• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PELAKSANAAN PERANCANGAN KURS

Dalam dokumen Full Paper Prosiding Senapenmas 2017 (Halaman 112-120)

DESAIN FUNITURE KURSI BELAJAR UNTUK ANAK HIPERAKTIF DALAM MENGEFEKTIFKAN PEMBELAJARAN

Hartini 1 , Heni Mularsih

2. METODE PELAKSANAAN PERANCANGAN KURS

Berdasarkan tema kegiatan, maka metode ini meliputi :

 Metode Pengumpulan Data :

Dengan survey lokasi : mencari informasi tentang data kurikulum, SAP dan tujuan pendidikanprogram studi Desain Interior. Wawancara dengan karyawan prodi, Ketua program studi dan sekretarisnya.

Studi Literatur :Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang bersifat umum. Sumber ini berasal dari dokumen program studi, literatur perpustakaan, jurnal penelitian, internet. Studi pustaka/literature : mencari buku yang berkaitan dengan system pembelaaran dan kurikulum. Metode observasi dan eksperimen system korelasi mata kuliah keahlian pokok. Metode ini mencakup observasi, yaitu mencari data melakukan pengamatan langsung pada materi yang disurvei, melakukan pencatatan data dan mengurai isi TIU dan kompetensi pembelajaran, dilanjutkan mencatat membuat analisis simulasi capaian kompetensi.

 Metode uji analisa :

 Membuat analisis kondisi dan fasilitas furniture anak hiperaktif

 Menganalisa kebutuhan aktivitas dan fasilitas kursi belajar anak hiperaktif

 Melakukan uji analisa hasil eksperimen berupa pembuatan alternative fasilitas kursi belajar anak hiperaktif

 Out put atau Hasil Desain :

 Berupa pedoman desain kursi belajar anak hiperaktif yang efisien, efektif dan akuntabel.

 Desain Kursi siswa hiperaktif, diimplementasikan dengan skala 1:1

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Sosialisasi Fasilitas Kursi Belajar Untuk Meminimalkan Anak Hiperaktif

Bentuk kegiatan dari solusi ini yaitu berupa diskusi kepada para guru. Output pertama yang diharapkan adalah adannya pemahaman pada mitra (pengelola) menngenai pentingnya fasilitas

furniture kelas yang nyaman. Dengan fasilitas furniture kelas yang nyaman diharapkan dapat memengaruhi kenyamanan bagi warga belajar sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar.

98

Dengan adanya motivasi belajar warga belajar, kegiatan pembelajaran akan berjalan kondusif dan optimal.

Adapun materi soasialisasi kepada mitra agar memperoleh pemahaman tentang perlunya memfasilitasi anak hiperaktif dengan kursi yang sesuai dengan kebutuhannya, yaitu : (1) definisi desain furnitre, (2) program pembahasan dan karya desain furniture anak hiperaktif , (3) desain furniture kursi

Dari hasil sosialisasi yang dilakukan ini tampak adanya respon yang positif dari mitra. Respon positif yang ditampilkan mitra tampak dalam antusiasmenya dengan sering mengajukan tanya jawab kepada penulis. Mitra juga mengungkapkan rasa senang dan terima kasih kepada Tim atas kesediannya untuk membantu menghasilkan furnitre hiperaktif yang efektif dan nyaman. Berikut foto-foto terkait dengan kegiatan sosialisasi kepada guru guru.

Gambar 1 : Kegiatan sosialisasi (Hartini & Mularsih, 2017)

Gambar 2 : Kegiatan siswa berbaris di lapangan (Hartini & Mularsih, 2017)

99

Gambar 4 : Kegiatan memasang spanduk tema hari Kartini (Hartini & Mularsih, 2017)

Gambar 5 : Kegiatan orientasi di SDIT “Y” (Hartini & Mularsih, 2017)

Gambar 7: Aktivitas siswa SDIT “Y” (Hartini & Mularsih, 2017)

100

Gambar 9 : Kegiatan PKM, interior koridor SDIT “Y” (Hartini & Mularsih, 2017)

Gambar 10 : Koordinasi kegiatan dengan guru SDIT “Y” (Hartini & Mularsih, 2017)

Gambar 11 : Aktivitas siswa dan guru SDIT “Y” (Hartini & Mularsih, 2017)

b. Mendesain Model Kursi yang akan Dikembangkan

Sebelum membuat pengembangan model kursi belajar untuk anak hiperaktif, Tim penulis perlu membuat alternatif rancangan desain kursi. Berikut adalah gambar alternatif rancangan desain kursi belajar untuk anak hiperaktif.

101

Gambar 12 : Alternatif kursi anak hiperaktif

(https://www.google.com/Student+Hyperactive+Student+Chair&client)

Berdasarkan alternatif rancangan desain yang ada kemudian dibuat rancangan yang diinginkan untuk diserahkan kepada tukang (sebagai teknisi) agar dibuat kursi sesuai dengan rancangan tersebut. Berikut model pengembangan kursi belajar anak hiperaktif yang siap diimplementasikan.

Gambar 13 : Tampak depan desain kursi anak hiperaktif (Hartini & Mularsih, 2017)

102

Gambar 15 : Tampak atas desain kursi anak hiperaktif (Hartini & Mularsih, 2017)

c. Implementasi Pengembangan Kursi Belajar Kepada Siswa Hiperaktif

Berdasarkan hasil pengamatan selama implementasi, tampak bahwa kursi belajar yang digunakan oleh subjek membuat perilaku hiperaktif Siswa berkurang. Berkurangnya perilaku hiperaktif yaitu Siswa yang biasanya berjalan-jalan di kelas dan mengganggu teman-temannya yang sesang duduk menjadi diam dikursi. Hal ini terjadi karena kursi memang dirancang agar siswa tetap terikat di kursinya dengan cara diberikan sabuk pengaman dan sandaran tangan. Dengan demikian, perilaku meninggalkan tempat duduk selama proses belajar dapat teratasi.

