• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : MERSI MEILINA

DAFTAR GAMBAR

III. METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Pemikiran

Arti penting manajemen pengetahuan telah disadari oleh organisasi sebagai sumber daya utama dalam bersaing. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pergeseran orientasi para pelaku organisasi telah terjadi selama beberapa dekade dimana pada tahun 1929 rasio penggunaan antara aset tak berwujud/aset pengetahuan (intangible assets) dengan modal yang berwujud/aset fisik (tangible assets) masih berkisar antara 30 banding 70 persen, tetapi pada tahun 1990 sudah terjadi pergeseran yang cukup signifikan, yakni antara 37 banding 63 persen. Demikian pula pada penelitian lain terungkap bahwa pada tahun 1978 nilai dari aset pengetahuan masih didominasi oleh aset yang bersifat fisik atau 80 persen dan hanya sekitar 20 persen terkait dengan aset pengetahuan. Pada tahun 1988 keadaan tersebut berubah menjadi 45 persen terkait dengan aset berbentuk fisik dan 55 persen terkait dengan aset pengetahuan. Setelah sepuluh tahun kemudian, titik beratnya justru berbalik dimana 70 persen modal perusahaan terkait dengan aset pengetahuan dan hanya 30 persen terkait dengan aset berbentuk fisik (Sangkala, 2007). Bukti-bukti tersebut semakin menujukkan bahwa aset pengetahuan perlu dikelola dengan baik untuk menghasilkan nilai dalam praktik- praktik unggulan organisasi yang akan ditawarkan kepada konsumen atau masyarakat.

Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki visi dan misi menjadi pusat penelitian yang memberikan kontribusi nyata dalam mengembangkan ilmu ekonomi dan memecahkan masalah-masalah ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia kini dan mendatang. Visi dan misi tersebut menuntut P2E LIPI untuk menjadi adaptif terhadap persaingan perekonomian global. Untuk mampu beradaptasi terhadap persaingan tersebut, organisasi harus memiliki pengetahuan yang berkualitas sehingga diperlukan pengelolaan manajemen pengetahuan (knowledge management) agar organisasi dapat selalu membentuk perilaku inovatif dalam menghadapi permasalahan yang semakin hari semakin kompleks terutama di bidang ekonomi.

Pada penelitian ini, diteliti tentang bagaimana peran aset-aset pengetahuan dalam proses konversi pengetahuan organisasi yang mendorong inovasi pada P2E LIPI. Perilaku inovatif yang dilakukan P2E LIPI dapat terbentuk apabila terjadi proses penciptaan pengetahuan pada organisasi tersebut. Berdasarkan teori Nonaka et al (2000) proses penciptaan pengetahuan melibatkan proses konversi pengetahuan, yaitu sosialisasi (socialization), eksternalisasi (externalization), kombinasi (combination), dan internalisasi (internalization). Keempat model tersebut dikenal sebagai model SECI. Proses penciptaan pengetahuan dapat terjadi apabila difasilitasi oleh aset-aset pengetahuan. Aset pengetahuan dikelompokkan menjadi empat, yaitu aset pengetahuan eksperiensial, konseptual, sistemik, dan rutin. Oleh karena itu, peneliti akan meneliti hubungan timbal balik antara keempat model SECI dengan keempat jenis aset pengetahuan. Dengan demikian, penelitian ini mampu memberikan suatu model kontribusi aset pengetahuan dalam memfasilitasi proses penciptaan pengetahuan pada organisasi. Adapun bagan kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 4.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang terletak di Gedung Widya Graha LIPI Lantai IV dan V, Jalan Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta Selatan 12710. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 sampai dengan Januari 2012. 3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang didapat langsung dari sumber pertama (Suliyanto, 2006). Data primer diperoleh dari hasil kuesioner yang terdiri dari 55 pertanyaan. Menurut Suliyanto (2006) kuesioner adalah metode pengumpulan data yang dilakukan untuk mengumpulkan data dengan cara membagi daftar pertanyaan kepada responden agar responden tersebut memberikan jawabannya.

