PENDEKATAN, METODE DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SENI RUPA
B. Strategi Memilih Metode Pembelajaran
3. Metode diskusi
Metode diskusi adalah cara pembelajaran yang memberi kesempatan kepada para siswa untuk membahas bersama suatu permasalahan. Dalam pembelajaran seni rupa topik masalah dapat menyangkut isu aktual tentang seni di masyarakat, tentang kritik atas suatu teori seni atau mendiskusikan karya seni.
Di dalam diskusi terjadi interaksi antara siswa yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, kritik seni. Diskusi yang baik akan melibatkan partisipasi siswa secara merata; sebaliknya, diskusi kurang baik jika pembicaraan didominasi oleh hanya satu dua siswa saja.
Metode diskusi memiliki keunggulan dan kelemahan, di antaranya:
Kebaikan Metode Diskusi
2) Merangsang kreativitas siswa dalam bentuk ide, gagasan dalam pemecahan suatu masalah.
3) Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain. 4) Memperluas wawasan.
Kekurangan Metode Diskusi
1) Pembicaraan terkadang menyimpang.
2) Ada siswa yang senang berbicara dan cenderung menguasai diskusi dan ada yang kurang memiliki keberanian untuk berbicara.
3) Siswa sering tidak siap untuk diskusi
Oleh sebab itu, sebelum diskusi perlu didahului persiapan matang. Guru perlu jelas memberikan tugas serta apa yang harus dipersiapkan.
d. Metode Ekspresi Bebas
Metode ekspresi bebas diturunkan dari pendekatan Ekspresi Bebas. Istilah ―ekspresi bebas‖ digunakan sebagai nama pendekatan jika ditinjau dari cara pandang dan cara menyikapi; tetapi sekaligus juga sebagai nama metode pada saat dilaksanakan sebagai kegiatan yang lebih nyata. Dalam jenjang pendidikan dasar, metode ini kadang-kadang disalahartikan menjadi menggambar bebas, menggambar sesuka hati. Guru ada
Peristiwa belajar nyata-3
Kepala Sekolah di suatu SMP ingin agar para gurunya melaksanakan KBK (kurikulum berbasis kompetensi) dan hal ini berkali-kali ditegaskan dalam rapat guru. Dikemukakan tentang perlunya menggalakkan metode diskusi di dalam kelas, karena ini merupakan kewajiban sebagaimana diinstruksikan oleh atasan, sesuai dengan kurikulum yang mulai diberlakukan untuk kelas I.
Salah seorang guru, yang barangkali kurang memahami betul KBK dan juga kurang terbiasa menggunakan metode diskusi kelas, mencoba melaksanakan anjuran kepala sekolah. Ia bertekad akan melaksanakan metode diskusi.
Pada saat jam pelajaran tiba, ia mulai dengan menyuruh para siswa mengatur tempat duduk dalam kelompok-kelompok kecil. Mengatur tempat duduk ini ternyata hampir memakan waktu satu jam pelajaran (meja yang ada di kelas kurang mudah diubah-ubah, sementara jumlah siswa di kelas itu cukup besar: 45 siswa). Selesai mengatur tempat duduk siswa, guru menjelaskan rencana kegiatan selanjutnya dan menyatakan, ―anak-anak sekarang kita akan melaksanakan diskusi‖.
Banyak murid mengerutkan alisnya dan salah seorang bertanya, ―Pak, apa itu yang dimaksud dengan diskusi ?‖
kalanya hanya mengintruksikan kepada anak-anak untuk melakukan aktivitas tanpa arahan dan tuntunan.
Akibat yang terjadi adalah unsur ekspresi yang menjadi tuntutan dari metode ini terabaikan karena anak sering menyimpang dari tuntutan menggambar ekspresi. Jika kondisi di atas dibiarkan begitu saja maka dampak yang terjadi anak menjadi jenuh dan segan untuk mengikuti mata pelajaran pendidikan seni rupa. Corak gambar anak menjadi
stereotype (bentuknya ―begitu-begitu‖ saja, tak ada perkembangan). Objek gambar juga
tidak banyak bervariasi, pada umumnya berkutat pada ―sawah-gunung-matahari‖. Kelahiran metode ekspresi bebas terdorong oleh pandangan di bidang pendidikan yang menghendaki perhatian terhadap anak
Metode Ekspresi Bebas identik dengan metode Ekspresi-Kreatif (Jefferson, 1980)) atau Metode Kerja Cipta. Jenis metode ini merupakan bentuk lain dari metode menggambar bebas yang disarankan oleh A.J Suharjo. Metode ini merupakan pengembangan dari pendapat Victor Lowenfeld yang menganjurkan agar setiap guru yang bermaksud mengembangkan kreasi siswanya untuk bebas berekspresi (free expression). Dengan cara ini guru menjauhkan diri dari campur tangannya terhadap aktivitas yang dilakukan siswanya. Atas dasar tesebut metode ini sering dinamakan Metode Ekspresi-Kreatif .
