METODE PENELITIAN
D. Metode Analisis Data
Metode analisis data dilakukan dengan aturan yang harus dilalui
melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Menghitung masing-masing return pasar selama periode Januari 2007
sampai Desember 2012. Return bulanan dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut (Mohamad Samsul, 2006:292) :
Dimana:
Rt =returnpasar bulan t
Pt = harga saham penutupan pada periode t
Pt-1 = harga saham penutupan pada periode t-1
2. Mengelompokkanreturnyang telah dihitung ke dalam bulan perdagangan
Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September,
November, Desember.
3. Menghitung Abnormal return dengan menggunakan model
disesuaikan-pasar (market-adjusted model) yaitu dengan mengurangkan return yang
terjadi untuk masing-masing sekuritas dengan return indeks pasar pada
hari yang sama (Jogiyanto, 2009), dapat ditulis dengan rumus:
Dimana :
ARit = abnormal returnsaham i pada waktu t.
Rit = return sesungguhnya yang terjadi untuk saham i pada
periode waktu ke-t.
Rmt =returnekspektasi saham i untuk periode waktu ke-t.
4. Mengelompokkan abnormal return yang telah dihitung ke dalam bulan
perdagangan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus,
September, November, Desember.
5. Melakukan analisis keberadaanmonth of the year effect.
Pengujian ini akan mencoba untuk membuktikan keberadaan
month of the year effect di pasar modal Indonesia selama periode
observasi. Karenanya metode penelitian akan menggunakan regresi OLS
(Ordinary Least Square) dan metode Generalized Autoregressiv
Conditional Heterokedasticity (GARCH). Penjelasan model yang
digunakan adalah sebagai berikut:
1. Model regresi linier
Model regresi linear merupakan suatu model dengan
parameter linear dan secara kuantitatif dapat digunakan untuk
menganalisis pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya. ARit= Rit - Rmt
Terdapat dua jenis regresi linear yang biasa digunakan dalam
penelitian, yaitu regresi linear sederhana (simple regression) dan
regresi linear majemuk (multiple regression) (Nachrowi dan Usman
2006:7). Penelitian ini akan menggunakan regresi linear majemuk
sehingga pada nantinya akan dijelaskan lebih dalam mengenai
penggunaan metode tersebut (Imam Ghozali, 2005:179). Berikut ini
adalah permodelan dengan memasukkan variable dummy dengan
persamaan regresi sebagai berikut:
Rt = β1DJan+ β2DFeb+ β3DMar+β4DApr+β5DMei+β6DJun+ β7DJul+
β8DAgt+β9DSept+β10DOkt+β11DNov+β12DDes+et
ARt = β1DJan+β2DFeb+β3DMar+β4DApr+ β5DMei+ β6DJun+ β7DJul
+β8DAgt+β9DSept+β10DOkt+β11DNov+β12DDes+et
Keterangan :
Rt =Return bulanan pada hari t
ARt = Abnormal Return bulanan pada hari ke t
β1, β2, .... β12 =Koefisien regresi untuk variabel dummy dari
masing-masing bulan
DJan =Dummyuntuk bulan Januari
DFeb =Dummyuntuk bulan Februari
DMar =Dummyuntuk bulan Maret
DApr =Dummyuntuk bulan April
DMei =Dummyuntuk bulan Mei
DJul =Dummyuntuk bulan Juli
DAgt =Dummyuntuk bulan Agustus
DSept =Dummyuntuk bulan September
DOkt =Dummyuntuk bulan Oktober
DNov =Dummyuntuk bulan November
DDes =Dummyuntuk bulan Desember
Nilai DJan= 1 untuk return pada bulan perdagangan Januari
dan 0 untuk return pada bulan perdagangan lainnya. Nilai DFeb= 1
untuk return pada bulan perdagangan Februari dan 0 untuk return
pada bulan perdagangan lainnya, dan seterusnya. Koefisien regresi
ini menunjukan besarnyareturnrata-rata pada hari perdagangan ke-t.
Nilai-nilai penduga pada persamaan regresi harus memenuhi
persyaratan utama yaitu BLUE (Best Linear Unbiased Estimate) atau
mempunyai sifat linear, tidak bias, dan memiliki varian minimum.
Sifat-sifat tersebut didasarkan pada berbagai asumsi yang tidak boleh
dilanggar agar penduga tetap BLUE yang juga dikenal dengan
Toerema Gauss-markov(Winarno, 2009:4.2).
Suatu nilai penduga dapat dikatakan memiliki sifat BLUE
bila memenuhi persyaratan sebagai berikut: (Nachrowi dan Usman,
2006:12)
1) E (ui) = 0
Nilai rata-rata darierroradalah nol
Data homokedastis, yaitu besarnya varian sama untuk setiap i
3) Cov (uiuj) = 0
Error secara statistik bersifat independentsatu sama lain yang
mengindikasikan tidak adanya autokorelasi.
