• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.7 Metode Analisis Data

Data primer dan sekunder yang telah terkumpul mengenai biaya yang dikeluarkan oleh pasien selama menjalani pengobatan di rawat inap, meliputi biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan (direct cost) dan yang terkait dengan hilangnya produktivitas (indirect cost) dilakukan tabulasi data dan perhitungan statistik sehingga didapatkan gambaran biaya total dan rata-rata yang dikeluarkan oleh pasien selama menjalani pengobatan malaria di RSUD

Panyabungan. Pengolahan data tersebut dilakukan dengan bantuan komputer yang menggunakan software Microsoft Excel.

Untuk menentukan besarnya kerugian ekonomi dari hilangnya produktivitas akibat sakit malaria selama dirawat inap didasarkan pada perhitungan hilangnya hari/ waktu produktif untuk bekerja, kemudian dikonversikan ke dalam bentuk moneter, sehingga didapatkan keseluruhan biaya yang seharusnya dapat di simpan apabila tidak menderita malaria. Jumlah biaya yang hilang ini dipengaruhi oleh lama hari rawat inap dan besarnya jumlah pendapatan per hari pasien dan pendamping.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Kabupaten Mandailing Natal

Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Toba Samosir dan Kabupaten Daerah Tingkat II Mandailing Natal menjelaskan bahwa Kabupaten Mandailing Natal merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, terletak antara 00100-10500 Lintang Utara dan 980500-1000100 Bujur Timur. Kabupaten Mandailing Natal menempati area seluas 662.069,99 Ha yang terdiri atas 23 kecamatan, 407 desa/kelurahan definitif.

Wilayah Kabupaten Mandailing Natal berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Padang Lawas di sebelah Utara, Provinsi Sumatera Barat di sebelah Selatan dan Timur, dan Samudera Indonesia di sebelah Barat. Secara topografis, Kabupaten Mandailing Natal dibedakan atas tiga bagian, yaitu : a) Dataran rendah, merupakan daerah pesisir dengan luas 160.500 Ha (24,24%), b). Dataran landai seluas 36.585 Ha (5,49%), c). Dataran tinggi dibagi dua, yaitu perbukitan seluas 112.000 Ha (16,9%) dan daerah pegunungan seluas 353.185 Ha (53.34%).

Jumlah penduduk Kabupaten Mandailing Natal tahun 2016 adalah sebesar 435.303 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 65 jiwa per km2. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kecamatan Panyabungan yaitu sebanyak 83.319

jiwa dan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Pakantan yaitu sebanyak 2.302 jiwa. Rasio jenis kelamin sebesar 96,41 yang artinya tiap 100 penduduk perempuan, terdapat kira-kira 96 penduduk laki-laki. Dengan kata lain jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Mandailing Natal dari tahun 2015-2016 sebesar 1,02 persen.

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Sex Ratio Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

No Kecamatan

Jumlah Penduduk Rasio

Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah

1. Batahan 9.483 9.374 18.857 101.16

Mandailing Natal 213.682 221.621 435.303 96.42

Sumber : BPS Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

Jenis Kelamin Usia (Tahun)

Jumlah

Sumber : BPS Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017

Ditinjau dari sisi kelompok umur, persentase penduduk Kabupaten Mandailing Natal usia 0-14 tahun sebesar 35,35 persen, usia 15-64 tahun sebesar 60,60 persen dan usia 65 tahun ke atas sebesar 4,05 persen. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia non produktif (usia 0-14 tahun dan usia 65+).

Jumlah penduduk usia produktif sebesar 60,6 persen sedangkan jumlah usia non produktif sebesar 39,4 persen. Maka, dependency ratio sebesar 65,01 persen artinya setiap 100 orang penduduk usia produktif di Kabupaten Mandailing Natal menanggung sekitar 65 orang penduduk usia non produktif.

Ketersediaan jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan pada Susenas merujuk pada keikutsertaan penduduk menjadi anggota penerima jaminan kesehatan. Jenis jaminan kesehatan meliputi BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Askes/Asabri/Jamsostek, Jamkesmas PBI, Jamkesda, Asuransi Swasta, dan Asuransi Perusahaan/Kantor.

Jamkesda, 0.42 Asuransi Swasta; 0,17

Jamkesda, 0.42 Asuransi Swasta; 0,17

BPJS Kesehatan; 30,27

Sumber: BPS Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017

Gambar 4.1 Persentase Rumah Tangga Yang Memiliki Jaminan Kesehatan di Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

Gambar 4.1 menunjukkan bahwa dari 42,93 persen masyarakat yang memiliki jaminan kesehatan, 59,37 persen diantaranya memiliki Jamkesmas/PBI, 30,27 persen memiliki BPJS Kesehatan, 9 persen memiliki Askes/Asabri/Jamsostek, 0,77 persen memiliki BPJS Ketenagakerjaan, dan yang memiliki Jamkesda 0,42 persen.

4.2 Gambaran Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan

Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan didirikan pada tahun 1920.

Rumah sakit ini merupakan rumah sakit milik pemerintah kelas C yang beralamat di Jl. Merdeka No. 40, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal. Rumah sakit ini memiliki luas areal 9.475,36 m2 , luas bangunan 4.650 m2, dan kapasitas sebanyak 128 tempat tidur.

RSUD Panyabungan terletak di jalan lintas sumatera di perbatasan Sumatera Utara dengan Sumatera Barat, dengan jumlah penduduk ± 435.889 jiwa

± 522 Km, sedangkan jarak tempuh ke rumah sakit ibukota Provinsi Sumatera Barat ± 394 Km.

4.2.1 Visi dan Misi a. Visi

Visi Rumah Sakit Umum Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2012-2017 adalah “Terwujudnya Rumah Sakit Yang Unggul Dan Menjadi Pilihan Utama Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017”. Untuk memberikan kejelasan agar tidak menimbulkan persepsi dan pengertian berbeda perlu dijelaskan hakekat yang terkandung dalam visi tersebut:

1. Terwujudnya

Tercapainya keadaan yang diinginkan 2. Rumah Sakit Yang Unggul

Rumah sakit memiliki pelayanan kesehatan yang terakreditasi 3. Pilihan Utama

Pilihan terbaik karena kualitas

4. Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal

Masyarakat serta lingkungan di seluruh Kabupaten Mandailing Natal b. Misi

Misi Rumah Sakit Umum Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2012-2017 merupakan upaya merealisasikan visi yang sudah ditetapkan yang bertujuan memberikan pemahaman mengenai bagaimana cara mencapai keberhasilan visi organisasi.

1. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan paripurna dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejateraan pegawai.

3. Menyediakan pelayanan pendidikan.

4. Melaksanakan sistim informasi manajemen rumah sakit sesuai dengan prosedur dan standar rumah sakit.

4.2.2 Tujuan dan Sasaran a. Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan RSUD Panyabungan adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya Efesiensi mutu pelayanan kesehatan 2. Meningkatnya Kinerja RSUD Panyabungan

3. Meningkatnya profesionalitas dan spesialistik tenaga pelayanan kesehatan b. Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai RSUD Panyabungan adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya kemampuan RSUD Panyabungan sebagai pusat rujukan di Kabupaten Mandailing Natal.

2. Terwujudnya rumah sakit tipe c yang memenuhi standar.

3. Meningkatnya jumllah kunjungan rawat jalan dan rawat inap.

4. Meningkatnya manajemen rumah sakit dengan pengelolaan PPPK-BLUD.

5. Terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

6. Bertambahnya tenaga kesehatan yang berkualitas.

7. Meningkatnya standar pelayanan.

4.2.3 Ketenagaan/ Sumber Daya Manusia

Jumlah dan jenis tenaga Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3 Jenis Ketenagaan di RSUD Panyabungan

Jenis Ketenagaan Jumlah

Dokter 4 Pelayanan Dasar

 Dokter Spesialis Penyakit Dalam 2 Orang

 Dokter Spesialis Bedah (PPDS) 1 Orang

 Dokter Spesialis Anak 2 Orang

 Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan 3 Orang

Dokter Spesialis Penunjang Medik

 Dokter Spesialis Penunjang Medik 1 Orang

 Dokter Spesialis PK 2 Orang

Dokter Spesialis Lainnya

 Dokter Spesialis Paru 2 Orang

 Dokter Spesialis THT 1 Orang

 Dokter Spesialis Neurologi 1 Orang

 Dokter Spesialis Orthopedi 1 Orang

 Dokter Spesialis Mata 1 Orang

 Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa 1 Orang 1.2 Tenaga Medis Non Perawatan

 Apoteker 4 Orang

 S1 Farmasi 1 Orang

 D III Farmasi 2 Orang

 SAA 1 Orang

1.3 Tenaga Paramedis Non Perawatan

 AKZI 4 Orang

 SPAG 2 Orang

 SMAK 5 Orang

 Fisioteraphy/AKFIS 6 Orang

Sumber : Profil RSUD Panyabungan Tahun 2017

Tabel 4.3 Lanjutan

Jenis Ketenagaan Jumlah

 Akademi Rongen 3 Orang

 D III Analis 2 Orang

 S1 Tehnik Nuklir/ Teknisi Elektromedis 1 Orang

 APK/AKL 1 Orang

 D III Rekam Medik 1 Orang

 Akademi Refraksi Optik (AMPRO) 1 Orang

1.4 Tenaga Paramedis Perawatan

 D III Keperawatan 52 Orang

 D IV Keperawatan 4 Orang

 S1 Keperawatan 6 Orang

 D IV Kebidanan 3 Orang

 D III Kebidanan 24 Orang

 D I Kebidanan 2 Orang

 SPK 4 Orang

 SPRG 2 Orang

1.5 Tenaga Kesehatan Lainnya

 Magister Kesehatan Masyarakat 1 Orang

 Sarjana Kesehatan Masyarakat 2 Orang

1.6 Tenaga Non Medis 2 Orang

 Sarjana Eksakta/ Sosial 12 Orang

 SLTA 2 Orang

 SLTP 5 Orang

 SD 5 Orang

Sumber : Profil RSUD Panyabungan Tahun 2017

4.3 Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh karakteristik pasien malaria rawat inap di RSUD Panyabungan periode Juli-Desember 2017 yang menjadi responden dalam penelitian ini. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, dan Tingkat Penghasilan, Kelas perawatan, Jenis Pembayaran dan LOS.

Tabel 4.4 Lanjutan

Karakteristik Responden Jumlah

F %

d. Kelas II 14 21

e. Kelas III 27 41

Penjamin

a. BPJS 36 55

b. Umum 30 45

LOS

a. <3 hari 33 50

b. 3-5 hari 32 48

c. >5 hari 1 2

Pada tabel 4.4 diatas dapat diketahui karakteristik respoden, berdasarkan umur terlihat bahwa penderita malaria yang terbanyak pada usia 0-5 tahun (23%).

Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah laki-laki, yaitu sebanyak 40 orang (61%).

Berdasarkan jenis pekerjaan, pelajar/mahasiswa adalah penderita terbanyak dengan jumlah 19 orang (29%). Sementara tingkat penghasilan responden terbanyak berada diantara Rp.1.000.000 – Rp.2.000.000,- sebanyak 14 orang (45%). Berdasarkan penjamin sebanyak 36 orang (55%) menggunakan BPJS. Berdasarkan kelas perawatan pada pasien sebanyak 27 orang (41%) berada di Kelas III.

LOS (Length Of Stay) adalah jumlah hari produktif yang hilang selama dirawat inap di rumah sakit. Rata-rata jumlah hari tidak produktif seluruh pasien umum dan BPJS adalah 2.738 hari ≈ 3 hari, dimana jumlah hari tidak produktif pasien terbanyak adalah kelompok < 3 hari atau dirawat inap selama 1-2 hari (50%).

4.4 Direct Cost dan Indirect Cost Pasien Umum

Tarif riil pengobatan malaria (direct cost) pada pasien umum dihitung per rincian jenis pelayanan, dalam hal ini standar tarifnya sudah ditentukan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Mandailing Natal No.8 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Berikut rincian pengobatan malaria pada pasien umum : Tabel 4.5 Direct Cost Pasien Umum Setiap Kelas Rawat Inap

Direct Cost

Total Biaya Setiap Kelas Perawatan VIP

Obat Rp.454.675 Rp.273.955 Rp.263.770 Rp.574.700 Rp.1.024.755 Kunjungan

Dokter Sp. Rp.220.000 Rp.120.000 Rp.165.000 Rp.190.000 Rp.140.000 Jasa dan

Petugas R. Rp.330.000 Rp.240.000 Rp.330.000 Rp.510.000 Rp.840.000 Jasa

perawat Rp.55.000 Rp.40.000 Rp.50.000 Rp.95.000 Rp.140.000 LAB Rp.440.000 Rp.320.000 Rp.400.000 Rp.760.000 Rp.1.120.000 ADM Rp.60.000 Rp.45.000 Rp.60.000 Rp.120.000 Rp.165.000 Rawat Inap Rp.1.815.000 Rp.1.120.000 Rp.1.200.000 Rp.1.140.000 Rp.840.000 Total

Biaya Rp.3.374.675 Rp.2.158.955 Rp.2.468.770 Rp.3.389.700 Rp.4.269.755 Rata-Rata Rp. 843.669 Rp.719.652 Rp.617.103 Rp.431.213 Rp.388.160 Sumber: Kwitansi Pasien dan Daftar Harga Obat di Rumah Sakit, 2018

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa rata-rata biaya tertinggi yang dikeluarkan pasien umum terkait perawatan kesehatan di rumah sakit (direct cost) berada di kelas VIP sebesar Rp.843.669,-. Biaya rawat inap sebesar Rp.453.750,-/ pasien merupakan variabel biaya yang paling tinggi jika dibandingkan dengan biaya pelayanan lainnya. Hal tersebut terjadi karena komponen biaya yang dihitung dalam biaya rawat inap adalah biaya listrik, air, konsumsi, loundry, pemeliharaan, kebersihan, administrasi dan tenaga kerja. Namun rincian lengkap jumlah biaya setiap komponen biaya rawat inap tersebut tidak dapat ditunjukkan karena rumah

sakit telah mengacu kepada unit cost yang ditetapkan oleh pemerintah daerah yang menyatukan semua komponen biaya kedalam satu unit pelayanan rawat inap.

Variabel biaya yang paling sedikit adalah pelayanan jasa perawat yaitu sebesar Rp.13.750,-/ pasien. Secara umum perbedaan rata-rata biaya disetiap kelas dipengaruhi oleh unit cost per kamar dan biaya obat yang bervariasi. Biaya diatas merupakan biaya yang dikeluarkan pasien dengan rata-rata lama hari rawat 3 hari.

Berikut ini penjelasan indirect cost pasien umum : Tabel 4.6 Indirect Cost Pasien Umum

Indirect Cost

Total Biaya Setiap Kelas Perawatan VIP Transport Rp.63.000 Rp.159.000 Rp.197.000 Rp.305.000 Rp.466.000 Pendamping Rp.538.000 Rp.450.000 Rp.482.000 Rp.140.000 Rp.762.000 Produktvitas Rp.1.016.000 Rp.1.020.000 Rp.624.500 Rp.1.273.500 Rp.1.340.000 Total Biaya Rp.1.617.000 Rp.1.629.000 Rp.1.303.500 Rp.1.718.500 Rp.2.568.000 Rata-Rata Rp.404.250 Rp.543.000 Rp.325.875 Rp.214.812 Rp.233.455 Sumber : Kuesioner Penelitian, 2018

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa rata-rata biaya tertinggi yang dikeluarkan pasien umum terkait hilangnya produktivitas (indirect cost) selama dirawat inap berada di kelas utama sebesar Rp.543.000,-. Pendapatan yang hilang akibat sakit malaria (produktivitas hilang) adalah merupakan biaya tertinggi yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp.340.000,-/ pasien. Sementara yang terendah adalah biaya transportasi dengan Rp.53.000,-/ pasien. Indirect cost tertinggi berada di kelas utama disebabkan karena seluruh pasien dan pendamping di kelas tersebut merupakan usia produktif dan telah bekerja dengan rata-rata penghasilan yang cukup tinggi dibandingkan dengan kelas lainnya, sehingga dikelas tersebut

memiliki rata-rata biaya hilangnya produktiktivitas yang paling tinggi.

Rata-rata biaya transport terbesar terdapat pada pasien yang dirawat inap di kelas utama. Hal ini dikarenakan sebagian besar pasien bertempat tinggal di kategori dekat dan sedang ke lokasi rumah sakit, sementara pasien yang dirawat di kelas lain sebagian besar masuk kategori dekat. Maka dengan demikian semakin jauh jarak tempat tinggal ke rumah sakit maka semakin besar pula biaya transport yang dikeluarkannya. Semakin jauh jarak tempat tinggal ke rumah sakit juga cenderung membuat biaya pendamping semakin tinggi. Hal ini karena kebiasaan dari keluarga yang rumahnya dekat ke rumah sakit lebih memilih untuk membawa makanan dan minuman serta kebutuhan lainnya dari rumah. Sementara yang rumahnya cukup jauh ke rumah sakit cenderung membeli semua kebutuhannya diluar. Biaya diatas merupakan biaya yang dikeluarkan pasien dengan rata-rata lama hari rawat 3 hari.

4.5. Total Kerugian Ekonomi Pada Pasien Umum (Direct Cost + Indirect Cost)

Tabel 4.7 Distribusi Pengeluaran Pasien Umum Selama di Rawat Inap di RSUD Panyabungan

No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)

Tabel 4.7 Lanjutan

No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)

TOTAL 15.769.495 8.947.000 23.673.470

RATA-RATA 525.650 315.067 840.717

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui biaya yang dikeluarkan pasien (umum) dalam pengobatan malaria di RSUD Panyabungan periode Juli-Desember 2017. Total biaya yang dikeluarkan responden yang terkait langsung dengan perawatan (direct cost) adalah Rp.15.769.495,- dengan rata-rata Rp.525.650,-.

Selain itu responden juga mengeluarkan biaya terkait hilangnya produktivitas (indirect cost) dengan total Rp.8.947.000,- dan rata-rata Rp.315.067,-. Total kerugian ekonomi pasien (umum) secara keseluruhan adalah Rp. 23.673.470,- dan rata-rata Rp. 840.717,-.

4.6 Direct Cost dan Indirect Cost Pasien BPJS

Direct Cost pada pasien BPJS dilihat dari tarif INA-CBG‟s. Pada pasien malaria dengan kode diagnosa B50.9 dan deskripsi INA-CBG‟s nya adalah penyakit infeksi bakteri dan parasit lain-lain (ringan). Tarif INA-CBG‟s dihitung berdasarkan akumulasi atau penggabungan kode diagnosa dan kode prosedur/

tindakan kedalam sebuah kode CBGs yang standar tarifnya telah ditetapkan pemerintah pusat (Centre for Casemix Kemenkes RI). Komponen biaya yang yang sudah tercakup dalam tarif INA-CBG‟s adalah biaya medis seperti konsultasi dokter, laboratorium, Obat, bahan habis pakai, akomodasi dll serta biaya non medis. Tarif INA-CBG‟s untuk kelas I adalah Rp.2.964.700,-; kelas II Rp.2.541.200,- dan kelas III Rp.2.117.600,-.

Indirect cost pasien BPJS bisa dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.8 Indirect Cost Pasien BPJS

Indirect Cost

Total Biaya Setiap Kelas Perawatan Kelas I

Transport Rp.535.000 Rp.247.000 Rp.533.000

Pendamping Rp.1.298.000 Rp.930.000 Rp.1.619.000

Produktvitas Rp.3.994.500 Rp.2.144.000 Rp.2.428.750 Total Biaya Rp.5.827.500 Rp.3.321.000 Rp.4.580.750

Rata-Rata Rp.416.250 Rp.553.500 Rp.286.297

Sumber : Kuesioner Penelitian, 2018

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa rata-rata biaya tidak langsung tertinggi berada di kelas II yaitu sebesar Rp. Rp.553.500,-. Pendapatan yang hilang akibat sakit malaria (produktivitas hilang) adalah merupakan variabel biaya tertinggi yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp.357.333,-/ pasien. Sementara variabel biaya yang terendah adalah biaya transportasi dengan Rp.41.000,-/ pasien.

Indirect cost tertinggi berada di kelas II disebabkan karena biaya transport yang tinggi. Hal ini dikarenakan sebagian besar pasien dikelas II bertempat tinggal di kategori dekat dan jauh ke lokasi rumah sakit, sementara pasien yang dirawat di kelas lain sebagian besar masuk kategori dekat dan sedang. Maka dengan demikian semakin jauh jarak tempat tinggal ke rumah sakit maka semakin besar pula biaya transport yang dikeluarkannya. Semakin jauh jarak tempat tinggal ke rumah sakit juga cenderung membuat biaya pendamping semakin tinggi. Hal ini karena kebiasaan dari keluarga yang rumahnya dekat ke rumah sakit lebih memilih untuk membawa makanan dan minuman serta kebutuhan lainnya dari rumah. Sementara yang rumahnya cukup jauh ke rumah sakit cenderung membeli semua kebutuhannya diluar. Biaya diatas merupakan biaya yang dikeluarkan pasien dengan rata-rata lama hari rawat 3 hari.

4.7. Total Kerugian Ekonomi Pada Pasien BPJS (Direct Cost + Indirect Cost) Tabel 4.9 Distribusi Pengeluaran Pasien BPJS Selama di Rawat Inap di RSUD

Panyabungan

No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)

Tabel 4.9 Lanjutan

No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)

TOTAL 30.634.600 13.729.250 104.363.850

RATA-RATA 2.517.628 381.368 2.898.996

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui biaya yang dikeluarkan BPJS dan pasien dalam pengobatan malaria di RSUD Panyabungan periode Juli-Desember 2017. Total biaya yang dikeluarkan BPJS dalam pengobatan (direct cost) pasien malaria adalah sebesar Rp. 30.634.600,- dengan rata-rata Rp. 2.517.628. Selain itu pasien juga mengeluarkan biaya terkait hilangnya produktivitas (indirect cost) dengan total Rp. 13.729.250,- dan rata-rata Rp.381.368.

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Responden

Mengingat bahwa kerugian ekonomi akibat menderita malaria tidak hanya dialami oleh pasien saja namun juga pendamping, maka berdasarkan umur responden, peneliti mengambil sampel penelitian dari seluruh kategori umur dan kemudian dikelompokkan pada kategori usia produktif dan tidak produktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kategori usia produktif (15-65 tahun) memiliki jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan usia tidak produktif yaitu mencapai 58%. Tingginya penderita malaria pada usia produktif akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap kerugian ekonomi bagi pasien itu sendiri maupun keluarga dan pemerintah. Hal ini dikarenakan pada usia produktif kebanyakan dari mereka sudah bekerja dan memiliki penghasilan, sehingga jika sakit akan memberikan dampak terhadap turunnya produktivitas kerja dan berdampak pada penurunan penghasilan.

Berdasarkan jenis kelamin, ternyata responden terbanyak yang menderita malaria adalah laki-laki yaitu berjumlah 40 orang (61%). Penyebab banyaknya responden laki-laki yang terkena malaria berhubungan dengan resiko untuk terkena malaria yang lebih tinggi pada laki-laki karena aktivitas/ pekerjaan mereka dan juga dengan kondisi lingkungan sebagai tempat kerja. Hal ini sesuai dengan penelitian Sitompul (2016) yang menjelaskan bahwa di Kabupaten Batubara menunjukkan responden laki-laki lebih banyak yang menderita malaria

yaitu 56% dari total seluruh sampel penelitian. Sementara penelitian Hafizah dkk (2011) juga menunjukkan pasien malaria yang berjenis kelamin laki-laki lebih besar dibanding perempuan yaitu sebanyak 80,52%.

Berdasarkan jenis pekerjaan yang dimiliki oleh responden yang berusia produktif, sebagian besar bekerja sebagai pedagang (11%) dan buruh (8%). Bagi responden yang bekerja sebagai pedagang, penghasilan mereka tergantung dari seberapa banyak pembeli yang datang setiap harinya. Mereka berjualan atau membuka warung/tokonya dari pagi hingga malam. Oleh karena itu, tidak ada penghasilan yang akan didapatkan para pedagang jika mereka sakit karena warung atau toko yang mereka miliki akan ditutup selama di rumah sakit. Untuk responden yang bekerja sebagai buruh, dimana sebagian besar adalah merupakan buruh tani, mereka dibayar perhari sesuai dengan pekerjaan mereka. Akibatnya, apabila mereka tidak bekerja selama dirawat inap maka mereka tidak akan mendapat upah dan penghasilan.

Responden yang bekerja sebagai PNS, dalam penelitian ini banyak ditemui pasien dan pendamping yang berprofesi sebagai guru. Berdasarkan hasil wawancara, responden menyebutkan bahwa ketika mereka sakit tetap ada potongan gaji yang diberikan sesuai dengan jumlah jam mengajar yang hilang sebesar Rp.2000,-/ jam. Jika mereka izin, dalam hal ini karena mendampingi pasien maupun karena alasan lain tetap saja akan diberi potongan gaji yaitu sebesar Rp.5.000,-/ jam. Oleh karena itu perhitungan pendapatan yang hilang pada responden yang bekerja sebagai guru PNS ini didasarkan pada jumlah jam mengajar yang hilang selama sakit atau saat mendampingi pasien dikalikan

dengan standar potongan gaji yang sudah ditetapkan.

Tingkat penghasilan responden yang berusia produktif dan telah bekerja terbanyak mempunyai penghasilan antara Rp.1.000.000 - Rp.2.000.000,- per bulan yaitu sebanyak 14 orang (45%). Besarnya penghasilan responden dengan rata-rata Rp.1.683.710,-/ bulan menunjukkan jumlah pendapatan responden yang

masih dibawah nilai UMK Mandailing Natal tahun 2017 yaitu sebesar Rp. 2.096.250,-. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki keterbatasan

dalam menabung penghasilannya setiap bulan karena uang tersebut hanya cukup untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehingga jika responden menderita suatu penyakit maka disamping kehilangan pendapatannya juga akan menimbulkan ketidakberdayaan ekonomi yang mendorongnya jatuh miskin.

Rendahnya rata-rata pendapatan responden tidak hanya menurunkan kemampuan dalam upaya pengobatan namun juga terhadap upaya pencegahan malaria. Hal serupa sesuai dengan hasil penelitian Dalimunthe (2008) dalam Sitompul (2016), tentang faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pencegahan malaria di Mandailing Natal, bahwa penghasilan mempunyai pengaruh signifikan terhadap pencegahan malaria. Masyarakat dengan penghasilan diatas UMR lebih baik 16,2 kali dalam pencegahan malaria.

Berdasarkan penjamin, pasien yang dijamin oleh BPJS lebih banyak dibandingkan dengan pasien umum. Sementara jenis kelas perawatan yang dipilih, kebanyakan pasien berada di kelas III yaitu sebesar 41%. Hal ini dikarenakan pada pasien BPJS yang dirawat inap sebanyak 44% adalah merupakan penerima bantuan iuran (PBI), hal ini sejalan dengan data kepesertaan jaminan kesehatan di

Kabupaten Mandailing Natal tahun 2016 yang menunjukkan bahwa PBI jumlahnya cukup besar yaitu sebanyak 59,37%. Sementara pada pasien umum, sebanyak 37% responden memilih kelas I sebagai pilihan untuk mendapatkan pelayanan rawat inap dikarenakan biaya perawatannya yang cukup terjangkau.

Berdasarkan lama hari dirawat inap (length of stay), terbanyak sejumlah 50% responden dirawat berkisar 1-2 hari. Sementara rata-rata secara keseluruhan adalah selama 3 hari rawat. Hasil penelitian Yanuar (2003) juga menunjukan pasien malaria yang dirawat inap di RSUD Sungailiat Kabupaten Bangka rata-rata sebanyak 3 hari. Berbeda dengan hasil penelitian Hafizah dkk (2011) yang

Berdasarkan lama hari dirawat inap (length of stay), terbanyak sejumlah 50% responden dirawat berkisar 1-2 hari. Sementara rata-rata secara keseluruhan adalah selama 3 hari rawat. Hasil penelitian Yanuar (2003) juga menunjukan pasien malaria yang dirawat inap di RSUD Sungailiat Kabupaten Bangka rata-rata sebanyak 3 hari. Berbeda dengan hasil penelitian Hafizah dkk (2011) yang