• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metafora Struktural

Dalam dokumen BAB III METODE PENELITIAN (Halaman 39-72)

4.2.3 Metafora Struktural

Metafora struktural adalah jenis metafora yang keseluruhan konsep mentalnya yang kompleks distrukturisasikan dalam sekumpulan/seperangkat istilah dan konsep yang lebih konkret. Metafora struktural juga didasarkan pada dua ranah, yakni ranah sumber dan ranah sasaran berdasarkan korelasi sistematis dari pengalaman sehari-hari. Lakoff dan Johnson (2003:5) menegaskan bahwa konsep itu secara metaforis terstruktur, dengan demikian, bahasa yang digunakan juga terstruktur. Metafora konseptual struktural bersifat dinamis karena memanifestasikan apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan penggunanya selalu berubah sesuai dengan pikiran, perasaan, dan pengalaman

berbeda pada setiap budaya. Jenis metafora ini biasanya menggunakan ekspresi linguistik individual yang beragam, seperti tabel di bawah ini.

Tabel 4.3 Metafora Struktural No Pemetaan Konseptual (PK) Data 9. FAITH IS A FOUNDATION

He is like a man building a house, who dug deep and laid the foundation on the rock. And when the flood arose, the stream beat vehemently against that house, and could not shake it, for it was founded on the rock. (Lukas 6:48)

10. THE WORD OF GOD IS A SEED

A sower went out to sow his seed. And as he sowed, some fell by the way-side; and it was trampled down, and the birds of the air devoured it. (Lukas 8:5)

11. THE WORD OF GOD IS A PLANT

a. Some fell on the rock; and as soon as it sprang up, it withered away because it lacked moisture. (Lukas 8:6)

b. And some fell among thorns, and the thorns sprang up with it and choked it. (Lukas 8:7) c. But others fell on good ground, sprang up,

and yielded a crop a hundred-fold. (Lukas 8:8a)

12. LIFE IN FAITH IS LIGHT

No one, when he has lit a lamp, covers it with a vessel or puts it under a bed, but sets it on a lampstand, that those who enter may see the light. (Lukas 8:16)

13. FAITH BASIS IS KEEP PRAYING

a. …which of you shall have a friend, and go to him at midnight and say to him, “Friend, lend me three loaves; (Lukas 11:5)

b. Yet because this widow troubles me I will avenge her, lest by her continual coming she weary me. (Lukas 18:5)

14. FAITH OF LIFE IS WAKEFUL

a. “Let your waist be girded and your lamps

burning”. (Lukas 12:35)

b. “Therefore you also be ready, for the Son of Man is coming at an hour you do not

expect”. (Lukas 12:40) 15. KINGDOM OF GOD IS

GREAT BANQUET

a. “A certain man gave a great supper and invited many”. (Lukas 14:16)

b. For I say to you that none of those men who were invited shall taste my supper. (Lukas 14: 24)

16. AFFECTION IS WARMTH

a. And he arose and came to his father. But when he was still a great way off, his father saw him and had compassion, and ran and fell on his neck and kissed him. (Lukas

15:20)

b. But the father said to his servants, “Bring out the best robe and put it on him, and put a ring on his hand and sandals on his feet. (Lukas 15:22)

17. GOD IS LOVE a. And when she has found it, she calls her friends and neighbors together, saying: “Rejoice with me, for I have found the piece which I lost. (Lukas 15:9)

b. And when he has found it, he lays it on his

shoulders, rejoicing. And when he comes home, he calls together his friends and neighbors, saying to them, “Rejoyce with me, for I have found my sheep which was lost!’ (Lukas 15 : 5-6)

c. Yet because this widow troubles me I will

avenge her, lest by her continual coming she weary me. (Lukas 18:5)

18. FAITH IS SALT Salt is good; but if the salt has lost its flavor, how shall it be seasoned? (Lukas 14:34)

(9) Metafora struktural bangunan

Dilihat dari bentuknya ungkapan metaforis the foundation sebagai RSu pada data (9) merupakan nomina objektif yang termasuk metafora struktural bangunan. Interpretasi makna dan signifikansi data (9) dari cerita

(perumpamaan), yakni “iman” sebagai simbol dijelaskan dengan Pemetaan Konseptual (PK) agar entitas tersebut dipahami dengan baik.

