PROGRAM KELUARGA HARAPAN
DI INDONESIA:
Dampak Pada Rumah
Tangga Sangat Miskin di Tujuh Provinsi
P3KS Press (Anggota IKAPI) Tahun 2012
Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Togiaratua Nainggolan, dkk
PROGRAM KELUARGA HARAPAN DI INDONESIA: Dampak Pada Rumah Tangga Sangat Miskin di Tujuh Provinsi; Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (P3KS) Press, Jakarta 2012;
viii + 152 halaman; 14.5 x 21 cm
ISBN 978-602-8427-70-8
Editor : Juneman, S.Psi., M.Si Konsultan : 1. Dr. Oetami Dewi
2. Juneman, S.Psi., M.Si Penulis : 1. Togiaratua Nainggolan
2. Sutaat Perwajahan : Tim Peneliti Tataletak : MS. Khoirudin Cetakan Pertama : Tahun 2012
Penerbit : P3KS Press (Anggota IKAPI)
Jl. Dewi Sartika No. 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp: (021) 8017146; Fax: (021) 8017126
Email:[email protected]
Website: puslit.kemsos.go.id / twitter:@puslitbangkesos
© Penulis & Penyunting Ahli
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas kasih dan karunia-Nya, sehingga buku hasil penelitian yang berjudul “Program Keluarga Harapan di Indonesia: Dampak Pada Rumah Tangga Sangat Miskin di Tujuh Provinsi di Indonesia” dapat diselesaikan sesuai dengan yang direncanakan.
Penelitian ini merupakan awal dari rangkaian proses berkelanjutan dalam perumusan kebijakan berbasis riset guna mewujudkan sistem perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan di Indonesia, khususnya bagi rumah tangga dan atau keluarga sangat miskin melalui Pengembangan Keluarga Harapan.
Puslitbangkesos berupaya tampil dalam melaksanakan peran strategisnya guna mendukung Kementerian Sosial sebagai pilar utama pembangunan kesejahteraan sosial untuk mengembangkan kebijakan-kebijakan di bidang perlindungan sosial sejalan dengan bingkai negara kesejahteraan (welfare state), terutama dalam pengembangan Program Keluarga Harapan.
Kami menyadari bahwa buku ini masih belum sempurna. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, kami berharap masukan yang bersifat konstruktif dari pembaca guna perbaikan selanjutnya. Kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penelitian hingga terwujudnya buku ini, kami menyampaikan terima kasih.
Jakarta, Desember 2012
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
PENGANTAR EDITOR
Sejumlah penelitian telah mengaitkan kemiskinan dengan gangguan perkembangan otak, lunturnya harga diri, rendahnya partisipasi politik, peningkatan partisipasi dalam radikalisme, kriminalitas, motivasi untuk menghampiri komunisme, dan sebagainya yang tidak kita inginkan bersama sebagai sebuah bangsa. Mekanisme hubungan antar berbagai variabel tersebut merupakan jejaring kompleks yang terus diupayakan untuk dijelaskan oleh para ilmuwan. Namun yang jelas, kemiskinan harus lekas ditanggulangi.
Buku yang berisikan hasil penelitian empiris tentang dampak dan peluang pengembangan Program Keluarga Harapan (PKH) ini dapat dipandang sebagai wujud konkret tanggung jawab Pemerintah untuk menguji epistemologinya tentang [penanggulangan] kemiskinan. Salah satu hal yang menarik adalah bahwa buku ini ditulis dengan berbagai pendekatan keilmuan, seperti ilmu kesejahteraan sosial, pekerjaan sosial, dan psikologi. Memang, apabila dicermati, terdapat kerinduan ilmu-ilmu ini untuk bergerak melampaui arus utamanya. Ilmu yang "konvensional"-nya beraras mikro merambah ke aras makro, dan sebaliknya; termasuk dalam membahas perumusan kebijakan penanggulangan kemiskinan.
perlu terjebak, misalnya, dalam psikologisasi-atau-ekonomisasi-atau-sosiologisasi-atau-kulturalisasi-atau-politisasi kemiskinan.
Oleh karena hal tersebut di atas, keberlangsungan penelitian tentang kemiskinan di Indonesia sejak proses pembangunan teori (theory building) sampai dengan kontinuitas evaluasi teoritis dan praksisnya justru menjadi semakin urgen dalam konteks ini.