29   

Gambar 4. Kerangka Pemikiran Visi dan Misi

P2E LIPI Aset Pengetahuan: 1. Eksperiensial 2. Konseptual 3. Sistemik 4. Rutin Proses Penciptaan Pengetahuan: 1. Sosialisasi 2. Eksternalisasi 3. Kombinasi 4. Internalisasi Analisis Korelasi Kanonikal

Hubungan Aset Pengetahuan Terhadap Proses Konversi Pengetahuan Organisasi

Perilaku Inovatif

Model Kontribusi Aset Pengetahuan Dalam Memfasilitasi

Sedangkan data sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahnya (Suliyanto, 2006). Data sekunder diperoleh melalui studi literatur baik dari buku, jurnal, dan sksipsi serta data penunjang lain yang berasal dari P2E LIPI.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling atau sampling jenuh. Sampling jenuh yaitu populasi merangkap sebagai sampel penelitian (Suliyanto, 2006). Teknik ini digunakan oleh peneliti karena terbatasnya populasi di P2E LIPI yang berjumlah 65 orang. Oleh karena itu, kuesioner dibagikan kepada seluruh pegawai P2E LIPI yang terdiri dari 42 orang peneliti dan 23 orang staf administrasi.

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala likert untuk memberi skor pada masing-masing jawaban responden berdasarkan bobot tertentu. Format yang digunakan adalah lima interval, yaitu:

a. Sangat Setuju skor 5

b. Setuju skor 4

c. Kurang Setuju skor 3 d. Tidak Setuju skor 2 e. Sangat Tidak Setuju skor 1

3.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah agar data tersebut memiliki makna yang berguna untuk memecahkan masalah yang diteliti. Dalam melaksanakan pengolahan data diusahakan agar kesalahan yang terjadi dalam penelitian sekecil mungkin. Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan kode (coding) terhadap data yang diperoleh untuk memudahkan serta meningkatkan efisiensi data entry processing ke sistem program komputer (Suliyanto, 2006).

3.4.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir-butir suatu daftar pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel. Uji validitas harus mengandung dua hal, yaitu ketepatan dan kecermatan. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang

31   

akan diukur oleh kuesioner tersebut (Suliyanto, 2006). Tahapan yang harus dilakukan untuk melakukan uji validitas adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan secara operasional suatu konsep yang akan diukur yaitu dengan cara:

a. Mencari definisi dan rumusan konsep serta literatur, jika sekiranya sudah ada rumusan yang cukup rasional maka rumusan tersebut dapat langsung dipakai. Tetapi apabila rumusan tersebut belum operasional, maka peneliti harus merumuskannya seoperasional mungkin.

b. Jika dalam literatur tidak diperoleh definisi atau rumusan konsep yang akan diukur, peneliti harus mendefinisikan dengan para ahli lain. Pendapat para ahli kemudian disarikan ke dalam bentuk rumusan yang operasional.

c. Menanyakan langsung kepada calon responden penelitian mengenai aspek-aspek konsep yang menyusun pertanyaan yang operasional.

2. Melakukan uji coba skala pengukuran pada sejumlah responden. Jumlah responden untuk uji coba minimal adalah 30 orang karena distribusi skor atau nilai akan lebih mendekati normal. Asumsi kurva normal sangat dibutuhkan dalam perhitungan statistik.

3. Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban

Menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total. Signifikan < 0,05.

Rumus yang digunakan untuk mengukur validitas kuesioner adalah:

r

∑ ∑ ... (1) Dimana:

n = Jumlah responden x = Skor pertanyaan ke-n y = Skor total

xy = Skor pertanyaan ke-n dikalikan skor total r = Koefisien korelasi

Sebagai penelitian awal, kuesioner disebarkan kepada 30 orang responden, setelah dilakukan uji validitas, didapat 55 pertanyaan yang valid.