(9) He is like a man building a house, who dug deep and laid the

foundation on the rock. And when the flood arose, the stream beat vehemently against that house, and could not shake it, for it was founded on the rock. (Lukas 6:48)

Dalam kalimat data (9), nomina the foundation sebagai RSu merupakan entitas abstrak dari perspektif linguistik kognitif yang secara metafora konseptual melalui entitas konkret dapat lebih mudah dipahami. Dengan kata lain, entitas tersebut melalui PK dapat dipetakan sehingga menjadi sebuah RSa yang ideal. Pemetaan metafora konseptual foundation adalah faith (iman) sebagai RSa. Makna entitas yang membentuk sebagian sistem simbol dari Kekristenan adalah faith sebagai RSa merupakan konsep metafisika atau transendental yang digunakan untuk mendefinisikan faith (Neville, 2001). Konsep the foundation yang dikonseptualisasikan menjadi faith sebagai RSa dapat dipetakan melalui PK: FAITH IS A FOUNDATION. Dengan kata lain, dapat dijelaskan bahwa the foundation yang sebenarnya merupakan dasar bangunan, secara metafora konseptual dianalogikan sebagai faith (iman).

Koherensi metaforis RSu dari metafora tersebut diambil dari bahasa sehari-hari sebagai sistem simbol yang merupakan realitas kehidupan, yaitu apabila orang-orang di Israel dahulu mendirikan rumah batu, tentu saja pondasinya yang mula-mula dibuat. Batu yang dimaksud bukan hanya

sebungkah batu, melainkan lapisan batu di tempat yang dalam di bawah tanah sesuai dengan struktur tanah berbatu-batu yang ada di Palestina.

Pada metafora FAITH IS A FOUNDATION dapat dipahami tentang dasar bangunan (THE FOUNDATION) sebagai RSu yang bersifat abstrak dibandingkan, berdasarkan kesamaan ciri yang dimiliki oleh iman (FAITH) dengan ciri yang dimiliki sebagai RSa. Kesamaan ciri atau karakteristik yang terdapat dalam kedua komponen makna tersebut menjadi dasar metafora, yakni kalau seseorang mendirikan rumah haruslah membuat dasar terlebih dahulu, sehingga dasar bangunan itu kuat untuk menopang bangunan yang tersusun di atas dasar tersebut, demikian pula iman manusia haruslah kuat atau kokoh sehingga iman menjadi dasar yang kuat dalam segala aspek kehidupan.

(10) Metafora struktural benih

Dalam metafora struktural benih, benih yang ditabur oleh seorang penabur digambarkan bahwa benih itu jatuh di beberapa tempat, seperti tampak pada tabel berikut.

Tabel 4.4

Arah Benih dalam Perumpamaan Seorang Penabur

Lukas 8:5-8a Arah dari benih pertama Arah dari benih kedua

Arah dari benih ketiga

Arah dari benih keempat Some seeds fell

by the way-side, trampled down, and birds devoured it.

Other seeds fell on the rock, it sprang up, withered away because it lacked moisture. Others fell in the thorns, it was chocked by thorns. Others fell in good soil; it grew and produced fruit.

(10) A sower went out to sow his seed. And as he sowed, some fell by the way-side; and it was trampled down, and the birds of the air devoured it. (Lukas 8:5)

(11). a. Some fell on the rock; and as soon as it sprang up with it and chocked it. (Lukas 8:6)

b. And some fell among thorns, and the thorns sprang up with it and choked it. (Lukas 8:7)

c. But others fell on good ground, sprang up, and yielded a crop a

hundred-fold. (Lukas 8:8a)

Dilihat dari bentuknya ungkapan metaforis seed pada data (10) merupakan nomina objektif yang termasuk metafora struktural benih. Interpretasi makna dan signifikansi data (10) dari cerita (perumpamaan), yakni “firman” sebagai simbol dijelaskan dengan Pemetaan Konseptual (PK) agar entitas tersebut mudah dipahami .

