• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metafora Bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra

Telah dijelaskan juga di 2.1.1.1 bahwa metafora bercitrakan sinestesia merupakan salah satu tipe metafora berdasarkan penglihatan indra, pengalihan dari satu indra ke indra lain, dalam ungkapan sehari-hari orang sering mendengar

ungkapan enak rasauntuk musik walaupun kata enak selalu dikatakan dengan indra rasa, sedap dipandang mata merupakan pengalihan dari indra rasa keindra lihat.

Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 93 klausa yang mengandung metafora jenis ini (klausa 103 sampai dengan 195), antara lain.

(1) Maka djikalau kiranja orang jang mempunjai budi nistaja dibelahnjalah dahulu...(data 1)

Kata budi bermakna (1). akal, kebijaksanaan: pendidikan juga bertujuan membentuk ~ manusia; sungguhpun tuan hamba raja, ~ tuan hamba kurang; (2). = ~ pekerti perangai, akhlak, tingkah laku, kelakuan, watak: wah, terlalu sekali ahmak ~ku, karena seorang perempuan, saudaraku kuturunkan dari atas takhta kerajaannya; (3). sifat baik, perbuatan baik, kebajikan: banyak benar ~ emak kpd kami; berhutang (terhutang, makan, tanggung) ~ berasa berterima kasih terhadap kebaikan orang; membalas ~ membalas kebaikan seseorang (dengan memberi bantuan dan sebagainya); menabur ~ sering membuat kebaikan; menanam (bertanam) ~ berbuat kebaikan (jasa dan sebagainya) kpd orang; mengenang ~ tidak lupa akan kebaikan orang; (4). bicara, daya upaya: apa ~ kita utk menentang kekejamannya? ~ bahasa tingkah laku dan pertuturan; ~ bicara a) akal; b) kebebasan membuat pertimbangan yang sewajarnya daripada seseorang yang dianggap berkuasa (berwibawa) dalam sesuatu hal... (PRPM)

Makna 1 sampai dengan makna 4 di atas tidak dapat diperlakukan dibelah karena kata budi adalah berupa nomina abstrak. Pasangan kata-kata budi dan

dibelahtidak dapat diterima sehingga klausa (1) dapat disebut sebagai klausa metaforis.

(2) Bermula adapun asalnja segala 'adjaibini terbitnja dari sebab harta dunia ini;...(data 2)

Kata adjaib (ajaib) bermakna (1). sangat menghairankan, aneh, ganjil, pelik (luar biasa atau jarang terdapat dan sebagainya): suatu kejadian yang sungguh ~; barang-barang ~; (2). sl sesuatu yang menghairankan, sesuatu yang aneh (luar biasa); ~-khanah muzium; mengajaibkan (i). menimbulkan rasa hairan, menghairankan, menakjubkan: kejadian itu sungguh ~; (ii). menganggap (memandang sbg) ajaib: tak guna ~ kuasa Tuhan; keajaiban (a). sifat (keadaan dan sebagainya) ajaib, keganjilan, keanehan, keluarbiasaan; (b). sesuatu yang ajaib (menakjubkan), kejadian dan lain-lain yang pelik (aneh dan sebagainya), keanehan, keganjilan: saya menyaksikan bermacam-macam ~ yang belum pernah saya lihat...(PRPM)

Kata terbit bersinonim dengan (1)

keluar:muncul, timbul, terpacul,terpancar, mencorak, (2). lahir:berbangkit, timbu l, datang,terpancar, (3). tercetak:tersiar,tertulis, tercatat,terakam, terekod, (4). tumbuh:keluar, muncul, timbul, hidup,bercambah, bertunas, terpacul,

(5). berpunca:bermula, berpangkal, berasal,berpokok, timbul, muncul,... (PRPM).

segala 'adjaibini terbitnja dari sebab harta dunia inidalam klausa (2) dapat dikategorikan sebagai metaforakarena hubungan antara topik (adjaib dan

(3) Aku meminta tolong djuga dengan se-boleh2nja kepadaNja, jang telah membentangkan langit jang sebesar itu dengan tiada bertongkat... (data 3)

Kata langit bermakna ruang (tempat letaknya bintang dan lain-lain) yang kelihatan berwarna biru dan melingkungi bumi: Pd malam hari, kelihatan beribu- ribu bintang di ~. Sedangkan kata bertongkat bermakna ‘menggunakan atau membawa tongkat’.... (PRPM).

