• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Desember tahun 2018 di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan, Jl.

Gabion, Bagan Deli, Medan Kota Belawan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan untuk penelitian ini adalah Kuisioner,laptop, kamera digital, printer, alat tulis dan unit penangkapan Purse seine.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta administrasi kawasan Medan Belawan, data primer berupa kuisioner, data time series hasil

tangkapan, upaya penangkapan dan jumlah kapal Purse seine Ikan Layang (Decapterus spp) tahun 2013-2017, Ms. Excel, ArcView.

Prosedur Penelitian Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung ke nelayan dengan melakukan pengisian kuisioner. Sampel nelayan diambil dengan menggunakan accidental sampling. Menurut Saebani (2008), accidental sampling merupakan teknik sampling dengan nonrandom sampling. Dalam sampling ini tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel. Dalam accidental sampling, hanya individu atau grup yang kebetulan dijumpai atau dapat dijumpai saja yang dijadikan sebagai sampel. Sampel yang diambil yaitu beberapa orang nelayan dari kapal Purse seine yang ada pada saat kegiatan penelitian. Dari beberapa sampel tersebut dianggap sudah cukup mewakili populasi karena informasi yang didapat dan beberapa data yang ditulis dan dicatat terdiri dari jumlah tangkapan ikan khususnya Ikan Layang (Decapterus spp). Banyaknya responden atau sampel yang diambil adalah 40 orang nelayan. Hal ini sesuai dengan peryataan Roscoe dalam Sugiono (2008), yang memberikan saran saran tentang ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampaidengan 500.

Data sekunder meliputi data dari buku statistik perikanan dan kelautan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Sumatera Utara yaitu data hasil tangkapan dan upaya tangkap Ikan Layang (Decapterus spp.) 5 tahun terakhir dari

hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.Data sekunder diolah dengan menggunakan Microsoft Excel.

Analisis Data

Metode produksi surplus digunakan dalam perhitungan potensi maksimun lestari (MSY) dan upaya penangkapan optimum (fopt) dengan cara menganalisis hubungan upaya penangkapan dengan hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE).

a. Hasil Tangkapan per Upaya Tangkapan (Catch per Unit Effort)

Produktivitas suatu alat tangkap dapat diduga dengan melihat hubungan antara hasil tangkapan (catch) dengan upaya penangkapan (effort) disebut dengan Catch Per Unit Effort (CPUE). Dalam penelitian ini data catch adalah data hasil tangkapan ikan layang dari alat tangkap purse seine dan upaya penangkapan (effort) berupa jumlah trip. Persamaan untuk mencari nilai CPUE adalah sebagai berikut (Gulland, 1983).

Keterangan :

CPUE = Catch per Unit Effort

Ct = Hasil tangkapan pada tahun ke-t (ton) ft = Upaya penangkapan pada tahun ke-t (trip)

Selanjutnya dilakukan pengolahan data melalui pendekatan Model Schaefer dan Fox. Model ini merupakan model analisis regresi linier sederhana

dari CPUE terhadap jumlah effort. Untuk mengetahui potensi maksimum lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) dan Effort Optimum (fopt) terhadap sumberdaya ikan layang (Decapterus spp) yang didaratkan di PPS Belawan.

Analisa dilakukan menggunakan Microsoft Exel 2007. Secara umum tahapan pengolahan data metode Produksi Surplus, sebagai berikut:

1. Membuat tabulasi hasil tangkapan (catch = C) beserta upaya penangkapan (effort = f), kemudian dihitung nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (CPUE = Catch Per Unit Effort).

2. Memplotkan nilai f terhadap nilai c/f dan menduga nilai intercept (a) dan slope (b) dengan regresi linier.

3. Menghitung pendugaan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield = MSY) dan upaya optimum (effort optimum = fopt).

Besarnya parameter adan bsecara matematik dapat dicari dengan menggunakan persamaan regresi linier sederhana dengan rumus Y = a + bx.

Persamaan Produksi Surplus hanya berlaku bila parameter b bernilai (-), artinya penambahan upaya penangkapan akan menyebabkan penurunan CPUE (Sparre dan Venema, 1989).

b. Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum (fopt)

Menurut Gulland (1983), data yang digunakan dalam metode Produksi Surplus berupa hasil tangkapan (catch) dan upaya penangkapan (effort) dan kemudian dilakukan pengolahan data melalui pendekatan Model Schaefer dan

Model Fox. Model Schaefer dan Fox merupakan model analisis regresi dari CPUE terhadap jumlah effort.

Model Schaefer :

Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah :

Nilai Upaya Optimum (fopt) adalah :

Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah :

Model Fox

Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah :

Nilai Upaya Optimum (fopt) adalah :

Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah :

C = Jumlah hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (ton/trip) a = Intercept

b = Slope

f = Upaya penangkapan (trip) pada periode ke-i.

fopt= Upaya penangkapan optimal (trip)

MSY= Nilai potensi maksimum lestari (Kg/tahun)

c. Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan

Pendugaan tingkat pemanfaatan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan layang di yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Belawan. Pendugaan dilakukan dengan cara mempresentasikan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai potensi maksimum lestari (MSY) (Sparre dan Venema, 1989).

Persamaan dari tingkat pemanfaatan adalah :

Keterangan :

TPc = Tingkat pemanfaatan pada tahun ke-i (%) Ci = Hasil tangkapan ikan pada tahun ke-i (ton) MSY = Maximum Sustainable Yield (ton)

Pendugaan tingkat pengupayaan dilakukan untuk mengetahui tingkat upaya tangkap sumberdaya ikan layang yang didaratkan di PPS Belawan.

Pendugaan dilakukan dengan mempresentasekan effort standar pada tahun terterntu dengan nilai effort optimal (fopt).

Persamaan dari Tingkat Pengupayaan adalah :

Keterangan :

TPf = Tingkat Pengupayaan pada tahun ke-i (%)

fs = Upaya Penangkapan (Effort Standar) pada tahun ke-i (trip) fopt = Upaya Penangkapan Optimum (ton/thn)

d. Total Allowble Catch (TAC)

Jumlah tangkapan yang diperbolehkanatau Total Alowable Catch (TAC) dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dapat ditentukan dengan analisis produksi surplus dan berdasarkan prinsip pendekatan kehati-hatian. Total Allowable Catch (TAC) di gunakan sebagai landasan dalam menentukan seberapa

besar tangkapan yang diperbolehkan. Agar kegiatan perikanan dapat dilakukan secara berkelanjutan maka jumlah hasil tangkapan sebaiknya tidak melebihi nilai TAC (Puspita et al., 2017).

Menurut Budiasih dan Dewi (2015), Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dapat dilihat dari jumlah produksi ikan pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai TAC (Total Allowable Catch)atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan. TAC (Total Allowable Catch) tersebut adalah 80% dari potensi maksimum lestarinya (CMSY). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) atau TAC (Total Allowable Catch) menurut kelompok jenis sumberdaya alam hayati di

Potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan menurut kelompok jenis di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

1. Jenis Sumber Pelagis, potensi 1.285.900 ton per tahun, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) 1.115.731 ton per tahun

2. Jenis Sumber Tuna, potensi 83.435 ton per tahun, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) 75.915 ton per tahun

3. Jenis Sumber Cakalang, potensi 93.760 ton per tahun, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) 88.884 ton per tahun

Keterangan :

TAC = Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (kg/thn) MSY = Maximum Sustainable Yield (kg)

Dokumen terkait