BAB III. HASIL PENELITIAN
B. Konflik Pedagang dengan Dinas Pengelola Pasar
3. Merasakan Sepi Pembeli Pasca revitalisasi pasar
Mayoritas pedagang mengeluh pasca revitalisasi pasar Windujenar, pasar yang menjadi sepi dan omzet pedagang menurun drastis, kekhawatiran pedagang dengan adanya kebijakan revitalisasi pasar ternyata menjadi kenyataan. Saat pedagang menempati pasar darurat di gedung Sriwedari sampai pedagang menempati kios baru di pasar Windujenar, dalam kurun waktu tersebut pedagang mengalami penurunan omzet yang drastis. Seperti yang diungkapkan oleh Bu Aminah yang sudah berjualan sejak tahun 1966 :
“Sebelum dibangun banyak tamu,maksudnya tamu pedagang, kalau pasar sini kan kebanyakan tamu yang dagang jadi kulakan dari sini gitu lo mas, kalau tamu turis atau orang-orang jalan-jalan atau tamu lokal yang belanja itu juga jarang Cuma satu-dua yang belanja. Kemudian setelah ada revitalisasi pasar dan pedagang menempati kios baru sampai sekarang sulit sekali menjual barang dagangan karena pasar yang sepi dan tidak ada lagi pembeli yang kulakan di pasar ini.”
(wawancara tanggal 7 Desember 2009 pukul 12.00 WIB)
Bentuk keresahan dari seorang pedagang dengan kondisi yang sekarang terjadi di pasar Windujenar. Sepinya pembeli di Pasar
79
Windujenar juga terjadi karena keadaan sekarang serba susah, barang-barang apa saja mengalami kenaikan harga, dan dulu sampai sekarang kondisi barang dagangan pedagang di Pasar Windujenar sudah berbeda. Sekitar 10-15 tahun yang lalu pedagang di Pasar Windujenar ini barang dagangannya berbeda-beda. Turis atau pembeli bila mencari barang bisa langsung menuju pedagang yang menjualnya, karena setiap kios memiliki spesialisasi jenis barang sendiri. Sekarang pedagang Pasar Windujenar menjualkan barang yang sama antara pedagang yang satu dengan pedagang yang lain. Sekarang mencari barang yang benar-benar antic juga susah. Sekarang barang dagangannya bisa di bilang “ngantik” sehingga di Pasar Windujenar ini terjadi persaingan antar pedagang.
Hal senada juga diungkapkan oleh Pak Suwarno yang telah berdagang di Pasar Windujenar ini selama 20 tahun :
“habis pembangunan, penjualan pedagang 100% merosot karena penempatan tidak sesuai dengan pertama kali pengaduan, yang datang itu hanya pembeli yang sudah langganan, kalau pembeli yang datang terus mencari barang tertentu terus langsung dibayar tidak ada, jadi kita hanya menyiapkan untuk langganan, padahal masalahnya pelanggan kita juga sudah tidak kayak dulu, sekarang pelanggan pun sungkan untuk datang membeli barang karena pembeli harus naik dulu ke lantai 2”.
(wawancara tanggal 13 Desember 2009 pukul 11.00 WIB)
Sebelum revitalisasi Pak Suwarno bisa dikatakan sebagai pedagang yang sukses. Omzet berdagang di Pasar Windujenar begitu besar sehingga bisa membeli rumah dan mobil. Sekarang pasca revitalisasi pasar Windujenar ini omzet berdagangnya menurun drastis, pembeli yang datang hanya pembeli langganan saja yang jumlahnya mengalami penurunan. Pembeli yang datang, kemudian mencari barang tidak pernah
80
ditemui di pasar Windujenar pasca revitalisasi ini, padahal pedagang Pasar Windujenar harus memenuhi kebutuhan hidupnya yang butuh makan dan minum setiap harinya. Seringkali pedagang tidak mendapatkan pembeli satupun dalam sehari, sangat ironis memang apa yang terjadi di Pasar Windujenar pasca revitalisasi pasar.
Pak Budianto pedagang pasar Windujenar juga merasakan hal yang sama yaitu mengalami sepi pembeli pasca revitalisasi Pasar Windujenar :
” sebelum revitalisasi pasar ramai mas, pembeli juga ramai, tapi sekarang setelah dibangun Biasanya pembeli yang lewat bisa liat dagangan kita, sekarang jadi ga bisa liat. Dulu bisa liat-liat barang, entah cocok atau tidak, paling tidak menunjukan sesuatu yang positif. Dibeli ya syukur, tidak ya syukur. Kalo saya ini tidak dibeli,dilihat saja sudah enak. Tidak harus saya laku. Tetapi pasca revitalisasi ini dilihat pun tidak ada yang melihat, apalagi membeli barang. Mayoritas pedagang disini mengalami hal yang sama.”.
(wawancara tanggal 8 Desember 2009 pukul 11.00 WIB)
Pasca revitalisasi keadaan yang dialami oleh pedagang pasar Windujenar berubah total, mulai dari bangunan hingga ke keadaan pedagangnya, Pak Budianto merupakan pedagang yang menjual barang-barang pusaka karena spesialisasinya barang-barang-barang-barang pusaka. Pedagang pasar Windujenar sebenarnya dikunjungi oleh pembeli saja sudah merasa senang, meskipun pembeli itu tidak membeli barang dagangannya, pasca revitalisasi jarang sekali ditemui pembeli, tamu yang datang sangat sepi. jangankan datang lewat pun gak ada, ini juga pengaruh letak kios saya yang depannya ada tangga untuk naik ke lantai 2. Pedagang meresahkan apa yang terjadi di Pasar Windujenar, keresahan dari pedagang ini masih pada taraf pembicaraan antar pedagang, belum mencuat ke permukaan.
81
Memang menurut pedagang yang harus bertanggung jawab atas semua ini adalah Dinas Pengelola Pasar, tetapi DPP belum melakukan tindakan atas respon keresahan yang dialami oleh Pedagang Pasar Windujenar.
Pedagang yang bernama Pak Sugeng Pramono juga sama mengungkapkan penurunan omzet pasca revitalisasi pasar Windujenar :
“Dilihat secara fisik pasca revitalisasi memang bagus, tapi dari penghasilan berkurang drastic, Padahal saya sudah 10 tahun lebih berjualan disini, ya keadaan sekarang ini yang menurut saya sangat parah, pembeli sepi, omzet turun drastic.sehingga pedagang merasa tercekik dengan keadaan seperti ini, banyak pedagang yang tidak membuka kiosnya, pindah di tempat yang lain.
(wawancara tanggal 6 Desember 2009 pukul 10.00 WIB)
Revitalisasi pasar Windujenar ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pedagang pasar Windujenar, direvitalisasinya pasar Windujenar terlihat bahwa bangunan dari luar sudah terlihat bagus, indah dan menarik, sehingga pembeli atau warga di kota Solo pada khususnya merasa terdorong untuk datang ke pasar Windujenar, tetapi kenyataan di lapangan sangat berbeda, kesan bangunan pasar Windujenar yang telah direvitalisasi ternyata berdampak pada belum normalnya kegiatan ekonomi di Pasar Windujenar sehingga pedagang pasar Windujenar belum mendapatkan perbaikan ekonomi sejak dulu dari pasar darurat di kawasan sriwedari. Pedagang meminta kepada DPP bahwa revitalisasi ini sebaiknya hanya merenovasi kiosnya saja dengan tidak mengubah letak dan luas kios.