KERANGKA TEORI DAN METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Pendekatan Kognitif
3.4.2 Kategori Metafora Konseptual
3.4.2.3 Metafora Struktural
Metafora struktural berfungsi untuk menjelaskan struktur sebuah konsep dengan cara membandingkannya dengan struktur konsep yang lain. Misal konsep
stock market ‘pasar saham’ dipahami melalui konsep building ‘bangunan’.
Kalimat LDC stock markets collapsedF
64
F around the world … dapat dipetakan
menjadi PK: STOCK MARKETS ARE BUILDINGS. Ungkapan … LDC stock markets
collapsed … secara metaforis bermakna ‘… pasar saham di negera-negara miskin
anjlok …’ (sebagai RSa). Makna metaforis itu merupakan perluasan makna
64
Verba to collapse dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
UNIVERSITAS
harfiah dari frasa collapsing buildings ‘bangunan yang runtuh’, seperti pada kalimat most of the deaths were caused … collapsing buildings. Berikut dijelaskan sejumlah PK yang termasuk kategori metafora struktural dan realisasinya dalam bentuk ungkapan metaforis.
Ungkapan metaforis pada kalimat 1−14 berikut merupakan manifestasi dari dua PK: (1) IDEAS (OR MEANING) ARE OBJECTS (kalimat 1−2), (2) LINGUISTIC EXPRESSIONS ARE CONTAINERS (kalimat 3−14). Pada PK (1), gagasan atau makna dianalogikan dengan objek yang dapat ditinggalkan di satu tempat, sedangkan pada PK (2) ungkapan kebahasaan diidentikkan dengan container ‘wadah’.
1. It‘s hard to get the ideas across to him. 2. Leave you that idea.
3. You reasons came through to us. 4. It’s difficult to put my ideas into words.
5. When you have a good idea, try to capture it immediately in words. 6. Try to pack more thought into few words.
7. You can’t simply stuff ideas into a sentence any old way. 8. The meaning is right there in words.
9. Don’t force your meanings into the wrong words. 10. His words carry little meaning.
11. The introduction has a great deal of thought content. 12. Your words seem hollow.
13. The sentence is without meaning.
14. The idea is buried in terribly dense paragraphs.
Ungkapan metaforis pada kalimat (2) bermakna bahwa si pembicara menyampaikan sebuah idea atau gagasan kepada lawan bicaranya untuk dipikirkan (RSa). Makna metaforis itu merupakan pengembangan makna harfiah dari kalimat notebook saya ketinggalan di rumah (RSu). Fenomena penggunaan ungkapan metaforis yang sama juga terjadi pada kalimat (4) namun merupakan salah satu realisasi dari PK: LINGUISTIC EXPRESSIONS ARE CONTAINERS, yang berarti ‘sukar bagi saya menuangkan buah pikiran dalam bentuk tulisan’ (RSa). Makna metaforis itu merupakan perluasan makna denotatif pada kalimat would
you put this postcard in the letterbox, please? (sebagai RSu)
Dalam budaya masyarakat Barat, konsep ‘theory’ dan ‘argument’ antara lain dijelaskan melalui pengalaman yang terkait dengan bangunan sehingga melahirkan PK: THEORIES (AND ARGUMENTS) ARE BUILDINGS ‘teori dan argumen
UNIVERSITAS
dianalogikan dengan bangunan’, seperti yang tercermin pada kalimat 1−13 berikut.
1. Is that the foundation for your theory? 2. The theory needs more support. 3. The argument is shaky.
4. We need some more facts or the argument will fall apart. 5. We need to construct a strong argument for that.
6. I haven't figured out yet what the form of the argument will be. 7. Here are some more facts to shore up the theory.
8. We need to buttress the theory with solid arguments.
9. The theory will stand or fall on the strength of that argument. 10. The argument collapsed.
11. They exploded his latest theory.
12. We will show that theory to be without foundation.
13. So far we have put together only the framework of the theory.
Kalimat (1) memiliki makna metaforis ‘apakah itu yang mendasari teori Anda? (sebagai RSa). Makna metaforis itu merupakan pengembangan makna harfiah dari kalimat the new building has a deep foundation (RSu).
Ide atau gagasan dalam pola pikir masyarakat Barat sering diidentikkan atau diungkapkan antara lain melalui konsep ‘makanan’ yang kemudian melahirkan peta konsptual IDEAS ARE FOOD. Melalui formulasi itu, dapat dihasilkan begitu banyak ungkapan metaforis dalam berbagai konteks, seperti yang terlihat pada kalimat 1−15.
