STANDAR DAN PANDUAN UNTUK POLISI
Polisi harus m em perluas perspektif, yaitu den gan m en ggun akan pen -1.
dekatan tran sform asi– tidak cukup den gan pen egakan hukum , un tuk m em buat perubahan positif dalam m asyarakat pasca-kerusuhan . Dalam m em praktekkan pen dekatan tran sform asi, polisi harus fokus 2.
pada aspek penyelesaian masalah dan resolusi konflik.
Supaya kerusuhan tidak terulan g di m asa datan g, polisi harus m en -3.
transformasi tiga hal penting: situasi konflik yang menyebabkan terjadin ya kerusuhan sosial, kogn isi dan em osi m asyarakat yan g m e-ngalami kerusuhan, dan perilaku dan aksi berkonflik.
K
erusuhan serupa badai: Pasti berlalu! Pengertian ber-lalu ini dapat dijelaskan dengan mengingat kembali tahapantahapan yang dapat dilalui suatu kerusuhan. Tetapi, sebagai badai sosial, kerusuhan memiliki aspekaspek yang dapat dianalisis dan ditransformasikan dalam rangka meningkatkan kapasitas polisi dan masyarakat menangani dan menyelesaikan masalah atau konflik sosial.Topiktopik pembicaraan yang relevan dalam bagian ini adalah yang terkait dengan pertanyaanpertanyaan berikut ini: Me ngapa transformasi masyarakat yang baru saja dilanda kerusuhan pen ting? Apa yang biasanya aparat kepolisian lakukan selama ini setelah kerusuhan terjadi? Apa tugas transformasi?
Mengapa transformasi masyarakat yang baru saja dilanda kerusuhan penting? Kita tidak dapat menganggap bahwa
situ-asi dengan sendirinya akan kembali menjadi “normal” setelah kerusuhan berhenti dan keamanan dan ketertiban dipulihkan oleh aparat penegak hukum. Pada dasarnya, kerusuhan sosial tidak dapat dipandang sebagai bukti terjadinya disintegrasi sosial atau suatu kejadian karena provokasi dari pihak luar tapi sebagai peristiwa kekecewaan sosial yang muncul secara periodik (Foote et al., 1976). Kerusuhan dapat meledak kem-bali di masa mendatang apabila soalsoal transformasi (atau penyelesaian masalah dan resolusi konflik) diabaikan. Inilah pertimbangan utama di balik pentingnya tugastugas transfor-masi. Pertimbangan lainnya adalah pentingnya pembenahan kerusakan fasilitas publik, pembinaan sikap, kepercayaan, ker-jasama sosial, dan penyelesaian masalah dalam situasi kon flik.
Apa yang biasanya aparat kepolisian lakukan selama ini setelah kerusuhan terjadi? Dalam banyak kasus kerusuhan,
aparat kepolisian biasanya berupaya memulihkan keamanan dan ketertiban di masyarakat segera setelah kerusuhan ter-jadi. Mereka juga menangkapi pelakupelaku yang terlibat dalam kerusuhan dan mengadili mereka, termasuk pihak pihak lain yang dianggap “bertanggungjawab” memicu dan memperkeruh situasi rusuh.
Jika kebiasaan penegak hukum ini dipahami baikbaik, definisi tugas dan tindakan tersebut menggambarkan impli-kasi yang cenderung negatif, yaitu memperparah polarisasi dalam masyarakat karena situasinya dinilai menuntut respon agresif atau represif dari pihak kepolisian. Implikasi negatif lainnya adalah sikap dan motif yang menyertainya ditandai dengan agresi, dominasi, dan rasa malu karena stabilitas, kea-manan, dan ketertiban telah dirusak perusuh.
Pendekatan, definisi situasi, dan tindakan seperti di atas jelas tidak mendorong ke arah transformasi pascakerusuhan. Kegiatan utama dalam rangka pembinaan dan transformasi pascakerusuhan, yaitu pemecahan masalahmasalah men-dasar dan pengelolaan pascakonflik tampak tidak relevan karena definisi situasi kerusuhan seperti yang disebutkan di atas.