Klausa (3) dapat dikategorikan sebagai klausa metaforiskarena hubungan antara topik (langit dan bertongkat) atau citra dapat bersifat objektif dan emotif.

(4) Dari pada chilaf atau lupa, baik dari pada djalan bahasanja,... (data 4)

Kata jalan bersinonim(1).jalan raya:lebuh, lebuh

raya, laluan, lorong,jejambat, jejantas, persiaran,denai, rintisan, latisan, landasa n,rua, ban, (2). usaha:ikhtiar, kesempatan, peluang, ...(PRPM). Sedangkan kata bahasa bermakna (1) sistem lambang bunyi suara yang digunakan sebagai alat perhubungan dalam sesuatu kelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan fikiran: ~ Melayu; ~ Jawa. (2) kata-kata yang disusun menurut tatabahasa dan digunakan oleh seseorang dalam percakapan atau tulisan: Orang-orang daripada pelbagai kaum di Malaysia menggunakan ~ Melayu. (3) kelakuan yang baik: tak tahu ~ kurang ajar; tidak sopan....(PRPM).

Klausa (4) dapat dikategorikan sebagai klausa metaforiskarena hubungan antara topik (jalan dan bahasa) atau citra dapat bersifat objektif dan emotif.

(5) Kalakian, setelah habislah pikiranku jang demikian...(data 5)

Kata habis bermakna (1) sedikit pun tidak ada yang tinggal lagi kerana sudah digunakan, dimakan dan sebagainya: Barang-barang kemas isterinya ~ digadaikannya. (2) sudah siap dikerjakan dan sebagainya; selesai; berakhir; tamat: Pada akhir bulan ini, ~lah kerja itu. Pertunjukan pertama ~ pada pukul lapan malam. (3). selepas; setelah; sesudah: ~ makan, dia pun pulang ke rumahnya. (4) kesemuanya; sekaliannya; seluruhnya: Kalau aku tak datang nanti, budak-budak itu ~ pulang. (5) kalau begitu; jadi: ~, takkan kita berdiam diri saja! (6) = sehabis teramat sangat; paling: Sedangkan kata pikiran (fikiran) bermakna (1). daya berfikir, akal, ingatan; hilang ~ hilang akal; kurang (panjang, tajam) ~ kurang (panjang, tajam) akal; sakit ~ gila; (2). hasil pemikiran, pendapat, pertimbangan akal, upaya, muslihat: itu bukan ~nya sendiri; apa ~mu sekarang ini, kita sudah kena tipu; mendapat ~ mendapat muslihat; (3). niat, cita-cita, angan-angan: tidak ada ~ hendak bekerja; (4). perhatian, minat: sangat sedikit ~nya pada pelajaran; menaruh ~ menaruh perhatian;

(6) Kita memetjahkan hatinja dan kita mengeluarkan air-matanja?.... (data 6)

Kata memetjahkan (memecahkan) bermakna (1) menjadikan pecah; merosakkan dan lain-lain hingga pecah: Siapa yang ~ piring itu?(2) menjadikan berpisah- pisah atau bercerai-cerai: Mereka telah ~ harta itu kpd tiga bahagian. (3) membuat keputusan atau kepastian tentang sesuatu masalah; menyelesaikan: Bagaimana caranya hendak ~ soal pemogokan ini?..(PRPM). Kata memetjahkan tersebut tidak tepat bersanding dengan kata hatinya karena hati tidak dapat disamakan dengan benda-benda padat (makna 1 dan 2) atau permasalahan (makna 3). Oleh sebab itu klausa (6) dapat disebut klausa yang bermetaforis.

