KAJIAN TERDAHULU
2.3 Perbedaan Metafora dengan Jenis Majas yang Lain
Dalam konteks penggunaan majas (trope/figure of speech) dalam bahasa Indonesia, yaitu cara melukiskan sesuatu dengan cara mengidentikkannya dengan sesuatu yang lain (KBBI 2005, h. 699), Moeliono (1989, h. 175–177) membagi metafora dalam arti luas dan metafora dalam arti sempit. Dalam arti luas, metafora mengacu pada istilah majas (figure of speech) yang mencakup semua jenis metafora, yaitu penggunaan bahasa secara tidak langsung untuk mencapai tujuan komunikasi tertentu. Majas berfungsi untuk membuat sebuah tulisan atau sesuatu yang dijabarkan di dalamnya menjadi lebih konkret dan lebih hidup. Secara semantis, kata dan frasa memiliki makna harfiah (makna denotatif), di samping makna majasi (figurative) atau makna konotatif. Majas memiliki dua kelebihan. Pertama, ia melibatkan pancaindera sehingga dapat mengonkretkan sesuatu. Kedua, secara struktural majas lebih ringkas daripada frasa yang memiliki makna harfiah. Moeliono secara garis besar mengategorisasikan majas dalam tiga kelompok: (1) majas perbandingan yang meliputi perumpamaan,F
15
F kiasan atau
15
Perumpamaan merupakan perbandingan dua hal yang berbeda namun dianggap sama. Realisasinya dapat dilihat melalui penggunaan sejumlah kata misal seperti, sebagai, ibarat,
umpama, bak, taksana pada kalimat sebagai mencari kutu dalam ijuk.
UNIVERSITAS
metafor,F
16
F dan penginsanan,F
17
F (2) majas pertentangan (sesuatu yang positif diungkapkan secara negatif atau bentuk yang bertentangan) yang terdiri atas hiperbol,F 18 F litotes,F 19 F dan ironi,F 20
F dan (3) majas pertautan yang meliputi metonimi,F 21 F sinekdoke,F 22 F kilatan (allusion),F 23 F dan eufemisme.F 24 F Berdasarkan kategorisasi majas itu, metafora atau kiasan termasuk jenis majas dalam arti sempit. Namun, dalam banyak literatur tentang metafora dalam arti luas (khususnya dalam semantik kognitif), metafora kerap kali dibandingkan dengan metonimi. Yang membedakan antara keduanya adalah bahwa dalam metafora dibandingkan dua hal yang berbeda (RSa dan RSu), sedangkan metonimi hanya mengacu pada satu domain yang sama.
Jika Moeliono (1989) lebih menyoroti aplikasi metafora khusus dalam konteks bahasa Indonesia, Nöth (1995, h. 128–129) menyoroti metafora dari dua perspektif, yaitu metafora dalam arti luas dan metafora dalam arti sempit. Dalam arti luas, metafora meliputi semua jenis majas, sedangkan metafora dalam arti sempit merupakan salah satu dari jenis majas perbandingan. Dengan demikian, batasan metafora dalam penelitian ini mengacu pada metafora dalam arti luas karena jenis metafora konseptual juga mencakup metafora entitas (personifikasi). Berikut adalah penjelasan singkat tentang empat jenis majas, yaitu simile (simile) dan analogi (analogy), metonimi (metonimy) dan sinekdoke (synecdoche).
16
Kiasan atau metafor adalah sebuah majas yang secara implisit membandingkan dua hal yang berbeda. Misal ungkapan buah hati.
17
Penginsanan atau personifikasi adalah jenis majas yang mengungkapkan seolah-olah benda mati atau ide memiliki sifat hal manusia. Misal cinta itu buta.
18
Hiperbol merupakan ungkapan yang terlalu melebih-lebihkan sesuatu dari segi jumlah, ukuran, atau sifat sesuatu. Misal ungkapan sejuta kenangan indah.
19
Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya. Misal hasilnya
tidak mengecewakan (maksudnya, hasilnya baik), orang yang tidak bodoh, atau orang yang sama
sekali tidak bodoh (maksudnya, orang yang pandai, atau yang sangat pandai).
20
Ironi ialah majas yang sesungguhnya ingin menyatakan makna yang bertentangan hanya untuk berolok-olok. Misal bukan main bersihnya di sini, di mana-mana ada sampah.