1. What he said left a bad taste in my mouth.
2. All this paper has in it are raw facts, half-baked ideas, and warmed-over
theories.
3. There are too many facts here for me to digest them all. I just can’t swallow that claim.
4. That argument smells fishy. 5. Let me stew over that for a while.
6. Now there’s a theory you can really sink your teeth into. 7. We need to let that idea percolate for a while.
8. That’s food for thought. 9. He’s a voracious reader.
10. We don’t need to spoon-feed our students. 11. He devoured the book.
12. Let’s let that idea simmer on the back burner for a while. 13. This is the meaty part of the paper.
14. Let that idea jell for a while.
15. That idea has been fermenting for years.
UNIVERSITAS
Ungkapan metaforis pada kalimat (1) berfungsi untuk menegaskan bahwa ‘apa yang disampaikannya tidak enak didengar’ (RSa). Dalam konteks itu, kesan ‘kurang berkenan’ terhadap apa yang diutarakan oleh seseorang telah diungkapkan berdasarkan pengalaman mengenai makanan. Secara harfiah, makna metaforis itu merupakan perluasan makna dari kalimat this meal has a very good
taste (RSu).
Di samping menggunakan pengalaman tentang makanan, ide atau gagasan juga dapat diungkapkan melalui pengalaman tentang orang atau manusia sehingga melahirkan PK: IDEAS ARE PEOPLE ‘ide dianalogikan dengan orang’,seperti yang tercermin pada kalimat 1−10 berikut.
1. The theory of relativity gave birth to an enormous number of ideas in physics. 2. He is the father of modern biology.
3. Whose brainchild was that?
4. Look at what his ideas have spawned. 5. Those ideas died off in the Middle Ages. 6. His ideas will live on forever.
7. Cognitive psychology is still in its infancy. 8. That’s an idea that ought to be resurrected. 9. Where’d you dig up that idea?
10. He breathed new life into that idea.
Ungkapan metaforis pada kalimat (1) memiliki makna bahwa teori Relativitas memunculkan begitu banyak gagasan dalam ilmu Fisika (RSa). Makna metaforis itu secara kognitif merupakan perluasan makna harfiah dari kalimat she gave birth
to her third baby (RSu).
Ide dalam budaya Barat sering dianalogikan dengan tumbuhan sehingga menghasilkan PK: IDEAS ARE PLANTS. Melalui PK itu dapat diidentifikasi relasi kognitif antara RSu dengan RSa, seperti yang terlihat pada kalimat 1−10 berikut. 1. His ideas have finally come to fruition.
2. That idea died on the vine. 3. That’s a budding theory.
4. It will take years for that idea to come to full flower. 5. He views chemistry as a mere offshoot of physics. 6. Mathematics has many branches.
7. The seeds of his great ideas were planted in his youth. 8. She has a fertile imagination.
9. Here’s an idea that I’d like to plant in your mind. 10. He has a barren mind.
UNIVERSITAS
Pada kalimat (7) terkandung makna metaforis ‘idenya yang luar biasa itu tumbuh sejak ia muda’ (RSa). Jika dikaitkan dengan konsep RSu, makna metaforis itu dikembangkan dari makna harfiah kalimat farmers began to plant
their seeds (RSu).
Di samping itu, ide atau gagasan juga diidentikkan dengan produk yang dirumuskan melalui PK: IDEAS ARE PRODUCTS, seperti yang terlihat pada sejumlah ungkapan metaforis pada kalimat 1−6 berikut.
1. We’re really turning (churning, cranking, grinding) out new ideas. 2. We’ve generated a lot of ideas this week.
3. He produces new ideas at an astounding rate.
4. His intellectual productivity has decreased in recent years.
5. We need to take the rough edges off that idea, hone it down, smooth it out. 6. It’s a rough idea; it needs to be refined.
Pada kalimat (2) tersirat makna metaforis ‘kita telah mendapatkan banyak ide minggu ini’ (RSa) yang merupakan perluasan makna harfiah dari kalimat wind
turbines can be used to generate electricity (RSu). Bahkan dalam berbagai
konteks, ide sering dianalogikan dengan komoditas yang dapat diperdagangkan sehingga melahirkan PK: IDEAS ARE COMMODITIES. Fungsi metafora dalam konteks kalimat 1−8 berikut adalah untuk menjelaskan bagaimana gagasan disampaikan, diberi nilai, dan diterima oleh masyarakat.