Nomina seed pada data (10) sebagai RSu merupakan entitas abstrak dari perspektif linguistik kognitif yang secara metafora konseptual melalui entitas konkret dapat lebih mudah dipahami serta melalui PK dapat dipetakan sehingga menjadi sebuah RSa yang ideal. Pemetaan metafora konseptual seed adalah the word of God (firman Allah) sebagai RSa.

Makna entitas yang membentuk sebagian sistem simbol dari Kekristenan adalah the word of God sebagai RSa merupakan konsep metafisika atau transendental yang digunakan untuk mendefinisikan faith (Neville, 2001). Konsep seed yang dikonseptualisasikan menjadi the word of

God sebagai RSa dapat dipetakan melalui PK: THE WORD OF GOD IS A

adalah benih, secara metafora konseptual dianalogikan sebagai the word of God.

Koherensi metaforis RSu dari metafora tersebut diambil dari bahasa sehari-hari sebagai sistem simbol yang merupakan realitas kehidupan, yaitu pertanian di Palestina yang tidak bergantung pada irigasi meskipun musim hujan di sana relatif singkat dan tanahnya berbatu-batu. Petani setempat memiliki teknik membersihkan dan menyuburkan tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Dalam menentukan jenis tanaman, para petani juga memperhatikan jenis tanah, apakah dataran subur, bukit berbatu, atau daerah yang agak tandus (Throntveit, 2012: 1540). Hal inilah yang menunjuk pada perumpamaan seorang penabur dalam Injil Lukas 8:4-8.

Metafora THE WORD OF GOD IS A SEED dapat dipahami bagaimana benih (THE SEED) sebagai RSu yang bersifat abstrak digambarkan, karena dibandingkan dengan firman Allah (THE WORD OF GOD) berdasarkan kesamaan ciri yang dimiliki antara benih (THE SEED) dan ciri yang dimiliki oleh firman Allah (THE WORD OF GOD) sebagai RSa. Kesamaan ciri atau karakteristik yang terdapat dalam kedua komponen makna tersebut menjadi dasar metafora, yakni penabur menabur benih yang jatuh di tanah, ada benih yang mati, tumbuh sebentar dan ada yang berbuah banyak. Gagasan tentang benih sebagai unit reproduksi kehidupan tumbuh-tumbuhan digunakan sebagai perumpamaan mengenai benih dan penabur (Hillyer, 1999:176).

Nomina the birds sebagai RSu juga merupakan entitas abstrak dari perspektif linguistik kognitif, secara metafora konseptual dapat dipetakan sehingga menghasilkan makna sebagai RSa yang membentuk sistem symbol, yaitu the evil spirit. Hal ini merupakan konsep metafisika yang digunakan untuk mendefinisikan the birds (Neville, 2001).

Eksistensi dari a seed sebagai benih tumbuhan dapat pula dikonstruksikan secara esensial dengan dua cara. Di satu sisi, sebagai pemikiran (thought) dan tindakan (action). Di sisi lain, benih tumbuhan yang dapat tumbuh ataupun mati. Hal tersebut memiliki sense sebagai proses dan bahkan peristiwa atau hasil dari sebuah proses. Pertama, sebagai proses, the seed fell by the way-side, trampled down (Lukas 8:5) yang secara metafora konseptual bermakna ‘orang yang mendengar firman’. Kedua, sebagai peristiwa atau dapat dikatakan sebagai hasil dari suatu proses, secara metafora konseptual bermakna ‘kemudian roh jahat datang dan mengambil firman itu dari hati mereka sehingga mereka tidak percaya dan diselamatkan’.