(7) Maka kurasai manisnja sekarang, terlebih dari pada segala perkara jang manis. (data 24.)

Kata perkara dalam bahasa Melayu klasik bersinonim dengan (1). fasal: hal,perihal, pokok

perbincangan,subjek, tajuk, cerita, soal, aspek, (2)peristiwa, hal, insidens, kes.Se dangkan kata manis bermakna (1). rasa seperti rasa gula atau madu: kuih ini ~ seperti gula;(2). sangat menarik (muka, percakapan, perawakan, senyuman, dan lain-lain), lemah lembut serta peramah: gadis itu tidak cantik tetapi ~; tutur bahasanya ~; senyum ~; (3). cantik, elok, molek, mongel (gadis, benda, dan lain- lain): gadis itu memang ~; (4). panggilan untuk gadis (wanita) yang cantik manis: ia mendekati si ~ itu tanpa segan-segan lagi; (5). sopan, beradab (kelakuan, gerak-geri, dan lain-lain): jangan buat begitu, nanti tak ~ dipandang orang; (6). ki dalam berbagai-bagai erti bermaksud nyaman (senang, mewah, dan lain-lain).perkara jang manis dalam klausa (7) bermakna metaforis sinestesia.

(8) Apabila ia lagi muda, bagaimana kehendak kita boleh dilenturakan dia (data 26).

Kata dilentur dalam bahasa Melayu klasik bermakna (1). dibengkok atau dikelok (pada barang yang melengkung), lengkok; 2. Id perubahan arah (sinaran cahaya yang masuk ke dlm air dan lain-lain), bias; melentur 1. membengkok atau melengkung (seperti julai batang buluh, ampaian kain yang tidak tegang, dan lain-lain), kendur: dawai itu menjadi panas dan mengembang panjang dan ~; 2. boleh (mudah) dilengkungkan atau dilentokkan tetapi tidak mudah patah (tali, dawai, dan lain-lain). Kata ini tidak laras makna dengan kata dia (orang ketiga) karena secara katalentur itu sendiri digunakan untuk benda-benda padat. Oleh sebab itu klausa (8) dapat dikategorikan ke dalam klausa metaforis.

(9) Maka dalam sedikit hari demikian itu, maka tiba2petjahlah chabar dalam Malaka mengatakan Inggeris (data 31).

Kata petjah (pecah) dalam bahasa Melayu klasik bermakna (1) menjadi berbelah atau kecil-kecil: Pinggannya jatuh ke lantai lalu ~. (2) menjadi retak atau merekah kulitnya: Bibirnya ~-~. (3) terbelah kulitnya dan terkeluar isinya: Telur itu jangan dipegang kuat-kuat, nanti ~. (4) tidak bersatu lagi; terbahagi kepada beberapa golongan atau kelompok: Sampai di suatu simpang, pasukan askar itu ~ dua. (5) bermula (perang, darurat dan lain- lain). Sedangkan kata chabar (khabar) bermakna 1. = perkhabaran laporan

tentang sesuatu hal atau kejadian, berita, warta. Kata petjah tidak laras makna dengan kata khabar karena makna kata petjah (1-4) yang ada secara denotatif diperuntukkan kata benda. Oleh sebab itu klausa (9) dapat digolongkan ke dalam klausa bermetaforis.

(10) Konon hendak memetjahkan kotaMalaka(data 32).

Klausa (10) sama kasusnya dengan klausa (9) tidak larasnya makna kata sumber (pecah) dengan makna kata target (kota Malaka)

(11) Maka dimakannjalah kapal itu(data 35).