Artinya pertanyaan tersebut memenuhi syarat sah untuk diolah lebih lanjut. Hasil perhitungan uji validitas dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.4.2 Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan ukuran dalam suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan daftar-daftar pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam suatu bentuk kuesioner. Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Repeated Measure atau pengukuran ulang. Disini seseorang akan disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda, kemudian dilihat apakah tetap konsisten dengan jawabannya.

2. One Shot atau pengukuran sekali saja. Pengukuran hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pernyataan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan.

Uji realibilitas digunakan rumus Alpha Cronbach sebagai berikut:

r

∑ ... (2) Dimana:

r = Koefisien reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir pertanyaan

= Total varian ∑ = Total varian butir

Tingkat reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach diukur berdasarkan skala alpha 0 sampai 1. Tingkat reliabilitas tersebut dapat diinterpretasikan pada Tabel 1.

Dari hasil perhitungan didapatkan 0,82 untuk aset pengetahuan yang artinya sangat reliabel dan 0,83 untuk proses penciptaan pengetahuan yang artinya sangat reliabel. Hasil perhitungan uji reliabilitas dapat dilihat pada Lampiran 2.

Tabel 1. Tingkat Reliabilitas Alpha Cronbach

Alpha Tingkat Reliabilitas

0,00 – 0,20 Kurang Reliabel > 0,20 – 0,40 Agak Reliabel > 0,40 – 0,60 Cukup Reliabel > 0,60 – 0,80 Reliabel > 0,80 – 1,00 Sangat Reliabel

33   

3.4.3 Korelasi Kanonikal

Terdapat dua hal utama yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan model analisis. Pertama, proses pembentukan inovasi melalui pendayagunaan pengetahuan melibatkan banyak variabel yang konstelasi hubungannya kompleks dan bekerja secara simultan. Kedua, sebagian besar dari variabel tersebut adalah variabel kualitatif. Untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini akan digunakan analisis korelasi kanonikal.

Analisis korelasi kanonikal merupakan suatu analisis atau teknik yang digunakan untuk menentukan tingkat hubungan antara dua kelompok variabel yang masing-masing terdiri dari beberapa variabel. Pemilihan metode korelasi kanonikal dengan justifikasi sebagai berikut (Hair et al, 1998):

1. Korelasi kanonikal merupakan perluasan yang logis dari regresi berganda yang mampu mengkorelasikan secara simultan beberapa variabel tak bebas Y dengan beberapa variabel bebas X;

2. Korelasi kanonikal dapat digunakan untuk mencari suatu set bobot untuk variabel tak bebas Y dan variabel bebas X yang dapat menghasilkan korelasi sederhana yang maksimum (sekuat mungkin) antara suatu set variabel tak bebas Y dan suatu set variabel bebas X.

Menurut Hair et al (1998) tahap analisis korelasi kanonikal mencakup enam langkah yang bersifat sekuensial ditampilkan pada Gambar 5, yaitu:

1. Masalah penelitian a. Tentukan tujuan

b. Menspesifikasikan variabel dependen c. Menspesifikasikan variabel independen 2. Masalah desain penelitian

a. Jumlah observasi per variabel b. Keseluruhan ukuran sampel 3. Asumsi-asumsi

a. Korelasi linier b. Hubungan linier c. Kenormalan ragam

4. Pemilihan dan estimasi fungsi kanonikal a. Menurunkan fungsi kanonikal b. Memilih fungsi untuk interpretasi c. Signifikansi secara statistik d. Besaran hubungan

