IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER TOLERAN
B. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Model pembelajaran dalam proses penanaman nilai-nilai toleransi beragama pada pembelajaran PAI materi toleransi di SMP Negeri 1 Kaloran dan SMP Negeri 2 Kaloran, yaitu; model pengajaran aktif dan model pengajaran komunikatif. Dalam implementasinya kedua model pembelajaran ini menggunakan metode ceramah, diskusi kelompok, presentasi kelompok, dan tanya jawab. Adapun strategi yang digunakan dalam pembelajaran yaitu: 1) Strategi tradisional dengan cara memberikan nasihat dan indoktrinasi mana yang baik dan mana yang buruk, 2) Strategi bebas dengan memberitahukan kepada peserta didik nilai-nilai yang baik dan buruk, tetapi peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih dan menilai sendiri. 3) Strategi reflektif, dengan menganalisis kasus-kasus empirik sehingga timbul kesadaran rasional dan wawasan nilai. 4) Strategi trans internal dengan jalan melakukan transformasi nilai melalui keteladanan dan komunikasi.43
43
Observasi dan wawancara dengan Guru PAI di SMP Negeri 1 Kaloran pada tanggal 9 Agustus 2017 dan Guru PAI di SMP Negeri 2 Kaloran pada tanggal 15 Agustus 2017.
37
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 Tanggal 23 Mei 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, didalamnya menyebutkan bahwa standar kompetensi lulusan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan peserta didik mampu menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya.44
Dengan menggunakan model pengajaran aktif memberi kesempatan pada siswa untuk aktif mencari, menemukan, dan mengevaluasi pandangan keagamaannya sendiri dengan membandingkannya dengan pandangan keagamaan siswa lainnya, atau agama-agama diluar dirinya. Dalam hal ini, proses mengajar lebih menekankan pada bagaimana mengajarkan agama dan bagaimana mengajarkan tentang agama.45
Dialog memungkinkan setiap komunitas yang notabenenya memiliki latar belakang agama yang berbeda dapat mengemukakan pendapatnya secara argumentatif. Dalam proses inilah diharapkan nantinya memungkinkan adanya sikap saling mengenal antar tradisi dari setiap agama yang dipeluk oleh masing-masing peserta didik sehingga bentuk-bentuk truth claim dapat diminimalkan,bahkan mungkin dapat dibuang jauh-jauh.46
Ada beberapa keterampilan hidup bersama yang sedang dilatihkan dalam proses pembelajaran seperti ini antara lain: dialog kelompok akan membawa siswa berani mengekspresikan pendapatnya meski harus berbeda
44
Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
45
Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta: Erlangga 2005, 102-103
46Syamsul Ma‟arif, Pendidikan Pluralisme di Indonesia
, Jogjakarta: Logung Pustaka, 2005, 96-97
38
dengan yang lain. Mereka juga belajar mendengar pendapat orang lain dari yang pro, serupa, bahkan kontra. Siswa dilatih untuk menyintesis pandangan- pandangan yang beragam terhadap tema yang dibahas. Tugas guru dalam proses ini sebagai fasilitator, mengarahkan dialog dan memberi penguatan bila dirasa perlu.
Pandangan guru tentang toleransi beragama juga akan mempengaruhi bentuk pembelajaran dan metode yang dilakukan. Ada beberapa pandangan guru tentang toleransi, salah satunya sebagaimana disampaikan oleh Wahid Muhaimin, beliau mengatakan :
Saya berusaha memposisikan semua siswa sebagai teman, sehingga mereka sangat dekat dengan saya baik yang muslim maupun non muslim. Bidang saya sebagai guru PAI tidak menghalangi mereka terutama yang non muslim untuk akrab dengan saya seperti siswa yang lainnya. Para siswa juga tidak pernah menyinggung perbedaan agama apalagi mempermasalahkan kapasitas saya sebagai guru agama atau guru mata pelajaran lainnya.
