status gizi, kader posyandu dan tenaga kesehatan menyarankan apa yang harus dilakukan oleh orangtua. Kenyataannya tidak semua ibu sadar untuk menimbang bayi dan balita. Oleh karena itu, strategi yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Ogodeide dan kader posyandu, termasuk di Desa Sambujan adalah men-“jemput
bola.”Sekali dalam satu bulan, para kader di Desa Sambujan mendatangi
keluarga yang memiliki bayi dan balita. Atas seijin kedua orangtua, bayi dan balita dibawa dan ditimbang. Hasilnya, 75,43% bayi ditimbang (lihat grafik 1), sisanya tidak ditimbang dengan berbagai alasan.
Grafik 3.2
Status Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Ogodeide Tahun 2013 Sumber: Profil Puskesmas Ogodeide Tahun 2013
Cukup membanggakan bagi masyarakat Ogodeide, termasuk Desa Sambujan, sebagian besar bayi dan balita berstatus gizi baik. Hal itu terbukti
42
dengan kenaikan berat badan bayi. Namun demikian, 16 bayi/balita perlu mendapat perhatian, dan khususnya 2 (dua) bayi mengalami gizi buruk. Pemberian makanan tambahan dari puskesesmas telah diberikan untuk menangani masalah ini.
3.1.4. Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu perilaku hidup bersih dan sehat. Tindakan ini efektif untuk mencegah penyakit diare dan ISPA. Kedua penyakit ini penyebab utama kematian anak-anak (Pusdatin Kemenkes, 2014).Berdasarkan hasil pengamatan, anak-anak seringkali tidak mencuci tangannya saat akan memakan sesuatu. Hal ini terlihat pada saat mereka memakan makanan ringan atau jajanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, padahal baru saja bermain kelereng atau permainan lainnya. Permainan-permaian ini tidak jarang mengharuskan mereka kontak dengan tanah.
Menurut beberapa anak saat diwawancarai secara bersamaan, cuci tangan dengan bersabun dilakukan ketika akan makan atau setelah aktivitas BAB. Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan harus dilakukan agar tangan tidak berkuman dan tidak kotor. Seperti yang dikatakan oleh Rt, sebagai berikut, “... mau makan, babikin kue.. dicuci tangannya pakai sabun.. Supaya
ndak berkuman. Iya.. supaya juga tidak kotor..”Mereka juga mengaku
kadang-kadang tidak melakukannya. Mencuci tangan hanya pada saat mau makan saja.
“ ...kadang iya, kadang tidak.. tapi kalau mau makan tetap basabun, bacuci tangan...”Ketika ditanya alasan tidak mencuci tangan, Ra mengaku sudah
kebiasaan dan juga lupa. “.. enggak, ya begitu sudah.., biasa kalau lupa tidak
(mencuci tangan dengan sabun)...”
3.1.5. Melakukan Aktivitas Fisik Setiap Hari
Sebagian besar warga Desa Sambujan, termasuk orang Toli-toli, bermata pencaharian nelayan, dan berganti menjadi petani cengkeh saat musim panen cengkeh tiba. Di kedua pekerjaan itu, peran laki-laki sangat tinggi. Pekerjaan memanen cengkeh memiliki porsi aktivitas fisik cukup besar karena harus pergi ke kebun, memanjat, memikul dan seterusnya dalam waktu tertentu. Sementara itu, kaum perempuan lebih pada tugas domestik, mulai membersihkan rumah, memasak, hingga merawat anak. Secara sini, Pak Wdh mengatakan:
43
“... perempuan cuma keluyuran ke sana kemari, mana kamu lihat. Tidak bekerja karena mata pencaharian untuk perempuan tidak ada, to. Pagi-pagi ibu memasak, tunggu suami pulang dari kebun, layani suami.”Namun demikian, kegiatan tersebut akan berubah ketika musim panen cengkeh tiba. Biasanya, para ibu akan berperan sebagai pencudik cengkeh dan juga penjemur cengkeh saat musim panen cengkeh tiba. Mereka juga masih harus bertanggungjawab mengurus rumah.
3.1.6. Perilaku Tidak Merokok di Dalam Rumah
Perilaku sehat berikutnya adalah perilaku tidak merokok. Merokok disinyalir berakibat pada berbagai penyakit. Harapan yang besar adalah berhenti merokok, atau setidak-tidaknya tidak merokok di dalam rumah. Tujuannya adalah mengurangi resiko pada anggota keluarga sebagai perokok pasif di satu pihak. Di pihak lain, perilaku itu tidak tersossialisasi pada anak-anak` Berdasarkan hasil pengamatan, hampir seluruh laki-laki yang ada di Sambujan adalah perokok. Kegiatan merokok tersebut pun tak jarang dilakukan di dalam rumah dan ketika sedang bersama anak istrinya.
