Menurut Gutex (2015) bahwa metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr.Maria Montessori. Maria Montessori diakui sebagai salah satu pendidik besar. Kisah hidupnya merupakan kisah yang luar biasa, kisah seorang perempuan yang berdedikasi menggunakan kemampuan ilmiahnya, pengalamannya, dan wawasannya untuk mengembangkan sebuah metode pendidikan yang melawan pola-pola pendidikan yang konvensional.
Kebiasaan-kebiasaan lama yang dia lawan bukan hanya dalam bidang pendidikan: dia juga berjuang mengatasi rintangan-rintangan yang menghalangi kebebasan kaum perempuan untuk masuk ke dalam karier-karier baru.
Maria Montessori lahir pada 31 Agustus 1870, di Chiaravalle, kota bukit dengan pemandangan Laut Adriatik, di provinsi Ancona Italia. Dia adalah anak tunggal dari Alessandro Montessori, seorang manajer bisnis di perusahaan monopoli tembakau milik Negara; dan Renilde Stoppani, perempuan berpendidikan dari sebuah keluarga terpandang.
Masa kecil Maria Montessori tetap di kota kelahirannya. Pada masa itu di daerah semenanjung Italia dikuasai oleh Prancis dan Australia, pada akhirnya terjalin persatuan di Italia serta berhasil terbebas dari Australia.
Pada pertengahan 1870 Italia mengalami pemindahan kekuasaan tetapi kondisi di Italia belum mengalami perubahan yang signifikan untuk menjadi
Negara yang lebih baik. Kondisi Negara yang seperti itu tidak memberikan pengaruh banyak pada kehidupan Montessori. Montessori hidup dalam keluarga yang terbuka, demokrasi, dan disiplin sehingga Montessori pun mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap masalah sosial di sekitarnya.
Tahun 1910 Montessori telah memperoleh pengakuan sebagai sorang pendidik inovatif yang signifikan di tanah kelahirannya italia, dimana memimpin sebuah sekolah percontohan dan sebuah institut pelatihan bagi para direktris. Salah satu ciri pendekatan Montessori dalam Pendidikan pengajar adalah bahwa metode Montessori harus dipelajari dan digunakan tanpa penyimpangan dari bentuk yang asli.
b. Pembelajaran Metode Montessori
Montessori membagi belajar dalam tiga hal:
1) Tahap pertama: pengenalan akan identitas. Contohnya buatlah suatu hubungan antara benda yang sedang ditunjukkan dengan nama benda itu.
2) Tahap kedua: pengenalan akan perbandingan. Tahap kedua ini untuk meyakinkan bahwa anak memahami.
3) Tahap ketiga: perbedaan antara benda-benda yang serupa. Untuk tahap ketiga ini lebih diajukan apakah anak-anak itu benar-benar ingat nama benda itu. Tujuan proses belajar tiga tahap adalah, untuk mengajarkan konsep-konsep baru dengan cara pengulangan. Dengan demikian akan membantu anak-anak untuk memahami dengan lebih baik akan materi-materi yang disajikan kepadanya. Cara ini juga membantu guru-guru
melihat seberapa baik anak-anak menguasai dan menyerap apa yang sedang diajarkan kepada mereka (Masyrofah: 2017)
c. Penerapan Metode Montessori
Dalam lingkungan yang siap, materi dan aktivitas tertentu mendukung tiga aera dasar keterlibatan anak: kehidupan praktis atau pendidikan motorik, materi sensorik untuk pelatihan indera, dan materi akademik untuk pengajaran menulis, membaca dan matematika.
1) Kehidupan praktis
Lingkungan yang siap menekankan aktivitas motorik dasar sehari-hari, seperti berjalan dari satu tempat ketempat lain dalam sikap yang tertib, membawa benda seperti baki dan kursi, menyambut pengunjung, mempelajari keterampilan perawatan diri, dan melakukan aktivitas praktis lain. Sebagai contoh, “bingkai berpakaian” dirancang untuk menyempurnakan keterampilan motorik yang mencakup mengancingkan, membuka dan menutup resleting, mengikat, menekuk, dan menali. Filosofi aktivitas semacam ini adalah membuat anak tidak tergantung pada orang dewasa dan mengembangkan konsentrasi.
Aktivitas berbasis air memiliki peran besar dalam metode Montessori.
Anak diajari menggosok, mencuci, dan menuang sebagai sarana pengembangan koordinasi. Latihan kehidupan praktis juga mencakup mengelap cermin, sepatu, dan daun tanaman; menyapu lantai;
membersihkan furniture; dan mengupas sayur.
Penganut Montessori yakin bahwa semakin anak tenggelam dalam aktivitas, mereka secara bertahap memperpanjang rentang konsentrasi. Seiring mereka mengikuti rangkaian tindakan yang teratur, mereka belajar memperhatikan hal-hal yang detail. Pendidikan Montessori juga meyakini bahwa konsentrasi dan keterlibatan melalui indera memudahkan terjadinya pembelajaran. Pengajaran verbal guru diupayakan seminimal mungkin; penekanan pada proses pengajaran adalah pada menunjukkan cara memberi contoh dan mempraktikkan.
Aktivitas kehidupan praktis diajarkan melalui empat tipe latihan yang berbeda. Kepedulian orang melibatkan aktivitas seperti penggunaan bingkai berpakaian, memoles sepatu, dan mencuci tangan.