Kata dasar makan dalam bahasa Melayu klasik bermakna 1. memamah serta menelan makanan, mengunyah (menelan, melulur, menghisap, dan lain -lain) sesuatu: jemputlah ~ kuih ini; ~ candu menghisap candu; ~ pil menelan pil; ~ sirih mengunyah sirih; 2. = ~ nasi memamah serta menelan nasi: engkau sudah ~ Sim? 3. rezeki: bagaimana hendak mencari ~ kalau ke-sihatanku selalu terganggu; 4. menggunakan (menghabiskan, memerlukan, dan lain - lain) masa, wang, dan lain-lain: pekerjaan ini banyak ~ belanja; menggali parit ini sahaja ~ masa lebih kurang dua bulan; kereta saya ban yak ~ minyak; 5. melukai atau menembusi (senjata, air soda, dan lain-lain), lut: ditikamnya, tetapi tidak ~; 6. bekerja seperti yang dijangkakan (brek dan lain-lain): brek basikal ini tak ~; 7. dapat masuk (barang yang dimasukkan ke lubang dan lain-lain), masuknya: paku itu hanya setengah inci ~ ke dalam

tidak ~ dalam hatinya bahawa tunangnya tidak setia kepadanya; 9. ki menggelapi (wang dan lain-lain), mengambil secara haram (wang). Bentuk pasif dimakan ‘dilakukannya pekerjaan verbamakan’ tidak selaras makna dengan nomina kapal yang bermakna ‘bahtera atau perahu besar yang ada geladak (biasanya digerakkan oleh jentera)’. Oleh sebab itu, klausa (11) memenuhi persyaratan sebagai klausa bermetaforis.

(12) Tuan ber-djinak2an dengan segala hikajat2 bahasa Melaju karena ada dalamnja itu (data 36).

Kata dasar djinak (jinak) dalam bahasa Melayu klasik bermakna1. tidak liar (buas, garang, galak, dan lain-lain): binatang yang ~; 2. bp tidak takut-takut (malu-malu, segan-segan, dan lain-lain), ramah: perempuan yang ~; 3. Id tidak bersemangat, tidak revolusioner. Dari makna yang ada secara denotatif kata berdjinak-djinakan (‘melakukan perbuatan dengan sifat jinak terhadap sesuatu’) tidak selaras makna dengan frasa benda segala hikajat2. Oleh sebab itu, klausa (12) memenuhi syarat klausa bermetaforis.

(13) Ada jang me-rangkak2 membatja.(data 39).

Kata merangkak-rangkak dalam bahasa Melayu klasik bermaknamaju dengan lambat, tidak lancar, terhenti-henti (belajar, membaca, bercakap, dan lain-lain): ada yang tidak dapat membaca sekali-kali, ada yang ~ membaca; ia menanyai Hilmy dengan bahasa Melayu pasar yang terlalu ~; memang dia masih ~ untuk mengenal dunia.

(14) Maka petjahlah chabar itu. Maka kemudian dari pada itu.... 42. Klausa (14) ini memiliki permasalahan yang sama dengan klausa (9 dan 10). Dapat dikelompokkan klausa yang bermakna metaforis.

(15) Maka sebab itulah sahaja membuangkan diri kepulau ditengah laut ini,(data 44).

Kata membuangkan dalam bahasa Melayu klasik bermakna membuang utk orang lain’. Dalam klausa (15) frasa verba membuangkan diri kepulau bermakna metaforis karena secara denotatif verba membuangkan tidak tepat makna dengan frasa nomina diri kepulau.

(16) Apa guna tandah-tangan, Tuan? Lidah sahaja ini sudah tjukup". (data 46).

Kata lidahsecara denotatif dalam bahasa Melayu klasik bermakna1 organ yang lembut di dalam mulut yang digunakan untuk merasa (menjilat atau berkata- kata). 2 cara bertutur atau cara melafazkan kata-kata; tutur kata: fasih ~nya. 3 bahagian benda yang menyerupai lidah. Klausa (16) dapat digolongkan sebagai klausa bermetaforis karena kata lidah di sini bermakna ‘ucapan’ atau ‘penjelasan’.

Kata berkampung secara konotatif dalam bahasa Melayu klasik bermakna ‘berkumpul’; ‘berhimpun’. berkampungkesitu dalam konteks klausa (17) dapat dikelompokkan sebagai klausa metafora.

Dokumen terkait