5. Interpretasi variabel dan fungsi kanonikal a. Berat kanonikal

b. Beban kanonikal c. Bobot silang kanonikal 6. Validasi hasil

a. Sampel berganda

b. Analisis sensitivitas komposisi ragam

Dalam penelitian ini yang menjadi gugus peubah dependen (Y) adalah proses penciptaan pengetahuan dan yang menjadi gugus peubah independen (X) adalah aset-aset pengetahuan. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi peran aset-aset pengetahuan yang dimiliki organisasi terhadap proses penciptaan pengetahuan sehingga membentuk perilaku inovatif, yang diamati yaitu aset pengetahuan eksperiensial, aset pengetahuan konseptual, aset pengetahuan sistemik, dan aset pengetahuan rutin. Peubah proses penciptaan pengetahuan yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah empat variabel, yaitu sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi.

Prinsip dari metode ini yaitu membentuk kombinasi linear dari setiap gugus peubah (dependen dan independen) sedemikian sehingga korelasi diantara kedua gugus peubah tersebut menjadi maksimum. Nilai korelasi kanonikal didapat dari operasi aritmatika matriks korelasi kedua himpunan variabel (variabel kanonikal).

Interpretasi koefisien variat kanonikal, dapat dilihat pada bobot kanonikal (canonical weights) dan beban kanonikal (canonical loadings). Bobot kanonikal merupakan koefisien kanonik yang telah dibakukan, dapat diinterpretasikan sebagai besarnya kontribusi variabel asal terhadap variat kanonikal.

35   

Gambar 5. Tahap Analisis Korelasi Kanonikal Masalah Penelitian

 Tentukan Tujuan:

o Menentukan hubungan antar variabel o Memperoleh korelasi maksimal

o Menjelaskan asas hubungan antar variabel  Menspesifikasikan variabel dependen

 Menspesifikasikan variabel independen

Masalah Desain Penelitian  Jumlah observasi per variabel  Keseluruhan ukuran sampel

Asumsi-asumsi  Korelasi linier

 Hubungan linier  Kenormalan ragam

Pemilihan dan Estimasi Fungsi Kanonikal  Menurunkan fungsi kanonikal

 Memilih fungsi untuk interpretasi  Signifikansi secara statistik  Besaran hubungan

Interpretasi Variabel dan Fungsi Kanonikal  Berat kanonikal

 Beban kanonikal  Bobot silang kanonikal

Validasi hasil  Sampel berganda

Semakin besar nilai koefisien ini menyatakan semakin besar kontribusi variabel yang bersangkutan terhadap variat kanonikal. Muatan kanonikal dapat dihitung dari korelasi antara variabel asal dengan masing-masing variabel kanoniknya. Semakin besar nilai loading atau muatan mencerminkan semakin dekat hubungan fungsi kanonik yang bersangkutan dengan variabel asal.

Prosedur korelasi kanonikal ini akan menghasilkan diagram jalur yang disajikan pada Gambar 5.

   

     

Gambar 6. Diagram Jalur Analisis Korelasi Kanonikal

Variabel independen mempunyai indikator yang dinotasikan dengan Xi, meliputi:

X1 = Eksperiensial X2 = Konseptual X3 = Sistemik X4 = Rutin

Variabel dependen mempunyai indikator yang dinotasikan dengan Yi, meliputi: Y1 = Sosialisasi Y2 = Eksternalisasi Y3 = Kombinasi Y4 = Internalisasi Eksperiensial Konseptual Sistemik Rutin Sosialisasi Eksternalisasi Kombinasi Internalisasi 1 2 1 2

37   

Canonical loadings variabel independen diperoleh dengan rumus sebagai berikut:

RXW = RXX AZ ... (3)

Canonical loadings variabel dependen diperoleh dengan rumus sebagai berikut:

RVY = RYY BZ ... (4)

Fungsi kanonik yang dianggap cukup dalam menerangkan struktur hubungan Y dan X dilihat dari koefisien R-square. Nilai ini didapat dengan mengkuadratkan korelasi kanonik atau dinotasikan sebagai berikut:

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) merupakan lembaga penelitian keilmuan di bidang ekonomi yang berkedudukan di Jakarta. Bersama pusat penelitian lainnya di lingkungan Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakatan (IPSK), lembaga yang semula bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekonomi dan Pembangunan (PEP) LIPI ini kemudian dengan Surat Keputusan Presiden No. 178 Tahun 2000 tertanggal 15 Desember 2000 tentang Reorganisasi LIPI dan Surat Keputusan Kepala LIPI No:1151/M/2001 tertanggal 5 Juni 2001 Tentang Reorganisasi dan Tata Kerja LIPI, berubah nama menjadi Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI.