(11) Metafora struktural tumbuhan

Pada data berikut, yaitu data (11.a), dapat dilihat satu konsep lain sebagai berikut:

(11) a. Some fell on the rock; and as soon as it sprang up with it and chocked it. (Lukas 8:6)

Dari data (11.a) dapat dilihat bahwa frasa verbal spring up yang secara leksikal berarti tumbuh, sebagai entitas abstrak dari perspektif kognitif

linguistik dan pemetaan konseptual, bisa menjadi entitas konkret yang artinya dapat menjadi RSa ideal yang membentuk sebagian dari sistem simbol Kekristenan, yakni konsep metafisika.

Konsep spring up yang didefinisikan sebagai “the plant” yang dapat tumbuh dipetakan dengan PK: THE WORD OF GOD IS A PLANT.

Eksistensi dari seed secara esensial dapat dijelaskan sebagai pemikiran (thought), dan di sisi lain, sebagai tindakan (action) atau dapat dikatakan/ dijelaskan dengan proses atau peristiwa. Pertama, sebagai proses the seed fell down on the rock yang dikonsepkan secara metaforis ‘orang yang mendengar Firman Tuhan tetapi Firman itu tidak berakar dalam diri mereka.’ Kedua, sebagai peristiwa and as soon as it sprang up with it and chocked it, secara metafora konseptual berarti ‘orang yang percaya kepada Firman Tuhan hanya untuk sementara, ketika pencobaan hidup menimpa mereka, mereka jatuh dalam pencobaan tersebut, karena Firman itu tidak berakar dalam diri mereka’.

Pada data (11b) pemetaan metafora konseptualnya sama, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

(11) b. And some fell among thorns, and the thorns sprang up with it and choked it. (Lukas 8:7)

Frasa adverbial among thorns sebagai RSu merupakan kontainer abstrak apabila dilihat dari perspektif linguistik kognitif, dan dapat dipetakan menjadi kontainer konkret sebagai RSa yang bermakna ‘orang yang telah mendengarkan Firman’ dan inilah eksistensi dari benih sebagai proses.

Eksistensi benih tumbuhan sebagai hasil akhir dari suatu proses adalah and the thorns sprang up with it and choked it, secara metafora konseptual berarti ‘orang yang mendengar Firman Tuhan, karena kekhawatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup, sehingga Firman itu tidak mewujud nyata dalam kehidupan mereka.’

(11) c. But others fell on good ground, sprang up, and yielded a crop a hundred-fold. (Lukas 8:8a)

Dari data (11c) dapat dilihat bahwa frasa yield a crop yang secara leksikal berarti menghasilkan buah merupakan entitas abstrak apabila dilihat dari perspektif linguistik kognitif, dan melalui metafora konseptual menjadi entitas konkret. Makna konkret sebagai RSa yang membentuk sebagian sistem simbol Kekristenan adalah a seed yang merupakan konsep metafisika atau transendental. Konsep yield a crop didefinisikan sebagai “the seed” yang dapat tumbuh dan menghasilkan buah, sehingga sebagai RSa yang secara metafora konseptual dipetakan menjadi PK: THE WORD OF GOD IS A SEED.

Frasa nominal good ground secara leksikal berarti good soil dapat juga dianggap sebagai kontainer abstrak dan maknanya sebagai RSa yang membentuk sebuah sistem simbol Kekristenan adalah good heart. Hal ini merupakan konsep metafisika yang digunakan untuk mendefinisikan good ground (Neville, 2001).

Eksistensi benih yang tumbuh dan berbuah dijelaskan secara esensial dengan dua cara, yakni sebagai pemikiran (thought) dan tindakan (action) dan

sebagai sebuah proses dan hasil dari suatu proses atau peristiwa. Pertama, sebagai proses, the seeds fell on good ground yang secara metafora konseptual berarti Firman Tuhan yang didengar oleh orang dengan bijaksana dan berhati baik. Kedua, sebagai peristiwa,sprang up, and yielded a crop a hundred-fold secara metafora konseptual berarti orang yang percaya Firman itu dan menyimpannya dalam hati mereka sehingga berbuah terus-menerus dalam kehidupan mereka.

