JENIS-JENIS MUSIK DAERAH
SINOM ELA-ELA
D. MUSIK CAMPURAN (Sekar Gending)
Jenis musik daerah yang ketiga selain jenis musik vokal dan instrumental, adalah jenis musik campuran atau perpaduan antara unsur vokal dan instrumen yang diolah menjadi satu kesatuan komposisi musik. Jenis musik seperti ini sangat banyak berkembang di tengah-tengah masyarakat, baik sebagai hiburan, upacara ritual, pengiring tari, maupun yang lainnya.
Di dalam penyajiannya jenis musik daerah yang tergolong pada jenis campuran, fungsi instrumen digunakan untuk mengiringi lagu yang disajikan dengan menggunakan vokal. Coba Anda amati baik- baik sajian musik Degung dan Kiliningan, maka Anda akan mendapatkan kejelasan tentang hal itu.
Jenis musik campuran yang di dalam karawitan biasa disebut dengan sebutan
Sekar Gending, adalah jenis musik yang di dalam penyajiannya menggunakan media
vokal dan instrumen non vokal yang digabungkan menjadi satu kesatuan komposisi musik . Bila dibandingkan antara jenis musik vokal dan instrumental dengan jenis musik campuran (Sekar Gending), maka jenis musik campuran ini lebih banyak berkembang di masyarakat.
Jika dilihat dari perkembangan jenis musik ini di masyarakat, dapat dikatakan bahwa terdapat beberapa jenis musik yang dahulunya tergolong kepada jenis musik vokal dan instrumental, tetapi sekarang menjadi musik campuran (Sekar Gending). Sebagai contoh, musik Degung yang dahulu biasa disajikan tidak menggunakan unsur vokal di dalamnya, sekarang justru lebih banyak menggunakan unsur vokal di dalam penyajiannya. Begitu pula halnya dengan Tembang Sunda Cianjuran, yang dahulu di dalam penyajiannya tidak menggunakan instrumen pengiring, kini penyajiannya selalu menggunakan instrumen Kacapi dan Suling atau Rebab sebagai pengiringnya.
Di Jawa Barat jenis musik ini banyak tersebar tidak saja di kota tetapi juga pelosok-pelosok pedesaan. Bentuknya beraneka ragam, yaitu dari mulai yang menggunakan ensambel kecil hingga ensambel besar. Sebagai contoh yang menggunakan ensambel kecil antara lain; Tembang Sunda Cianjuran, Calung, Kacapi Jenaka (Jenaka Sunda),
Celempungan, dan sebagainya. Sedangkan yang menggunakan ensambel besar antara lain; Kiliningan, Degung, Badeng, Tanji, dan sebagainya.
Di beberapa daerah jenis musiknya tidak saja digemari oleh masyarakat pemiliknya, tetapi juga masyarakat dari negara lain, dan bahkan sampai saat ini masih cukup banyak orang-orang asing yang telah mempelajari musik tradisional (daerah) kita. Hal itu menunjukan bahwa musik daerah kita yang beraneka ragam tersebut juga banyak digemari oleh masyarakat negara lain, selain masyarakat pemiliknya sendiri.
Bagi masyarakat pemiliknya, musik jenis ini tidak saja sebagai media hiburan bagiu masyarakat, tetapi juga sebagai iringan tari, media ritual, dan bahkan bagi para seniman penggarapnya musik yang digelutinya dijadikan sebagai salah satu alternatif mata pencaharian dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk lebih jelasnya dengarkanlah salah satu jenis musik berikut ini. (CD 1).
Di Jawa Barat jenis musik seperti ini sangat jarang yang benar-benar berdiri sendiri, artinya musik tersebut benar-benar dipertunjukan tanpa adanya kepentingan lain, atau musik tersebut dipertunjukan karena tidak memiliki keterikatan dengan pertunjukan seni lainnya. Tetapi pada kenyataannya bahwa musik-musik tersebut keberadaannya merupakan bagian integral dari seni-seni lainnya, misalnya; sebagai pengiring tari, pengiring wang golek, pengiring Sandiwara, pengiring helaran, prngiring ketuk tilu, dan sebagainya. Meskipun adapula yang benar-benar berdiri sendiri sebagai sajian musik, seperti; Cianjuran, Celempungan, Jenaka Sunda, Gembyung, dan sebagainya.
Musik-musik yang tergolong kepada jenis campuran, biasanya meskipun antara vokal dan instrumen menjadi suatu kesatuan komposisi yang harus di sajikan, tetapi kenyataannya bahwa instrumen memiliki peran sebagai pengiring vokal yang disajikan. Selain itu, di dalam penyajiannya baik UNSUR vokal maupun instrumen memiliki aturan tentang irama permainan yang sudah baku. Istila irama yang biasa dimainkan dalam pertunjukan karya-karya musik Sunda, biasanya disebut embat. Embat yang banyak digunakan di dalam sajian musik campuran adalah sawilet, dua
wilet, lenyepan (opat wilet), dan lalamba. Secara rinci irama permainan tersebut
dapat kami paparkan sebagai berikut.
