DAMPAK PROGRAM KELUARGA HARAPAN TERHADAP RUMAH TANGGA SANGAT MISKIN
D. Partisipasi Bidang Kesehatan
Gambar 8. Presensi RTSM Pada Pertemuan Bidang Kesehatan
Dalam hal presensi atau kehadiran dalam pertemuan (pertemuan awal untuk mengikuti sosialisasi program, perbaikan data peserta, penandatanganan perjanjian komitmen, dll) untuk program kesehatan, nampak dalam Gambar bahwa DKI Jakarta (M=3.86, SD=0.69) dan Sulawesi Utara (M=3.84, SD=0.37) menempati peringkat teratas, sedangkan Jawa Timur (M=3.46, SD=1.05) dan Gorontalo (M=3.49, SD=0.50) menempati peringkat terbawah.
Gambar 9. Kepemilikan Kartu Kesehatan
Dalam hal kepemilikan kartu kesehatan (Gambar 9), yakni Kartu Menuju Sehat, Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), kartu JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat), kartu JAMKESDA (Jaminan Kesehatan Daerah), kartu JAMPERSAL (Jaminan Persalinan), nampak bahwa Jawa Timur mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.68, SD=1.17) dan sesudah PKH (M=3.17, SD=1.02). Sedangkan, Sulawesi Utara merupakan propinsi yang kemajuannya paling rendah antara sebelum PKH (M=1.47, SD=0.74) dan sesudah PKH (M=1.71, SD=0.81).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan kepemilikan kartu kesehatan (p=0.00) antara sebelum PKH (M=1.46, SD=0.78) dengan sesudah PKH (M=2.20, SD=1.13). Sebelum PKH, RTSM rata-rata memiliki 1
sampai dengan 2 kartu, sedangkan sesudah PKH, RTSM memiliki 2 sampai dengan 3 kartu kesehatan.
Gambar 10. Pemberian Tablet Fe
Dalam hal pemberian Tablet Fe kepada Ibu hamil, nampak dari Gambar 10 bahwa Sumatera Barat mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH dan sesudah PKH. Sedangkan, Nusa Tenggara Timur memiliki selisih negatif antara sebelum PKH dan sesudah PKH. Hasil ini perlu dibaca secara hati-hati, karena mungkin terjadi bahwa kondisi pasca PKH, jumlah ibu hamil di Nusa Tenggara Timur lebih berkurang daripada kondisi pra PKH.
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, dengan uji McNemar untuk data berskala nominal, terdapat peningkatan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil (p=0.00) antara sebelum PKH dengan sesudah PKH.
Gambar 11. Pertolongan Tenaga Kesehatan Terlatih
Dalam hal Pertolongan Tenaga Kesehatan Terlatih (Dokter, Perawat, dan/atau Bidan Desa) pada Ibu Melahirkan, nampak dari Gambar 11 bahwa Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.24, SD=0.84) dan sesudah PKH (M=3.44, SD=0.65). Sedangkan, Sulawesi Utara memiliki kemajuan terendah antara sebelum PKH (M=3.22, SD=0.94) dan sesudah PKH (M=3.36, SD=0.97).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan pertolongan tenaga kesehatan terlatih (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.63, SD=1.20) dengan sesudah PKH (M=3.43, SD=0.98).
Dalam hal Pelayanan Antenatal Care (Pemeriksaan Selama Masa Hamil) di Fasilitas Kesehatan, yakni (a) sekali pada usia
kehamilan 3 bulan I, (b) sekali pada usia kehamilan 3 bulan II, (c) dua kali pada 3 bulan terakhir, nampak dari Gambar 12 bahwa Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.07, SD=0.69) dan sesudah PKH (M=4.81, SD=1.60). Sedangkan, kemajuan paling rendah dialami Nusa Tenggara Timur antara sebelum PKH (M=5.33, SD=2.76) dan sesudah PKH (M=5.46, SD=3.14).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan pelayanan antenatal care (p=0.00) antara sebelum PKH (M=4.46, SD=2.65) dengan sesudah PKH (M=5.74, SD=2.42).
Gambar 13. Pelayanan Postnatal Care Ibu
Dalam hal Pelayanan Postnatal Care (Pemeriksaan Kesehatan Ibu pada Minggu I, IV dan VI setelah melahirkan) pada Ibu Nifas (Gambar 13), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.32, SD=0.90) dan sesudah PKH (M=4.05, SD=1.33). Sulawesi Utara merupakan propinsi yang mengalami penurunan pelayanan postnatal care ibu antara sebelum PKH (M=4.20, SD=1.76) dan sesudah PKH (M=4.13, SD=1.89).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan pelayanan postnatal care ibu (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.42, SD=1.29) dengan sesudah PKH (M=3.28, SD=1.44).