Seorang penyair Jerman, Bertolt Brecht (1934), pernah mengungkapkan: “Reicher Mann und armer Mann (rich man and poor man)/ standen da und sah'n sich an (stood there and looked at each other) // Und der Arme sagte bleich (And the poor pale man said): / 'Wäre ich nicht arm, wärst du nicht reich' ('If I weren't poor, you wouldn't be rich')”. Intinya, “Tidak ada orang kaya tanpa orang miskin”. Ungkapan ini jelas menunjukkan relasi eksistensial-dialektis antara orang kaya dan orang miskin. Herbert Gans (1972) juga pernah menulis sebuah risalah yang masyur dalam American Journal of Sociology, berjudul “The Positive Functions of Poverty” (Fungsi Positif Kemiskinan). Sayangnya, “psikologi populer” banyak membanjiri kita dengan penekanan bahwa “Orang menjadi miskin karena bermental miskin”. Dalam konteks ini, PKH yang khas menekankan pentingnya pendampingan di samping pemberian bantuan tunai bersyarat untuk mengakses dan berpartisipasi dalam layanan pendidikan dan kesehatan, sesungguhnya merupakan koordinat strategis untuk mendongkrak posibilitas orang miskin berjejaring internal maupun eksternal, serta berperan serta dalam pengambilan keputusan masyarakat bersama. Oleh karena itu, penjaminan pendampingan yang tangguh (resilien) di samping yang kompeten bagi keluarga sangat miskin merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut.
yang holistik dan bernas mengenai prospek PKH di Indonesia, merupakan sejumlah hal yang patut diapresiasi dari penulisan buku ini.
Akhirnya, saya ucapkan, “Selamat berefleksi melalui buku ini!”
Jakarta, Desember 2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
PENGANTAR EDITOR ii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
BAB I : PENDAHULUAN 1
BAB II : TINJAUAN TENTANG BANTUAN TUNAI BERSYARAT DAN
PROGRAM KELUARGA HARAPAN DI INDONESIA 9
A. Kemiskinan 9
B. Bantuan Tunai Bersyarat 16
C. Program Keluarga Harapan di Indonesia 20 BAB III: DAMPAK PROGRAM KELUARGA HARAPAN TERHADAP RUMAH
TANGGA SANGAT MISKIN 29
A. Metode Penelitian 29
B. Deskripsi Sampel RTSM Peserta PKH 48 C. Persepsi Terhadap Program Keluarga Harapan 57
D. Partisipasi Bidang Kesehatan 63
E. Partisipasi Bidang Pendidikan 77
F. Status Sosial Ekonomi, Jam Kerja Anak, Dan Ketangguhan 91 G. Analisis Jalur (Path Analysis) 94
BAB IV: PROSPEK PROGRAM KELUARGA HARAPAN
DI INDONESIA 99
BAB V : PENUTUP 127
A. Kesimpulan 127
B. Rekomendasi 127
DAFTAR PUSTAKA 130
LAMPIRAN 136
BIOGRAFI PENULIS 139
BIOGRAFI EDITOR 143
DAFTAR TABEL
Tabel 1. : Tahapan keluarga sejahtera 14 Tabel 2. : Persyaratan Kesehatan Bagi Peserta PKH 26 Tabel 3. : Distribusi Sampel Penelitian Dampak PKH 31 Tabel 4. : Rancangan Instrumen Partisipasi RTSM
Dalam Bidang Kesehatan 33
Tabel 5 : Rancangan Instrumen Partisipasi RTSM
Dalam Bidang Pendidikan 37
Tabel 6 : Usia Kepala Keluarga 48
Tabel 7 : Suku Kepala Keluarga 48
Tabel 8 : Agama Kepala Keluarga 50
Tabel 9 : Status Pernikahan Kepala Keluarga 50 Tabel 10 : Jumlah Anak Kepala Keluarga 50
Tabel 11 : Pekerjaan Kepala Keluarga 51
Tabel 12 : Jumlah Tabungan Kepala Keluarga Per Bulan 51 Tabel 13 : Jumlah Pengeluaran Kepala Keluarga Per Hari 52 Tabel 14 : Kemampuan Baca/Tulis Kepala Keluarga
Dalam Aksara Latin 52
Tabel 15 : Jumlah Pendapatan Bersih Kepala Keluarga Per Bulan 52 Tabel 16 : Pendidikan Terakhir Kepala Keluarga 53
Tabel 17 : Usia Anak Pertama 53
Tabel 18 : Pendidikan Anak Pertama 54
Tabel 19 : Pekerjaan Anak Pertama 54
Tabel 20 : Penghasilan Anak Pertama Per Bulan 54 Tabel 21 : Persepsi Manfaat PKH Bagi Keluarga 54 Tabel 22 : Persepsi Manfaat PKH Secara Umum Bagi
