KERANGKA TEORI DAN METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Pendekatan Kognitif
3.4.2 Kategori Metafora Konseptual
3.4.2.2 Metafora Ontologis
Metafora ontologis berfungsi untuk menjelaskan suatu konsep melalui konsep objek dan substance ‘zat cair’. Lakoff dan Johnson menggunakan istilah entity
metaphors ‘metafora entitas’ yang terdiri atas human entity dan nonhuman entity
yang dalam pendekatan tradisional digunakan istilah personifikasi, sebuah kategori metafora yang terlalu umum (Lakoff dan Johnson 2003, h. 25−34). Aplikasi metafora entitas nonmanusia (nonhuman entity
metaphor/personification) dapat dilihat pada kalimat 1−7 berikut.
1. His theory explained to me the behavior of chickens raised in factories. 2. This fact argues against the standard theories.
3. Life has cheated me.
4. Inflation is eating up our profits.
5. His religion tells him that he cannot drink fine French wines.
6. The Michelson-Morley experiment gave birth to a new physical theory. 7. Cancer finally caught up with him.
Ungkapan metaforis his theory explainedF
63
F to me … pada kalimat (1)
memiliki makna bahwa teori yang dimaksud dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku ayam yang dibesarkan di pabrik (RSa). Secara harfiah makna metaforis itu antara lain dapat diungkapkan melalui kalimat he explained the chemical
process to his students (RSu). Fenomena penggunaan ungkapan metaforis yang
sama juga terjadi pada PK: INFLATION IS A PERSON ‘inflasi dianalogikan dengan seseorang’, seperti yang terlihat pada kalimat 1−7 berikut.
1. Inflation has attacked the foundation of our economy. 2. Inflation has pinned us to the wall.
63
Nomina theory dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai entitas manusia yang dapat menjelaskan sesuatu.
UNIVERSITAS
3. Our biggest enemy right now is inflation. 4. The dollar has been destroyed by inflation. 5. Inflation has robbed me of my savings.
6. Inflation has outwitted the best economic minds in the country. 7. Inflation has given birth to a money-minded generation.
Ungkapan pada kalimat (1) di atas, sebagai misal, memiliki makna metaforis bahwa inflasi telah merusak dasar-dasar perekonomian kita (RSa). Makna metaforis itu secara harfiah antara lain dapat diungkapkan melalui kalimat the
soldiers attached their enemy (RSu).
Jenis metafora entitas yang lain, khususnya yang berkaitan dengan inflasi, adalah PK: INFLATION IS AN ENTITY. Inflasi dalam konteks ini dianalogikan dengan sebuah entitas yang tergambar secara metaforis pada kalimat 1−7 berikut.
1. Inflation is lowering our standard of living.
2. If there’s much more inflation, we’ll never survive. 3. We need to combat inflation.
4. Inflation is backing us into a corner.
5. Inflation is taking its toll at the checkout counter and the gas pump. 6. Buying land is the best way of dealing with inflation.
7. Inflation makes me sick.
Kata inflation pada kalimat (1) merupakan sebuah entitas yang dapat menurunkan standar kehidupan masyasrakat (RSa). Ungkapan metaforis itu antara lain merupakan perluasan makna harfiah dari kalimat the government lowered
voting age to seventeen (RSu), pemerintah sebagai pelaku memang memiliki
otoritas untuk menerapkan regulasi yang dimaksud.
Dalam budaya Barat, buah pikiran antara lain dipahami melalui pengalaman sehari-hari masyarakatnya tentang mesin sehingga tercipta sebuah PK: THE MIND IS A MACHINE ‘pikiran secara kognitif diidentikkan dengan mesin’. Melalui PK tersebut dihasilkan sejumlah ungkapan metaforis, seperti yang terlihat pada kalimat 1−5 berikut.
1. We’re still trying to grind out the solution to this question. 2. My mind just isn’t operating today.
3. Boy, the wheels are turning now! 4. I’m a little rusty today.
UNIVERSITAS
5. We’ve been working on this problem all day and now we’re running out of
steam.
Ungkapan metaforis pada kalimat (1) bermakna bahwa mereka (pembicara) sedang berusaha untuk mencarikan pemecahan terhadap masalah yang dimaksud (RSa). Makna metaforis itu dibangun berdasarkan makna harfiah kalimat the
machine is grinding out white pepper (RSu). Bahkan, pikiran sering dianalogikan
dengan benda-benda yang mudah pecah yang diformulasikan dalam PK: THE MIND IS A BRITTLE OBJECT seperti yang terlihat pada kalimat 1−7 berikut.
1. Her ago is very fragile.
2. You have to handle him with care since his wife’s death. 3. He broke under cross-examination.
4. She is easily crushed.
5. The experience shattered him. 6. I’m going to pieces.
7. His mind snapped.
Ungkapan metaforis, melalui kata fragile dalam konteks kalimat (1) tersebut di atas bermakna ‘sifat agonya sangat rapuh/lemah’ (RSa). Makna metaforis itu antara lain merupakan perluasan makna harfiah dari frasa fragile materials (RSu).