1. It’s important how you package your ideas. 2. He won’t buy that.
3. That idea just won’t sell.
4. There is always a market for good ideas. 5. That’s a worthless idea.
6. He’s been a source of valuable ideas.
7. I wouldn’t give a plugged nickel for that idea.
8. Your ideas don’t have a chance in the intellectual marketplace.
Ungkapan metaforis pada kalimat (1) memiliki makna bahwa seseorang perlu menyampaikan idenya dengan baik agar dapat diterima oleh pendengar atau pembaca (RSa). Makna metaforis itu merupakan pengembangan makna harfiah dari kalimat the present is packaged in a small box (RSu).
Gagasan atau ide juga sering diungkapkan melalui pengalaman sehari-hari tentang sumber daya. Dengan kata lain, ide dianalogikan dengan sumber daya dalam bentuk formulasi IDEAS ARE RESOURCES, seperti yang tercermin pada kalimat 1−7 berikut.
UNIVERSITAS
1. He ran out of ideas.
2. Don’t waste your thoughts on small projects. 3. Let’s pool our ideas.
4. He’s a resourceful man. 5. We’ve used up all our ideas. 6. That’s a useless idea.
7. That idea will go a long way.
Sebagai misal, ungkapan metaforis pada kalimat (1) memiliki makna ‘dia kehabisan ide’ (RSa). Makna harfiah frasa itu dapat diungkapkan melalui kalimat
the refugees are running out of food (RSu).
Untuk menggambarkan bahwa ide adalah sesuatu yang sangat bernilai dalam budaya Barat, maka Lakoff dan Johnson (2003, h. 48) antara lain menciptakan sebuah PK: IDEAS ARE MONEY yang mengidentikkan gagasan dengan uang, seperti yang terlihat pada kalimat 1−4 berikut.
1. Let me put in my two cents’ worth. 2. He’s rich in ideas.
3. That book is a treasure trove of ideas. 4. He has a wealth of ideas.
Sebagai contoh, kalimat (2) memiliki makna metaforis ‘dia mempunyai gagasan yang luas’ (RSa). Secara denotatif, makna itu dapat diungkapkan melalui kalimat she is the richest woman in the country (RSu).
Untuk menggambarkan ide yang cermerlang digunakan sebuah analogi dengan alat pemotong yang tajam sehingga secara konseptual tercipta PK: IDEAS ARE CUTTING INSTRUMENTS, yang realisasinya dapat diamati pada kalimat 1−7 berikut.
1. That’s an incisive idea.
2. That cuts right to the heart of the matter. 3. That was a cutting remark.
4. He’s sharp.
5. He has a razor wit. 6. He has a keen mind.
7. She cut his argument to ribbons.
Sebagai ilustrasi, dapat dijelaskan bahwa ungkapan metaforis pada kalimat (5) memiliki makna metaforis ‘dia memiliki rasa humor yang tinggi’ (RSa). Makna itu merupakan perluasan makna harfiah dari kalimat you can use an
electric razor for shaving (RSu).
UNIVERSITAS
Pemahaman tentang ide tertentu antara lain dapat dilakukan dengan mengasosiasikannya dengan gaya berpakaian yang sedang tren yang dirumuskan menjadi sebuah PK: IDEAS ARE FASHIONS. Melalui PK yang dimaksud dan realisasinya dalam sejumlah ungkapan metaforis berikut (kalimat 1−11) dapat dikaji relasi kognitif antara RSu dan RSa.
1. That idea went out of style years ago. 2. I hear sociobiology is in these days.
3. Marxism is currently fashionable in western Europe. 4. That idea is old hat!
5. That’s an outdated idea.
6. What are the new trends in English criticism?
7. Old-fashioned notions have no place in today’s society.
8. He keeps up-to-date by reading the New York Review of Books.
9. Berkeley is a center of avant-garde thought. Semiotics has become quite
chic.
10. The idea of revolution is no longer in vogue in the United States.
11. The transformational grammar craze hit the United States in the mid-sixties and has just made it to Europe.
Ungkapan metaforis pada kalimat (1) memiliki makna ‘ide yang dimaksud sudah tidak relevan lagi pada saat sekarang’ (RSa). Makna itu merupakan hasil perluasan makna harfiah dari kalimat these baby gifts never go out of style (RSu).