Tabel 4.5

Interpretasi Perumpamaan Seorang Penabur

Lukas 8:5-8a Interpretasi benih pertama Interpretasi benih kedua Interpretasi benih ketiga Interpretasi benih ke-empat Some persons are

like terrain along the way-side where seed are stolen by birds; they were robbed of the word by the devil.

Analogy: people and terrain.

Some people are like plants on a rock that lack roots; they fall away during temptation. Analogy: people and plants.

Some people are like a seed sown among thorns; they hear the word but are choked by cares, riches, and pleasures of life, and bring no fruit to maturity. Analogy: people and a seed. Some people are like a seed sown in good soil; they hear the word with a noble and good heart, keep it and bear fruit with patience.

Analogy: people and a seed.

(12) Metafora struktural pelita

Dilihat dari bentuknya ungkapan metaforis a lamp pada data (12) merupakan nomina objektif yang termasuk metafora struktural pelita. Interpretasi makna dan signifikansi data (12) dari cerita (perumpamaan) yakni

“hidup oleh iman” sebagai simbol dijelaskan dengan Pemetaan Konseptual (PK).

(12) No one, when he has lit a lamp, covers it with a vessel or puts it under a bed, but sets it on a lampstand, that those who enter may see the light. (Lukas 8:16)

Nomina a lamp pada data (12) sebagai RSu merupakan entitas abstrak dari perspektif linguistik kognitif yang secara metafora konseptual melalui entitas konkret mudah dipahami serta melalui PK dapat dipetakan sehingga menjadi sebuah RSa yang ideal. Pemetaan metafora konseptual lamp adalah ‘hidup oleh iman’ sebagai RSa.

Makna entitas yang membentuk sebagian sistem simbol dari Kekristenan adalah life in faith sebagai RSa merupakan konsep metafisika atau transendental yang digunakan untuk mendefinisikan life in faith (Neville, 2001). Konsep lamp yang dikonseptualisasikan menjadi life in faith sebagai RSa dapat dipetakan melalui PK: LIFE IN FAITH IS LIGHT. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa a lamp yang sesungguhnya adalah pelita, secara metafora konseptual dianalogikan sebagai life in faith (hidup oleh iman).

Koherensi metaforis pelita yang terdapat dalam Lukas 8:16 diambil dari kehidupan sehari-hari, yakni pelita pada zaman dahulu di Palestina, terbuat dari tanah liat dengan bahan bakar minyak zaitun yang dipakai untuk sarana penerangan.

Pada metafora LIFE IN FAITH IS LIGHT dapat dipahami bagaimana pelita (LAMP) sebagai RSu yang bersifat abstrak digambarkan, dibandingkan dengan hidup dengan iman (LIFE IN FAITH) berdasarkan kesamaan ciri yang dimiliki antara pelita (LAMP) dan ciri yang dimiliki oleh hidup dengan iman (LIFE IN FAITH) sebagai RSa. Kesamaan ciri atau karakteristik yang terdapat dalam kedua komponen makna tersebut menjadi dasar metafora yakni, pelita yang diacu dalam perumpamaan tersebut bentuknya kecil karena dapat digenggam. (Throntveit, 2012: 223). Analoginya adalah perilaku dan kehidupan manusia seharusnya berpadanan dengan imannya. Hal inilah yang menunjuk pada perumpamaan mengenai pelita yang terdapat dalam Injil Lukas 8:16(Hillyer, 1999:221).

Nomina the light sebagai RSu juga merupakan entitas abstrak dari perspektif linguistik kognitif, secara metafora konseptual dapat dipetakan sehingga menghasilkan makna sebagai RSa yang membentuk sistem simbol, yaitu faith. Hal ini merupakan konsep metafisika yang digunakan untuk mendefinisikan the light (Neville, 2001).

