BAB 4 PERAN SANDO DALAM PENJAGA TRADISI KESEHATAN
4.8 Peran Sando dalam tradisi lainnya
4.8.2 Tradisi Adat Solok
Sambujan Pulau didiami oleh banyak suku pendatang, dan bahkan hanya sedikit suku asli Tolitoli-nya. Salah satu suku yang mendiami Sambujan adalah Suku Solok. Bagi Suku Solok, ada satu lagi adat yang biasa dibuat apabila ibu mengalami kesulitan saat melahirkan atau apabila anak mendapatkan penyakit yang tidak kunjung sembuh, yaitu biasa disebut sebagai adat solok. Adat ini akan dilakukan bagi yang memiliki keturunan Solok saja. Namun, karena tali pernikahan antar suku bebas dilakukan, pada akhirnya adat ini akan dilakukan pula oleh anak cucu suku Tolitoli maupun suku lain yang memiliki darah campuran Solok, meskipun hanya sedikit.
Salah satu keturunan Solok yang memiliki peranan penting di Sambujan adalah Pak Nw. Menurut Pak Nw, saat ini keturunan Solok yang mendiami Sambujan ada sekitar 20-an orang. Pak Nw merupakan ketua adat
solok, disebut demikian karena ia memiliki sebuah pedang peninggalan dari
nenek moyang Suku Solok, yang digunakan ketika mengadakan adat Solok. Sehingga, pada akhirnya ialah yang pada saat ini menjadi pemimpin saat prosesi adat solok diadakan.
Pak Nw akan mengadakan adat solok apabila ‘diminta’. ‘Diminta’ di sini maksudnya adalah apabila ada pihak yang memintanya untuk menolong seseorang saat sakit yang disebabkan oleh ‘diminta untuk melakukan adat’, yaitu penyakit yang tidak kunjung sembuh apabila diobati dengan medis saja. Tanda-tanda bahwa suatu penyakit adalah penyakit yang disebabkan oleh ‘minta adat’ adalah apabila Pak Nw datang memeriksa dan mendo’akan serta meminta pertolongan Kakek Seribu, si sakit akan segera sembuh. Permohonan pertolongan kepada Kakek Seribu tersebut dikarenakan Suku Solok di Sambujan percaya bahwa mereka merupakan keturunan dari Kakek Seribu, salah satu dari lima bersaudara yang merupakan garis keturunan pertama suku Solok. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Nw, sebagai berikut:
119
“..ya sakit-sakit kadang-kadang, memang banyak juga gejalanya itu, kalau memang adat. kadang-kadang dia berobat, ke rumah sakit barobat, ndak sembuh juga. kalau anak-anak itu.. dia,bodo', menangis terus, gila. kalau dibawa sudah ke rumah sakit
dibelikan obat segala macam carikan dukun ndak mau, kadang-kadang sudah ada itu bahwa jangan-jangan adat yang dia minta
to. dia datang sama saya,bilang tolong dulu Pak nw, diliat dulu
adek, barangkali adat minta to. Saya minta sama Datuk, kalau memang datuk yang minta tolong sembuhkan saya ini cucu, setelah makannya, kita bakaseh makan to untuk sembuh, kadang juga itu anak nggak dia baku .. lagi langsung.. sehat dia. langsung sehat. ha, sudah..orangtua ya bebikin, diberikan kesehatan sudah dia.”
Apabila anak anak tidak kunjung sembuh setelah diperiksa dan dido’akan, maka adat ini tidak perlu dilakukan. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Nw, sebagai berikut:
“Setelah sembuh, kadang-kadang juga bahwa mengatakan bahwa tolong Pak dibawa, barang kali ada to, kalo memang saya anukan itu adek tidak mau sembuh, sakit-sakit, jangan bikin, berarti bukan dia to. bukan dia.. kecuali ki..kita minta pertolongan sama saya punya Datuk, dia berikan sembuh, berarti dia. dimintakan pertolongan dulu sama dia, kalau memang kita yang ini anukan cucu ini, tolong berikan kesehatan, sembuhkanlah dia.”
Pengadaan adat solok tidak harus dilakukan setelah sakitnya sembuh, melainkan boleh pula pada saat anak tersebut masih sakit. Sebenarnya tidak ada keharusan untuk melakukan adat ini bagi Suku Solok yang sakit, namun ia menjadi sebuah keharusan untuk diadakan apabila si sakit atau orangtua si sakit sempat berniat untuk mengadakan adat ini jika setelah berdo’a si sakit benar-benar sembuh. Jika ia sudah berniat namun tidak tidak melakukan adat, dikhawatirkan penyakitnya akan datang kembali.