Kondisi atau keadaan yang sedang dialami oleh seseorang oleh Lakoff dan Johson (2003, h. 32) dirumuskan dalam sebuah PK: STATES AS CONTAINERS. Melalui PK yang dimaksud, keadaan atau kondisi seseorang dianalogikan dengan sebuah wadah/bejana penampungan (container), seperti yang diungkapkan melalui kalimat 1−7 berikut.
1. He’s in love.
2. We’re out of the trouble now. 3. He’s coming out of the coma. 4. I’m slowly getting into the shape. 5. He entered a state of euphoria. 6. He fell into a depression.
7. He finally emerged from the catatonic state he had been in since the end of finals week.
Secara kognitif, ungkapan metaforis pada kalimat (3) memiliki makna (RSu) bahwa yang bersangkutan berhasil melewati masa kritis akibat penyakit yang dideritanya. Makna metaforis itu bertitiktolak dari makna harfiah kalimat they are
coming out of the classroom sebagai RSu.
UNIVERSITAS
LOVE IS A JOURNEY merupakan sebuah PK yang menganalogikan cinta dengan perjalanan yang dilalui oleh seseorang dengan pasangannya (Lakoff dan Johson (2003, h. 44), seperti yang terlihat pada kalimat 1−13 berikut.
1. Look how far we’ve come. 2. We’re at a crossroads.
3. We’ll have to go our separate ways. 4. We can’t turn back now.
5. I don’t think this relationship is going anywhere. 6. Where are we?
7. We’re stuck.
8. It’s been a long, bumpy road.
9. This is relationship is a dead-end street. 10. We’re just spinning our wheels.
11. Our marriage is on the rocks. 12. We’ve gotten off the tracks. 13. This relationship in founding.
Ungkapan metaforis pada kalimat (2) bermakna bahwa mereka (sepasang suami-istri atau kekasih) terpaksa berpisah (RSa). Makna metaforis itu dikembangkan dari makna harfiah kalimat drive carefully at the crossroads (RSu). Satu fenomena metafora lintas budaya yang cukup menarik adalah bahwa dalam budaya Indonesia, pemahaman atau pengungkapan secara metaforis tentang cinta antara lain dianalogikan dengan konsep ‘hidup dan mati’, seperti pada frasa
cinta sehidup semati yang secara konseptual dapat dirumuskan menjadi CINTA ADALAH KEHIDUPAN DAN KEMATIAN.
Waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga dalam budaya Barat (RSa) dilukiskan melalui pengalaman kognitif tentang uang yang lebih konkrit (RSu) sehingga dirumuskan PK: TIME IS MONEY.Melalui PK yang itu dapat diciptakan ribuan ungkapan metaforis, seperti yang terlihat pada kalimat 1−16 berikut.
1. You’re wasting my time.
2. This gadget will save your hours. 3. I don’t’ have time to give you.
4. How do you spend your time these days? 5. That flat tire cost me an hour.
6. I’ve invested a lot of time in her.
7. I don’t have enough time to spare time for that. 8. You’re running out of time.
9. You need to budget your time. 10. Put aside some time for pin pong. 11. Is that worth your while?
12. Do you have much time left?
UNIVERSITAS
13. He’s living on borrowed time. 14. You don’t use your time profitably. 15. I lost a lot of time when I got sick. 16. Thank you for your time.
Ungkapan metaforis pada kalimat (1) memiliki makna ‘Anda membuang-buang waktu saya’, sesuatu yang sangat berharga dan seharusnya digunakan semaksimal mungkin untuk sesuatu yang bermanfaat atau menghasilkan (RSa). Makna metaforis itu merupakan hasil perluasan makna harfiah dari kalimat
factories waste much fuel (RSu).
PK: ARGUMENT IS WAR menganalogikan argumen dengan perang. Perdebatan antara dua pihak dalam berbagai forum komunikasi dilukiskan sebagai sebuah perang, seperti yang tercemin pada ungkapan metaforis 1−8 berikut.
1. Your claims are indefensible.
2. He attacked every weak point in my argument. 3. His criticisms were right on target.
4. I demolished his argument.
5. I’ve never won an argument with him. 6. You disagree? Okay, shoot!
7. If you use that strategy, he’ll wipe you out. 8. He shot down all of my arguments.
Ungkapan mataforis pada kalimat (2) memiliki makna bahwa ‘dia mengkritik sisi lemah setiap argumen saya’ (RSa). Makna figuratif itu merupakan perluasan makna harfiah dari kalimat he was attacked by a group of people (RSu). Pada bagian 3.4.2.3 dijelaskan kategori metafora ketiga, yakni metafora struktural.