Sebagai salah satu dari lima pusat penelitian di bawah Kedeputian Bidang IPSK LIPI, P2E LIPI dituntut dapat menghadapi tantangan baru untuk menghasilkan karya unggulan yang mampu bersaing dan menjadi acuan ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional. P2E LIPI juga dituntut untuk memberikan arah dan pencerahan bagi masyarakat dalam rangka meletakkan landasan yang kokoh dalam mencapai masyarakat adil, makmur, dan demokratis.

Dalam melaksanakan program-program penelitian, P2E LIPI membentuk empat kompetensi inti (core competence) yaitu:

a. Industri dan Perdagangan b. Pembangunan Daerah c. Keuangan dan Perbankan d. Ekonomi Syariah.

Meskipun P2E LIPI merupakan salah satu unit kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen, penelitian dan kajian yang dilakukan tidak semata-mata berorientasi praktis-kebijakan, melainkan juga dalam rangka pengembangan konsep, model, dan teori-teori baru dalam bidang ilmu ekonomi. Selain itu, hasil- hasil penelitian dan pengkajian diharapkan juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas terutama dalam memahami problematika ekonomi dan upaya

39   

pemecahannya berdasarkan perspektif ilmiah. Dengan demikian seluruh kegiatan penelitian dan pengkajian serta aktivitas lainnya diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu ekonomi, perumusan rekomendasi kebijakan ekonomi bagi pemerintah, dan pencerahan kepada masyarakat luas (stakeholders) dalam memahami dinamika ekonomi Indonesia.

4.1.1 Tugas Pokok dan Fungsi

Pusat Penelitian Ekonomi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) berdasarkan Keputusan Kepala LIPI Nomor: 1151/M/2001 tertanggal 5 Juni 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja LIPI, bertugas “melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian bidang ekonomi serta evaluasi, dan penyusunan laporan”.

Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut (Pasal 247), Keputusan Kepala LIPI Nomor: 1151/M/2001 tersebut, P2E LIPI menyelenggarakan fungsi:

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis penelitian bidang ekonomi;

b. Penyusunan pedoman, pembinaan, dan pemberian bimbingan teknis penelitian bidang ekonomi;

c. Penyusunan rencana dan program, serta pelaksanaan penelitian bidang ekonomi;

d. Pemantauan pemanfaatan hasil penelitian bidang ekonomi; e. Pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi bidang ekonomi; f. Evaluasi dan penyusunan laporan penelitian bidang ekonomi; g. Pelaksanaan urusan tata usaha.

Adapun penjabaran tugas pokok dan fungsi masing-masing bidang yang terdapat dalam struktur organisasi P2E LIPI adalah sebagai berikut:

1. Bidang Industri dan Perdagangan

Bidang Industri dan Perdagangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan dan penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis penelitian, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian, pemantauan pemanfaatan, evaluasi, dan penyusunan laporan hasil penelitian bidang industri dan perdagangan, serta kegiatan ilmiah lainnya.

2. Bidang Pembangunan Daerah

Bidang Pembangunan Daerah mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan dan penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis penelitian, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian, pemantauan pemanfaatan, evaluasi, dan penyusunan laporan hasil penelitian bidang pembangunan daerah, serta kegiatan ilmiah lainnya.