Ungkapan metaforis pada kalimat 1−13 berikut merupakan manifestasi dari tiga PK, yaitu UNDERSTANDING IS SEEING ‘pemahaman dianalogikan dengan melihat sesuatu’, IDEAS ARE LIGHT-SOURCES ‘ide analogikan dengan sumber cahaya’, dan DISCOURSE IS A LIGHT-MEDIUM ‘wacana analogikan dengan media cahaya’. Metafora itu berfungsi untuk mengungkapkan bagaimana sesuatu dapat dipahami atau dimengerti.
1. I seeF
65
F
what you’re saying.
2. It looks different from y point of view. 3. What is your outlook on that?
4. I view it differently.
5. Now I’ve got the whole picture. 6. Let me point something out to you. 7. That’s an insightful idea.
8. That was a brilliant remark. 9. The argument is clear. 10. It was a murky discussion.
11. Could you elucidate your remarks?
65
Verba to see dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
UNIVERSITAS
12. It’s a transparent argument. 13. The discussion was opaque.
Ungkapan metaforis pada kalimat (1) bermakna ‘saya dapat memahami maksud Anda’ (RSa). Dalam pengertian denotatif, makna metaforis itu merupakan perluasan makna harfiah dari kalimat I saw her this morning (RSu).
AN ARGUMENT IS A JOURNEY merupakan sebuah PK yang cukup populer dalam tulisan Lakoff dan Johnson (2003, h. 90). Argumen yang disampaikan pada satu kesempatan berbahasa diidentikkan dengan perjalanan yang ditempuh oleh seseorang, seperti yang tercermin pada kalimat 1−7 berikut.
1. We have set out to prove that bats are birds.
2. When we get to the next point, we shall see that philosophy is dead.
3. So far,F
66
F we've seen that no current theories will work. 4. We will proceed in a step-by-step fashion.
5. Our goal is to show that hummingbirds are essential to military defense. 6. This observation points the way to an elegant solution.
7. We have arrived at a disturbing conclusion.
Ungkapan metaforis pada kalimat (3) merupakan salah satu bentuk manifestasi dari PK tersebut. Pengertian kalimat tersebut melalui frasa so far adalah ‘sejauh ini, kita telah melihat tidak satu teori pun yang dapat diterapkan’ (RSa). Ungkapan metaforis itu antara lain dibangun dari makna harfiah kalimat no
changes have been made so far (RSu). Bahkan, pada kalimat yang sama, terdapat
lebih dari satu jenis metafora, yaitu THEORIES ARE ENTITIES/personifikasi. Misal kalimat ... no current theories will work, termasuk ungkapan ... we've seen ..., yang juga dapat dipetakan menjadi UNDERSTANDING IS SEEING. Gejala penggunaan lebih dari satu jenis metafora dalam sebuah paragraf serta fungsinya tidak dikaji dalam penelitian disertasi.
Argumen juga sering dilukiskan melalui wadah yang dapat menyimpan atau menampung zat cair. Pemahaman tentang sebuah argumen lebih mudah jika dianalogikan dengan sesuatu yang lebih konkrit melalui PK: AN ARGUMENT IS A CONTAINER, seperti yang terlihat pada kalimat 1−10 berikut.
1. Your argument doesn't have much content. 2. That argument has holes in it.
3. You don't have much of an argument, but his objections have even less substance.
66
Frasa so far dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
UNIVERSITAS
4. Your argument is vacuous.
5. I'm tired of your empty arguments. 6. You won't find that idea in his argument. 7. That conclusion falls out of my argument. 8. Your argument won't hold water.
9. Those points are central to the argument-the rest is peripheral. 10. I still haven't gotten to the core of his argument.
Ungkapan metaforis pada kalimat (5), misal, memiliki makna bahwa ‘saya tidak mau lagi mendengar argumen Anda yang tidak berbobot itu’ (RSa). Makna metaforis tersebut antara lain bertitik tolak dari makna harfiah kalimat the meeting
room was empty (RSu). Berdasarkan uraian tentang ketiga kategori metafora konseptual tersebut di atas, kita dapat memahami tujuan Lakoff dan Johnson dalam mengembangkan teori metafora konseptual yaitu untuk menjelaskan relasi antar PK (RSu dan RSa) serta fungsinya dalam berargumentasi/bernalar dan berperilaku/bertindak: “… to uncover these metaphorical mappings between
domains and how they have guided human reasoning and behaviour” (Croft dan
Cruse 2008, h. 55). Pada Bagan 3.1 disajikan visualisasi teori metafora konseptual menurut Lakoff dan Johnson (1980) yang kemudian disempurnakan lagi oleh Lakoff (1993, h. 202−252).