Saya sering mendengarkan cerita-cerita siswa yang berkaitan dengan kerukunan antar umat beragama dilingkunganya yang sudah sangat harmonis. Hal ini kemudian menjadikan pemikiran saya bahwa toleransi siswa sudah terbangun dengan baik seperti yang ada di masyarakat sekitar. Maka dalam pembelajaran PAI pada materi-materi toleransi, saya cenderung normatif, yaitu melakukan pembelajaran mengikuti apa yang menjadi tuntutan silabus dan buku guru, sehingga saya tidak mengedepankan idealisme saya khususnya tentang pandangan toleransi. Secara teknis apabila siswa tidak menanyakan hal-hal detil tentang toleransi maka saya cenderung tidak masuk untuk membahas terlalu dalam, tetapi apabila ada siswa yang bertanya tentang batasan-batasan toleransi di dalam Islam, maka saya baru memberikan rambu-rambu bahwa toleransi hanya tidak boleh masuk dalam wilayah akidah. Suatu contoh ketika anak bertanya; “apakah boleh orang Islam mengucapkan selamat Natal kepada orang-orang nasrani? Kenapa boleh atau tidak boleh?” saya jawabnya; “tidak boleh, karena mengucapkan kata selamat natal sama halnya dengan mengakui kebenaran hari raya mereka, yang itu jelas di dalam Islam tidak dibenarkan, cukup mengatakan „selamat‟ saja tanpa embel- embel kata Natal”. Kemudian apabila ada yang bertanya; “Bolehkah saya menghadiri perayaan Natal dirumah tetangga saya?” saya
39
jawabnya; “Kalau itu jelas pesta perayaan Natal, maka tidak boleh hadir, sebaiknya menyampaikan asalannya dengan yang baik.47
Berdasarkan wawancara di atas dapat dilihat bahwa toleransi itu menjadi kebutuhan yang mendasar pada lingkungan yang majemuk, tetapi perlu lebih berhati-hati dalam menerapkannya, artinya bahwa batasan-batasan toleransi itu hanya boleh dilakukan dalam ranah sosial kemasyarakatan, tetapi ketika sudah masuk dalam ranah akidah maka tidak diperbolehkan walaupun hanya berupa kata-kata. Pandangan ini sedikit berbeda dengan pandangan yang disampaikan oleh Nur Khamid, yang mengatakan bahwa :
Masalah toleransi beragama adalah hal yang sangat sensitif, sehingga kita harus berhati-hati ketika membicarakannya. Alhamdulillah di sekolah kami sudah terbentuk dengan baik, seperti halnya yang ada di dalam masyarakat sekitar, tinggal kita merawatnya. Siswa disini sangat beragam, sebagian besar beragama Islam tetapi hampir lima puluh persen beragama Buddha. Maka ketika pelajaran agama secara otomatis mereka akan mengikuti pelajaran sesuai dengan agamanya. Tetapi para siswa sangat dengan saya baik yang muslim maupun non muslim.
Dalam pembelajaran PAI khususnya materi toleransi saya cenderung mengalir, saya sering memberikan gambaran-gambaran kerukunan dan toleransi di dalam masyarakat sekitar sekolah, karena kebetulan tempat tinggal saya tidak jauh dari sekolah yang mempunyai karakteristik masyarakat yang hampir sama yaitu mempunyai keragaman dalam memeluk agama. Saya juga tidak mempermasalahkan beberapa kebiasaan masyarakat yang sudah mapan dengan toleransi beragama. Seperti ketika ada orang non muslim mengucapkan “assalamu‟alaikum warhmatullahi wabarakatuh” apakah boleh kita orang Islam menjawabnya? Saya tidak pernah melarang siswa muslim menjawabnya. Menurut saya kata “assalamu‟alaikum warhmatullahi wabarakatuh” sudah menjadi kata yang umum bisa dipakai siapa saja, yang tidak masalah orang muslim menjawabnya sebagai penghormatan kepada orang yang mengucapkan salam. Kemudian kebiasaan masyarakat yang saling bergotong royong dalam membuat tempat ibadah, contoh orang-orang non muslim membantu pendirian pembangunan mushola di SMP N 2 Kaloran, saya tidak menolaknya dan tidak mempermasalahkanya.
47
40
Sebaliknya kalau umat Islam disekitarnya dimintai bantuan untuk membangun Cethiya juga saya tidak melarangnya, karena menurut saya itu bagian dari sosial dan gotong royong, asalkan kita sebagai umat Islam tidak masuk dalam peribadatannya.48
Apabila melihat lebih dalam dari kutipan dua wawancara di atas, secara implisit ada dua pandangan yang berbeda. Guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 1 Kaloran cenderung berpandangan dengan toleransi negatif. Sebagaimana penafsiran toleransi secara negatif yang menyatakan bahwa toleransi itu cukup mensyaratkan adanya sikap membiarkan dan tidak menyakiti orang atau kelompok lain baik yang berbeda maupun yang sama.49 Dalam hal ini guru tersebut menghargai perbedaan agama tetapi cenderung mensyaratkan secara ketat tentang toleransi agama untuk tidak masuk dalam wilayah aqidah walaupun sekedar dalam bentuk perhormatan.
Sedangkan, yang kedua untuk guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2 Kaloran cenderung berpandangan dengan toleransi positif yaitu menyatakan bahwa toleransi tidak hanya sekedar seperti pertama (penafsiran negatif) tetapi harus adanya bantuan dan dukungan terhadap keberadaan orang lain atau kelompok lain.50 Hal ini terlihat ketika menjelaskan kepada siswa tentang toleransi lebih terbuka, bentuk toleransi yang dibangun oleh guru yang bersangkutan sampai membolehkan untuk memberikan dukungan yang nyata dan saling membantu kepada non muslim ketika masih dalam kerangka sosial seperti dalam menjawab salam penghomatan dan bergotong royong membantu dalam mendirikan tempat ibadah.
48
Wawancara dengan Guru PAI SMP Negeri 2 Kaloran tanggal 15 Agustus 2017 49
Maskuri Abdullah, Pluralisme Agama dan Kerukunan dalam Keagamaan ..., 13. 50
41