3. Bidang Keuangan dan Perbankan

Bidang Keuangan dan Perbankan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan dan penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis penelitian, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian, pemantauan, pemanfaatan, evaluasi, dan penyusunan laporan hasil penelitian bidang keuangan dan perbankan, serta kegiatan ilmiah lainnya.

4. Bidang Tata Operasional

Bidang Tata Operasional mempunyai tugas melaksanakan penyiapan kerjasama, dokumentasi, dan informasi. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Bidang Tata Operasional menyelenggarakan fungsi:

a. Penyiapan bahan penyusunan dan pelaksanaan program kerja sama penelitian bidang ekonomi.

b. Pengumpulan, pengolahan dan penyajian data dan informasi, penyebarluasan hasil penelitian bidang ekonomi, serta dokumentasi dan pengelolaan perpustakaan.

Kepala Bidang Tata Operasional membawahi:

 Sub Bidang Kerjasama Penelitian mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan, dan pelaksanaan program kerjasama penelitian bidang ekonomi.

 Sub Bidang Dokumentasi dan Informasi mempunyai tugas melakukan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data dan informasi, penyebarluasan hasil penelitian bidang ekonomi, serta dokumentasi dan pengelolaan perpustakaan.

41   

5. Sub Bagian Tata Usaha

Sub-Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, tata persuratan dan kearsipan, perlengkapan serta rumah tangga. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas tugas dan fungsi P2E LIPI, utamanya untuk kegiatan Sub Bagian Tata Usaha dilakukan oleh para koordinator, yang meliputi koordinator kepegawaian dan koordinator umum. 4.1.2 Visi dan Misi

Visi

Menjadi centre of excellence dan think tank dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Misi

Memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu ekonomi dan sumbangan pemikiran dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi dan sosial yang dihadapi bangsa Indonesia kini dan mendatang.

4.1.3 Struktur Organisasi

Struktur organisasi P2E LIPI sesuai dengan Surat Keputusan Kepala LIPI Nomor: 1151/M/2001 tertanggal 5 Juni 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja LIPI, dipimpin oleh Kepala Pusat Penelitian yang dibantu oleh:

a. Kepala Bidang Industri dan Perdagangan b. Kepala Bidang Pembangunan Daerah c. Kepala Bidang Keuangan dan Perbankan d. Kepala Bidang Tata Operasional

e. Kepala Sub Bidang Kerjasama Penelitian f. Kepala Sub Bidang Dokumentasi dan Informasi g. Kepala Sub Bagian Tata Usaha

Dalam bentuk bagan, struktur organisasi P2E-LIPI dapat dilihat pada Lampiran 1. 4.2. Karakeristik Responden

Berdasarkan data organisasi periode Januari 2012, secara keseluruhan jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 65 orang. Komposisi pegawai dapat dilihat pada Tabel 2. Responden yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak jumlah populasi. Jumlah terdiri dari 11 orang peneliti utama, 12 orang peneliti madya, 15 orang peneliti muda, 1 orang peneliti pertama, 3 orang

kandidat peneliti, 2 orang pustakawan, 8 orang pranata humas, 2 orang analis kepegawaian, dan 11 orang administrasi umum.

Tabel 2. Komposisi Pegawai Berdasarkan Jabatan Fungsional

Tingkat Jabatan Jumlah Pegawai Persentase (%)

Peneliti Utama 11 orang 16,9

Peneliti Madya 12 orang 18,4

Peneliti Muda 15 orang 23,1

Peneliti Pertama 1 orang 1,5

Kandidat Peneliti 3 orang 4,7

Pustakawan 2 orang 3,1

Pranata Humas 8 orang 12,3

Analis Kepegawaian 2 orang 3,1

Administrasi Umum 11 orang 16,9

Jumlah 65 orang 100

Sumber: Pusat Penelitian Ekonomi – LIPI (2012)

