• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian

Dalam dokumen Program Keluarga Harapan di Indonesia Da (Halaman 40-59)

DAMPAK PROGRAM KELUARGA HARAPAN TERHADAP RUMAH TANGGA SANGAT MISKIN

A. Metode Penelitian

Guna mengetahui dampak PKH, digunakan rancangan penelitian sebagai berikut.

Desain dan Sampel

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain non-eksperimental. Artinya, peneliti tidak melakukan intervensi terhadap rumah tangga sangat miskin (RTSM). Penelitian ini hanya mengukur dampak dari PKH. PKH merupakan program yang telah terjadi sebelum penelitian ini dilakukan, dan tidak dirancang sejak awal menjadi bagian penelitian ini.

Untuk melengkapi temuan dan kredibilitas penelitian, metode kualitatif dijadikan sebagai metode pelengkap, dengan teknik pengumpulan data berupa pengamatan (observasi) dan wawancara terhadap ibu rumah tangga yang menjadi responden penelitian. Di samping itu, dilakukan juga Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion) melibatkan orang-orang kunci yang dianggap representative sebagai sumber data kualitatif, antara lain Ketua RT, Petugas posyandu, penggerak PKK, tokoh masyarakat sekitar, Pendamping PKH, petugas puskesmas, dan staf PKH Kantor Dinas Sosial Kota/Kabupaten.

Data penelitian dikumpulkan dari tiap-tiap RTSM sebagai unit analisis. Hal ini didasarkan pada pendapat Holman (1998) bahwa orang miskin itu sendiri jarang diminta untuk berkontribusi dalam proses menentukan dan memahami berbagai dampak dari program yang dijalankan untuk mereka. Adapun responden

ditetapkan sebagai unit analisis penelitian. Alasan menetapkan ibu sebagai responden adalah bahwa PKH berfokus pada kesehatan dan pendidikan dengan maksud anak-anak RTSM memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan, dan ibu hamil memeriksakan kandungannya secara berkala. Karenanya, peran ibu sangat penting. dan dianggap paling mengetahui informasi terkait program dan dampaknya kepada rumah tangga masing- masing.

Populasi penelitian ini adalah 386898 (tiga ratus delapan puluh enam ribu delapan ratus sembilan puluh delapan) RTSM yang tersebar di tujuh propinsi yang menjadi lokasi pelaksanaan PKH yang tercatat pada tahun 2007. Dengan menggunakan perhitungan berdasarkan margin of error 5% dan confidence level 95%, jumlah minimum sampel jika dilakukan secara acak sederhana adalah 384 RTSM (Hamburg, 1985). Jumlah ini besarnya kira-kira satu permil dari populasi.

Dalam rencana penyampelan (sampling), awalnya direncanakan jumlah sampel di setiap propinsi adalah satu permil dari jumlah populasi yang ada di propinsi tersebut. Misalnya, jumlah populasi RTSM penerima PKH di DKI Jakarta adalah 4556 RTSM, maka jumlah sampelnya adalah empat RTSM yang diambil secara acak; sedangkan jumlah sampel dari Jawa Timur adalah 220 (dua ratus dua puluh) RTSM dari populasi penerima PKH di propinsi tersebut sebesar 220123 RTSM.

Tabel 3. Distribusi Sampel Penelitian Dampak PKH

Propinsi Populasi Target dan Kecamatan Sampel Acak

Fraksi (dalam permil) DKI Jakarta 4556 Jakarta Utara (Penjaringan,

Koja, Cilincing)

60 13.17

Gorontalo 2480 Bone Bolango (Tapa, Bone Pantai)

60 24.19

Jawa Barat 76847 Garut (Cisurupan, Karangpawitan, Kadungora)

78 1.02

Jawa Timur 220123 Sidoarjo (Tarik, Wonoayu, Krian)

98 0.45

Sumatera Barat

3587 Pesisir Selatan (Linggo Sari Baganti, Lunang Silaut)

60 16.73

Sulawesi Utara 13771 Manado (Tikala, Wanea, Tuminting)