Proses pelaksanaan metode ini berjalan secara informal dalam duania persekolahan. Kehadiran guru memiliki peranan sangat kecil bahkan hampir-hampir tidak diperlukan. Kondisi ini sangat berarti bagi siswa yang memiliki motivasi tinggi untuk belajar, namun bagi siswa yang memiliki motivasi rendah, kondisi ini dapat disalahgunakan untuk bermain-main. Kini mulai banyak dilakukan di sanggar-sanggar melukis.
Di sisi lain perlu disadari hakekat pendidikan yaitu ―mengubah, membiasakan dan mengarahkan‖ prilaku anak ke arah yang positif. Untuk itu tentunya dalam sistem pendidikan memerlukan sejumlah piranti yang mengatur kegiatan tersebut. Guru harus senantiasa menegakkan kebebasan yang bertanggung jawab.
Metode kerja cipta cipta dapat diterapkan dalam kegiatan menggambar dekorasi, mendisain benda-benda kerajinan, menggambar reklame dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya sebaiknya siswa ditunjang doleh keterampilan-keterampilan dasar dan menengah, karena keterampilan mencipta merupakan tingkat keterampilan lanjut yang matang (complex adaptive skill).
Langkah-langkah kegiatan metode kerja cipta sebagai berikut (contoh untuk tingkat SLTP/SMU):
1) Guru memberikan pengarahan yang berfokus pada kedudukan konsep dalam proses kelahiran suatu karya.
2) Siswa mencoba menuangkan suatu konsep pada disain gambar dekorasi, reklame atau barang-barang kerajinan yang akan dibuat.
3) Selama proses percobaan berjalan, guru menganjurkan agar ada sumbang saran antar siswa
4) Guru memberi sumbang saran, petunjuk dan pengarahan mengenai konsep yang dikemukakannya serta memberi petunjuk dan jalan bagi para siswa yang mengalami hambatan.
5) Selama proses kerja mencipta berlangsung, keterampilan-keterampilan dasar dan menengah sudah harus betul-betul dikuasai sehingga proses kerja mencipta tidak terdapat hambatan.
Metode ekspresi bebas pada umumnya dilaksanakan dalam pokok bahasan menggambar ekspresi atau melukis. Dalam hal ini kebebasan mencakup: tema, media/teknik dan gaya ungkapan.
Sebagai catatan, kami kurang setuju dengan istilah ―ekspresi-diri‖ untuk jenis kegiatan ekspresi-bebas ini, karena arti istilah ekspresi-diri itu kabur atau tidak jelas atau cenderung memberi kesan penggambaran diri sendiri secara sadar-tujuan maupun secara spontan ke dalam bentuk karya. Adanya ekspresi diri secara spontan pada gambar buatan anak kecil merupakan kesimpulan para pakar (melalui analisis dengan perspektif etik), yang menyimpulkan misalnya bahwa anak yang mengalami tekanan dan merasa terasing di keluarganya terungkap dari penggambaran dirinya dalam bentuk sosok kecil di sudut kertas gambar. Penggambaran seperti itu dianggap sebagai ekspresi-diri dari seorang anak yang dilakukan tidak dengan kesadaran-tujuan. Ekspresi diri pada seniman mungkin kita simpulkan dari potret diri Affandi atau lukisan tentang pengalaman diri Marc Chagall. Jika seorang siswa SMU membuat sebuah lukisan tentang bunga dengan gaya ekspresif, tidak perlu ditafsirkan sebagai ekspresi-diri tetapi itu adalah hasil gambaran mengenai bunga menurut gagasannya, bukan mengungkapkan dirinya.
e. Metode demonstrasi-eksperimen.
Demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses atau situasi yang sedang dipelajari.
misalnya proses pembuatan suatu benda kerajinan atau proses teknik cetak datar, atau cara-cara membutsir. Contoh demonstrasi cara memahat dimulai dengan langkah guru memperlihatkan cara memegang pahat, cara membuat pahatan lurus dan lengkung pada kayu, cara finishing, dan seterusnya; murid memperhatikan.
Eksperimen adalah siswa mencoba sendiri setelah memperhatikan suatu proses pengerjaan yang didemonstrasikan guru. Prinsip belajar: dengar/lihat, kerjakan, periksa. Dengan metode demonstrasi dan eksperimen/percobaan, pelajaran akan lebih berkesan mendalam, pemahaman lebih baik, karena siswa dapat menggunakan hampir seluruh indera dan kemampuannya, sejalan dengan prinsip belajar ―accelerated learning‖ (lihat Bab II).
Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses membuat sesuatu (misalnya kerajinan keramik), proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya (menggunakan alat butsir), sekaligus melihat kebenaran sesuatu.
Metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan kekurangannya, sebagai berikut
Kelebihan Metode Demonstrasi-Eksperimen
1. Menggiatkan siswa belajar
2. Membuat pengajaran lebih jelas dan konkret, menghindari pengajaran verbalistis 3. Bahan pelajaran lebih mudah diingat, karena melibatkan berbagai indera
4. Dengan mengalami sendiri (eksperimen), siswa memperoleh keterampilan khas dan nyata
5. Proses pengajaran lebih menarik.
6. Siswa dirangsang untuk aktif, memeriksa kesesuaian teori dengan kenyataan.
Kekurangan Metode Demonstrasi
1) Memerlukan keterampilan guru secara khusus
2) Memerlukan peralatan, tempat, dan biaya yang yang tidak selalu tersedia.
3) Memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang, sedangkan waktu yang ada dalam jadwal pelajaran tidak mencukupi.
f. Metode Mencontoh
Metode mencontoh merupakan metode tertua terutama dalam seni kerajinan. Tiga abad sebelum tarih Masehi, di Yunani telah dipergunakan
metode ini. Hingga sekarang keahadiran metode ini masih tetap populer dalam lapangan pendidikan sebagai mertode untuk menyampaikan berbagai jenis kegiatan kesenirupaan terutama jenis kegiatan motorik.
Metode ini banyak dilakukan di pusat-pusat pembelajaran seni zaman dahulu. Para cantrik (pemagang) biasanya dilatih para empu (guru) untuk meniru hasil karya gurunya. Semakin mendekati kualitas kerja gurunya, semakin berhasil para cantrik itu di dalam belajarnya. Dalam kursus-kursus melukis pun masih dijumpai penerapkan cara ini. Untuk belajar keterampilan motorik, cara ini dapat dilakukan.
Dalam pandangan teoritis, penerimaan penggunaan metode mencontoh ini didasarkan pada beberapa hal, yaitu:
1) Secara naluri, anak-anak belajar dengan cara mencontoh;
2) Mencontoh merupakan pekerjaan mudah serta ringan untuk dilakukan karena kurang menuntut keterlibatan rasa dan intelek.
3) Mencontoh dalam latihan kerja praktek kesenirupaan melibatkan aktivitas mata. Karena itu indra mata mendapat latihan yang pada gilirannya dapat mempertajam pengamatan.
4) Karena model yang dicontoh pada umumnya dalam keadaan diam dan tidak diubah-ubah bentuknya, maka kegiatan mencontoh dapat dilakukan secara berulang-ulang dalam kondisi yang sama. Dengan demikian latihan dapat menjadi efektif untuk tujuan meniru benda dimaksud.
Fihak yang menolak metode mencontoh memiliki argumen bahwa:
1) Mencontoh, apalagi dilaksanakan oleh orang lain dan dilakukan dengan berulang-ulang akan berakibat muncul rasa bosan, tidak menarik dan pada gilirannya akan menimbulkan rasa benci terhadap pelajaran yang diberikan. 2) Kebiasaan mencontoh akan menghilangkan kepercayaan dan tiodak
mengembangkan keberanian untuk mengemukakan pendapat dan akan mematikan kreativitas.
3) Benda-benda duplikasi hasil mencontoh merupakan benda-benda usang yang tidak mempunyai daya tarik konsumen sehingga nialai komersialnya rendah. 4) Kemampuan mencontoh tidak sanggup membawa tantangan masyarakat yang
selalu berubah.
Berdasaarkan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode mencontoh memiliki manfaat yang tinggi dalam meningkatkakan kemampuan motorik.
Urunan bagi pengembangan keterampilan mental dan kreasi tergantung penggunaannya. Jika tujuan mencontoh sekedar untuk dapat mencontoh itu sendiri tentu kurang menunjang; tetapi jika mencontoh dilanjutkan dengan modifikasi atau membuat bentuk baru, jelas bermanfaat bagi pengembangan kreativitas.
Untuk jelasnya, merode mencontoh perlu memperhatikan prinsip berikut: 1) Metode mencontoh baik digunakan apabila ditujukan untuk:
latihan dasar keterampilan motorik;
memperoleh bentuk yang sama walaupun ukurannya diperbesar atau diperkecil;
memproduksi benda tradisional;
memahami proporsi dan anatomi yang tepat dari benda yang akan ditiru;
2) Kegiatan mencontoh harus memiliki makana bagi proses belajar siswa; 3) Mencontoh tidak dijadikan kebiasaan yang terus-menerus;
4) Untuk memberikan daya tarik siswa, biarkan mereka memilih sendiri model yang akan ditiru;
5) Secara berangsur-angsur mencontoh dikembangkan menjadi modifikasi model yang dicontoh.
Yang termasuk jenis jenis metode mencontoh antara lain adalah: 1) Menjiplak dengan bantuan kertas karbon.
Prisnip pengerajaannya adalah memindahkan gambar semirip mungkin dari sebuah gambar pada sebuah selembar kertas ke kertas yang lainnya. Jumlahnya bisa banyak sesuai dengan kemampuan alat yang digunakan tersebut.
2) Menjiplak dengan bantuan kertas tipis.
Cara ini sebenarnya hampir sama dengan menggunaka karbon, hanya
pengerajaaannya berbeda. Bila menggunakan karbon, gambar aslinya berada di atas kertas yang lain (kertas yang akan digambari baru), sedangkan bila menggunakan teknik menjpiplak dengan kertas tipis justru sebaliknya. Kertas yang akan digambari diletakan di atas kerta yang sudah ada gambarnya.
C. Strategi Evaluasi Pembelajaran