Responden dari penelitian ini berjumlah hampir sama dari segi jenis kelamin, dimana persentase jumlah responden pria sebesar 52,3 persen dan responden wanita 47,7 persen. Hal ini disebabkan karena sebaran jenis kelamin tidak mempengaruhi seseorang untuk mendapatkan kesempatan menjadi pegawai di P2E LIPI. Hasil selengkapnya ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Jumlah Pegawai Persentase (%)

Pria 34 orang 52,3

Wanita 31 orang 47,7

Jumlah 65 orang 100

Hasil penelitian menunjukkan sebaran umur responden yang tertinggi sebesar 40 persen terdapat pada kategori 47 – 57 tahun karena P2E LIPI membutuhkan peneliti yang berpengalaman dalam menghasilkan karya unggulan yang mampu bersaing dan menjadi acuan ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional. Sebaran umur terendah sebesar 26 persen untuk kategori responden berusia 25 – 35 tahun. Distribusi umur responden dapat dilihat pada Gambar 7.

43   

Gambar 7. Distribusi Umur Responden

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berpendidikan pascasarjana dengan persentase 65 persen. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 8. Hal tersebut terkait dengan rata-rata usia responden yang berada di usia 47 – 57 tahun, juga dikarenakan P2E LIPI lebih banyak membutuhkan peneliti yang ahli untuk menganalisis problematika ekonomi dan mengupayakan pemecahannya berdasarkan perspektif ilmiah. Sedangkan urutan terendah berada pada tingkat pendidikan Diploma 3, yaitu sebesar 3 persen.

Gambar 8. Distribusi Pendidikan Responden

Masa kerja responden rata-rata sekitar 5 – 15 tahun sebesar 46 persen. Masa kerja responden tersebut dapat dilihat pada Gambar 9. Manajemen pengetahuan dalam mendukung kegiatan organisasi membutuhkan proses dan waktu sehingga responden dengan masa kerja di atas lima tahun dapat merasakan

26%

34%

40%

25 - 35 tahun 36 - 46 tahun 47 - 57 tahun

17%

3%

15%

65%

SMA D3 S1 S2

pengelolaan pengetahuan. Masa kerja responden yang kurang dari 5 tahun menduduki posisi terendah sebesar 8 persen.

Gambar 9. Masa Kerja Responden

4.3 Aset Pengetahuan pada Pusat Penelitian Ekonomi LIPI

Profil pengetahuan yang dimiliki P2E LIPI ditelusuri melalui kepemilikan aset pengetahuan yang ditampilkan pada Tabel 4. Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI memiliki aset pengetahuan sistemik dengan persentase tertinggi, yaitu sebesar 84 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa responden menyatakan setuju memiliki aset pengetahuan yang tersistemasi dan terkemas.

Aset pengetahuan sistemik bagi P2E LIPI merupakan informasi terdokumentasi tentang hasil penelitian bidang ekonomi. Hasil penelitian dilaksanakan melalui tahap pengumpulan, pengolahan dan penyajian data serta informasi, penyebarluasan hasil penelitian, dokumentasi, sampai pengelolaan perpustakaan. Pusat Penelitian Ekonomi LIPI melakukan pemeliharaan dan penyimpanan hasil penelitian, terutama bila ada pengetahuan yang keluar dari organisasi, seluruh soft copy dokumen di backup ke dalam cakram optik untuk kemudian disimpan dan dicatat sehingga mudah mencarinya jika pegawai membutuhkannya. Pusat Penelitian Ekonomi LIPI telah memiliki infrastruktur yang sudah dijalankan hingga saat ini untuk menyimpan data, informasi, pengetahuan, maupun penyebarluasan hasil penelitian. Infrastruktur tersebut berupa intranet dan internet yang selalu dikelola.

Kepemilikan aset pengetahuan konseptual yang dimiliki P2E LIPI menempati urutan kedua dengan persentase sebesar 83,25 persen. Aset

Dokumen terkait