• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Siswa Sekolah Menengah Atas Dalam Tahap Perkembangan Remaja 1. Siswa Sekolah Menengah Atas

Menurut Tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), siswa adalah orang yang sedang berguru, belajar atau bersekolah terutama pada tingkat sekolah dasar hingga menengah. Siswa-siswa yang bersekolah pada tingkat sekolah dasar hingga menengah biasanya memiliki rentang usia antara tujuh hingga delapan belas tahun. Siswa pada sekolah menengah atas, khususnya, berada pada rentang usia lima belas hingga delapan belas tahun sehingga sudah dapat masuk tahap remaja.

2. Remaja

a. Definisi Remaja

Remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial. Yusuf (2004) mengungkapkan bahwa individu masuk pada tahap remaja pada rentang usia dua belas hingga 22 tahun, sedangkan Santrock (2002) mengatakan bahwa masa remaja dimulai pada usia sepuluh tahun dan berakhir pada usia 22 tahun. Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat (pertambahan tinggi dan berat badan yang dramatis, perubahan bentuk

tubuh serta perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara) dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi (pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak dan idealis). Terdapat fase pubertas yang merupakan fase yang sangat singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Fase pubertas ini berkisar dari usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga kesulitan pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa (usia 10 – 22 tahun). Pada masa remaja terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat. b. Penggolongan Remaja

Penggolongan remaja menurut Konopka (dalam Yusuf, 2004) terbagi atas 3 tahapan, yaitu:

(b) remaja madya (usia 15 - 18 tahun) (c) remaja akhir (usia 19 - 22 tahun). c. Tahapan Perkembangan Remaja

i. Perkembangan Fisik pada Remaja

Santrock (2002) mengungkapkan bahwa pubertas adalah suatu periode kedewasaan kerangka tubuh dan seksual yang cepat, terutama terjadi pada awal masa remaja. Testosteron memainkan peran penting dalam perkembangan pubertas laki-laki, estradiol pada perkembangan pubertas perempuan. Pertumbuhan yang cepat pada laki-laki terjadi kira-kira dua tahun lebih lambat daripada pada anak-anak perempuan, yakni 12,5 tahun usia awal rata-rata pada anak laki-laki, 10,5 tahun usia awal rata-rata pada anak-anak perempuan. Kematangan individual pada masa pubertas bersifat menyeluruh.

ii. Perkembangan Kognitif pada Remaja a) Pemikiran operasional formal

Piaget (dalam Santrock, 2002) yakin bahwa pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealistik, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Remaja semakin mampu menggunakan pemikiran deduktif hipotesis. Remaja mengembangkan suatu tipe egosentrisme khusus yang meliputi penonton khalayan dan dongeng pribadi tentang makhluk yang

unik. Remaja mulai berpikir tentang kepribadian sama seperti cara yang dilakukan para ahli teori kepribadian, dan mereka memantau dunia sosial mereka dengan cara-cara yang lebih canggih.

b) Pengambilan Keputusan

Masa remaja adalah masa di mana pengambilan keputusan meningkat. Remaja mengambil keputusan tentang masa depan, apakah harus kuliah, teman-teman mana yang harus dipilih, dan lain sebagainya. Dalam mengambil keputusan, remaja cenderung menghasilkan pilihan-pilihan, menguji situasi dari berbagai perspektif, mengantisipasi akibat dari keputusan-keputusan, dan mempertimbangkan kredibilitas sumber-sumber (Santrock, 2002).

iii. Perkembangan Emosi pada Remaja

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas. Perubahan fisik terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan baru seperti perasaan cinta, rindu dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Yusuf (2004) mengatakan bahwa pada usia awal remaja, perkembangan emosi menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa. Remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.

Remaja akan mengalami perkembangan emosi yang besar. Mereka akan menuntut otonomi pada orang tuanya. Hal ini dapat mengakibatkan keadaan emosional yang memanas di keduabelah pihak yaitu orang tua dan remaja (Santrock, 2002). Memanasnya emosi disebabkan karena orang tua akan melakukan pengendalian yang lebih kuat ketika remaja menuntut otonomi dan tanggung jawab. Otonomi dan tanggung jawab menyebabkan orang tua merasa anak-anak remaja mereka melepaskan diri dari orang tua.

Mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya terutama lingkungan keluarga dan teman sebaya (Yusuf, 2004). Keluarga dan teman sebaya memberikan perasaan kelekatan (attachment) pada remaja. Santrock (2002) mengemukakan bahwa kelekatan selama masa remaja dapat berlaku sebagai fungsi adaptif yang menyediakan landasan yang kokoh di mana remaja dapat menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia sosial yang luas dalam suatu cara yang secara psikologis sehat.

iv. Perkembangan Sosial pada Remaja

Remaja sudah dapat memahami orang lain sebagai individu yang unik. Pemahamannya ini, mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan orang lain, baik melalui

jalinan persahabatan maupun percintaan (Yusuf, 2004). Dalam hubungan dengan orang lain, remaja cenderung memilih teman yang sama dengan dirinya, baik menyangkut minat, sikap, nilai, dan kepribadian.

Monks (2002) mengatakan bahwa dalam perkembangan sosial remaja dapat dilihat adanya dua macam gerak: memisahkan diri dari orang tua dan menuju ke arah teman-teman sebaya. Dua macam arah gerak ini tidak merupakan dua hal yang berturutan meskipun yang satu dapat terkait pada yang lain. Gerak yang pertama tanpa adanya gerak yang kedua dapat menyebabkan kesepian.

Dokumen terkait