63 4.58

Nusa Tenggara Timur

65534 Kupang (Alak, Kelapa Lima) 66 1.01

Jumlah 485

Namun demikian, penentuan jumlah sampel yang demikian memiliki keterbatasan, yakni jumlah sampel yang terlalu kecil untuk populasi yang jumlahnya lebih sedikit, sehingga dikhawatirkan jumlah tersebut kurang mewakili keadaan populasinya. Atas pertimbangan ini, peneliti mengubah rencana penyampelan menjadi penyampelan acak wilayah tak berimbang (Disproportionate Area Random Sampling) agar data yang diperoleh lebih representatif (dengan rujukan, misalnya, Arikunto, 2003; Howitt & Cramer, 2011; Mantra, Kasto, & Tukira, 2012). Dalam literatur, area probability sampling disebut juga multi staged sampling (Hadi, 2001), sehingga penyampelan dalam penelitian ini boleh disebut juga sebagai disproportionate multi staged sampling. Sebagaimana nampak dalam Tabel 1, jumlah sampel keseluruhan adalah 485 RTSM atau 1,25 permil dari total populasi penerima PKH pada ketujuh propinsi.

Instrumen

Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumennya. Instrumen persepsi bantuan terdiri atas sejumlah pengukur variabel sebagai berikut. Persepsi kesesuaian bantuan

memiliki lima pilihan respons, yakni “Sangat Tidak Sesuai” (skor 1), “Tidak Sesuai” (skor 2), “Cukup Sesuai” (skor 3), “Sesuai” (skor 4), dan “Sangat Sesuai” (skor 5). Instrumen persepsi kecukupan jumlah bantuan memiliki enam pilihan respons, yakni “Sangat Tidak Cukup” (1), “Tidak Cukup” (2), “Agak Tidak Cukup” (3), “Agak Cukup” (4), “Cukup” (5), dan “Sangat Cukup” (6). Instrumen

persepsi ketepatan waktu penerimaan pembayaran dari penyelenggara PKH memiliki empat pilihan respons, yakni “Lebih dari 20 hari setelah waktu yang ditentukan” (skor 1), “11 sampai 20 hari setelah waktu yang ditentukan” (skor 2), “1 sampai 10 hari setelah waktu yang ditentukan” (skor 3), dan “Tepat waktu (tidak terlambat)” (skor 4). Persepsi keadilan distribusi/ penyebaran dana bantuan memiliki lima pilihan respons, yakni “Sangat Tidak Adil” (1), “Tidak Adil” (2), “Cukup Adil” (3), “Adil” (4), dan “Sangat Adil” (5).

Instrumen persepsi terhadap Pendampingan memiliki lima pilihan respons, yakni “Sangat Kurang” (1), “Kurang” (2), “Cukup” (3), “Baik” (4), dan “Sangat Baik” (5). Indikatornya adalah sebagai berikut: kesesuaian deskripsi tugas pendamping dengan yang dilakukan di lapangan (melakukan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; peneguran bila ada kondisi lapangan yang tidak sesuai; pendataan), frekuensi / kekerapan pertemuan dengan pendamping, alokasi waktu (waktu yang disediakan tiap pertemuan) oleh pendamping, tempat pertemuan / diskusi dengan pendamping, fasilitas pertemuan / diskusi dengan pendamping, relevansi materi pendamping dengan kebutuhan, organisasi (susunan) dan sistematika materi, penjelasan pendamping, kemampuan pendamping membangkitkan minat / motivasi untuk terlibat aktif, konsistensi pendamping, kegigihan

pendamping, kesempatan berbagi ide/gagasan/pemikiran dengan pendamping, kesempatan berbagi pengalaman dan keluh kesah dengan pendamping, koordinasi antara pendamping dengan ketua kelompok PKH dan pemangku kepentingan lain.

Instrumen persepsi manfaat terdiri atas tiga hal dan memiliki lima pilihan respons, yakni “Sangat Kurang” (1), “Kurang” (2), “Cukup” (3), “Baik” (4), dan “Sangat Baik” (5). Pertama, persepsi manfaat fisik dengan indikator sebagai berikut: persepsi manfaat PKH pada sumber daya fisik (sandang, pangan, papan), sumber daya badan (kesehatan), sumber daya keuangan/penghasilan (rupiah), dan produk/jasa yang dihasilkan keluarga. Kedua,

persepsi manfaat psikis dengan indikator sebagai berikut: rasa syukur menjadi bagian PKH, kepuasan terhadap kondisi keluarga saat ini, perasan bangga terhadap kualitas keluarga, optimisme menghadapi masa depan. Ketiga, persepsi manfaat sosial

dengan indikator sebagai berikut: persepsi manfaat PKH pada akses atau kemudahan memperoleh pekerjaan, perasaan dapat mengandalkan anggota komunitas (tetangga, dan sebagainya), kemandirian hidup, komunikasi dengan sesama anggota masyarakat, dan partisipasi dalam kegiatan di lingkungan.

Instrumen Partisipasi dalam bidang Kesehatan mengukur hal- hal sebagaimana nampak dalam Tabel 4.

Tabel 4. Rancangan Instrumen Partisipasi RTSM Dalam Bidang Kesehatan

No Indikator Penyekoran

1 Presensi atau kehadiran dalam pertemuan (pertemuan awal untuk mengikuti sosialisasi program, perbaikan data peserta, penandatanganan perjanjian komitmen, dll).

1 = Tidak pernah hadir;

2 = Hadir kurang dari 50% jumlah pertemuan;

3 = Hadir sama dengan atau lebih dari 50% jumlah pertemuan;

2 Kepemilikan kartu kesehatan: Kartu Menuju Sehat, Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), kartu JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat), kartu JAMKESDA (Jaminan Kesehatan Daerah), kartu JAMPERSAL (Jaminan Persalinan).

1 = Memiliki 1 kartu; 2 = Memiliki 2 kartu; 3 = Memiliki 3 kartu; 4 = Memiliki lebih dari 3 kartu

3 Pelayanan Antenatal Care

(Pemeriksaan Selama Masa Hamil) di Fasilitas Kesehatan, yakni (a) sekali pada usia kehamilan 3 bulan I, (b) sekali pada usia kehamilan 3 bulan II, (c) dua kali pada 3 bulan terakhir

1 = Tidak Memperoleh Pemeriksaan, atau Diperiksa namun bukan di Fasilitas Kesehatan;

2 = 1 Kali Pemeriksaan;

3 = 2 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;

4 = 2 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan;

5 = 3 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;

6 = 3 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan;

7 = 4 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;

8 = 4 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan

4 Pemberian Tablet Fe (Ibu hamil)

1 = Tidak memperoleh; 2 = Memperoleh 5 Pertolongan Tenaga Kesehatan

Terlatih (Dokter, Perawat, dan/ atau Bidan Desa) pada Ibu Melahirkan

1 = Tidak Memperoleh Pertolongan saat melahirkan;

2 = Memperoleh Pertolongan namun bukan dari tenaga kesehatan;

3 = Memperoleh Pertolongan dari tenaga kesehatan namun yang tidak terlatih; 4 = Memperoleh Pertolongan Tenaga

6 Care (Pemeriksaan Kesehatan Ibu pada Minggu I, IV dan VI setelah melahirkan) pada Ibu Nifas

1 = Tidak Memperoleh Pemeriksaan, atau Diperiksa namun bukan di Fasilitas Kesehatan;

2 = 1 Kali Pemeriksaan;

3 = 2 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;

4 = 2 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan;

5 = 3 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;

6 = 3 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan

7 Pelayanan Postnatal Care pada Anak Neonatus 0-28 hari

1 = Tidak Memperoleh Pemeriksaan; 2 = 1 Kali Pemeriksaan;

3 = 2 Kali Pemeriksaan; 4 = 3 Kali Pemeriksaan;

5 = Lebih dari 3 Kali Pemeriksaan 8 Penimbangan dan Pencatatan

Berat Badan Bayi Setiap Bulan di Fasilitas Kesehatan pada anak 0 -11 bulan

1 = Tidak pernah ditimbang atau Ditimbang namun bukan di Fasilitas Kesehatan; 2 = Ditimbang namun tidak rutin; 3 = Ditimbang cukup rutin (pernah

tidak ditimbang dalam bulan-bulan tertentu);

4 = Ditimbang secara rutin setiap 1 bulan sekali;

5 = Ditimbang secara rutin setiap 1 bulan lebih dari sekali

9 Imunisasi Lengkap (BCG, DPT 1-3, Polio 1-4, Campak, Hepatitis B 1-3) pada anak 0-11 bulan

1 =Tidak pernah diimunisasi; 2 =Memperoleh 1 vaksin; 3 =Memperoleh 2 vaksin; 4 =Memperoleh 3 vaksin; 5 =Memperoleh 4 vaksin; 6 =Memperoleh 5 vaksin;

10 Pemberian Suplemen Tablet Vitamin A 2 kali (Februari & Agustus) pada Anak ½ - 1 tahun

1 = Tidak Memperoleh; 2 = Memperoleh 1 kali;

3 = Memperoleh 2 Kali namun bukan pada waktu yang ditentukan;

4 = Memperoleh 2 Kali sesuai waktu yang ditentukan (Februari & Agustus) 11 Penimbangan dan Pencatatan

Berat Badan Anak Setiap 3 Bulan di Fasilitas Kesehatan serta Imunisasi Tambahan pada Anak 1 - 5 tahun

1 = Tidak pernah ditimbang atau Ditimbang namun bukan di Fasilitas Kesehatan; 2 = Ditimbang namun tidak memperoleh

imunisasi tambahan;

3 = Ditimbang namun tidak rutin dan mendapat imunisasi tambahan; 4 = Ditimbang cukup rutin (pernah tidak

ditimbang dalam triwulan tertentu) dan mendapat imunisasi tambahan; 5 = Ditimbang secara rutin setiap 3

bulan sekali dan mendapat imunisasi tambahan.

12 Penimbangan dan Pencatatan Berat Badan Setiap 3 Bulan di Fasilitas Kesehatan [Pemantauan / Monitoring Tumbuh Kembang Anak] pada Anak 5-6 tahun

1 = Tidak pernah ditimbang atau Ditimbang namun bukan di Fasilitas Kesehatan; 2 = Ditimbang namun tidak rutin; 3 = Ditimbang cukup rutin (pernah tidak

ditimbang dalam triwulan tertentu); 4 = Ditimbang secara rutin setiap 3 bulan

sekali;

5 = Ditimbang secara rutin tiap 3 bulan sekali DAN mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/Early Childhood Education) apabila di lokasi/ posyandu terdekat terdapat fasilitas PAUD.

13 Kebiasaan makan sehari-hari

• Makan sebelum sarapan

pagi

• Sarapan pagi

• Makan antara sarapan pagi

dan makan siang

• Makan siang

• Makan antara makan siang

dan makan malam

• Makan malam • Makan setelah setelah

makan malam

Setiap jenis kebiasaan makan diberi skor 1 (kumulatif). Contoh: bila dilakukan semuanya, skornya 7.

14 Kelompok Makanan yang Berbeda (Rata-rata tiap hari)

1 = Bila makan hanya 1 jenis makanan tiap hari;

2 = Bila makan 2 jenis makanan yang berbeda tiap hari;

3 = Bila makan 3 jenis makanan yang berbeda;

4 = Bila makan 4 jenis makanan yang berbeda;

5 = Bila makan 5 jenis; 6 = Bila makan 6 jenis;

7 = Bila makan lebih dari 6 jenis.

Catatan : Data mengenai tinggi badan dan berat badan anak banyak dalam pelaksanaanya tidak diperoleh, sehingga indeks status gizi belum dapat dikalkulasi.

Instrumen Partisipasi dalam bidang Pendidikan mengukur hal-hal sebagaimana nampak dalam Tabel 5.

Tabel 5. Rancangan Instrumen Partisipasi RTSM Dalam Bidang Pendidikan

No. Indikator Penyekoran

1 Presensi (kehadiran) Pertemuan (pertemuan awal untuk mengikuti sosialisasi program, perbaikan data peserta, penandatanganan perjanjian komitmen, dll)

1 = Tidak pernah hadir;

2 = Hadir kurang dari 50% jumlah pertemuan;

3 = Hadir sama dengan atau lebih dari 50% jumlah pertemuan;

2 Pendaftaran Anak 6-15 tahun ke Satuan Pendidikan (SD/MI/SDLB/ Salafiyah Ula/Paket A, atau SMP/ MTs/SMLB/ Salafiyah Wustha / Paket B termasuk SMP/MTs terbuka)

1 = Anak tidak didaftarkan; 2 = Anak didaftarkan

3 Pendaftaran Anak ke program Remedial atau Persiapan Pendidikan (seperti: rumah singgah, rumah perlindungan sosial anak/RPSA, panti sosial asuhan anak, dll), dan selanjutnya mendaftarkan anak tersebut ke satuan pendidikan formal atau non formal / Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/ PKBM, sanggar kegiatan belajar/ SKB, dsb)

1 = Anak tidak didaftarkan sama sekali; 2 = Anak didaftarkan ke Program

Persiapan, namun selanjutnya tidak didaftarkan ke Satuan Pendidikan; 3 = Anak didaftarkan ke Program

Persiapan dan selanjutnya ke Satuan Pendidikan

4 Rerata Presensi (Kehadiran/Tatap Muka) Anak 6-15 tahun di Kelas Per Bulan, selama tahun ajaran berlangsung atau ketentuan tatap muka Paket A/Paket B/SMP terbuka/keaksaraan fungsional

1 = Hadir di kelas kurang dari 50% dari hari sekolah; 2 = Hadir 51 sampai 75%; 3 = 75 sampai 85%; 4 = 85 sampai 90%; 5 = 90 sampai 95%; 6 = 95 sampai 100% 5 Pendaftaran Anak 15-18 tahun

ke Satuan Pendidikan yang menyelenggarakan program Wajib Belajar 9 tahun atau pendidikan kesetaraan (Keaksaraan Fungsional, Paket A setara SD atau Paket B setara SMP atau pesantren setara SD/SMP)

1 = Anak tidak didaftarkan; 2 = Anak didaftarkan

6 Ketersediaan Fasilitas Fisik (meja belajar bersama, meja belajar khusus untuk anak, rak buku, kamar atau ruang belajar) di Rumah

1 = Tidak ada;

2 = Ada namun tidak lengkap; 3 = Ada dan cukup lengkap; 4 = Ada dan lengkap

7 Ketersediaan Tenaga Pendidikan (Guru)

1 = Tidak ada Guru, diajar oleh Non- Guru;

2 = Ada Guru namun tidak lengkap; 3 = Ada Guru lengkap namun tidak

profesional (sering terlambat, tidak mampu mendidik dengan baik, malas mengajar, dsb);

4 = Ada Guru lengkap dan profesional; 5 = Ada Guru lengkap dan sangat

profesional 8 Ketersediaan Pakaian dan

perlengkapan penting untuk sekolah (tas, sepatu sekolah, seragam, baju pramuka, baju olahraga, alat tulis)

1 = Tidak ada;

2 = Ada namun tidak lengkap; 3 = Ada dan cukup lengkap; 4 = Ada dan lengkap 9 Ketersediaan Fasilitas Fisik

Sekolah (Ruang Kelas, Toilet, Tempat Bermain)

1 = Tidak ada;

2 = Ada namun tidak lengkap; 3 = Ada dan cukup lengkap; 4 = Ada dan lengkap 10 Ketersediaan Buku-buku Pelajaran 1 = Tidak ada;

2 = Ada namun tidak lengkap; 3 = Ada dan cukup lengkap; 4 = Ada dan lengkap

11 Partisipasi Anak Sekolah 1 = Manipulasi/Dekorasi/Tokenisme; 2 = Ditetapkan, namun diberi informasi/

Diberi Informasi dan Nasihat; 3 = Keputusan Atas Inisiatif Orang

Dewasa, Dilakukan Bersama Anak; 4 = Anak Memiliki Inisiatif dan

Diarahkan Oleh Orang Dewasa; 5 = Keputusan Atas Inisiatif Anak,

Dilakukan Bersama Orang Dewasa. Ciri-ciri masing-masing nomor ada pada Keterangan di bawah tabel ini.

12 Keterlibatan Orangtua Dalam Jam Belajar Anak

1 = Tidak pernah terlibat;

2 = Memberikan instruksi / menyuruh anak belajar, namun tidak menemani;

3 = Sekadar menemani/ mendampingi anak belajar, namun tidak sering; 4 = Sering Menemani anak belajar; 5 = Sering menemani anak belajar, DAN

memantau Hasil Belajar (nilai ujian); 6 = Bersedia Belajar Bersama anak

(ikut mencoba memahami / diskusi materi pelajaran anak), namun tidak intensif;

7 = Intensif Belajar Bersama Anak; 8 = Intensif Belajar Bersama Anak, DAN

memantau Hasil Belajarnya; 9 = Nomor 8 Terpenuhi DAN Sering

memberikan motivasi dan rangsangan untuk memperkaya pelajaran sekolah sesuai dengan potensi/kapasitas anak

13 Prestasi Belajar Dalam 2 Tahun Ajaran Terakhir

Rerata skor rapor …..

14 Rerata Jam Belajar Anak di Rumah per hari

…… jam

Keterangan : Kategori Partisipasi Anak berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Rencana Aksi Partisipasi Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI (2007), sebagai berikut:

• MANIPULASI, Anak-anak dimanfaatkan oleh orang dewasa untuk kepentingan orang dewasa

• DEKORASI, Anak-anak hanya diajak mengikuti suatu kegiatan tertentu oleh orang dewasa tapi hanya menjadi pajangan saja • TOKENISME, anak-anak diajak untuk mengikuti suatu kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh orang dewasa. Anak-anak hanya dipakai oleh orang dewasa sebagai simbol saja bahwa kegiatan tersebut telah melibatkan anak-anak

• DITETAPKAN, TAPI DIBERI INFORMASI, Orang dewasa memutuskan kegiatan dan terlibat secara sukarela. Anak-anak mengetahui kegiatan tersebut dan mereka mengetahui siapa yang memutuskan untuk melibatkan mereka dan mengapa dilibatkan. Orang dewasa menghargai pandangan dari anak- anak.

• DIBERI INFORMASI DAN NASEHAT, kegiatan didesain dan dilaksanakan oleh orang dewasa tapi anak dimintakan masukannya. Anak-anak ini memiliki pemahaman/pengetahuan mengenai proses dan pandangan mereka diperhatikan secara serius

• KEPUTUSAN ATAS INISIATIF ORANG DEWASA, DILAKUKAN BERSAMA ANAK, Orang dewasa memiliki gagasan awal, tapi anak-anak dilibatkan dalam setiap tahap perencanaan dan pelaksanaan. Anak-anak tidak hanya dipertimbangkan pandangan/masukannya tapi juga dilibatkan dalam pengambilan keputusan

• ANAK MEMILIKI INISIATIF DAN DIARAHKAN (OLEH ORANG DEWASA), Anak-anak memiliki gagasan/inisiatif, merencanakan kegiatan tapi masih mengajak diskusi serta meminta nasehat dan dukungan dari orang dewasa

• KEPUTUSAN ATAS INISIATIF ANAK, DILAKUKAN BERSAMA ORANG DEWASA, Anak-anak memiliki gagasan/ide tentang kegiatan dan memutuskan sendiri bagaimana caranya kegiatan tersebut dilaksanakan. Orang dewasa siap mendampingi tapi tidak ikut mengurusi (pasif)

Instrumen Ketangguhan (Resiliensi) RTSM dikembangkan dari Connor-Davidson Resilience Scale/CD-RISC-10 (Campbell-Sills & Stein, 2007), yang mengukur aspek-aspek (a) hardiness, yakni kemampuan untuk menanggulangi perubahan (cope with change), peristiwa-peristiwa tak terduga, stres, kesakitan/kesukaran (illness/hardship), tekanan (pressure), hasil negatif (negative outcomes),

perasaan tidak menyenangkan (unpleasant feelings), dan ketabahan pribadi (general personal toughness); (b) kegigihan (persistensi), yakni kemauan memberikan upaya terbaik dalam situasi apapun, keyakinan akan kemampuan untuk mencapai tujuan walau ada rintangan-rintangan, dan tidak menyerah. Butir-butirnya diadaptasi dengan mengganti kata “saya” (I)” menjadi “kami” (merujuk pada RTSM), sebagai berikut:

1. Kami mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

2. Kami tidak yakin dapat menangani setiap permasalahan. 3. Kami mencoba melihat sisi humor/menyenangkan dari

persoalan yang ada.

4. Dengan mengatasi stres, kami merasa menjadi kuat.

5. Kami cenderung lama pulih setelah mengalami penderitaan atau masa-masa sulit.

6. Kami cenderung tidak mencapai tujuan bila ada rintangan- rintangan.

7. Kami sulit untuk tetap fokus ketika berada dalam tekanan. 8. Kami tidak mudah terganggu oleh kegagalan.

9. Kami memandang keluarga kami sebagai keluarga yang lemah. 10. Kami tidak dapat menjaga keluarga kami dari perasaan atau

emosi yang tidak menyenangkan.

Pilihan respons untuk skala ini adalah “Sangat Tidak Sesuai” (skor 1), “Tidak Sesuai” (skor 2), “Agak Tidak Sesuai” (skor 3), “Agak Sesuai” (skor 4), “Sesuai” (skor 5), dan “Sangat Sesuai” (skor 6). Butir nomor 2, 5, 6, 7, 9, 10 merupakan butir-butir yang tidak favorable, dalam arti respons-nya akan dikode balik (misalnya skor 1 menjadi 6, skor 2 menjadi 5, dan seterusnya). Hasil uji coba instrumen terhadap 60 RTSM di Kota Lampung pada bulan April 2012 menunjukkan indeks Cronbach's Alpha (konsistensi internal) sebesar 0.7, dengan menghapus satu butir (yakni butir 8), yang

artinya instrumen reliabel. Butir-butir instrumen menunjukkan Corrected Item-Total Correlation berkisar dari 0.3 sampai 0.7, yang artinya butir-butir valid berkontribusi terhadap konstruk Ketangguhan (Resiliensi).

Mengapa resiliensi RTSM diukur dalam penelitian ini? Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial, definisi Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Salah satu indikator terpenting dari kesejahteraan sosial dalam konteks PKH adalah resiliensi. Edi Soeharto (2010) pernah mengungkap bahwa penelitian PKH:

"… belum banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dikemukakan oleh publik, khususnya yang sering muncul di media, seperti: program bantuan sosial seperti ini menghabiskan uang negara saja, menyebabkan ketergantungan dan kemalasan pada penerimanya, merusak kekuatan dan daya tahan (resilience) sosial, mengikis kearifan lokal, tidak akan mampu mengatasi masalah kemiskinan."

Enoch Markum (2009) menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan bukan semata-mata masalah permodalan dan keterampilan teknis, melainkan masalah bagaimana membangkitkan perasaan mampu mengatasi hidup di kalangan orang miskin dengan cara yang bermartabat dan menjaga harga- diri. Dalam hal inilah, resiliensi memegang peran sentral yang diharapkan dapat menjadi dampak program PKH.

Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali, atau kemampuan orang, kelompok, atau komunitas, untuk mencegah, meminimalkan, atau mengatasi dampak buruk suatu kemalangan atau masalah (Henderson, 2002; Henderson, 2007). Jadi resiliensi

adalah proses menemukenali hal positif dibalik suatu kemalangan dan memanfaatkannya sebagai tenaga untuk memantul bangkit. "Resilience is the result of individuals being able to interact with their environments and the processes that either promote well-being or protect them against the overwhelming influence of risk factors" (Zautra, Hall, & Murray, 2010).

Para ahli tentang keluarga mengakui bahwa anak-anak dapat saja resilien terlepas dari disfungsi keluarga, dan kajian tentang resiliensi masa kanak-kanak menemukan bahwa faktor protektif yang berasal dari individu, keluarga, dan komunitas terkait erat dengan hasil nyata bagi anak-anak terlepas dari besarnya resiko yang ada (Condly, 2006; Werner & Smith, 2001). Anak-anak yang terlahir dalam keluarga miskin beresiko lebih tinggi untuk mengalami sejumlah hal negatif antara lain masuk sekolah yang buruk (Lent & Figueira-McDonough, 2002), lebih besar kecenderungannya untuk berhenti dari sekolah (Hardy, 2006), kehamilan pada masa remaja (Berry, dkk, 2000), hidup dalam lingkungan pertetanggaan yang buruk semisal kriminalitas yang tinggi dan peredaran narkoba, terpapar dengan kekerasan dan tindak kejahatan (Leventhal & Brooks-Gunn, 2004). Anak- anak yang resilien ditandai oleh 4 kekuatan pribadi sebagai manifestasi resiliensi yakni: (1) Kompetensi sosial yang ditandai dengan ciri-ciri tanggap, fleksibilitas, empati, kepedulian, kemampuan berkomunikasi, selera humor, dan perilaku prososial lainnya; (2) Pemecahan masalah meliputi kemampuan berpikir abstrak, reflektif, dan fleksibel; mampu mencari solusi alternatif bagi masalah kognitif maupun sosial; (3) Kemandirian meliputi perasaan independen yang kuat, letak kendali perilaku internal, penghayatan akan daya pribadi, harga diri dan keyakinan diri, disiplin diri, mengontrol impuls; mampu memisahkan diri dari lingkungan. (4) Penghayatan tentang tujuan yang jelas mencakup harapan-harapan yang wajar, keterarahan kepada tujuan, berorientasi kepada keberhasilan/prestasi; persistensi;

pengharapan; ketangguhan kepribadian; antisipasi dan keteguhan untuk meraih masa depan.

Instrumen Status Sosial Ekonomi berasal dari indikator kemiskinan versi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang dilengkapi dengan kriteria dari Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS). Data kemiskinan dilakukan lewat pentahapan keluarga sejahtera yang dibagi menjadi lima tahap, yaitu: Keluarga Pra Sejahtera (sangat miskin), Keluarga Sejahtera I (miskin), Keluarga Sejahtera II, Keluarga Sejahtera III, Keluarga Sejahtera III Plus. Setiap tahap tersebut memiliki sejumlah indikator. Seluruh RTSM dipetakan dalam hal kepemilikan indikator-indikator tersebut. RTSM dikategorikan dalam salah satu tahap keluarga berdasarkan kepemilikan indikator terbanyak dibandingkan dengan kelompoknya (dihitung berdasarkan skor Z). Kategorisasi berdasarkan skor Z dibuat untuk data sebelum

Dalam dokumen Program Keluarga Harapan di Indonesia Da (Halaman 40-59)

Dokumen terkait