TEKNIK MENYUNTING BERITA Setelah membaca dan mempelajari bab ini. Anda diharapkan dapat
9.4 Menyunting dalam Praktik
Dalam praktik sehari-hari. pekerjaan menyunting ternyata tidak mudah. Seorang redaktur diandaikan sanggup "membaca jalan pikiran" penulis berita, agar tidak salah di dalam mengoperasionalkan kalimat yang tidak komunikatif. Jangan sampai terjadi, hasil suntingan redaktur malah jadi berantakan. Jika ini yang terjadi, maka disebut sebagai "hiperkorek", yakni , mencoba membetulkan yang dianggap salah, namun hasil pembetulan itu malah jadi lebih salah dan lebih buruk dibandingkan sebelumnya. '
9.4.1 Menyunting Judul Berita
Sudah dibahas di muka. bahwa sebuah judul berita itu sangat penting-karena merupakan etalase, atau pintu masuk, yang penting. Seorang redaktur perlu menimbang-nimbang, dan akhirnya menetapkan, sebuah judul berita itu yang baik.
Contoh: seorang wartawan, sehabis meliput peristiwa naas kecelakaan pesawat Mandala di Medan membuat judul beritanya "Mandala Jatuh karena Menabrak Atap Rumah Penduduk".
Apa benar "menabrak rumah penduduk" merupakan penyebab utama (causa prima) kecelakaan pesawat Mandala, atau ada sebab lain yang utama? Sebelum orang lain kritis, seorang redaktur perlu kritis lebih dulu. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya sang redaktur tanpa banyak mengubah lalu memutuskan begini: "Mandala Jatuh lalu Menabrak Rumah Penduduk".
Perhatikan, judul yang dibuat wartawan dan yang dibuat redaktur sangat berbeda! Di mana perbedaannya? Si wartawan cenderung memvonis -padahal belum diselidiki dan belum diketahui, sebab-sebab jatuhnya pesawat. Bisa jadi, kesimpulan im tidak benar! Di sini ada unsur opini, wartawan mengira-ngira, ia berpendapat, bahwa penyebab pesawat Mandala jatuh karena menabrak atap rumah. Perhatikan penggunaan "lalu" oleh redaktur jauh lebih netral, dan memang benar, bahwa pesawat itu jatuh lalu (bukan karena) menabrak atap rumah. Jadi, penyebabnya masih belum diketahui!
9.4.2 Menyunting Laporan
Laporan wartawan sering dibuai dalam tempo yang sangat terbatas dan dikejar tenggat waktu. Karena itu. sangat terbuka kemungkinan ia kurang awas dengan segala bentuk kesalahan, akibat tekanan waktu dan tekanan psikologis. Ia tidak menjadi awas lagi dengan kesalahan spelling. ejaan, kalimat, atau logika. Karena itu, laporannya masih perlu disunting redaktur.
Sebagai contoh, setelah mewawancarai pakar pemasaran, khususnya pemerhati perilaku konsumen, kita menemukan tulisan seorang wartawan menulis begini:
"Bahwa sesungguhnya perilaku konsumen sulit untuk ditembak. Satu saat begitu lain saat begini. Perilaku begituan nggak bisa sama sekali di ukur dengan alat ukur apa pun."
Penilaian kita:
1. Logika (jalan/ tidak)? (jalan)
2. Pengkalimatan (jalan/ tidak)? (masih bisa dipahami) 3. Keterbacaan (mudah/tidak)? (mudah)
4. Kenyamanan untuk dibaca (enak/tidak)? (ya) 5. Pungtuasi (benar/tidak)? (tidak)
6. Karena itu. tingkat kesalahan: Dapat/tidak ditoleransi (tidak dapat) Setelah laporan wartawan itu disunting dan diperhaiki. menjadi:
Perilaku konsumen sulit ditebak. Suatu saat begitu, pada saat lain begini. Perilaku demikian sukar diukur, dengan alot ukur apa pun.
Alasan membuang/menyunting:
1. Kata "Bahwa sesungguhnya" tidak menambah makna apa-apa, buang saja!
2. "Sulit untuk ditembak". saking cepatnya menulis dua kata "untuk ditembak" lupa dipisahkan. Saking asyik larut dengan ide, salah mencet, maksudnya ditebak, tertulis ditembak. Dua kata yang mirip, namun sulit untuk segera diidentifikasi secara gamblang kekeliruannya.
3. Satu saat harusnya "suatu saat". "Satu" menunjukkan tertentu, sudah pasti. "Di ruangan itu ada satu dosen dan satu mahasiswa." "Suatu orang (seseorang)-tidak tentu, tak diketahui—menaksir mahasiswanya sendiri. 4. Lain saat (hukum MD. bukan DM), sehingga yang baik dan benar
5. Perilaku begituan (bahasa lisan yang menimbulkan salah persepsi). Bukankah "begituan" bisa ditafsirkan macam-macam dan selalu menjurus ke arah yang bukan-bukan?