Orang Miskin di Indonesia 55
Tabel 23 : Jarak Rumah ke Sekolah 55
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Skema Kebijakan Nasional Penanggulangan Kemiskinan 21 Gambar 2 : Rerata Jumlah Bantuan PKH Per Tahun (Rupiah) 56
Gambar 3 : Persepsi Tentang Bantuan 57
Gambar 4 : Persepsi Tentang Pendampingan 58
Gambar 5 : Persepsi Manfaat Fisik 59
Gambar 6 : Persepsi Manfaat Psikis 60
Gambar 7 : Persepsi Manfaat Sosial 61
Gambar 8 : Presensi RTSM Pada Pertemuan Bidang Kesehatan 63 Gambar 9 : Kepemilikan Kartu Kesehatan 64
Gambar 10 : Pemberian Tablet Fe 65
Gambar 11 : Pertolongan Tenaga Kesehatan Terlatih 66
Gambar 12 : Pelayanan Antenatal Care 67
Gambar 13 : Pelayanan Postnatal Care Ibu 68 Gambar 14 : Pelayanan Postnatal Care Anak Neonatus 69
Gambar 15 : Penimbangan Bayi 70
Gambar 16 : Imunisasi Lengkap 71
Gambar 17 : Pemberian Vitamin A 72
Gambar 18 : Penimbangan Anak 73
Gambar 19 : Pemantauan Tumbuh Kembang Anak 74
Gambar 20 : Kebiasaan Makan 75
Gambar 21 : Variasi Makan 76
Gambar 22 : Presensi RTSM Pada Pertemuan Bidang Pendidikan 77 Gambar 23 : Pendaftaran Anak Ke Satuan Pendidikan 78 Gambar 24 : Pendaftaran Anak ke program Remedial 79
Gambar 25 : Presensi Anak di Kelas 80
Gambar 26 : Pendaftaran Anak ke Program Wajib Belajar 81 Gambar 27 : Fasilitas Fisik Pendidikan di Rumah 82 Gambar 28 : Ketersediaan Buku Pelajaran 83 Gambar 29 : Ketersediaan Tenaga Pendidik 84 Gambar 30 : Ketersediaan Pakaian dan Perlengkapan 85
Gambar 31 : Fasilitas Fisik Sekolah 86
Gambar 32 : Partisipasi Anak Sekolah 87
Gambar 33 : Keterlibatan Orangtua Dalam Jam Belajar Anak 88
Gambar 34 : Prestasi Belajar Anak 89
Gambar 35 : Jumlah Jam Belajar Anak 90
Gambar 36 : Status Sosial Ekonomi RTSM 91
Gambar 37 : Jam Kerja Anak 92
Gambar 38 : Ketangguhan (Resiliensi) 94
BAB I
PENDAHULUAN
Kemiskinan merupakan kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat (Suharyanto, dalam Syawie, 2011). Konsep ini cukup luas cakupannya atau multidimensional sehingga seringkali kurang terukur. Konsep kemiskinan yang diterapkan di banyak negara termasuk Indonesia adalah kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Kemiskinan ditandai dengan rendahnya kualitas hidup penduduk, pendidikan, kesehatan, dan gizi. Beban kemiskinan sangat dirasakan oleh kelompok-kelompok tertentu seperti perempuan dan anak-anak yang berakibat pada terancamnya masa depan mereka.
Keluarga miskin mempunyai daya beli yang rendah, juga tidak mampu memberikan pendidikan yang layak bagi anak. Sebagian besar dari anak keluarga sangat miskin sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah karena harus membantu mencari nafkah (Konig, 1995). Ketidakmampuan untuk membayar terutama untuk transportasi ke sekolah dan kapabilitas yang rendah menjadi penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama atau sederajat. Banyaknya anak keluarga miskin yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan menyebabkan kualitas generasi penerus dan keluarga miskin senantiasa rendah dan akhirnya terperangkap dalam lingkaran kemiskinan (Bappeda Jabar, 2006). Sebagai contoh, Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Jawa Barat tahun 2008 untuk usia 7 sampai 12 tahun (SD) adalah 96,00, usia 13-15 tahun (SLTP) sebesar 78,68, dan usia 16-18 tahun (SMU/K) sebesar 40,47 (BPS Jawa Barat, 2008). Sementara menurut Hardjono (2004), kemiskinan menyebabkan angka drop out relatif tinggi di NTT.
