Analisis dan pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mendeskripsikan hubungan kemitraan yang terjalin antara peternak plasma dan perusahaan inti. Selain itu, digunakan untuk menggambarkan kondisi umum daerah penelitian tersebut.
Metode analisis data merupakan suatu proses lanjutan setelah dilakukannya pengumpulan data. Menganalisis data ditujukan agar data yang telah dikumpulkan dapat memberikan informasi. Adanya hasil analisis terhadap data ini dapat memberikan berbagai jawaban atas perumusan permasalahan yang terdapat
33 dalam peneilitian ini. Langkah awal sebelum melakukan analisis data adalah dengan mengelompokan data yang diperoleh dari sampling menjadi dua bagian yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.
Analisis data kualitatif akan digunakan untuk menggambarkan pelaksanaan kemitraan yang terjalin antara CV Tunas Mekar Farm dengan peternak mitra. Data kualitatif akan diuraikan secara deskriptif. Analisis deskriptif juga digunakan untuk menguraikan pengaruh kemitraan terhadap pendapatan peternak mitra. Analisis data kuantitatif digunakan untuk menghitung tingkat pendapatan peternak mitra dan peternak non mitra dengan melakukan analisis usahatani. Sedangkan pengaruh kemitraan akan dihitung dengan uji statistik uji-t, yang akan melihat apakah ada perbedaan nyata antara peternak yang bermitra dan peternak non mitra. Data–data tersebut akan diolah dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan Minitab 15.
4.4.1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk melihat karakteristik peternak mitra dan mengevaluasi pelaksanaan kemitraan. Data primer yang telah diperoleh melalui wawancara dan kuisioner. Kemudian data tersebut dianalisis untuk melihat karakteristik peternak mitra yang meliputi umur, tingkat pendidikan, lama bermitra, pengalaman usahatani, luas lahan dan alasan bermitra dengan CV TMF.
4.4.2. Analisis Usahatani
Pengolahan data secara kuantitatif dilakukan dalam analisis usahatani ini. Data yang diperlukan dalam analisis ini ialah data tentang penerimaan, biaya, dan pengeluaran usahatani. Analisis ini berguna untuk mengetahui tingkat pendapatan yang diperoleh peternak.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya penerimaan yang didapat dalam usahatani. Menurut Soekartawi (2002), penerimaan atau pendapatan kotor adalah seluruh pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani dan pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan pengeluaran. Maka dapat disimpulkan penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan tersebut secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut:
34 π = Y x Py
Dimana :
π = Penerimaan total usahatani (Rp)
Y = Hasil produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani (Kg) Py = Harga jual produk per unit (Rp/Kg)
Selanjutnya analisis ini digunakan untuk mengetahui biaya–biaya yang dikeluarkan dalam usaha ternak ayam broiler. Dalam analisis ini dibedakan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya non tunai (diperhitungkan).
Biaya tunai pada usaha ternak ayam broiler meliputi biaya DOC, biaya pakan, tenaga kerja luar keluarga (TKLK), biaya obat, biaya sekam, biaya vaksin, dan sewa lahan. Sedangkan biaya tidak tunai pada usaha ternak ayam broiler meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), dan biaya penyusutan alat.
Biaya tunai maupun tidak tunai tersebut dalam perhitungan dibedakan juga ke dalam dua bagian yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Biaya tetap umumnya tidak tergantung kepada besar kecilnya produksi yang diperoleh seperti pada biaya penyusutan alat sedangkan biaya variabel sangat tergantung kepada besar kecilnya produksi seperti pada upah buruh, obat–obatan, vaksin, biaya sekam dan sewa lahan. Maka, dalam perhitungannya jumlah nilai biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) dapat ditetapkan sebagai biaya total (total cost). Adapun rumus matematisnya adalah sebagai berikut :
TC = FC + VC Keterangan :
TC = Biaya Total FC = Biaya Tetap VC = Biaya Variabel
Perhitungan biaya penyusutan menggunakan metode garis lurus (straight line) yang dapat diperoleh dengan membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai yang ditafsirkan dibagi umur ekonomis dari alat tersebut. Adapun rumusan matematisnya adalah sebagai berikut :
Biaya Penyusutan = Nb – Ns n
35 Keterangan :
Nb = Nilai Pembelian Ns = Nilai Sisa
n = Umur Ekonomis Alat
Analisis pendapatan usahatani digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat pendapatan pada usaha ternak ayam broiler. Pendapatan usahatani dapat diperoleh dari pengurangan antara biaya–biaya (cost) dari semua penerimaan (revenue), biaya–biaya tersebut yang telah dikeluarkan selama periode usahatani.
Terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi antara biaya dan penerimaan yaitu : a). jika biaya usahatani lebih besar dari penerimaan maka usahatani dikatakan rugi, b). jika biaya usahatani sama dengan penerimaan maka usahatani berada pada titik impas dan c). jika biaya usahatani lebih kecil dari penerimaan maka usahatani dikatakan untung. Selisih antara penerimaan usahatani dan biaya usahatani merupakan pendapatan total usahatani yang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
P = TP – (Bt + Btt) Keterangan :
P = Pendapatan total usahatani (Rp)
TP = Total penerimaan usahatani (nilai Produksi) (Rp) Bt = Biaya tunai (Rp)
Btt = Biaya tidak tunai (Rp)
Sedangkan pendapatan tunai usahatani adalah selisih antara total penerimaan usahatani dan biaya tunai yang mencakup biaya tetap dan biaya variabel. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
Pt = TP – Bt (b.variabel + b.tetap) Dimana :
Pt = Pendapatan tunai Usahatani (Rp) TP = Total Penerimaan (Rp)
36 4.4.3. Analisis Perbandingan Penerimaan dan Biaya (R/C–Ratio)
Analisis imbangan penerimaan dan biaya ditunjukan untuk dapat melihat berapa besarnya penerimaaan yang diperoleh peternak dari setiap rupiah yang telah dikeluarkan untuk kegiatan usahataninya sebagai manfaat. Adapun rumus R/C Ratio adalah sebagai berikut :
Rasio R/C = Total Penerimaan Total Biaya tunai Rasio R/C = Total Penerimaan
Total Biaya total
Rumus tersebut digunakan untuk mengetahui hasil dari kegiatan usaha selama periode tertentu. Jika R/C >1 berarti setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau dapat dikatakan kegiatan usahatani tersebut efisien untuk dilaksanakan. Sedangkan jika R/C < 1, maka penerimaan lebih kecil dari tiap unit biaya yang dikeluarkan hal ini berarti usaha tersebut mengalami kerugian dan tidak layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika R/C rasio = 1, maka kegiatan usahatani tersebut berada pada titik impas.
Pendapatan usahatani dan nilai R/C ratio dapat diperoleh dengan menentukan terlebih dahulu nilai penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Perhitungan pendapatan dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai diperoleh dari total penerimaan yang dikurangi dengan biaya yang diperhitungkan, untuk pendapatan atas biaya total dihasilkan dari pengurangan antara biaya tunai dengan total biaya. Total biaya yang dimaksud ialah penjumlahan dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Sedangkan perhitungan atas pendapatan tunai ialah penerimaan total setelah dikurangi oleh biaya tunai. Untuk memudahkan dalam nilai tersebut maka dapat dilihat pada perhitungan yang tertera pada Tabel 6 berikut.
37 Tabel 6. Perhitungan Nilai Usahatani dan Nilai R/C Ratio
A Pendapatan tunai Harga x hasil panen yang dijual (Kg) B Pendapatan diperhitungakan Harga x hasil panen yang dikonsumsi (kg) C Total penerimaan A+B
D Biaya tunai DOC, obat, vaksin, sekam, TLKL E Biaya diperhitungkan TKDK, penyusutan alat, sewa lahan
F Total biaya D+E
G Pendapatan atas biaya tunai C–D H Pendapatan atas biaya total C–F I Pendapatan tunai A–D J R/C tunai C / D K R/C total C / F
Sumber : Hermanto dalam Rachmiyanti 2009
4.4.4 Uji Statistik dengan Uji–t
Uji–t digunakan untuk melihat perbedaan nyata antara peternak mitra dan peternak non mitra. uji–t ini merupakan uji hipotesis dengan selang kepercayaan 95 persen, seperti yang tergambar dalam rumus berikut ini :
Ho : μ1 = μ2
H1 : μ1 ≠ μ2
Hipotesis alternatif μ1 ≠ μ2 menyatakan bahwa μ1 < μ2 atau μ1 > μ2. pengujian secara statistik ini untuk melihat apakah ada perbedaan nyata antara pendapatan peternak mitra dan pendapatan peternak non mitra.