Menurut Pak Wdh, kebiasaan merokok dipengaruhi oleh pekerjaan. Pekerjaan warga sebagai nelayan menuntut untuk pergi ke laut pada malam hari. Untuk mengatasi kebosanan selama menunggu ikan dan sekaligus dan juga untuk menghangatkan badan, mereka merokok. Hal itu dibenarkan oleh Pak As. Pak As sudah mulai merokok sejak sekitar umur 15 tahun pada saat mulai bekerja. Alasannya, “..kepengen mencoba begitu, sampai sekarang
kalau udah ada rokok diisap itu... ah... rasa...aih..” Sehari, Pak As bisa
menghabiskan 2 pak rokok. Ia juga pernah mencoba berhenti. Dua bulan lamanya tidak merokok, tetapi tidak berhasil.“Ada 2 bulan saya berhenti
merokok.. tidak juga (tidak stress). Cuma itu, mulut itu bakunyah-kunyah (makan) terus. Saya pikir, mi, ah lebih besar ongkosku tidak merokok saya ni. Daripada saya, anu.. dengan merokok.”
3.1.7. Makan Buah dan Sayur Setiap Hari
Menurut Soekirman (2010), setiap manusia membutuhkan asupan gizi seimbang untuk perkembangan tubuhnya. Hal itu dikenal dalam slogan
44
4 sehat, 5 sempurna sejak tahun 1955 (Depkes, 2014). Kenyataannya, di
Kec. Ogodeide tidak ada kasus gizi buruk. Ada beberapa sebab. Pertama, tidak ada perbedaan pola makan antara orang dewasa dan anak-anak. Makanan yang dikonsumsi adalah nasi dengan lauk ikan. Untuk sayur, mereka hanya mengkonsumsi saat ada pedagang sayur yang datang dari kota, begitu pula dengan buah. Salah seorang anak yang sempat diwawancarai mengaku bahwa tidak makan buah selama berbulan-bulan pun sudah biasa. “...Jarang, jarang makan buah kami. kalau pergi Palu
lagi, aa.. makan strawberry lagi (tertawa)...”
3.1.8. Menggunakan Air Bersih
Wilayah dusun I Sambujan adalah sebuah pulau kecil yang sulit untuk mendapat air bersih. Kebutuhan ini sulit dipenuhi dari menggali sumur. Dahulu, masyarakat pernah menggali sumur dan berhasil mendapatkan air bersih. Hal itu tidak bertahan lama karena sumur tersebut terkubur oleh longsoran bukit. Sebagai solusinya, kini penduduk mengambil air dari pulau utama, atau dari pulau di sebelah, yaitu Desa Pulias. Selain itu, kurang lebih sepuluh tahun terakhir, air bersih dari sebuah koala (sungai) di pulau utama dialirkan pada pipa-pipa yang dibangun dengan dana pemerintah.
Ketika musim kemarau, sumur-sumur baik di dusun I maupun dusun II, mengalam kekeringan. Kesulitan terbesar pada Dusun Sambujan Pulau karena karena ada kerusakan di jalur perpipaan yang mengalirkan dari sumber air di atas bukit ke bak penampung.Satu-satunya cara adalah mendapat air bersih di Desa Pulias. Masyarakat harus menggunakan perahu kelotok yang diisi dengan drum dan jirigen. Drum dan jrigen tersebut diisi dari air sumur Desa Pulias. Air itu digunakan kebutuhan masak dan air minum selama beberapa hari.Mereka merebus air tersebut untuk diminum. Untuk mencuci dan mandi, masyarakat mengambil air di sumber yang tidak terlalu jauh, yaitu di daerah Lok Nongi. Di sumber itu, airnya tidak begitu banyak dan sedikit berbau.
3.1.9. Menggunakan Jamban Sehat
Jamban menjadi perhatian yang penting dalam PHBS. Jamban merupakan pembuangan kotoran manusia. Pembuangan kotoran yang
45
sembarang menjadi media pembiakan bakteri, atau kuman penyakit. Pada gilirannya, melalui udara atau vektor lain, penyakit terpapar pada makanan dan minuman. Kedua hal ini dikonsumsi oleh manusia. Akibatnya, terjadi penyakat di mana-mana. Hal seperti ini yang dipikirkan oleh masyarakat Sambujan takkala membangun jamban di lingkungannya. Hampir seluruh rumah di Sambujan memiliki jamban. Jambannya berbentuk jambanceplungtanpa kloset leher angsa seperti pada gambar
Gambar 3.1. Jamban ceplung milik salah satu masyarakat Sambujan Sumber : dokumentasi peneliti
3.1.10 Memberantas Jentik Nyamuk
Memberantas jentik nyamuk adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya wabah penyakit demam berdarah, atau penyakit semacamnya yang dibawa oleh vektor nyamuk. Melalui pengamatan selama di lapangan, program pemberantasan jentik nyamuk bertepatan tidak dilakukan. Hal ini dapat dipahami, seperti ibu mantik misalnya, belum ada tugas khusus yang diberikan oleh kader tertentu. Sebab, penggunaan bak penampungan air memang jarang sekali terisi air terisi terus-terusan, seringkali air sudah habis terlebih dahulu dikarenakan adanya kerusakan pipa air seperti tersebut pada pembahasan sebelumnya.
46
Sedangkan untuk sampah, biasanya langsung dibuang ke laut atau dibakar. Dan memang, berdasarkan data, kasus penyakit yang disebabkan oleh nyamuk jarang terjadi.