6. Di ukur (kesalahan pungtuasi). Bukankah di + kata kerja penulisannya serangkai. sedangkan di + kata benda (atau yang menunjukkan tempat) penulisannya dipisah?
7. "apapun" harus ditulis terpisah. "Pun" yang berarti "juga" ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Namun, "pun" yang menyertai kata "bagaimana", "meski", "kendati", "walau", "bagaimana" ditulis serangkai karena dianggap senyawa.
9.4.3 Menyunting Tanda Baca
Tidak sulit menerapkan tanda baca, asalkan mau belajar. Ada buku khusus untuk itu. misalnya buku khusus tentang bagaimana menerapkan EYD dan tanda baca. Kapan tanda baca koma (,) dipakai dan kapan tidak. Atau tanda baca lainnya, bagaimana harus menerapkannya dalam kalimat? Lama-lama seorang redaktur hafal tanda-tanda baca dan bagaimana penerapannya dalam kalimat.
Fungsi tanda baca dalam -terutama judul—berita sangat vital peranannya. Penerapan itu menjadi penting, terutama jika yang hendak ditonjolkan adalah efek dari sebuah kata dalam judul berita.
Sebagai contoh, kita mengetahui bahwa ikan arwana adalah hewan langka dan dilindungi. Namun, pada kenyataannya, di Kalimantan ikan arwana dijadikan ikan asin. Seorang wartawan mungkin membuat judul berita begini: "Di Kalimantan Ikan Arwana Dibuat Ikan Asin". Redaktur tidak merasa puas dengan judul itu. Dalam pikiran redaktur, yang menarik bagi audience adalah unsur apa (arwana), bukan Kalimantan-nya (tempat) Karena itu, redaktur mengubah judul berita itu menjadi, "Arwana, Dibuat Ikan Asin di Kalimantan'.
9.4.4 Menyunting Kalimat
Menyunting kalimat, atau laporan lengkap wartawan, tidaklah gampang. Apalagi jika redaktur hanya menemukan saja hasil ketikan laporan tertulis wartawan di atas desk-nya. Sekarang memang sarana komunikasi sudah semakin canggih, misalnya telepon seluler sudah sangat membantu mobilitas. Namun, jika telepon tidak aktif, dan wartawan tidak dapat dihubungi, bagaimana? Padahal, berita mendekati deadline.
Di sanalah redaktur mesti berperan, ia wajib meneliti kembali akurasi laporan wartawan. Kalau nantinya terjadi kesalahan dalam pemberitaan, tidak saja kredit poin si wartawan jatuh, tapi posisi redaktur juga terancam.
9.4.5 Menerapkan Tanda Penyuntingan
Seperti halnya kalau seseorang mempersunting gadis, tanda penyuntingan biasanya berupa hadiah, atau pemberian khusus. Demikian pula dalam hal menyunting naskah, ada tanda, ada simbol yang menunjukkan ide tertentu. Ada banyak alasan, mengapa redaktur (dan wartawan) perlu mengenal dan menerapkan tanda penyuntingan.
1. Berita yang diterima redaksi dari suatu kantor berita melalui teleks (kawat) selalu menggunakan huruf kapital. Oleh karena itu, koreksiannya harus memerhatikan tanda yang diberikan. Tanda yang digarisbawahi menunjukkan huruf kapital tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak diapa-apakan dialihkan ke huruf kecil (onderkas).
Contoh:_
MANTAN PRESIDEN IRAK SADDAM HUSEIN MENGATAKAN DIRINYA TELAH MEMERINTAHKAN KEPADA ANAK BUAHNYA AGAR MENYERANG SEKELOMPOK PEMBERONTAK YANG TIDAK LOYAL PADA PEMERINTAHAN YANG SAH PADA SAAT ITU. HAL ITU DIAKUINYA SEHUBUNGAN DENGAN DESAKAN PIHAK PENYELIDIK AGAR IA MAU MENGAKUI TUDUHAN YANG TELAH DITIMPAKAN KEPADANYA.
Setelah diedit, kalimat itu menjadi:
Mantan Presiden Irak Saddam Husein mengatakan dirinya telah memerintahkan kepada anak buahnya agar menyerang sekelompok pemberontak yang tidak loyal pada pemerintahan yang sah pada saat itu. Hal itu diakuinya sehubungan dengan desakan pihak penyelidik agar ia mau mengakui tuduhan yang telah ditimpakan kepadanya.
2. Menyelipkan kata, atau kalimat, dalam berita yang sudah diset. 3. Atau mengoreksi/ membuang kata/ kalimat yang tidak perlu.
4. Memotong ekor berita yang tidak penting karena kehabisan/ keterbatasan space.
Selengkapnya tanda penyuntingan dapat dilihat pada Lampiran (halaman
KATA-KATA KUNCI