Namun, masalah kenyamanan belum sepenuhnya teratasi. Kondisi tersebut tampak dalam perilakunya yang masih menggerakkan tubuhnya (menggeser-geser) dalam posisinya yang masih terikat di kursi tersebut. Hal ini, kemungkinan disebabkan oleh ukuran ergonomi yang kurang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Siswa termasuk gemuk sedangkan desain kursinya berukuran sedang sehinggan pas. Oleh karena itu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Secara teori interior, kondisi tubuh besar yang duduk di kursi sedang dapat diatasi dengan memodifikasi bentuk sandaran tangan. Kondisi pengembangan saat implementasi tampak pada gambar-gambar di bawah ini .

Gambar 16 : Praktik implementasi Desain kursi Anak Hiperaktif (Hartini & Mularsih, 2017)

Gambar 17 : Praktik implementasi Desain kursi Anak Hiperaktif

103

Gambar 18 : Praktik implementasi Desain kursi Anak Hiperaktif (Hartini & Mularsih, 2017)

Gambar 19 : Praktik implementasi Desain kursi Anak Hiperaktif (Hartini & Mularsih, 2017)

4. KESIMPULAN DAN SARAN

Bedasarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang sudah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini sudah berjalan dengan baik. Penulis sudah melakukan prakegiatan PKM dan melaksanakan sosialisasi kepada pihak sekolah. Prakegiatan PKM dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang pelaksanaan kegiatan anak-anak di sekolah. Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk menyampaikan pentingnya penyediaan fasilitas belajar yang berupa kursi belajar khusus anak hiperaktif yang belajar di SDIT “Y” ini. Pihak sekolah pun juga sudah merespon positif kegiatan ini.

Hasil perancangan desain kursi sudah direalisasikan dengan baik. Hasil implementasi menunjukkan bahwa kursi belajar dapat mengurangi perilaku hiperaktuif siswa. Namun, perilaku hiperaktifnya belum sepenuhnya teratasi. Berdasarkan hasil pengamatan, belum sepenuhnya teratasi tersebut, diduga karena ukuran ergonomi desain kursi belum sesuai dengan ukuran kondisi tubuh siswa.

Saran

Berdasarkan pengamatan hasil implementasi, untuk mengaoptimalkan fungsi kursi dalam mengatasi masalah perilaku hiperaktif siswa, perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut. Pengembangan yang perlu dilakukan untuk kenyamanan siswa perlu mempertimbangan ergonomi desain kursi. Ergonomi tersebut mencakup ukuran dan bentuk desain kursi yang lebih fungsional.

REFERENSI

Alimin, Zaenal, 2012, Jurnal Assessment dan intervensi ABK: Reorientasi Pemahaman konsep pendidikan kebutuhan khusus dan impplementasi terhadap layanan pendidikan, Vol 3 no 1 Bandung, UPI.

American Psychiatric Ascosiation. 1994. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders,

Fourth Edition (DSM-IV), Washington DC : American Psychiatric Association. Arikunto, Suharsimi. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT Grasindo. Daryanto, H.M. 2006, Administrasi Pendidikan , Jakarta : PT. Rineka Cipta

104

Dimyati, dan Mudjiono. 2006. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Fathurohman, Pupuh. 2007. Strategi Belajar Mengajar: Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami. Bandung: PT Rafika Aditama.

Laila Amer Alqahtani, Vol. 2, No. 1 (2015), Furnishing and Indoor Environment for Hyperactivity and Distracted Attention (in the Context of Sustainable Design) , Interior Design Department, Princess Noura Bent Abdel-Rahman University Postal 12345, Riyadh, Saudi Arabia

M. Sholahuddin, 2014, Proses Perancangan Desain Mebel, Penerbit Badan Penerbit ISI Yogyakarta

Manuaba, A. 2003 a. Total Ergonomic Approach to Enhance and Harmonize The Development of Agriculture, Tourism and Small Scale Industry, with Special Reference to Bali. Dalam: Purwanto, W., Sugema, L.l., dan Ushada, M. editors. Prosiding Seminar Nasional Ergonomi. Yogyakarta: Perhimpunan Ergonomi Indonesia dan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. p.16 – 21.

Paternotte, Arga & Buitelaar, Jan. 2010. ADHD:Attention Deficit Hyperactive Disorder (Gangguan Permusatan Perhatian dan Hiperaktivitas) TandaTanda, Diagnosis, Terapi, serta Penanganannya di Rumah dan di Sekolah. Jakarta: Prenada Media.

Pile, John F.(1988). “Interior Design”.Harry N. Abrams, Incorporated : New York

Poerwadarminta, W.J.S. 1995. Kamus Umum Bahasa Indonesia.Jakarta: PT.Balai Pustaka Zulfani, dkk. 2009. Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta. Zaviera, Ferdinand. 2007. Anak Hiperaktif- Cara Cerdas Menghadapi Anak Hiperaktif dan

105

PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT USIA > 15 TAHUN DAN

Dalam dokumen Full Paper Prosiding Senapenmas 2017 (Halaman 112-120)