Pak Nw juga biasa dipanggil untuk menolong saat ada ibu keturunan
Solok yang mengalami kesulitan melahirkan. Menurut Pak Nw, saat ia
dipanggil untuk memeriksa ibu yang mengalami kesulitan saat melahirkan, ia akan meminta ijin kepada suami ibu tersebut untuk mengusap perut ibu.
120
Pada saat mengusap perut Ibu itu, Pak Nw akan meminta bantuan kepada Kakek Seribu. Setelah memohon pertolongan tersebut, menurut Pak Nw, biasanya ibu hamil yang mengalami kesulitan melahirkan akan menjadi lebih mudah prosesnya. Jika proses persalinan sudah berhasil, serta ibu dan bayi tersebut selamat, barulah akan diadakan prosesi adat solo. Hal ini sesuai dengan penjelasan yang disampaikan oleh Pak Nw, sebagai berikut:
“Biasa kalau saya, kebetulan memang dia itu anu, saya minta permisi sama suami, tolong berikan saya kesempatan untuk
sapu perutnya dia to, kan dia kemenakan saya to. Termasuk
anak sendiri to, cuma dia kasih saya... a sudah, a dia su.. begitu melahirkan ya sudah, babikin dia. Biasa juga babikin untuk dia, dia kasih juga anaknya, jadi dua dia bikin. Kita buat dua gambar (buaya).”
Adat solok terkadang disebut pula sebagai adat buaya oleh orang
lain. Hal ini dikarenakan nantinya, makanan yang dibuatkan untuk ritual adat dibentuk menyerupai buaya. Buaya yang digambarkan adalah buaya yang kakinya berjari lima. Hal ini dikarenakan Suku Solok percaya bahwa mereka memiliki keturunan kembar buaya. Buaya ada dua jenis, yaitu yang kakinya berjari lima dan yang berjari empat. Buaya yang kakinya berjari lima dipercaya sebagai buaya baik, yaitu buaya yang merupakan kembaran manusia, sehingga ketika bertemu dengan manusia ia tidak akan memakannya. Bahkan, ia dapat dimintai pertolongan. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Nw, sebagai berikut:
“Kan buaya kan ada dua macam, ada yang 4 jari, ada yang 5 jari. jadi kalau kita itu kalau buaya yang lima jari merajalela kita ndak pernah dia sentuh, kecuali buaya yang 4 jari, itu yang kita khawatirkan. kalau buaya 5 jari ndak takut kita. bisa saja berkawan dengan kita. sebab itu kita punya keturunan, saya punya nenek.”
Makanan yang dibentuk menyerupai buaya tersebut biasa dibuat oleh istri Pak Nw, atau terkadang juga oleh saudaranya yang datang dari Tarakan. Makanan ini mulzi disiapkan sehari sebelum adat solok dilakukan, bahkan seringkali istri Pak Nw tidak tidur semalaman. Hal ini dikarenakan adat ini harus diadakan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WITA, sehingga
121
makanan harus siap kurang lebih pukul 05.00 WITA. Ketentuan pengadaan adat pun berbeda antara anak-anak dengan orang dewasa, yaitu pada bulan 3,5,7 untuk anak-anak, dan 7,9,11 untuk orang dewasa. Ketentuan ini merupakan ketentuan yang sudah turun temurun dilakukan, sehingga ia pun hanya mengikuti ketentuan tersebut. Boleh dilanggar, asalkan dalam keadaan terdesak, atau salah perhitungan, namun lebih baik jika tidak dilanggar.Ukuran buaya yang dibuat tidak ada ketentuan, tergantung pada niat yang membuat adat. Jika sekaligus untuk acara makan-makan, maka dibuatlah yang besar. Jika hanya untuk obat, maka walaupun hanya kecil sekalipun tak apa, asal berbentuk buaya. Aturan lainnya dalam mengadakan adat ini adalah tidak bisa mengundang orang. Namun, biasanya orang-orang akan berdatang dengan sendirinya jika sudah mendengar akan diadakannya adat solok. Mereka turut memakan makanan berbentuk buaya tersebut. Setelah selesai, sisa-sisa makanan dengan daun sebagai alasnya akan dihanyutkan ke laut.