Kepedulian lingkungan mencakup pembersihan debu, mengelap meja, dan menyapu daun. Hubungan sosial mencakup pelajaran mengenai keanggunan dan kesopanan. Tipe latihan keempat yaitu analisis dan kontrol gerakan yang meliputi aktivitas lokomotor seperti berjalan dan menyeimbangkan diri.
2) Materi sensorik
Bagi banyak pendidik anak usia dini, inti program Montessori yang mendukung gagasan Montessori mengenai cara terbaik memfasilitasi pembelajaran anak. Banyak materi ini dirancang untuk melatih dan menggunakan indera guna mendukung pembelajaran. Materi sensorik Montessori populer, menarik, dan mendukung perkembangan
kognitif anak. Materi otentik Montessori dibuat dengan baik dan tahan lama.
Materi sensorik mencakup batang dan kubus berwarna cerah serta huruf amplas. Salah satu tujuan materi sensorik ini adalah melatih indera anak agar berfokus pada beberapa kualitas tertentu yang terlihat.
Contohnya, dengan batang merah, yaitu kualitas panjang; dengan kubus menara merah mudah, yaitu kualitas panjang; dan dengan lonceng, yaitu titian nada. Montessori merasa anak perlu dibantu membedakan antara banyak rangsangan yang mereka terima. Oleh karena itu, materi sensorik membantu membuat anak lebih mengenali kapasitas tubuh untuk menerima, menafsirkan, dan menggunakan rangsangan. Dengan demikian, materi sensorik Montessori dinamai didaktik, serta dirancang untuk mengejar dan membantu anak belajar.
Materi sensorik membantu mempertajam kekuatan anak untuk mengamati dan membedakan secara visual. Keterampilan ini berfungsi sebagai. Dasar bagi kesiapan membaca awal umum. Kesiapan pembelajaran sangat ditekankan dalam program anak usia dini.
Akhirnya, aktivitas sensorik bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah mempersiapkan anak menyambut periode sensitive yaitu menulis dan membaca. Oleh karena itu, semua aktivitas ini merupakan langkah awal dalam proses baca-tulis.
Materi pelatihan dan pengembangan indera memiliki karakteristik berikut ini:
a. Kontrol kesalahan
Materi dirancang agar anak, melalui pengamatan, dapat melihat apakah mereka melakukan kesalahan dalam menyelesaikan aktivitas. Contohnya, jika anak tidak menggunakan balok menara merah mudah dengan urutan yang benar saat membangun menara, ia tidak akan mendapatkan menara sempurna.
b. Pemisahan kualitas tunggal
Materi dirancang agar variabel lain tetap konstan kecuali kualitas tunggal yang digunakan. Oleh karena itu, semua balok pada menara berwarna merah muda karena ukuran merupakan kualitas tersendiri yang dipelajari, bukan warna.
c. Keterlibatan aktif
Materi mendorong keterlibatan aktif daripada sekadar proses pasif dengan cara melihat. Materi Montessori benar-benar digunakan langsung oleh anak sehingga dapat disebut pembelajaran aktif.
d. Daya tarik
Materi menarik, dengan warna dan proporsi yang memikat anak. Dengan demikian, materi membantu memuaskan kebutuhan estetika anak yaitu keindahan dan daya tarik.
3) Materi akademik untuk menulis, membaca dan matematika
Tipe ketiga materi Montessori adalah akademik, yang dirancang khusus untuk mendorong kemampuan menulis, membaca dan matematika. Latihan menggunakan materi ini disajikan secara berurutan yang mendukung menulis sebagai basis pembelajaran membaca.
Membaca, oleh sebab itu, muncul setelah menulis. Kedua proses diperkenalkan begitu bertahap, sehingga anak tidak pernah menyadari mereka belajar, menulis dan membaca hingga suatu hari mereka menyadari sedang menulis dan membaca. Untuk mendeskripsikan fenomena ini, Montessori berkata bahwa anak “masuk secara spontan”
ke menulis dan membaca. Ia mengantisipasi praktik saat ini seperti pendekatan kontemporer keseluruhan bahasa dalam memadukan menulis dan membaca serta mempertahankan bahwa melalui menulis anak belajar membaca.
Montessori yakin banyak anak siap menulis pada usia empat tahun. Akibatnya, anak yang memasuki program Montessori pada usia tiga, telah melakukan hampir semua latihan sensorik saat berusia empat tahun. Sudah lazim di kelas Montessori, anak yang berusia empat dan lima tahun menulis dan membaca. Bahkan, keberhasilan anak dengan keterampilan dan kemampuan akademik awal berfungsi sebagai magnet untuk menarik perhatian publik dan orang tua (Morrison: 2012).
d. Peran Guru Montessori
Guru Montessori menunjukkan perilaku tertentu untuk menerapkan prinsip pendekatan yang berpusat pada anak. Berikut ini enam peran utama guru dalam program Montessori:
1) Menghormati anak dan pembelajarannya 2) Membuat anak sebagai pusat pembelajaran.
3) Mendorong pembelajaran anak.
4) Mengamati anak
5) Mempersiapkan lingkungan pembelajaran.
6) Memperkenalkan materi pembelajaran dan mendemonstrasikan pembelajaran (Morrison: 2012).