1. Prestasi Belajar
Data prestasi belajar siswa dikumpulkan dengan melihat nilai rapor siswa yang bersangkutan. Nilai rapor yang akan dilihat adalah nilai rapor semester pertama siswa kelas X.
2. Locus of Control
a. Perkembangan Alat Ukur
Hannah Levenson mengembangkan alat ukur Locus of Control dengan membedakan faktor internal dan eksternal dalam tiga faktor yaitu faktor internal, faktor eksternal orang lain yang lebih berpengaruh (powerfull others), dan faktor eksternal keberuntungan, nasib dan kesempatan (chance). Tujuan Levenson memisahkan faktor-faktor tersebut adalah untuk mempertinggi daya prediksinya. Skala yang dikembangkan oleh Levenson diberi nama IPC Levenson. Skala IPC Levenson berbentuk skala menurut metode yang dikembangkan oleh Likert. Skala ini berisi enam pilihan untuk menghindari pilihan netral. Skala IPC Levenson diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pertama kali oleh Munandar (Hendy dalam Kurnianingtyas, 2002).
b. Isi Butir skala IPC Levenson
Skala ini terdiri dari tiga faktor, di mana masing-masing faktor terdiri dari delapan pertanyaan sehingga skala ini memiliki jumlah 24 pertanyaan. Aspek-aspek tersebut adalah internal, eksternal powerfull others, eksternal chance.
Tabel 1
Distribusi Butir Skala IPC Levenson
Faktor Nomor Butir Jumlah
Internal (I) Powerful Others (P) Chance (C) 1, 4, 5, 9, 18, 19, 21, 23 3, 8, 11, 13, 15, 17, 20, 22 2, 6, 7, 10, 12, 14, 16, 24 8 8 8 Jumlah 24
c. Cara Penyekoran skala IPC Levenson
Skala berbentuk skala sikap yang dikembangkan menurut metode Likert yang terdiri dari enam pilihan jawaban. Subjek hanya diperbolehkan memilih satu dari enam kemungkinan jawaban yang tersedia. Subjek yang mendapat skor tinggi dalam aspek tertentu menunjukkan bahwa dia mendukung pernyataan-pernyataan tersebut, sehingga dapat diketahui arah orientasi Locus of Control-nya.
Pemberian skor untuk jawaban pertanyaan-pertanyaan faktor internal adalah:
Tabel 2
Skor untuk Jawaban Faktor Internal
Jawaban skor
Sangat Setuju (SS) 6
Setuju (S) 5
Agak Setuju (AS) 4 Agak Tidak Setuju (ATS) 3 Tidak Setuju (TS) 2 Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Sedangkan penyekoran untuk pertanyaan-pertanyaan aspek eksternal powerful others dan chance dilakukan pembalikan skor. Dengan demikian skor yang diberikan untuk tiap jawaban adalah:
Tabel 3
Skor untuk Jawaban Faktor Eksternal
Jawaban skor
Sangat Setuju (SS) 1
Setuju (S) 2
Agak Setuju (AS) 3 Agak Tidak Setuju (ATS) 4 Tidak Setuju (TS) 5 Sangat Tidak Setuju (STS) 6
d. Validitas dan Reliabilitas
Azwar (2006) mengatakan bahwa untuk mengetahui apakah skala psikologi mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu pengujian validitas. Bila semakin tinggi validitas suatu alat tes, alat tes tes tersebut makin mengenai sasarannya dan makin menunjukkan apa yang harus ditunjukkannya. Validitas yang baik diperlihatkan oleh korelasi yang tinggi antara dua pengukuran terhadap trait yang sama oleh dua metode yang berbeda, atau korelasi yang rendah antara dua pengukuran terhadap trait yang berbeda walaupun menggunakan metode yang serupa.
Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Pengukuran yang tidak reliabel akan menghasilkan skor yang tidak dapat dipercaya karena perbedaan skor yang terjadi lebih ditentukan oleh faktor eror atau kesalahan daripada faktor perbedaan yang sesungguhnya (Azwar, 2006).
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menguji validitas IPC Levenson yang telah diterjemahkan oleh Munandar (Rosyid, 1997; Azwar, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Agustomo mengungkapkan bahwa faktor internal dan eksternal powerfull others memiliki korelasi sebesar -0,497, faktor internal dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar -0,779, dan faktor eksternal powerfull others dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar
0,576. Penelitian yang dilakukan oleh Djatmiko mengungkapkan bahwa faktor internal dan eksternal powerfull others memiliki korelasi sebesar -0,750, faktor internal dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar -0,502, dan faktor eksternal powerfull others dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar 0,281. Penelitian yang dilakukan Hendi mengungkapkan bahwa faktor internal dan eksternal powerfull others memiliki korelasi sebesar -0,497, faktor internal dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar -0,729, dan faktor eksternal powerfull others dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar 0,576. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Haryanto mengungkapkan bahwa faktor internal dan eksternal powerfull others memiliki korelasi sebesar 0,059, faktor internal dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar -0,164, dan faktor eksternal powerfull others dan eksternal chance memiliki korelasi sebesar 0,224. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal powerfull others serta faktor internal dan eksternal chance faktor memiliki korelasi tidak searah, sedangkan faktor eksternal powerfull others dan faktor eksternal chance memiliki korelasi yang searah. Hal ini menunjukkan bahwa skala IPC Levenson memiliki validasi yang baik. Faktor eksternal powerfull others dan faktor eksternal chance berusaha mengukur hal yang sama yaitu kecenderungan Locus of Control eksternal seseorang, sedangkan faktor internal mengukur hal yang berbeda dengan faktor eksternal
powerfull others dan faktor eksternal chance karena faktor internal berusaha mengungkapkan kecenderungan Locus of Control internal seseorang.