menunjukkan bahwa kemiskinan berdampak pada empat bidang yang luas, yakni (1) psikologis, di mana kemiskinan berkaitan dengan hilangnya harga diri, perasaan tak berdaya, kemarahan, kecemasan dan perasaan bosan yang sangat kuat; (2) fisik, yakni kemiskinan dianggap merusak kesehatan dan well-being; (3) relasional, yakni kemiskinan membuat hubungan sosial dan personal buruk dan stigma yang dikaitkan dengan kemiskinan sangat mewarnai relasi tersebut; serta (4) praktis, di mana kemiskinan membatasi pilihan, belanja dan pengasuhan anak. Artinya, kemiskinan nyaris merusak semua bidang kehidupan, terutama bila kemiskinan tersebut tergolong kronis. Pakpahan, Suryadarma, dan Suryahadi (2009) menyatakan bahwa risiko anak yang berasal dari keluarga miskin kronis tetap hidup dalam kemiskinan pada saat dewasa adalah 35% lebih tinggi dibandingkan anak yang bukan dari keluarga miskin kronis.
Menurut Tumanggor (2010), pembangunan harus memperkuat fungsi keluarga sebagai lembaga masyarakat demi menjadi keluarga berketahanan sosial, misalnya melalui program perlindungan sosial terhadap kelompok rentan, dan penyandang masalah sosial sebab keluarga merupakan penyangga sentra kesejahteraan sosial. Menurut The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), perlindungan sosial merujuk pada “kebijakan dan tindakan yang memperkuat kapasitas kaum miskin dan warga yang rentan agar terlepas dari kemiskinan dan dapat menyikapi resiko maupun peristiwa yang terjadi tiba-tiba yang menghantam kehidupan mereka”. Perlindungan sosial dimaksud meliputi bantuan sosial, jaminan sosial, dan standar minimum upah pekerja (OECD, 2009). Bantuan tunai secara umum dipandang sebagai salah satu instrumen bagi bantuan sosial (social assistance).
sebelumnya sudah ditentukan (pre-determined eligibility). Transfer sosial semisal pensiun bagi warga yang sudah tua, hambatan fisik, anak-anak, dan lain-lain, merupakan bantuan tunai tanpa syarat yang lazim dijalankan pada berbagai negara. Menurut Rawlings dan Rubio (2003), CCT adalah bagian dari program pengembangan generasi baru yang berusaha membantu peningkatan akumulasi modal manusia (human capital) pada orang muda sebagai cara untuk memutuskan siklus kemiskinan antar-generasi. Seperti namanya, CCT memberikan uang kepada keluarga-keluarga miskin dengan persyaratan investasi modal manusia seperti menyekolahkan atau membawa anak ke pusat kesehatan secara reguler.
Skema Bantuan Tunai Bersyarat ini memberikan uang tunai secara langsung kepada rumah tangga miskin sebagai tanggapan terhadap pemenuhan kondisi spesifik individu/rumah tangga misalnya kehadiran bersekolah, dan/atau pemeriksaan kesehatan, keikutsertaan dalam imunisasi dan semacamnya. Skema tersebut memberikan insentif bagi rumah tangga agar menyesuaikan perilakunya dengan tujuan sosial yang ditetapkan secara nasional. Dalam istilah yang sangat teknis, sasaran program tersebut adalah “mengkoreksi kegagalan pasar terkait eksternalitas positif yang tidak terinternalisasi” (de Janvry & Sadoulet, 2004, h. 1). Dengan perkataan lain, bantuan tersebut digunakan untuk (a) memperkuat perilaku khusus terhadap eksternalitas positif yang aman semisal mendorong konsumsi atas barang/sesuatu yang baik misalnya kesehatan dan pendidikan; (b) targetnya adalah kelompok-kelompok yang rentan yang tak mampu mendapatkan keperluan yang baik karena efek negatif dari pendapatan yang disebabkan oleh kebangkrutan dan atau keterkejutan dari luar. Skema ini umumnya digunakan untuk mendorong anak-anak bersekolah, mendorong kehadiran memeriksakan kesehatan dan memperkuat partisipasi dalam program imunisasi.
