DAMPAK PROGRAM KELUARGA HARAPAN TERHADAP RUMAH TANGGA SANGAT MISKIN
E. Partisipasi Bidang Pendidikan
Gambar 22. Presensi RTSM Pada Pertemuan Bidang Pendidikan
Dalam hal Presensi (kehadiran) Pertemuan (pertemuan awal untuk mengikuti sosialisasi program PKH pendidikan (Gambar 22), Sulawesi Utara menduduki peringkat teratas (M=3.90, SD=0.35), sedangkan Sumatera Barat menduduki peringkat terbawah (M=3.40, SD=0.91).
Gambar 23. Pendaftaran Anak Ke Satuan Pendidikan
Dalam hal Pendaftaran Anak 6-15 tahun ke Satuan Pendidikan (SD/MI/SDLB/Salafiyah Ula/Paket A, atau SMP/MTs/SMLB/ Salafiyah Wustha /Paket B termasuk SMP/MTs terbuka), (Gambar 23) Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH dan sesudah PKH. Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH dan sesudah PKH.
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, dengan uji McNemar, terdapat peningkatan pendaftaran anak ke satuan pendidikan (p=0.00) antara sebelum PKH dengan sesudah PKH.
Dalam hal Pendaftaran Anak ke program Remedial atau Persiapan Pendidikan (seperti: rumah singgah, rumah perlindungan
sosial anak/RPSA, panti sosial asuhan anak, dll), dan selanjutnya mendaftarkan anak tersebut ke satuan pendidikan formal atau non formal / Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM, sanggar kegiatan belajar/SKB, dsb) (Gambar 24), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.48, SD=0.50) dan sesudah PKH (M=2.57, SD=0.50). Sedangkan, Sulawesi Utara mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=1.30, SD=1.21) dan sesudah PKH (M=1.33, SD=1.23).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan pendaftaran anak ke program remedial atau persiapan pendidikan (p=0.00) antara sebelum PKH (M=1.18, SD=0.96) dengan sesudah PKH (M=1.58, SD=1.17).
Gambar 25. Presensi Anak di Kelas
Dalam hal Presensi (Kehadiran/Tatap Muka) Anak 6-15 tahun di Kelas Per Bulan, selama tahun ajaran berlangsung atau ketentuan tatap muka Paket A/Paket B/SMP terbuka/keaksaraan fungsional (Gambar 25), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.20, SD=0.68) dan sesudah PKH (M=4.92, SD=0.67). Sedangkan, Jawa Timur mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=2.64, SD=2.54) dan sesudah PKH (M=2.74, SD=2.64).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan presensi anak di kelas (p=0.00) antara sebelum PKH (M=3.38, SD=2.03) dengan sesudah PKH (M=4.71, SD=1.89).
Dalam hal Pendaftaran Anak 15-18 tahun ke Satuan Pendidikan yang menyelenggarakan program Wajib Belajar 9 tahun atau pendidikan kesetaraan (Keaksaraan Fungsional, Paket A setara SD atau Paket B setara SMP atau pesantren setara SD/ SMP) (Gambar 26), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.58, SD=0.50) dan sesudah PKH (M=1.87, SD=0.34). Sedangkan, Sulawesi Utara tidak mengalami kemajuan antara sebelum PKH (M=1.08, SD=0.97) dan sesudah PKH (M=1.08, SD=0.97).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan pendaftaran anak ke program wajib belajar (p=0.00) antara sebelum PKH (M=1.16, SD=0.83) dengan sesudah PKH (M=1.31, SD=0.85).
Gambar 27. Fasilitas Fisik Pendidikan di Rumah
Dalam hal Ketersediaan Fasilitas Fisik (meja belajar bersama, meja belajar khusus untuk anak, rak buku, kamar atau ruang belajar) di Rumah (Gambar 27), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.48, SD=0.50) dan sesudah PKH (M=2.17, SD=0.64). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=1.40, SD=0.85) dan sesudah PKH (M=3.22, SD=0.94).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan ketersediaan fasilitas fisik (p=0.00) antara sebelum PKH (M=1.46, SD=0.87) dengan sesudah PKH (M=2.11, SD=1.12).