21
Metonimi adalah penggunaan nama, ciri atau nama yang terkat dengan orang, barang, atau hal, yang fungsinya menggantikan. Misal (karya) Chairil Anwar dapat kita nikmati.
22
Sinekdoke adalah majas dengan menyebut sebagian dari sesuatu untuk maksud keseluruhan, atau sebaliknya. Misal (kesebelasan) Jakarta lawan (kesebelasan) Medan.
23
Kilatan adalah majas yang secara tidak langsung merujuk pada suatu peristiwa atau tokoh yang sama-sama dimaklumi. Misal apakah peristiwa Madiun akan terjadi fagi? (kilatan yang mengacu ke pemberontakan kaum komunis).
24
Eufemisme adalah majas yang tujuannya untuk memperhalus bahasa. Misal membebastugaskan.
UNIVERSITAS
Simile,F
25
F menurut Danesi dan Perron (1999, h. 163), adalah gejala penggunaan bahasa metaforis yang ditandai dengan penggambaran satu hal atau benda yang disamakan dengan yang lain (“the technique of specific comparison
by means of the words like or as between two kidns of ideas or objects”). Misal
kalimat countries, like people, specialize in a limited range of production
activities because it is to their advantage to do so dan kalimat it appears from this example that it is impossible for a corporate executive, much less a business unit manager, to have an incentive as strong as an entrepreneur. Aplikasi simile
ditandai dengan penggunaan satu aspek makna metaforis secara eksplisit sehingga bersifat komparatif. Adapun analogi adalah penggunaan bahasa secara metaforis yaitu sesuatu diasosiasikan dengan orang atau objek yang sifatnya mewakili orang atau objek. Misal kalimat A is to B seperti halnya C is to D.
Metonimi,F
26
F
menurut Danesi dan Perron, adalah “[...] the use of a word or
phrase for another to which it bears an important relations, as the effect for the cause, the abstract for the concrete, etc.” Metonimi merupakan penghilangan
unsur makna secara tidak logis. Misal kalimat Wall Street is in panic (Lakoff dan Johnson 1980, h. 38). Frasa Stock Exchange sengaja dihilangkan dari kalimat itu. Dalam kajian tentang metafora, baik metafora maupun metonimi, sama-sama beroperasi pada tataran konseptual. Perbedaannya terletak pada beberapa hal: (1) metonimi didasarkan pada contiguity (yaitu unsurnya merupakan bagian dari model kognitif yang sama), sedangkan metafora didasarkan pada persamaan (similarity), (2) metonomi mengacu pada single domain (satu konsep yang sama) sementara metafora melibatkan dua konsep (domain) yang berbeda, (3) metonomi sering digunakan untuk memahami sebuah entitas dalam sebuah konsep, sedangkan metafora digunakan untuk memahami sebuah sistem secara keseluruhan dengan mengacu pada sistem yang lain, dan (4) metonimi muncul tidak hanya di antara konsep melainkan juga di antara bentuk bahasa serta peristiwa, sedangkan metafora hanya terjadi di antara konsep (Gibbs 1999, h. 36—37; Kövecses 2002, h. 39–41).
25
Dalam bahasa Indonesia, simile dan analogi/perumpamaan termasuk kelompok majas perbandingan (Moeliono 1989).
26
Dalam bahasa Indonesia, metonimi dan sinekdoke termasuk kelompok majas pertautan (Moeliono 1989).
UNIVERSITAS
Sinekdoke, menurut Danesi dan Perron (1999, h. 164), adalah gejala penggunaan ungkapan metaforis yang satu bagian dari sesuatu digunakan untuk mewakili yang lain secara keseluruhan (“[...] the technique whereby the part is
made to stand for the whole, the whole for a part, species for the genus, etc.”).
Contoh kalimat the President’s administration contained the best brains in the
country.
Keempat majas yang disebutkan terakhir tidak dikaji dalam penelitian ini karena dua alasan. Pertama adalah bahwa penggunaannya dalam teks bidang ekonomi yang tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan metafora sehingga kurang memberikan kontribusi makna secara koheren pada makna teks secara keseluruhan. Kedua, agar penelitian ini lebih terfokus secara mendalam pada kajian metafora (dalam arti sempit) dalam teks ilmiah bidang ekonomi dan terjemahannya. Pada bagian 2.4 diuraikan posisi metafora dalam kajian penerjemahan.