Eksistensi dari a lamp sebagai pelita dapat pula dikonstruksikan secara esensial dengan dua cara. Di satu sisi, sebagai pemikiran (thought) dan tindakan (action). Di sisi lain, pelita sebagai alat penerangan yang dapat menerangi sekitarnya memiliki sense sebagai proses dan bahkan peristiwa atau hasil dari sebuah proses. Pertama, sebagai proses, terdapat pada awal kalimat, yaitu no

one, when he has lit a lamp, covers it with a vessel or puts it under a bed, but sets it on a lampstand (Lukas 8:16) yang secara metafora konseptual bermakna ‘tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui’. Kedua, sebagai peristiwa, terdapat dalam kalimat berikutnya, yaitu for whoever has, to him more will be given; and whoever does not have, even what he seems to have will be taken from him (Lukas 8:18) secara metafora konseptual bermakna ‘siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya’.

(13a) Metafora struktural doa

Dilihat dari bentuknya ungkapan metaforis at midnight pada data (13a) merupakan adverbia, termasuk jenis metafora struktural. Interpretasi makna dan signifikansi data (13a) dari cerita (perumpamaan), yakni ‘berdoa dengan tidak jemu-jemu’ sebagai simbol dijelaskan dengan Pemetaan Konseptual (PK) agar entitas tersebut mudah dipahami.

(13a) …which of you shall have a friend, and go to him at midnight and say to him, “Friend, lend me three loaves”. (Lukas 11:5)

Frasa adverbial at midnight pada data (13a) sebagai RSu merupakan entitas abstrak dari perspektif linguistik kognitif yang secara metafora konseptual melalui entitas konkret mudah dipahami serta melalui PK dapat dipetakan sehingga menjadi sebuah RSa yang ideal. Pemetaan metafora konseptual at midnight adalah ‘berdoa dengan tidak jemu-jemu’ sebagai RSa.

Makna entitas yang membentuk sebagian sistem simbol dari Kekristenan adalah keep praying sebagai RSa merupakan konsep metafisika atau transendental yang digunakan untuk mendefinisikan keep praying (Neville, 2001). Konsep at midnight yang dikonseptualisasikan menjadi keep praying sebagai RSa dapat dipetakan melalui PK: FAITH BASIS IS KEEP PRAYING. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa at midnight yang sesungguhnya adalah tengah malam, secara metafora konseptual dianalogikan sebagai keep praying (berdoa dengan tidak jemu-jemu).

Koherensi metaforis “tengah malam” yang secara harfiah berarti waktu malam. Di dalam Lukas 11:5 ungkapan metaforis tersebut diambil dari kehidupan sehari-hari, yakni berdoa tidak mengenal waktu, baik siang maupun malam.

Dilihat dari bentuknya ungkapan metaforis continual coming pada data (13b) merupakan frasa adverbial (dalam kalimat kompleks) yang termasuk metafora struktural hakim yang lalim. Interpretasi makna dan signifikansi data (13b) dari cerita (perumpamaan), yakni “berdoa dengan tidak jemu-jemu” sebagai simbol dijelaskan dengan Pemetaan Konseptual (PK) agar entitas tersebut mudah dipahami .

(13b) Yet because this widow troubles me I will avenge her, lest by her

continual coming she weary me. (Lukas 18:5)

Frasa adverbial continual coming pada data (13b) sebagai RSu merupakan entitas abstrak dari perspektif linguistik kognitif, melalui entitas konkret dapat

lebih mudah dipahami serta melalui PK dapat dipetakan sehingga menjadi sebuah RSa yang ideal. Pemetaan metafora konseptual continual coming adalah keep praying (berdoa dengan tidak jemu-jemu) sebagai RSa.

Konsep continual coming yang dikonseptualisasikan menjadi keep

praying sebagai RSa dapat dipetakan melalui PK: FAITH BASIS IS KEEP

PRAYING. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa continual coming yang sesungguhnya adalah “datang terus-menerus”, secara metafora konseptual dianalogikan sebagai keep praying (berdoa dengan tidak jemu-jemu).

Koherensi metaforis pada ranah sumber dari metafora tersebut diambil dari kehidupan sehari-hari sebagai sistem simbol yang merupakan realitas kehidupan, yaitu dalam masyarakat Yahudi, seorang janda kadang-kadang hidup

Dalam dokumen BAB III METODE PENELITIAN (Halaman 39-72)

Dokumen terkait