Pendekatan kognitif terhadap metafora yang didasarkan pada teori semantik kognitif dapat memberikan pemahaman baru terhadap penerjemahan. Teori itu digunakan untuk menganalisis aspek kognitif metafora (Lakoff and Johnson 1980, Herderson 1986, Moon 1998, Kövecses 2002) dalam proses atau perilaku penerjemahan teks bidang ekonomi. Para pakar teori lingusitik kognitif (Dirven dan Paprotte 1985, Gibbs 1994, Johnson 1987, Kövecses 1986/1988, Lakoff 1987/1993, Lakoff dan Johnson 1980, Lakoff dan Turner 1989) sepakat bahwa dalam kehidupan sehari-hari metafora berpengaruh terhadap penggunaan bahasa secara konvensional. Proses yang sama dapat memotivasi penggunaan bahasa secara abstrak untuk bernalar. Teori itu membedakan metafora sebagai prinsip yang abstrak (misal PK: POLICIES AND PROGRAMS ARE WAR) yang diwujudkan dalam bentuk ungkapan metaforis before we can formulate effective policies and
programs to attackF
67
F poverty at its source, we need some specific knowledge of these poverty groups and their economic characteristics (White 2003, h.
67
Verba to attack dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
UNIVERSITAS
131−132). Makna metaforis frasa … to attack proverty … pada kalimat itu adalah ‘memerangi/mengentaskan kemiskinan’ (sebagai RSa). Makna metaforis itu merupakan perluasan makna harfiah dari frasa … attacking forces … yang bermakna ‘pasukan tempur/untuk menyerang’ (sebagai RSu), seperti pada kalimat
the infantry would use hit and run tactics to slow attacking forces.
Relasi ontologis antara RSa dan RSu juga relevan dalam penerjemahan, khususnya konsep translatability ‘translatabilitas’ metafora. Dengan demikian, translatabilitas tidak lagi berkaitan dengan ungkapan metaforis yang terdapat dalam TSu tetapi terkait erat dengan sistem konseptual dalam budaya sumber dan budaya sasaran. Dengan kata lain, pendekatan kognitif terhadap metafora memiliki implikasi terhadap teori dan praktik penerjemahan.
Dalam sebuah kalimat atau paragraf sering digunakan beberapa PK yang berbeda secara bersamaan (Lakoff dan Johnson 1980, h.41−45). Fenomena yang dimaksud dinamakan metaphorical coherence ‘koherensi metaforis’ yaitu relasi kognitif antarPK yang bertujuan untuk mempertajam makna atau argumen tentang sebuah konsep (Lakoff dan Johnson 1980, h. 104). Misal kalimat the country has
traveled a rocky roadF
68
F to get there, but today the outlookF
69
F for Chile's extensively privatized economy, supportedF
70
F where needed by a constructiveF
71
F government role, is very brightF
72
F indeed. Pada kalimat itu, setidaknya terdapat 8 PK seperti yang terlihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Koherensi Metaforis
Ungkapan Metaforis Pemetaan Konseptual
• The country has traveled a rocky road …;
• … the outlook for Chile's extensively privatized economy …;
• … supported where needed by a constructive government role…;
• … is very bright indeed.
• LIFE IS A JOURNEY
• ECONOMY IS SEEING
• ECONOMY IS A BUILDING; ROLES ARE BUILDINGS
• OUTLOOK IS A LIGHT-SOURCE
68
Klausa to travell a rocky road dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
69
Nomina outlook dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
70
Verba to support dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
71
Adjektiva contructive dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
72
Adjektiva bright dalam konteks kalimat tersebut berfungsi sebagai kata RSu.
UNIVERSITAS
Fenomena kemunculan empat jenis PK tersebut secara kognitif dapat memperkuat relasi koherensi atau konseptual dalam teks ekonomi yang bersangkutan yang juga mencerminkan bobot argumen atau gagasan yang disampaikan. Namun, fenomena itu tidak dikaji dalam disertasi ini sebab hanya berorientasi pada BSu.