Oleh karena itu, kita perlu memahami alternatif pendekat an lain dalam menangani situasi pascakerusuhan yang lebih relevan dengan agenda pemolisian modern. Pendekatan al-ternatif yang dimaksud adalah pendekatan transformasi. kapolda maluku, brigjen Pol guntur aryadi meletakkan batu pertama ngunan rumah dinas kapolres maluku tengah, senin (4/2), menandai pemba-ngunan kembali rumah dinas kapolres serta markas Polres dan 48 asrama per-sonil yang terbakar pasca penyerangan oleh perper-sonil Yonif 371 kabarasi, sabtu (2/2) lalu. (sumber: http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1202194435/pasca-rusuh-polres-malteng)
Apa tugas transformasi? Sebagai titik pangkal, tugastugas
yang relevan dalam rangka mentransformasi masyarakat pas-cakerusuhan terkait dengan tiga komponen konflik: situasi,
sikap, dan perilaku. Artinya, ketiga komponen inilah yang
ha-rus di“transformasikan”.
Transformasi Situasi
Pembicaraan di bidang ini mengarah kepada persoalan: Apa yang dapat dilakukan terhadap situasi konflik yang mela-tari kerusuhan sosial yang terjadi di suatu tempat atau dalam kasus kerusuhan tertentu? Fokusnya adalah pada transfor-masi terhadap akar penyebab, ketidakselarasan, dan kondisi kondisi struktural yang melatari kerusuhan di suatu masya rakat. Untuk memancing diskusi dan informasi, aspekaspek transformasional pada komponen ini dapat menyangkut se perti transformasi atau rekonstruksi sosial, transformasi atau rekonstruksi ekonomi, transformasi atau rekonstruksi politik, dan pembinaan kerjasama sosial dan keterdugaan di masya rakat. Beberapa contoh penggunaan transformasi situasi dalam konflik agama dan perlindungan kebebasan beragama adalah pembinaan kerjasama antara polisi dan masyarakat melalui Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM) dan Muspida. Pembinaan kerjasama ini juga bisa digunakan sebagai pen-dekatan untuk mentransformasi sikap seperti yang akan di-jelaskan berikut ini.
Transformasi Sikap
Dalam hal ini, tugastugas transformasi diarahkan kepada dimensidimensi afektif, emosional, dan kognitif yang dianut dalam masyarakat yang sudah dilanda kerusuhan.
Bebera-pa kegiatan transformasi terhadap komponen sikap adalah mengidentifikasi stereotip, memulihkan rasa percaya atau
trust di masyarakat, mengadakan forum untuk membahas
halhal yang sensitif di masyarakat tersebut, dan memben-tuk forum, kegiatan, atau lembaga komunikasi. Beberapa fo-rum komunikasi yang melibatkan polisi dan masyarakat telah terbentuk di Indonesia. Salah satunya telah terbentuk cukup lama dan melibatkan pengambil keputusan di tingkat daerah, yaitu bupati, ketua DPRD, kepala polisi resor kota, komandan komando distrik militer, ketua pengadilan negeri, ketua peng adilan agama, dan kepala kejaksaan negeri. Peran forum ini perlu diarahkan pada upayaupaya membangun kerjasama pemeluk lintas agama dan melindungi kebebasan beragama.
Transformasi Perilaku
Dalam hal ini, tugastugas transformasi diarahkan kepada perilaku dan aksi dalam berkonflik dan berinteraksi sosial. Kegiatan transformasi yang menyangkut perilaku meliputi kegiatankegiatan segera pascakerusuhan, pengenalan dan pelatihan mengenai prinsip dan strategi nonkekerasan, pela tihan tentang intervensi nonkekerasan terhadap aparat, dan lainlain. Rangkaian diskusi, workshop, dan fasilitasi yang dilakukan atas kerjasama polisi, Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik UGM, dan Yayasan Wakaf Paramadina de ngan tajuk “Polisi, Masyarakat Sipil, dan Konflik Agama di In-donesia” adalah satu contoh usaha mentransformasi perilaku berkonflik polisi dan masyarakat menjadi lebih konstruktif. Rangkaian kegiatan ini diselenggarakan di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Surabaya, Denpasar, Poso, dan Seram. Tujuannya ialah memperkuat kemitraan polisi dan masya
rakat dalam menanggulangi segala macam bentuk konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Peserta kegiatan adalah polisi, tokoh agama, dan pemimpin masyarakat baik formal maupun nonformal.***