4) Cov (ut,xt) = 0
Tidak terdapat hubungan antara error dengan x (tidak adanya
multikolinearitas)
5) u
i ˜ N(0, σ
2)
utTerdistribusi secara normal
Dalam rangka memenuhi karakteristik estimator agar dapat
bersifat BLUE, maka akan dilakukan beberapa uji pada permodelan
untuk kemudian dilakukan treatment bila ditemukan adanya
penyimpangan pada data.
1) Uji Stasioneritas
Dalam menggunakan data times seriespada pengujian,
penting terlebih dahulu untuk melakukan uji stasioneritas pada
data. Data times series sendiri merupakan sekumpulan nilai
suatu variabel yang diambil pada waktu yang berbeda dan
dikumpulkan secara berkala pada interval waktu tertentu. Oleh
karenanya, data times series rentan untuk memiliki
permasalahan seperti autokorelasi (korelasi yang terjadi antar
observasi dalam satu variabel) yang mengakibatkan data tidak
Dengan demikian penting untuk menstasionerkan data
terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian lebih lanjut.
Sekumpulan data dinyatakan stasioner jika nilai rata-rata dan
varian dari data times series tersebut tidak mengalami
perubahan secara sistematik sepanjang waktu dan konstan
(Nachrowi dan Usman, 2006:340). Pendeteksian stasioneritas
pada data akan menggunakan ujiUnit Root Augmented
Dickey-Fuller. Hipotesis untuk uji ADF adalah:
H0: δ = 0
H1: δ ≠ 0
Hipotesis awal mengindikasikan bahwa data memiliki
unit root. Nilai uji ADF t-statistik dengan angka lebih rendah
dari critical value 5% mengindikasikan data tidak memiliki
masalah unit root atau data telah stasioner sehingga
kesimpulan yang diambil adalah tolak H0.
2) Uji autokorelasi
Autokorelasi (autocorrelation) adalah hubungan antara
residual satu observasi dengan residual observasi lainnya.
Autokorelasi lebih mudah timbul pada data yang bersifat
runtun waktu karena berdasarkan sifatnya, data masa sekarang
dipengaruhi oleh data pada masa-masa sebelumnya. (Winarno,
Autokorelasi yang kuat dapat menyebabkan dua
variabel yang tidak berhubungan menjadi berhubungan. Bila
metode OLS digunakan maka akan terlihat R2 yang besar
dapat menghasilkan spurius regression atau regresi palsu
(Nachrowi dan Usman, 2006:186). Cara untuk melakukan uji
autokorelasi selain dengan uji Durbin Watson juga dapat
menggunakan uji LM test atau yang juga dikenal dengan The
Breusch-Godrey (BG) test merupakan salah satu metode yang
dapat digunakan untuk mengecek adanya penyimpangan
autukorelasi pada suatu periode observasi. Penggunaan LM
test dalam mendeteksi keberadaan autokorelasi dirasa lebih
baik dibandingkan dengan menggunakan Durbin Watson
karena LM test tidak mempermasalahkan keberadaan error
pada AR dan MA sebagai variabel bebas. Adapun hipotesis
yang digunakan yaitu:
H0= Tidak terdapat autokorelasi H1= Terdapat autokorelasi
Bila nilai probabilitas pada Obs*R-squared > α = 5%,
mengindikasikan data tidak ada autokorelasi sehingga
kesimpulan yang diambil adalah terima H0. Bila nilai
probabilitas pada Obs*R-squared < α = 5% maka tolak H0.
(Shochrul R. Ajija, Et.al 2011:40).
Heteroskedestisitas merupakan kondisi dimana varian
tidak konstan atau berubah-ubah. Uji heteroskedestisitas dapat
dilakukan dengan menggunakan White Heterokedasticity test
ataupun dengan melihat Residual Graph. Hipotesis pada uji
Heteroskedestitas adalah sebagai berikut:
H0= Tidak terdapat heteroskedestisitas H1= Terdapat heteroskedestisitas
Hipotesis awal mengindikasikan bahwa tidak terdapat
hubungan antara error dengan variabel bebas atau data telah
homokedastis. Bila nilai telahprobibalitypadaObs*R-squared
>α = 5%, berarti tidak terdapat heteroskedastisitas atau dengan
kata lain terima H0. Sedangkan bila nilai probabilitas pada
Obs*R-squared < α = 5%, berarti terdapat heteroskedastisitas
atau tolak H0. Uji White akan menggunakan White
Heteroskedasticity (no cross term) dikarenakan banyak
terdapat variabel bebas yang digunakan dalam permodelan
Shochrul R. Ajija, Et.al 2011:41).
2. Model ARCH dan GARCH
Penelitian dengan menggunakan data times series sering kali
menemukan kondisi dimana varian error tidak bersifat konstan
sehingga memiliki permasalahan heterokedastis. Pada penelitian
dengan permodelan Regresi Ordinary Least Square data harus
estimator bersifat BLUE. Adanya penyimpangan homoskedastis
pada data dimana varian error tidak bersifat konstan, maka
dibutuhkan permodelan lain yang tidak memandang
heteroskedastisitas sebagai permasalahan, tetapi justru
memanfaatkan kondisi tersebut untuk membuat permodelan. Oleh
karena itu akan digunakan permodelan Autoregressive Conditional
Heteroskedasticity (ARCH) dan Generalized Autoregressive
Conditional Heteroskedasticity (GARCH) untuk memperoleh
estimator yang efisien (Nachrowi dan Usman, 2006:419).