Jenis makanan yang harus dibuat antara laki-laki dan perempuan sama saja, hanya berbeda warna. Ada empat soko yang dibuat berbeda warna untuk disusun sebagai badan buaya. Yaitu soko hitam untuk bagian kepala, disusul soko kuning, soko merah, soko putih dan terakhir soko hitam di bagian ekor untuk laki-laki. Sedangkan untuk perempuan, urutan warnanya berbeda, yaitu soko kuning untuk kepala, selanjutnya soko hitam,
soko merah, soko putihdan terakhir soko kuning untuk bagian ekornya.
Untuk membentuk sisik buaya dipakailah kue cucur yang jumlahnya puluhan. Sedangkan untuk kakinya dibuat dari dodor. Dodor adalah makanan yang dibuat dari beras pulud (ketan) yang dimasak dengan gula merah sehingga warnanya menjadi merah. Kesemuanya disusun menyerupai buaya di atas selembar daun pisang. Berikut penjelasan tentang penyusunan makanan menurut Pak Nw:
“kue cucur yang banyak dibikin, puluhan, dodor. Cucur dibikin dia punya sisik (dibadan atau di atas soko), beras pulud dulu diatur, digambar seperti buaya, baru matanya itu dibuat telur dibikin matanya, kemudian dikasih bunder-bunder 3, dibikin dia punya tungku diatasnya atau di kepala dari dodor. tangan telunjuknya itu dodor juga.”
122
Selain itu, adapula makanan lain berupa ayam panggang dan daun sirih. Untuk ayam panggang, ayam yang merupakan ayam khusus, yaitu ayam berbulu merah. Selain ayam panggang ini, juga terdapat 1 ayam lagi yang akan dipelihara, dimana kaki ayam tersebut diikat oleh dua buah kain berwarna merah dan kuning. Tidak ada alasan tertentu mengenai mengapa penataan dan warna soko-nya harus demikian, hanya saja sama seperti waktu pelaksanaan, menurut Pak Nw, tatacara tersebut sudah turun temurun dibuat sedemikian rupa oleh orang terdahulu Suku Solok.
Setelah makanan berbentuk buaya siap, barulah pedang yang dirawat Pak Nw akan digunakan. Fungsi dari pedang tersebut adalah untuk memotong makanan yang sudah dibentuk menyerupai buaya setelah diputar sebanyak 3 kali, kemudian nasi berwarna hitam dengan telurnya akan diambil dengan ujung pedang. Selanjutnya, makanan yang berada di ujung pedang akan dimakan oleh orang yang dibikinkan adat. Buaya tidak bisa dipotong dengan alat lain karena sejak dahulu sudah dilakukan demikian. Oleh karenanya, setiap ada yang mau mengadakan adat solok ini pasti akan memanggil Pak Nw.
Fungsi lain dari pedang ini menurut Pak Nw adalah membantu menghindarkan dari bencana. Salah satunya adalah pada saat terjadi kebakaran beberapa tahun sebelumnya. Saat terjadi kebakaran, pedang tersebut berada di dalam rumah. Pak Nw yang tadinya berada di luar rumah kemudian masuk ke dalam dan mengambil pedang tersebut. Kemudian ia meminta bantuan kepada Kakek Seribu agar rumahnya tidak ikut terbakar. Setelah itu, ia seperti mendengar bisikan yang memintanya agar tetap tinggal di dalam rumah beserta pedangnya, padahal api sudah semakin mendekat ke rumah tersebut. Pada akhirnya, menurut keterangan Pak Nw, rumah Pak Nw memang selamat, hanya sedikit saja yang terbakar pada tepiannya, padahal beberapa rumah di sebelahnya sudah habis dilalap api.
123
Gambar 4.23 Pedang Peninggalan Nenek Moyang Suku SolokSumber: dokumentasi peneliti
Pedang ini sebenarnya memiliki dua teman, yaitu sebuah tombak dan sebuah keris serta ketiganya berjumlah 5 pasang, namun dua senjata lain beserta 4 pasangan lain ini sudah tidak diketahui keberadaanya. Di pegangan pedang terdapat dua pita kain berwarna kuning dan merah, dua pita berwarna sama nantinya akan ditali pada ayam yang disediakan untuk disembelih pula. Pedang ini pada saat ini disarungkan pada sarung kayu, sedangkan menurut informasi Pak Nw, dulunya ia disarungkan pada sarung perak, namun sayangnya sarung tersebut dirampok dan hanya tertinggal pedangnya saja.