Gambar 14. Pelayanan Postnatal Care Anak Neonatus
Dalam hal Pelayanan Postnatal Care pada Anak Neonatus 0-28 hari (Gambar 14), Sumatera Barat mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.29, SD=0.79) dan sesudah PKH (M=4.04, SD=0.90). Sedangkan, Sulawesi Utara mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.22, SD=1.46) dan sesudah PKH (M=3.36, SD=1.42).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan pelayanan postnatal care anak (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.42, SD=1.29) dengan sesudah PKH (M=3.28, SD=1.44).
Dalam hal Penimbangan dan Pencatatan Berat Badan Bayi Setiap Bulan di Fasilitas Kesehatan pada anak 0-11 bulan (Gambar
15), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.27, SD=0.58) dan sesudah PKH (M=3.46, SD=0.57). Sedangkan, kemajuan paling rendah dialami oleh Sulawesi Utara antara sebelum PKH (M=3.64, SD=1.14) dan sesudah PKH (M=3.76, SD=1.04).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan penimbangan dan pencatatan berat badan bayi (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.95, SD=1.38) dengan sesudah PKH (M=3.86, SD=0.88).
Gambar 15. Penimbangan Bayi
Dalam hal Imunisasi Lengkap (BCG, DPT 1-3, Polio 1-4, Campak, Hepatitis B 1-3) pada anak 0-11 bulan (Gambar 16), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum
PKH (M=1.36, SD=0.61) dan sesudah PKH (M=5.88, SD=1.15). Sedangkan, Sulawesi Utara mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=5.35, SD=1.66) dan sesudah PKH (M=5.58, SD=1.69).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan penimbangan dan pencatatan berat badan bayi (p=0.00) antara sebelum PKH (M=4.15, SD=2.26) dengan sesudah PKH (M=5.75, SD=1.58).
Gambar 17. Pemberian Vitamin A
Dalam hal pemberian Suplemen Tablet Vitamin A 2 kali (Februari & Agustus) pada Anak ½ - 1 tahun (Gambar 17), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.27, SD=0.83) dan sesudah PKH (M=3.41, SD=0.83). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.63, SD=0.97) dan sesudah PKH (M=3.77, SD=0.81).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan pemberian suplemen tablet vitamin A (p =0.00) antara sebelum PKH (M=2.86, SD=1.27) dengan sesudah PKH (M=3.63, SD=0.76).
Gambar 18. Penimbangan Anak
Dalam hal Penimbangan dan Pencatatan Berat Badan Anak Setiap 3 Bulan di Fasilitas Kesehatan serta Imunisasi Tambahan pada Anak 1 - 5 tahun (Gambar 18), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.98, SD=0.92) dan sesudah PKH (M=4.32, SD=0.54). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.89, SD=1.39) dan sesudah PKH (M=4.14, SD=1.26).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan perilaku penimbangan dan pencatatan berat badan anak 1-5 tahun (p=0.00) antara sebelum PKH (M=3.07, SD=1.37) dengan sesudah PKH (M=4.14, SD=1.15).
Dalam hal Penimbangan dan Pencatatan Berat Badan Setiap 3 Bulan di Fasilitas Kesehatan [ Pemantauan / Monitoring Tumbuh
Kembang Anak ] pada Anak 5-6 tahun (Gambar 19), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.15, SD=0.81) dan sesudah PKH (M=4.41, SD=0.59). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.51, SD=1.38) dan sesudah PKH (M=3.71, SD=1.49).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan perilaku penimbangan dan pencatatan berat badan anak 5-6 tahun (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.62, SD=1.34) dengan sesudah PKH (M=3.66, SD=1.43).
Gambar 20. Kebiasaan Makan
Dalam hal Kebiasaan Makan (Gambar 20), Sulawesi Utara mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.82, SD=0.77) dan sesudah PKH (M=3.53, SD=1.23). Sedangkan, Nusa Tenggara Timur mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.77, SD=1.19) dan sesudah PKH (M=3.92, SD=1.20).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan kebiasaan makan (p =0.00) antara sebelum PKH (M=3.07, SD=1.07) dengan sesudah PKH (M=3.42, SD=1.16).
Dalam hal Variasi Makanan (Gambar 21), DKI Jakarta mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.64,
SD=0.60) dan sesudah PKH (M=2.33, SD=0.69). Sedangkan, Nusa Tenggara Timur mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=1.98, SD=0.72) dan sesudah PKH (M=2.15, SD=0.95).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan kebiasaan makan (p =0.00) antara sebelum PKH (M=1.83, SD=0.84) dengan sesudah PKH (M=2.22, SD=1.03).