satu upaya pemerintah dalam mengembangkan sistem perlindungan sosial di Indonesia. Sasaran PKH adalah Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang sesuai kriteria PKH yakni: memiliki ibu hamil, ibu menyusui, memiliki anak balita dan anak usia sekolah setingkat SD-SMP. PKH dijalankan sebagai pelaksanaan dari UU No. 40 Tahun 2004 tentang jaminan sosial nasional, UU No. 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, Inpres No. 3 Tahun 2010 tentang Rencana Tindak Percepatan Pencapaian Sasaran Program Pro-Rakyat, dan Perpres No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Merujuk pada Sistem Jaminan Sosial Nasional berdasarkan UU No. 40 Tahun 2004 tersebut, PKH menjadi model jaminan yang unik. Di satu sisi, PKH merupakan bantuan sosial yang dimaksudkan demi mempertahankan kehidupan (life survival) dalam kebutuhan dasar terutama pendidikan dan kesehatan. Di sisi lain, PKH bernuansa pemberdayaan yakni menguatkan rumah tangga miskin agar mampu keluar dari kemiskinannya melalui promosi kesehatan dan mendorong anak bersekolah. Dana yang diberikan kepada RTSM secara tunai melalui Kantor Pos dimaksudkan agar penerima dapat mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan yakni anak-anak harus bersekolah hingga sekolah menengah pertama, anak balita harus mendapatkan imunisasi, dan ibu hamil harus memeriksakan kandungan secara rutin (berkala).
(MDGs) tahun 2015 yakni pengentasan kemiskinan, perolehan pendidikan dasar seluruh dunia, mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, pengurangan angka kematian anak-anak, meningkatkan kesehatan ibu, pemberantasan penyakit malaria, HIV/ AIDS dan penyakit lainnya, memastikan keberlangsungan lingkungan hidup, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan (Venny, 2010). Dari 8 item MDGs, PKH mencakup 5 item yakni: (1) pengurangan penduduk miskin ekstrim dan kelaparan, (2) pencapaian pendidikan dasar, (3) kesetaraan gender, (4) pengurangan angka kematian bayi dan balita, dan (5) pengurangan kematian ibu melahirkan.
Program mulai dilaksanakan pemerintah di Indonesia pada bulan Maret tahun 2007 dengan uji coba di tujuh provinsi (Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Utara, dan Gorontalo). Program ini akan terus berjalan hingga tahun 2015 sesuai target pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) serta merupakan cikal bakal pengembangan sistem perlindungan sosial, khususnya bagi keluarga sangat miskin. Pertama kali diluncurkan tahun 2007, PKH mencakup ketujuh propinsi yang disebutkan di atas yang didasarkan atas sejumlah kriteria yakni kondisi kemiskinan, gizi buruk, angka putus sekolah dan kesiapan dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan. Tahun berikutnya mencakup Aceh, Sumatera Utara, Banten, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.
fasilitas kesehatan masih kurang. Sebagian masyarakat di NTT tidak menggunakan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) modern ketika hamil, melahirkan, dan pascalahir karena terbatasnya akses fisik atau keterpencilan, terbatasnya akses keuangan, dan kepercayaan se’i. Berdasarkan kepercayaan se’i, si ibu harus tinggal dalam sebuah rumah bulat dimana atap dan dinding terbuat dari daun ilalang. Masyarakat mengatakan bahwa si ibu dan bayi harus berada dalam kondisi di-se’i selama 40 hari. Hal ini mengakibatkan proses pelayanan KIA terganggu. Pada tahun yang sama, Kharisma (2008) menegaskan bahwa proses penentuan penerima manfaat PKH di Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Kediri belum tepat dan belum menggambarkan kondisi nyata masyarakat. Banyak penerima manfaat yang sebenarnya tidak layak untuk menerima PKH, dan sebaliknya keluarga yang layak menerima justru tidak menjadi penerima manfaat PKH (exclusion and inclusion error). Ditemukan juga lemahnya koordinasi lintas sektor. Pada tahun 2009 penelitian Bappenas menyimpulkan bahwa PKH berhasil meningkatkan angka kunjungan Posyandu, pemantauan tumbuh kembang anak serta kegiatan imunisasi, akan tetapi pengaruh terhadap indikator pendidikan relatif kecil. Spot check Unit Pelaksana Pusat PKH (2009) menunjukkan bahwa dalam hal kewajiban penerima manfaat, Kabupaten Karawang Jawa Barat termasuk kelompok rendah pada layanan kesehatan dan paling rendah terhadap layanan pendidikan. Namun, Simanjuntak (2010) menyimpulkan bahwa pemberian dana PKH belum memberikan pengaruh terhadap perbaikan pola asuh belajar anak di rumah, kehadiran anak di sekolah, dan prestasi belajar anak.
kemiskinan sudah memiliki dampak positif namun harus dilakukan sejumlah perbaikan termasuk PKH.