Pada intinya, baik model ARCH dan GARCH berusaha untuk
mengatasi adanya heteroskedastisitas pada model dengan
menambahkan persamaan varian pada model. Kemudian model yang
ditambahkan persamaan varian tersebut diestimasi secara simultan
agar dapat diperoleh estimator yang efisien.
1) Metode ARCH
Pada uji menggunakan data return, ada kalanya terdapat
suatu permodelan dimana terjadi volatilitas yang sangat tinggi dan
ada periode lain volatilitasnya sangat rendah. Pada volatilitas
demikian menunjukan adanya heterokedastisitas karena terdapat
varianerror yang besarnya bergantung pada volatilitaserror dimasa
lalu. (Nachrowi dan Usman, 2006:420) Data yang demikian dapat
Penelitian akan menggunakan trial and error untuk
menemukan persamaan. Berikut adalah persamaan dasar dengan
menggunakan permodelan ARCH : (Berument and Kiymaz,2001)
Rt = β1DJan+ β2DFeb+ β3DMar+ β4DApr+ β5DMei+ β6DJun+ β7DJul+
β8DAgt+β9DSept+β10DOkt+β11DNov+β12DDes+ bj+5rt-j+
ARCH model digunakan untuk mengatasi ketidakpastian
dari resiko residual. Keuntungan pendekatan ini adalah conditional
varianceatau volatilitas jangka pendek merupakan fungsi dari error
pada return saham masa lalu. Untuk menemukan permodelan yang
sesuai, dapat dilakukan penambahan jumlah orde (q) yang lebih
besar pada model ARCH (q). Penambahan orde (q) akan
mengakibatkanvariancedari residualnya berubah. Selain itu, jumlah
orde (q) yang relatif besar akan mengakibatkan banyaknya parameter
yang harus diestimasi. Semakin banyak parameter yang harus
diestimasi dapat mengakibatkan ketepatan dari estimator berkurang.
Hal ini biasa dijumpai pada pengujian menggunakan data bulanan.
(Nachrowi dan Usman, 2006:421).
(a) Uji ARCH–LM pada model
Sebelum membuat permodelan menggunakan metode
ARCH, penting untuk terlebih dahulu mendeteksi keberadaan ARCH
effect. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui permodelan mana
OLS dalam memodelkan persamaan. Untuk melihat Obs*R-squared
pada ARCH-LM test program Eviews. Nilai probabilita
Obs*R-squared yang lebih kecil dari α = 5% mengindikasikan keberadaan
ARCHeffectpada permodelan.
Menentukan permodelan ARCH yang sesuai akan
menggunakan trial ana error. Permodelan ARCH dapat dikatakan
baik ketika memiliki nilai adjusted R-squared tinggi, Schwarz
Criterion rendah, dan nilai AIC (Akaike) minimum. (Winarno,
2009:8.23)
Namun demikian model ARCH (q) yang baik sulit untuk
diestimasi. Untuk mengatasi hal tersebut, Bollerslev (1986)
menggunakan permodelan generelized ARCH (GARCH) untuk
mengatasi kekurangan pada ARCH.
2) Metode GARCH
Metode GARCH digunakan ketika terdapat variance error
yang besarnya bergantung pada squared error terms pada
beberapa tahun lalu. Berikut ini adalah pemodelan dari GARCH :
(Bollerslev, 1986)
= + +
Permodelan yang sesuai dalam menggambarkan volatilitas
deteksi keberadaan month of the year efect pada hasil. Berikut
adalah hipotesis penelitian untuk uji tersebut:
H0: β1, β2,…..β12= 0 H1: β1, β2,…..β12≠ 0
Hipotesis awal mengindikasikan bahwa terdapat
conditional variance yang bersifat konstan pada periode observasi
atau terdapat rata-rata return yang sama selama periode observasi
dimana return bulan Januari akan sama dengan return bulan
Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September,
Oktober, November, dan Desember. Hipotesa alternatif
mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan return antara
keduabelas bulan tersebut yang mencerminkan keberadaan month
of the year effectselama periode observasi.
Bila nilai probabilitas < α=5%, maka terdapat anomaly month of the yaer effect atau dengan kata lain tolak H0. Hal ini
mengindikasikan bahwa return keduabelas bulan tersebut berbeda
satu sama lain. Sedangkan bila nilai probabilita > α =5%, maka tidak
terdapat anomali month of the year effectsehingga kesimpulan yang
diambil adalah terima H0. Berikut adalah diagnostic check lebih
lanjut sebagai uji kelayakan untuk model GARCH, hasil
penjumlahan koefisien ARCH dan GARCH tidak lebih dari 1