Dalam hal Ketersediaan Buku-buku Pelajaran (Gambar 28), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.10, SD=0.68) dan sesudah PKH (M=3.50, SD=0.50). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.15, SD=1.02) dan sesudah PKH (M=3.57, SD=0.70).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan ketersediaan buku-buku pelajaran (p =0.00) antara sebelum PKH (M=2.58, SD=1.13) dengan sesudah PKH (M=3.44, SD=0.77).
Gambar 29. Ketersediaan Tenaga Pendidik
Dalam hal Ketersediaan Tenaga Pendidikan (Guru), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.58, SD=0.50) dan sesudah PKH (M=3.93, SD=0.73). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.60, SD=1.15) dan sesudah PKH (M=3.82, SD=0.98).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan ketersediaan tenaga pendidik (p=0.00) antara sebelum PKH (M=3.00, SD=1.41) dengan sesudah PKH (M=3.91, SD=0.98).
Gambar 30. Ketersediaan Pakaian dan Perlengkapan
Dalam hal Ketersediaan Pakaian dan perlengkapan penting untuk sekolah (tas, sepatu sekolah, seragam, baju pramuka, baju olahraga, alat tulis) (Gambar 30), Sumatera Barat mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.75, SD=0.75) dan sesudah PKH (M=3.67, SD=0.80). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.00, SD=0.92) dan sesudah PKH (M=3.60, SD=0.53).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan ketersediaan tenaga pendidik (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.45, SD=1.05) dengan sesudah PKH (M=3.57, SD=0.70).
Dalam hal Ketersediaan Fasilitas Fisik Sekolah (Ruang Kelas, Toilet, Tempat Bermain) (Gambar 31), Sumatera Barat mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.22, SD=0.83) dan sesudah PKH (M=3.63, SD=0.82). Sedangkan, DKI Jakarta mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.22, SD=0.94) dan sesudah PKH (M=3.45, SD=0.77).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan ketersediaan tenaga pendidik (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.79, SD=1.05) dengan sesudah PKH (M=3.51, SD=0.75).
Gambar 32. Partisipasi Anak Sekolah
Dalam hal Partisipasi Anak Sekolah (Gambar 32), Nusa Tenggara Timur mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=2.56, SD=1.00) dan sesudah PKH (M=3.59, SD=0.98). Sedangkan, Sumatera Barat mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=2.90, SD=1.16) dan sesudah PKH (M=3.03, SD=1.07).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan partisipasi anak sekolah (p=0.00) antara sebelum PKH (M=2.82, SD=1.09) dengan sesudah PKH (M=3.40, SD=1.02).
Gambar 33. Keterlibatan Orangtua Dalam Jam Belajar Anak
Dalam hal keterlibatan orangtua dalam jam belajar anak (Gambar 33), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=1.77, SD=0.77) dan sesudah PKH (M=4.40, SD=1.95). Sedangkan, Sulawesi Utara mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=3.78, SD=2.00) dan sesudah PKH (M=4.19, SD=1.93).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan partisipasi anak (p=0.00) antara sebelum PKH (M=3.13, SD=1.86) dengan sesudah PKH (M=4.37, SD=2.02).
Dalam hal Prestasi Belajar Anak Dalam 2 Tahun Ajaran Terakhir (Gambar 34), Sumatera Barat mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=64.89, SD=1.66) dan sesudah PKH (M=73.70, SD=6.45). Sedangkan, Jawa Barat mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=67.79, SD=5.82) dan sesudah PKH (M=71.95, SD=4.86).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan prestasi belajar anak (p=0.00) antara sebelum PKH (M=67.13, SD=9.19) dengan sesudah PKH (M=73.20, SD=7.90).
Gambar 35. Jumlah Jam Belajar Anak
Dalam hal jumlah Jam Belajar Anak di Rumah per hari (Gambar 35), Gorontalo mengalami kemajuan paling tinggi antara sebelum PKH (M=0.52, SD=0.50) dan sesudah PKH (M=1.82, SD=0.70). Sedangkan, Sulawesi Utara mengalami kemajuan paling rendah antara sebelum PKH (M=1.18, SD=0.46) dan sesudah PKH (M=1.32, SD=0.47).
Berdasarkan perhitungan agregat pada ketujuh propinsi, terdapat peningkatan jumlah jam belajar anak (p=0.00) antara sebelum PKH (M=0.94, SD=0.63) dengan sesudah PKH (M=1.50, SD=0.67).