Di dalam sajian musik Sunda, irama permainannya diukur oleh panjang pendeknya durasi goongan. Artinya bahwa jarak dari goongan ke satu kepada goongan berikutnya dihitung satu lagu, sedangkan goongan berikutnya merupakan pengulangan. Oleh karena itulah instrumen goong pada musik Sunda memiliki fungsi sebagai pungkasan irama atau akhiran lagu.
Irama atau embat sawilet goong selalu dibunyikan pada ketukan ke 16. Empat ketuh yang terdapat pada bar pertama dan bar ke tiga disebut wilayah
pancer, empat ketuh yang terdapat pada bar ke dua disebut wilayah kenongan
lagu, dan empat ketuk yang terdapat pada bar ke empat disebut wilayah kenongan goong. Perhatikan contoh berikut.
| x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x (x) |
Keterangan :
a. = goongan
2. Embat Dua wilet
Irama atau embat dua wilet goongannya memiliki durasi lebih lama dari
embat atau irama sawilet. Dengan kata lain dapat disampaikan bahwa irama dua
wilet selalu dibunyikan dua kali lebih lama dari irama sawilet, yaitu pada setiap
ketukan ke 32. Untuk lebih jelasnya amati contoh berikut.
| x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x (x) |
Embat opat wilet/Lenyepan dapat dirasakan dari tabuhan instrumen
goong yang selalu dibunyikan pada setiap ketukan ke 64. Perhatikan contoh
berikut di bawah ini.
| x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x (x) | 4. Embat Lalamba.
Pola embat lalamba ini memliki perbedaan dengan embat-embat lagu yang telah penulis jelaskan sebelumnya, di mana goongan memiliki pola baku, yaitu selalu dibunyikan dua kali lebih lama dari embat-embat sebelumnya. Dikatakan demikian karena lagu-lagu yang tergolong kepada embat lalamba, memiliki pola goongan yang berbeda . Untuk lebih jelasnya perhatikan pola lagu Kawitan sebagai berikut. | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x (x) |
Bila kita perhatikan pola lagu tersebut di atas, maka goong hanya dibunyikan pada setiap ketukan ke 160. Berbeda dengan pola lagu Gawil Bem berikut di bawah ini. | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x (x) | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x | | x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x x |
| x x x x | x x x (x) |
Meskipun antara lagu Kawitan dengan Gawil termasuk lagu lalamba, keduanya memiliki pola goongan yang berbeda. Jika lagu Kawitan goongnya hanya dibunyikan pada setiap ketukan ke 160, maka lagu Gawil Bem goongnya dibunyikan dua kali, yaitu pada setiap ketukan ke 16 dan 96.
Pola-pola irama atau embat yang telah dipaparkan tersebut di atas, adalah pola-pola baku yang biasanya dimainkan di dalam sajian musik-musik daerah Sunda. Kalupun ada perbedaan hanyalah terletak pada teknik permainan atau teknik memainkan instrumen yang digunakan pada setiap ragam musik daerah yang dipertunjukan. Dengarkanlah contoh – contoh lagu pada CD 1.
E. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Kebudayaan. 1979/1980. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta : Depdikbud.
Holt, Claire. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia Terjemahan R.M.
Soedarsono. Bandung : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Hyndayanti, Fenty. (2003). Dongkari Pada Tembang Sunda Cianjuran Wanda
Papantunan dan Jejemplangan Gaya Ida Widawati, Skripsi, Bandung :
Prodi Musik UPI.
Koko, Mang dan Patah Nata Prawira. (2005). Serat Kanayagan Sareng Rumpaka 17
Pupuh Sunda. Bandung: Yayasan Cangkurileung.
Nano. S dan Engkos Warnika, (1983). Pengetahuan Karawitan Sunda. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Rohendi Rohidi, Tjetjep. (2000). Kesenian Dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung: STISI Press.
Soepandi, Atik. Dan Enoc Atmadibrata. (1983). Khasanah Kesenian Daerah Jawa
Sulastianto, Harry, etall. (2005). Apresiasi dan Kreasi Seni Jilid I. Bandung: P.T. Grafindo.
Sulastri, Yuyun. (1981). Tinjauan Deskriptif Senggol-Senggol Dalam Tembang Sunda.
(Skripsi). Bandung: Akademi Seni Tari Indonesia.
Suryabrata, Bernard. 1987. The Island of Music an Essay in Social Musicology. Jakarta : Balai Pustaka.
Sutaryat. (2002). Penyajian Tembang Sunda Lagam Cigawiran Dalam Upacara
Kematian di Kampung Cigawir Desa Cigawir Kecamatan Sela Awi Kabupaten garut. Skripsi S.1. Bandung: Prodi Musik UPI.
Sukanda, Enip. (1983/1984). Tembang Sunda Cianjuran Sekitar: Pembentukan dan
Perkembangannya. Bandung: Proyek Pengembangan Institut Kesenian
Indonesia Sub Proyek ASTI Bandung.
Van Zanten, Wim. 1989. Sundanese Music in The Cianjuran Style Antropological And
Musicological Aspects Of Tembang Sunda. U.S.A : Foris Publication.
Wiraatmaja, A.S. (1996). Kuring Jeung Tembang Sunda; Pamanggih Jeung
BAB VII
NOTASI, TANGGANADA, DAN SURUPAN