Penelitian lain juga telah dilakukan untuk menguji reliabilitas IPC Levenson yang telah diterjemahkan oleh Munandar (Rosyid, 1997; Azwar, 2006). Dengan pendekatan reliabilitas Anava Hoyt, Agustomo memperoleh koefisien reliabilitas rxx’ = 0,750, Hendi memperoleh koefisien rxx’ = 0,750, Sitaresmi memperoleh koefisien rxx’ = 0,751 dan Haryanto memperoleh koefisien rxx’ = 0,749. Persitarini menemukan koefisien rxx’ = 0,556 untuk faktor internal dan koefisien rxx’ = 0,766 untuk faktor eksternal. Hal ini membuktikan bahwa skala IPC Levenson memiliki tingkat reliabilitas yang baik. Skala ini makin dapat dipercaya atau makin konsisten dan menunjukkan tingkat kesalahan yang kecil karena menghasilkan korelasi yang tinggi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa validitas dan reliabilitas skala IPC Levenson sudah cukup baik. Walaupun demikian, penelitian-penelitian tersebut sudah dilaksanakan pada waktu yang sudah cukup lama. Oleh karena itu, peneliti akan tetap melakukan uji validitas dan reliabilitas skala IPC Levenson untuk dipakai dalam penelitian ini. Untuk menguji validitas skala ini, peneliti menggunakan validitas isi. Validitas isi merupakan tekhnik untuk menguji sesuai atau tidak alat ukur dengan cara
membandingkan isi instrumen dengan rancangan yang telah ditetapkan. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan cara analisis rasional yaitu mendiskusikan setiap item yang dibuat dengan orang yang dianggap ahli dan memahami tentang alat ukur yang akan digunakan atau lebih dikenal dengan professional judgment (Azwar, 2004). Setelah dilakukan pengujian validitas isi, peneliti akan melakukan analisis item dengan cara menghitung koefisien korelasi item-total (rix). Hasil perhitungan ini merupakan parameter daya beda item yang memperlihatkan kesesuaian fungsi item dengan fungsi skala dalam mengungkap perbedaan individual (Azwar, 2006). Setelah melakukan perhitungan daya beda item, peneliti akan melakukan pengukuran reliabilitas skala. Pengukuran ini menggunakan perhitungan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach. Perhitungan daya beda item dan reliabilitas skala dilakukan dengan
SPSS versi 13.0 for Windows. 1)Uji Validitas
Peneliti mengkonsultasikan item-item dalam skala Locus of Control kepada dosen pembimbing yang merupakan orang yang dianggap ahli dan memahami tentang alat ukur yang akan digunakan. Setelah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing, peneliti melanjutkan pada uji item berikutnya yaitu analisis item dan uji realibilitas.
2)Analisis Item
Untuk keperluan analisis item dan uji reliabilitas, peneliti mengadakan uji coba item yang dilaksanakan pada tanggal 5 Februari 2009 di SMA Negeri 1 Klaten yang beralamat di jalan Merbabu, Klaten. Sebelum melaksanakan uji coba, peneliti meminta ijin pada pihak sekolah untuk melaksanakan uji coba. Setelah mendapat ijin, peneliti melaksanakan uji coba pada tiga kelas yaitu kelas XA (yang berisi 13 siswa), XD (yang berisi 34 siswa),dan XF (yang berisi 33 siswa).
Besarnya koefisien korelasi item-total bergerak dari -1 sampai dengan 1. Semakin baik daya beda item, koefisien korelasinya semakin mendekati 1. Item yang dianggap baik adalah item yang memiliki rix ≥ 0,30 karena dianggap memuaskan dan memiliki daya beda yang tinggi (Azwar, 2006).
Setelah dilakukan uji coba di SMA negeri 1 Klaten, peneliti menghitung daya beda item yaitu dengan menghitung korelasi item-total. Perhitungan korelasi item-total ini menghasilkan rix
yang berkisar antara 0,260 sampai dengan 0,717. Dari 24 item skala IPC Locus of Control, terdapat satu item yang gugur yaitu nomor 4 karena memiliki korelasi dibawah 0,30 yaitu 0,260. Hasil blue print skala Locus of Control setelah membuang item yang kurang baik adalah:
Tabel 4
Distribusi Butir Skala IPC Levenson Setelah Analisis Item
Faktor Nomor Butir Jumlah
Internal (I) Powerful Others (P) Chance (C) 1, 5, 9, 18, 19, 21, 23 3, 8, 11, 13, 15, 17, 20, 22 2, 6, 7, 10, 12, 14, 16, 24 7 8 8 Jumlah 23 3)Reliabilitas
Selanjutnya, peneliti melakukan perhitungan koefisien reliabilitas skala. Berdasarkan perhitungan dengan tekhnik Alpha Cronbach, untuk uji coba didapat koefisien reliabilitas sebesar 0,865 sedangkan untuk penelitian didapat koefisien reliabilitas sebesar 0,859. Berdasarkan hasil perhitungan uji beda dan reliabilitas skala, peneliti telah mendapatkan item yang valid dan reliabel sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian.