• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi (representatif) (Saryono dan Anggraeni, 2013). Dalam menghitung besarnya sampel digunakan rumus sebagai berikut, dengan syarat populasi harus lebih kecil dari 10.000 (Notoatmodjo, 2002).

Keterangan :

N = Besar populasi

n = Jumlah minimum (ukuran sampel)

d = Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan 10% (0,1)

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 66 orang, dimana pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Purposive Sampling adalah pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2002).

Dalam pemilihan sampel, peneliti membuat kriteria bagi sampel yang diambil. Sampel yang diambil berdasarkan pada kriteria inklusi dan kriteria ekslusi yaitu karakteristik sampel yang dapat dimasukkan atau layak untuk diteliti.

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

a. Pasien ( BPJS dan umum) dengan diagnosa utama malaria tanpa komplikasi yang dirawat inap pada bulan Juli – Desember 2017.

b. Pasien memiliki kelengkapan data ( umur, jenis kelamin, LOS, kelas perawatan, diagnosa ) dan obat (nama obat).

c. Berdomisili di Kabupaten Mandailing Natal.

Kriteria Ekslusi dalam penelitian ini adalah :

a. Pasien (BPJS dan umum) dengan diagnosa utama bukan malaria tanpa komplikasi.

b. Data pasien tidak lengkap, hilang dan tidak jelas terbaca.

c. Tidak berdomisili di Kabupaten Mandailing Natal.

Pemilihan sampel dengan diagnosa malaria tanpa komplikasi, digunakan untuk menghindari variasi biaya yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan malaria komplikasi. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan tindakan yang

komplikasi tindakan pengobatan yang diberikan juga tergantung pada jenis komplikasi malaria yang diderita.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Data primer diperoleh dengan kuesioner. Menurut Notoatmodjo (2012), kuesioner adalah bentuk penjabaran variabel-variabel yang terlibat dalam tujuan penelitian dan hipotesis. Kuesioner ini diberikan dengan melakukan kunjungan ke alamat rumah atau menghubungi lewat nomor handphone yang dimiliki rumah sakit pada pasien malaria dan pendamping yang pernah mendapat pelayanan rawat inap pada periode Juli - Desember tahun 2017. Data yang dikumpulkan adalah data yang menyangkut identitas dan aspek – aspek biaya yang dikeluarkan terkait dengan hilangnya produktivitas (indirect cost) oleh pasien malaria dan pendamping selama dirawat inap.

Data yang diperoleh dari kuesioner meliputi :

a. Karakteristik - karakteristik pasien (umur, jenis kelamin, pekerjaan dan pendapatan)

b. Data biaya yang terkait dengan hilangnya produktivitas (indirect cost) yang terdiri dari biaya transportasi, pendamping dan produktivitas.

Data sekunder diambil dari catatan rekam medik dan status pasien malaria yang dirawat inap di RSUD Panyabungan periode Juli 2017 - Desember 2017, kwitansi pasien di bagian keuangan untuk memperoleh total biaya pelayanan pasien umum, daftar harga obat di bagian instalasi farmasi dan berkas klaim individual pasien di bagian pelayanan pasien BPJS untuk mengetahui total biaya

pengobatan pasien berdasarkan kelompok tingkat keparahan penyakit dan kelas perawatan sesuai tarif INA-CBG‟s.

Data yang diperoleh berdasarkan catatan rekam medis, status pasien, bagian keuangan, instalasi farmasi dan pelayanan pasien BPJS meliputi :

a. Data karakteristik pasien (umum dan BPJS) meliputi nomor rekam medis, nama, alamat, umur, jenis kelamin, LOS, kelas perawatan, obat, dan diagnosa.

b. Data biaya yang terkait langsung dengan perawatan (direct cost) yang dikeluarkan pasien umum selama menjalani perawatan/ pengobatan di rawat inap seperti biaya obat, rawat inap, kunjungan dokter spesialis, jasa dokter dan petugas ruangan, jasa perawat, pemeriksaan laboratorium, rawat inap, dan biaya administrasi.

c. Data biaya yang terkait langsung dengan perawatan (direct cost) yang dikenakan pada setiap pasien peserta BPJS berdasarkan kelompok tingkat keparahan penyakit yang diderita dan kelas perawatan sesuai tarif INA-CBG‟s.

Data ini dilihat dari berkas klaim individual pasien di rumah sakit.

3.5 Variabel dan Defenisi Operasional 3.5.1 Variabel

Variabel penelitian dalam penelitian ini yaitu :

a. Variabel Dependen : Biaya pengobatan malaria pasien rawat inap b. Variabel Independen : Biaya langsung dan biaya tidak langsung Biaya langsung, terdiri dari :

 Biaya obat

 Biaya kunjungan dokter spesialis

 Biaya Jasa perawat

 Biaya Jasa dokter dan petugas ruangan

 Biaya Pemeriksaan Laboratorium

 Biaya Rawat Inap

 Biaya Administrasi

Biaya tidak langsung, terdiri dari :

 Biaya Transportasi

 Biaya Pendamping

 Biaya Hilangnya Produktivitas

3.5.2 Definisi Operasional

a. Biaya pengobatan malaria pasien rawat inap adalah total biaya (total cost) yang dikeluarkan penderita selama perawatan di rumah sakit, meliputi penjumlahan biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan (direct cost) dan biaya yang terkait dengan hilangnya produktivitas (indirect cost).

b. Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan (pasien malaria), termasuk biaya obat, kunjungan dokter spesialis, Jasa perawat, jasa dokter dan petugas ruangan, pemeriksaan laboratorium, rawat inap dan administrasi.

c. Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah jumlah biaya yang terkait dengan hilangnya produktivitas akibat menderita malaria, termasuk biaya transportasi (pasien dan pendamping), biaya pendamping dan biaya hilangnya produktivitas (pasien dan pendamping).

d. Biaya obat adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk obat - obatan selama perawatan di rumah sakit.

e. Biaya jasa perawat adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk perawat dalam memelihara kebersihan untuk peningkatan kesehatan dan kesejahteraan fisik pasien di rumah sakit.

f. Biaya jasa dokter dan petugas di ruangan adalah jumlah biaya yang harus diterima oleh tenaga medis sebagai kompensasi atas kinerja yang dilakukan, berkaitan dengan resiko dan tanggung jawab profesi dari pekerjaannya di rumah sakit.

g. Biaya kunjungan dokter spesialis adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan mengunjungi pasien yang dilakukan oleh dokter spesialis di rumah sakit.

h. Biaya pemeriksaan laboratorium adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium sediaan darah penderita malaria di rumah sakit.

i. Biaya rawat inap adalah jumlah biaya yang dikeluarkan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan tarif yang telah ditetapkan rumah sakit tergantung kelas perawatan. Komponen biaya yang termasuk dalam biaya rawat inap adalah biaya listrik, air, konsumsi, loundry, pemeliharaan, biaya kebersihan, administrasi dan biaya tenaga kerja.

j. Biaya administrasi adalah jumlah biaya yang dikeluarkan pasien untuk pelayanan administrasi yang telah ditetapkan rumah sakit.

k. Biaya transportasi adalah jumlah biaya transportasi yang dikeluarkan pasien dan pendamping dari tempat tinggal menuju rumah sakit (pergi) dan dari rumah sakit menuju tempat tinggal (pulang).

l. Biaya pendamping adalah jumlah biaya yang dikeluarkan pendamping pasien meliputi makanan dan minuman (konsumsi) serta kebutuhan lainnya selama menemani pasien di rumah sakit.

m. Biaya hilangnya produktivitas adalah jumlah hilangnya pendapatan pasien dan pendamping karena tidak bisa bekerja selama menjalani perawatan di rumah sakit yang tergantung dari pendapatan normal perhari dan lama hari rawat.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik ( cermat, lengkap dan sistematis) sehingga lebih mudah diolah (Saryono dan Anggraeni, 2013). Instrumen penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah kuesioner, alat tulis dan alat rekam.

3.7 Metode Analisis Data

Data primer dan sekunder yang telah terkumpul mengenai biaya yang dikeluarkan oleh pasien selama menjalani pengobatan di rawat inap, meliputi biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan (direct cost) dan yang terkait dengan hilangnya produktivitas (indirect cost) dilakukan tabulasi data dan perhitungan statistik sehingga didapatkan gambaran biaya total dan rata-rata yang dikeluarkan oleh pasien selama menjalani pengobatan malaria di RSUD

Panyabungan. Pengolahan data tersebut dilakukan dengan bantuan komputer yang menggunakan software Microsoft Excel.

Untuk menentukan besarnya kerugian ekonomi dari hilangnya produktivitas akibat sakit malaria selama dirawat inap didasarkan pada perhitungan hilangnya hari/ waktu produktif untuk bekerja, kemudian dikonversikan ke dalam bentuk moneter, sehingga didapatkan keseluruhan biaya yang seharusnya dapat di simpan apabila tidak menderita malaria. Jumlah biaya yang hilang ini dipengaruhi oleh lama hari rawat inap dan besarnya jumlah pendapatan per hari pasien dan pendamping.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Kabupaten Mandailing Natal

Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Toba Samosir dan Kabupaten Daerah Tingkat II Mandailing Natal menjelaskan bahwa Kabupaten Mandailing Natal merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, terletak antara 00100-10500 Lintang Utara dan 980500-1000100 Bujur Timur. Kabupaten Mandailing Natal menempati area seluas 662.069,99 Ha yang terdiri atas 23 kecamatan, 407 desa/kelurahan definitif.

Wilayah Kabupaten Mandailing Natal berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Padang Lawas di sebelah Utara, Provinsi Sumatera Barat di sebelah Selatan dan Timur, dan Samudera Indonesia di sebelah Barat. Secara topografis, Kabupaten Mandailing Natal dibedakan atas tiga bagian, yaitu : a) Dataran rendah, merupakan daerah pesisir dengan luas 160.500 Ha (24,24%), b). Dataran landai seluas 36.585 Ha (5,49%), c). Dataran tinggi dibagi dua, yaitu perbukitan seluas 112.000 Ha (16,9%) dan daerah pegunungan seluas 353.185 Ha (53.34%).

Jumlah penduduk Kabupaten Mandailing Natal tahun 2016 adalah sebesar 435.303 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 65 jiwa per km2. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kecamatan Panyabungan yaitu sebanyak 83.319

jiwa dan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Pakantan yaitu sebanyak 2.302 jiwa. Rasio jenis kelamin sebesar 96,41 yang artinya tiap 100 penduduk perempuan, terdapat kira-kira 96 penduduk laki-laki. Dengan kata lain jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Mandailing Natal dari tahun 2015-2016 sebesar 1,02 persen.

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Sex Ratio Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

No Kecamatan

Jumlah Penduduk Rasio

Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah

1. Batahan 9.483 9.374 18.857 101.16

Mandailing Natal 213.682 221.621 435.303 96.42

Sumber : BPS Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

Jenis Kelamin Usia (Tahun)

Jumlah

Sumber : BPS Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017

Ditinjau dari sisi kelompok umur, persentase penduduk Kabupaten Mandailing Natal usia 0-14 tahun sebesar 35,35 persen, usia 15-64 tahun sebesar 60,60 persen dan usia 65 tahun ke atas sebesar 4,05 persen. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia non produktif (usia 0-14 tahun dan usia 65+).

Jumlah penduduk usia produktif sebesar 60,6 persen sedangkan jumlah usia non produktif sebesar 39,4 persen. Maka, dependency ratio sebesar 65,01 persen artinya setiap 100 orang penduduk usia produktif di Kabupaten Mandailing Natal menanggung sekitar 65 orang penduduk usia non produktif.

Ketersediaan jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan pada Susenas merujuk pada keikutsertaan penduduk menjadi anggota penerima jaminan kesehatan. Jenis jaminan kesehatan meliputi BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Askes/Asabri/Jamsostek, Jamkesmas PBI, Jamkesda, Asuransi Swasta, dan Asuransi Perusahaan/Kantor.

Jamkesda, 0.42 Asuransi Swasta; 0,17

Jamkesda, 0.42 Asuransi Swasta; 0,17

BPJS Kesehatan; 30,27

Sumber: BPS Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017

Gambar 4.1 Persentase Rumah Tangga Yang Memiliki Jaminan Kesehatan di Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

Gambar 4.1 menunjukkan bahwa dari 42,93 persen masyarakat yang memiliki jaminan kesehatan, 59,37 persen diantaranya memiliki Jamkesmas/PBI, 30,27 persen memiliki BPJS Kesehatan, 9 persen memiliki Askes/Asabri/Jamsostek, 0,77 persen memiliki BPJS Ketenagakerjaan, dan yang memiliki Jamkesda 0,42 persen.

4.2 Gambaran Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan

Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan didirikan pada tahun 1920.

Rumah sakit ini merupakan rumah sakit milik pemerintah kelas C yang beralamat di Jl. Merdeka No. 40, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal. Rumah sakit ini memiliki luas areal 9.475,36 m2 , luas bangunan 4.650 m2, dan kapasitas sebanyak 128 tempat tidur.

RSUD Panyabungan terletak di jalan lintas sumatera di perbatasan Sumatera Utara dengan Sumatera Barat, dengan jumlah penduduk ± 435.889 jiwa

± 522 Km, sedangkan jarak tempuh ke rumah sakit ibukota Provinsi Sumatera Barat ± 394 Km.

4.2.1 Visi dan Misi a. Visi

Visi Rumah Sakit Umum Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2012-2017 adalah “Terwujudnya Rumah Sakit Yang Unggul Dan Menjadi Pilihan Utama Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017”. Untuk memberikan kejelasan agar tidak menimbulkan persepsi dan pengertian berbeda perlu dijelaskan hakekat yang terkandung dalam visi tersebut:

1. Terwujudnya

Tercapainya keadaan yang diinginkan 2. Rumah Sakit Yang Unggul

Rumah sakit memiliki pelayanan kesehatan yang terakreditasi 3. Pilihan Utama

Pilihan terbaik karena kualitas

4. Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal

Masyarakat serta lingkungan di seluruh Kabupaten Mandailing Natal b. Misi

Misi Rumah Sakit Umum Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2012-2017 merupakan upaya merealisasikan visi yang sudah ditetapkan yang bertujuan memberikan pemahaman mengenai bagaimana cara mencapai keberhasilan visi organisasi.

1. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan paripurna dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejateraan pegawai.

3. Menyediakan pelayanan pendidikan.

4. Melaksanakan sistim informasi manajemen rumah sakit sesuai dengan prosedur dan standar rumah sakit.

4.2.2 Tujuan dan Sasaran a. Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan RSUD Panyabungan adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya Efesiensi mutu pelayanan kesehatan 2. Meningkatnya Kinerja RSUD Panyabungan

3. Meningkatnya profesionalitas dan spesialistik tenaga pelayanan kesehatan b. Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai RSUD Panyabungan adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya kemampuan RSUD Panyabungan sebagai pusat rujukan di Kabupaten Mandailing Natal.

2. Terwujudnya rumah sakit tipe c yang memenuhi standar.

3. Meningkatnya jumllah kunjungan rawat jalan dan rawat inap.

4. Meningkatnya manajemen rumah sakit dengan pengelolaan PPPK-BLUD.

5. Terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

6. Bertambahnya tenaga kesehatan yang berkualitas.

7. Meningkatnya standar pelayanan.

4.2.3 Ketenagaan/ Sumber Daya Manusia

Jumlah dan jenis tenaga Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3 Jenis Ketenagaan di RSUD Panyabungan

Jenis Ketenagaan Jumlah

Dokter 4 Pelayanan Dasar

 Dokter Spesialis Penyakit Dalam 2 Orang

 Dokter Spesialis Bedah (PPDS) 1 Orang

 Dokter Spesialis Anak 2 Orang

 Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan 3 Orang

Dokter Spesialis Penunjang Medik

 Dokter Spesialis Penunjang Medik 1 Orang

 Dokter Spesialis PK 2 Orang

Dokter Spesialis Lainnya

 Dokter Spesialis Paru 2 Orang

 Dokter Spesialis THT 1 Orang

 Dokter Spesialis Neurologi 1 Orang

 Dokter Spesialis Orthopedi 1 Orang

 Dokter Spesialis Mata 1 Orang

 Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa 1 Orang 1.2 Tenaga Medis Non Perawatan

 Apoteker 4 Orang

 S1 Farmasi 1 Orang

 D III Farmasi 2 Orang

 SAA 1 Orang

1.3 Tenaga Paramedis Non Perawatan

 AKZI 4 Orang

 SPAG 2 Orang

 SMAK 5 Orang

 Fisioteraphy/AKFIS 6 Orang

Sumber : Profil RSUD Panyabungan Tahun 2017

Tabel 4.3 Lanjutan

Jenis Ketenagaan Jumlah

 Akademi Rongen 3 Orang

 D III Analis 2 Orang

 S1 Tehnik Nuklir/ Teknisi Elektromedis 1 Orang

 APK/AKL 1 Orang

 D III Rekam Medik 1 Orang

 Akademi Refraksi Optik (AMPRO) 1 Orang

1.4 Tenaga Paramedis Perawatan

 D III Keperawatan 52 Orang

 D IV Keperawatan 4 Orang

 S1 Keperawatan 6 Orang

 D IV Kebidanan 3 Orang

 D III Kebidanan 24 Orang

 D I Kebidanan 2 Orang

 SPK 4 Orang

 SPRG 2 Orang

1.5 Tenaga Kesehatan Lainnya

 Magister Kesehatan Masyarakat 1 Orang

 Sarjana Kesehatan Masyarakat 2 Orang

1.6 Tenaga Non Medis 2 Orang

 Sarjana Eksakta/ Sosial 12 Orang

 SLTA 2 Orang

 SLTP 5 Orang

 SD 5 Orang

Sumber : Profil RSUD Panyabungan Tahun 2017

4.3 Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh karakteristik pasien malaria rawat inap di RSUD Panyabungan periode Juli-Desember 2017 yang menjadi responden dalam penelitian ini. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, dan Tingkat Penghasilan, Kelas perawatan, Jenis Pembayaran dan LOS.

Tabel 4.4 Lanjutan

Karakteristik Responden Jumlah

F %

d. Kelas II 14 21

e. Kelas III 27 41

Penjamin

a. BPJS 36 55

b. Umum 30 45

LOS

a. <3 hari 33 50

b. 3-5 hari 32 48

c. >5 hari 1 2

Pada tabel 4.4 diatas dapat diketahui karakteristik respoden, berdasarkan umur terlihat bahwa penderita malaria yang terbanyak pada usia 0-5 tahun (23%).

Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah laki-laki, yaitu sebanyak 40 orang (61%).

Berdasarkan jenis pekerjaan, pelajar/mahasiswa adalah penderita terbanyak dengan jumlah 19 orang (29%). Sementara tingkat penghasilan responden terbanyak berada diantara Rp.1.000.000 – Rp.2.000.000,- sebanyak 14 orang (45%). Berdasarkan penjamin sebanyak 36 orang (55%) menggunakan BPJS. Berdasarkan kelas perawatan pada pasien sebanyak 27 orang (41%) berada di Kelas III.

LOS (Length Of Stay) adalah jumlah hari produktif yang hilang selama dirawat inap di rumah sakit. Rata-rata jumlah hari tidak produktif seluruh pasien umum dan BPJS adalah 2.738 hari ≈ 3 hari, dimana jumlah hari tidak produktif pasien terbanyak adalah kelompok < 3 hari atau dirawat inap selama 1-2 hari (50%).

4.4 Direct Cost dan Indirect Cost Pasien Umum

Tarif riil pengobatan malaria (direct cost) pada pasien umum dihitung per rincian jenis pelayanan, dalam hal ini standar tarifnya sudah ditentukan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Mandailing Natal No.8 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Berikut rincian pengobatan malaria pada pasien umum : Tabel 4.5 Direct Cost Pasien Umum Setiap Kelas Rawat Inap

Direct Cost

Total Biaya Setiap Kelas Perawatan VIP

Obat Rp.454.675 Rp.273.955 Rp.263.770 Rp.574.700 Rp.1.024.755 Kunjungan

Dokter Sp. Rp.220.000 Rp.120.000 Rp.165.000 Rp.190.000 Rp.140.000 Jasa dan

Petugas R. Rp.330.000 Rp.240.000 Rp.330.000 Rp.510.000 Rp.840.000 Jasa

perawat Rp.55.000 Rp.40.000 Rp.50.000 Rp.95.000 Rp.140.000 LAB Rp.440.000 Rp.320.000 Rp.400.000 Rp.760.000 Rp.1.120.000 ADM Rp.60.000 Rp.45.000 Rp.60.000 Rp.120.000 Rp.165.000 Rawat Inap Rp.1.815.000 Rp.1.120.000 Rp.1.200.000 Rp.1.140.000 Rp.840.000 Total

Biaya Rp.3.374.675 Rp.2.158.955 Rp.2.468.770 Rp.3.389.700 Rp.4.269.755 Rata-Rata Rp. 843.669 Rp.719.652 Rp.617.103 Rp.431.213 Rp.388.160 Sumber: Kwitansi Pasien dan Daftar Harga Obat di Rumah Sakit, 2018

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa rata-rata biaya tertinggi yang dikeluarkan pasien umum terkait perawatan kesehatan di rumah sakit (direct cost) berada di kelas VIP sebesar Rp.843.669,-. Biaya rawat inap sebesar Rp.453.750,-/ pasien merupakan variabel biaya yang paling tinggi jika dibandingkan dengan biaya pelayanan lainnya. Hal tersebut terjadi karena komponen biaya yang dihitung dalam biaya rawat inap adalah biaya listrik, air, konsumsi, loundry, pemeliharaan, kebersihan, administrasi dan tenaga kerja. Namun rincian lengkap jumlah biaya setiap komponen biaya rawat inap tersebut tidak dapat ditunjukkan karena rumah

sakit telah mengacu kepada unit cost yang ditetapkan oleh pemerintah daerah yang menyatukan semua komponen biaya kedalam satu unit pelayanan rawat inap.

Variabel biaya yang paling sedikit adalah pelayanan jasa perawat yaitu sebesar Rp.13.750,-/ pasien. Secara umum perbedaan rata-rata biaya disetiap kelas dipengaruhi oleh unit cost per kamar dan biaya obat yang bervariasi. Biaya diatas merupakan biaya yang dikeluarkan pasien dengan rata-rata lama hari rawat 3 hari.

Berikut ini penjelasan indirect cost pasien umum : Tabel 4.6 Indirect Cost Pasien Umum

Indirect Cost

Total Biaya Setiap Kelas Perawatan VIP Transport Rp.63.000 Rp.159.000 Rp.197.000 Rp.305.000 Rp.466.000 Pendamping Rp.538.000 Rp.450.000 Rp.482.000 Rp.140.000 Rp.762.000 Produktvitas Rp.1.016.000 Rp.1.020.000 Rp.624.500 Rp.1.273.500 Rp.1.340.000 Total Biaya Rp.1.617.000 Rp.1.629.000 Rp.1.303.500 Rp.1.718.500 Rp.2.568.000 Rata-Rata Rp.404.250 Rp.543.000 Rp.325.875 Rp.214.812 Rp.233.455 Sumber : Kuesioner Penelitian, 2018

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa rata-rata biaya tertinggi yang dikeluarkan pasien umum terkait hilangnya produktivitas (indirect cost) selama dirawat inap berada di kelas utama sebesar Rp.543.000,-. Pendapatan yang hilang akibat sakit malaria (produktivitas hilang) adalah merupakan biaya tertinggi yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp.340.000,-/ pasien. Sementara yang terendah adalah biaya transportasi dengan Rp.53.000,-/ pasien. Indirect cost tertinggi berada di kelas utama disebabkan karena seluruh pasien dan pendamping di kelas tersebut merupakan usia produktif dan telah bekerja dengan rata-rata penghasilan yang cukup tinggi dibandingkan dengan kelas lainnya, sehingga dikelas tersebut

memiliki rata-rata biaya hilangnya produktiktivitas yang paling tinggi.

Rata-rata biaya transport terbesar terdapat pada pasien yang dirawat inap di kelas utama. Hal ini dikarenakan sebagian besar pasien bertempat tinggal di kategori dekat dan sedang ke lokasi rumah sakit, sementara pasien yang dirawat di kelas lain sebagian besar masuk kategori dekat. Maka dengan demikian semakin jauh jarak tempat tinggal ke rumah sakit maka semakin besar pula biaya transport yang dikeluarkannya. Semakin jauh jarak tempat tinggal ke rumah sakit juga cenderung membuat biaya pendamping semakin tinggi. Hal ini karena kebiasaan dari keluarga yang rumahnya dekat ke rumah sakit lebih memilih untuk membawa makanan dan minuman serta kebutuhan lainnya dari rumah. Sementara yang rumahnya cukup jauh ke rumah sakit cenderung membeli semua kebutuhannya diluar. Biaya diatas merupakan biaya yang dikeluarkan pasien dengan rata-rata lama hari rawat 3 hari.

4.5. Total Kerugian Ekonomi Pada Pasien Umum (Direct Cost + Indirect Cost)

Tabel 4.7 Distribusi Pengeluaran Pasien Umum Selama di Rawat Inap di RSUD Panyabungan

No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)

Tabel 4.7 Lanjutan

No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)

TOTAL 15.769.495 8.947.000 23.673.470

RATA-RATA 525.650 315.067 840.717

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui biaya yang dikeluarkan pasien (umum) dalam pengobatan malaria di RSUD Panyabungan periode Juli-Desember 2017. Total biaya yang dikeluarkan responden yang terkait langsung dengan perawatan (direct cost) adalah Rp.15.769.495,- dengan rata-rata Rp.525.650,-.

Selain itu responden juga mengeluarkan biaya terkait hilangnya produktivitas (indirect cost) dengan total Rp.8.947.000,- dan rata-rata Rp.315.067,-. Total kerugian ekonomi pasien (umum) secara keseluruhan adalah Rp. 23.673.470,- dan rata-rata Rp. 840.717,-.

4.6 Direct Cost dan Indirect Cost Pasien BPJS

Direct Cost pada pasien BPJS dilihat dari tarif INA-CBG‟s. Pada pasien malaria dengan kode diagnosa B50.9 dan deskripsi INA-CBG‟s nya adalah penyakit infeksi bakteri dan parasit lain-lain (ringan). Tarif INA-CBG‟s dihitung berdasarkan akumulasi atau penggabungan kode diagnosa dan kode prosedur/

tindakan kedalam sebuah kode CBGs yang standar tarifnya telah ditetapkan pemerintah pusat (Centre for Casemix Kemenkes RI). Komponen biaya yang yang sudah tercakup dalam tarif INA-CBG‟s adalah biaya medis seperti konsultasi dokter, laboratorium, Obat, bahan habis pakai, akomodasi dll serta biaya non medis. Tarif INA-CBG‟s untuk kelas I adalah Rp.2.964.700,-; kelas II Rp.2.541.200,- dan kelas III Rp.2.117.600,-.

Indirect cost pasien BPJS bisa dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.8 Indirect Cost Pasien BPJS

Indirect Cost

Total Biaya Setiap Kelas Perawatan Kelas I

Transport Rp.535.000 Rp.247.000 Rp.533.000

Pendamping Rp.1.298.000 Rp.930.000 Rp.1.619.000

Pendamping Rp.1.298.000 Rp.930.000 Rp.1.619.000