BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN TUGAS AKHIR
F. Hal-hal yang Menyebabkan Terjadinya Pencabutan Pengukuhan Pengusaha
Pencabutan pengukuhan PKP dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak terhadap:
1. PKP dengan status Wajib Pajak Non Efektif;
2. PKP yang tidak diketahui keberadaan dan/atau kegiatan usahanya;
3. PKP menyalahgunakan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;
4. PKP pindah alamat ke wilayah kerja KPP lain;
5. PKP yang sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
6. PKP telah dipusatkan tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai di tempat lain; atau
7. PKP yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
0 pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Binjai untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak pada tahun 2013, 2014, 2015, sampai dengan bulan mei 2016 yang ada pada bab 3 tabel 4.1
Grafik 5.1 Jumlah Wajib pajak
Sumber: Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Dapat dilihat dari tahun 2013 ke tahun 2014 menurun sebesar 11%. Dan dari 2014 ke tahun 2015 menurun sebesar 22%. Dan dari tahun 2015 ke bulan mei tahun 2016 menurun sebesar 59%.
1. Masalah Utang Pajak
Berdasarkan Pasal 5 ayat (2) PMK 20/PMK.03/2008, penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dilakukan apabila utang pajak telah dilunasi atau hak untuk melakukan penagihan telah daluwarsa, kecuali dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa utang pajak tersebut tidak dapat atau tidak mungkin ditagih lagi antara lain karena:
a. Wajib Pajak orang pribadi meninggal dunia dengan tidak meninggalkan warisan dan tidak mempunyai ahli waris atau ahli waris tidak dapat ditemukan; atau
b. Wajib Pajak tidak mempunyai harta kekayaan.
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa untuk menghapuskan NPWP syarat yang penting adalah bahwa Wajib Pajak tidak punya hutang pajak seperti SKPKB atau STP yang belum atau tidak dilunasi.
2. Ketentuan Pelaksanaan
Ketentuan pelaksanaan teknis tentang penghapusan NPWP masih mengacu kepada Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-161/PJ./2001 tentang Jangka Waktu Pendaftaran Dan Pelaporan Kegiatan Usaha, Tata Cara Pendaftaran Dan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak, Serta Pengukuhan Dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Ketentuan ini kemudian disempurnakan dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-160/PJ/2007.
3. Analisis Data Keseluruhan Wajib Pajak Yang Melakukan Penghapusan NPWP, Pengukuhan PKP, dan Pencabutan PKP
Dari data yang telah dijelaskan diatas kita bisa melihat bahwa Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak akan ditolak apabila masih terdapat utang pajak. Wajib Pajak diharapkan membayar utang pajaknya terlebih dahulu jika akan melakukan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak.
D. Evaluasi Masalah
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dapat kita ketahui bahwa proses pendaftaran untuk mendapatkan NPWP tidak begitu sulit. Banyak orang memiliki
NPWP karena akan mengajukan restitusi atas PPN sedan kendaraan yang dia beli.
Seorang calon nasabah bank mendaftarakan diri untuk memperoleh NPWP karena akan mengajukan permohonan kucuran kredit ke bank. Tetapi setelah mendapatkan NPWP dan maksudnya sudah terlaksana, NPWP tidak dicabut sehingga kantor pajak setiap tahun mengirim formulir SPT dan mengirim surat teguran.
Bagi mereka yang sudah memiliki NPWP tetapi sudah tidak memiliki usaha atau pekerjaan lagi, lebih baik mengajukan permohonan penghapusan NPWP.
Penghapusan NPWP diperlukan untuk menghindari penerbitan STP (surat tagihan pajak) karena tidak melaporkan SPT. Denda administrasi karena tidak melaporkan SPT mulai Rp.100.000,- sampai dengan Rp.1.000.000,- Padahal ini hanyalah masalah administratif saja.
1. Penghapusan NPWP dapat dilakukan berdasarkan:
Permohonan Wajib Pajak atau Kuasanya; atau
2. Hasil analisis data dan penelitian terhadap administrasi perpajakan oleh PetugasPajak.
Baik karena adanya permohonan penghapusan NPWP maupun hasil penelitian terhadap administrasi perpajakan, NPWP akan dihapuskan setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Pemeriksaan dilakukan oleh petugas fungsional pemeriksa pajak untuk memastikan bahwa NPWP dapat dihapus karena telah memenuhi syarat.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
C. Simpulan
Berdasarkan pengolahan dan hasil analisis data yang mengacu pada masalah dan tujuan penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dilakukan terhadap Wajib Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dapat dilakukan atas permohonan Wajib Pajak atau secara jabatan. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak atas permohonan Wajib Pajak atau secara jabatan dilakukan berdasarkan hasil Pemeriksaan atau hasil Verifikasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang mengatur mengenai tata cara Pemeriksaan atau tata cara Verifikasi.
2. Pencabutan Pengukuhan PKP dapat dilakukan : a. atas permohonan PKP; atau
b. secara jabatan.
Pencabutan pengukuhan PKP atas permohonan PKP atau secara jabatan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang mengatur mengenai tata cara Pemeriksaan atau tata cara Verifikasi.
D. Saran
Dari penelitian yang telah di lakukan, maka saran yang dapat Penulis berikan adalah sebagai berikut:
1. Untuk para praktisi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Binjai, mampu mempertahankan kinerja dibidang perpajakan yang lebih baik dan dapat melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai perpajakan karena KPP Pratama Binjai telah berdiri sejak tahun 1976 hingga 2016 tingkat kepatuhan masyarakatnya masih belum maksimal.
2. Penelitian yang telah dilakukan memiliki kekurangan dan keterbatasan, sehingga bagi pihak yang akan memanfaatkan hasil penelitian dapat mengetahui kelemahan yang dapat diantisipasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Bagi peneliti berikutnya yang ingin mengembangkan hasil penelitian ini, hendaknya memiliki kemampuan dalam mengembangkan informasi sebelum dilakukan penelitian. Pada penelitian selanjutnya dapat menambahkan faktor-faktor lain selain dari faktor-faktor yang telah diteliti dalam penelitian ini. Seperti faktor sosial, faktor kultural, faktor budaya perusahaan dan faktor sumber-sumber daya manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Mardiasmo, Edisi Revisi 2006, Perpajakan,Penerbit Andi, Yogyakarta
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (untuk selanjutnya disebut UU KUP)
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 73/PMK.03/2012, Jangka Waktu Pendaftaran Dan Pelaporan Kegiatan Usaha, Tata Cara Pendaftaran, Pemberian, Dan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak, Serta Pengukuhan Dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, 2012.
Undang-Undang Nomor 16 TAHUN 2009, Perpu Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, 2009
Peraturan Direktur Jenderal Pajak, Nomor PER - 20/PJ/2013, Tentang Tata Cara Pendaftaran Dan Pemberian Nomo rpokok Wajib Pajak, Pelaporan Usaha Dan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak Dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Serta Perubahan Data Dan Pemindahan Wajib Pajak.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak, Nomor PER - 38/PJ/2013, Perubahan Atas
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak Dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Serta Perubahan Data Dan Pemindahan Wajib Pajak
Website http://www.jdih.kemenkeu.go.id
http://javalaw-bmg.blogspot.co.id/2015/05/penghapusan-npwp-dan-pencabutan.html