Berbagai hasil penelitian di atas terlihat masih variatif dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Sejalan dengan hal tersebut, maka penelitian ini fokus pada dampak PKH terhadap RTSM yang menjadi peserta, baik dampak positif maupun negatif. Dampak tersebut dapat dilihat dari akibat atau manfaat yang dirasakan oleh RTSM peserta program baik secara objektif maupun subjektif. Kedua aspek manfaat dimaksud sekaligus mencerminkan perubahan perilaku RTSM peserta program hingga mengarah kesejahteraan sosial sekalipun terjadi exit.
BAB II
TINJAUAN TENTANG BANTUAN TUNAI BERSYARAT DAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN DI INDONESIA
Sebagaimana dijelaskan dalam Bab I bahwa Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan salah satu strategi intervensi oleh pemerintah dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia berupa bantuan tunai bersyarat sekaligus bagian dari pencapaian Millennium Development Goals, maka dalam bab ini akan dibahas sekilas tentang kemiskinan, program bantuan tunai dan bantuan tunai bersyarat, seputar program keluarga harapan.
A. Kemiskinan
Kemiskinan dapat dimaknai sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Basis kekuasaan sosial meliputi: (a) Modal produktif atau aset (tanah, perumahan. alat produksi. kesehatan); (b) Sumber keuangan (pekerjaan, kredit); (c) Organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial); (d) Jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa; (e) Pengetahuan dan keterampilan, dan (f) informasi yang berguna untuk kemajuan hidup (Friedman, dalam Suharto, dkk., 2004).
Berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK, 2005) kemiskinan merupakan sebuah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, baik laki-Iaki maupun perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Oleh sebab itu, kemiskinan tidak hanya terkait dengan pendapatan, tetapi juga mencakup kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang, baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi miskin dan keterbatasan akses masyarakat miskin dalam penentuan kebijakan publik yang berdampak pada kehidupannya. Dengan demikian, penanggulangan kemiskinan akan berkaitan erat dengan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak dasar masyarakat miskin, yaitu hak sosial, budaya, ekonomi dan politik yang secara normatif merupakan tanggung jawab negara kepada warga negara agar masyarakat tidak jatuh miskin dan masyarakat miskin harus segera dipulihkan hak-haknya agar dapat mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
miskin, seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya jumlah penduduk.
Sejalan dengan pendapat di atas, Suharto, dkk. (2004), menjelaskan bahwa kemiskinan memiliki berbagai dimensi: 1) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan; 2) Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi; 3) Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga; 4) Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa; 5) Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam; 6) Tidak dilibatkannya dalam kegiatan sosial masyarakat; 7) Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan; 8) Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental; serta 9) Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumahtangga, janda miskin. kelompok marjinal dan terpencil).
Alternatif pemecahan terhadap masalah kemiskinan struktural ini bisa dilakukan dengan memperbaiki ketimpangan yang ada, yaitu dengan mendorong lebih cepat lagi golongan yang tertinggal dengan memberikan masukan atau akses yang lebih besar terhadap sumber-sumber ekonomi dan potensi keterampilan yang ada. Hal ini berarti golongan bawah bisa menikmati "injeksi ekstra” dan suatu kebijakan, sehingga bisa mengikuti dinamika percepatan tumbuh dan golongan yang maju. Dengan demikian, golongan bawah tersebut dapat menikmati atau memperoleh bagian yang wajar dan proses pembangunan. Lebih dari itu, perlu diciptakan mekanisme "recycling surplus" yang terjadi pada golongan yang maju kepada golongan yang lebih lemah, sehingga terjadi pertumbuhan yang bersifat produktif. Oleh karena itu, dalam kerangka perencanaan pembangunan, upaya penanggulangan kemiskinan perlu ditempatkan dalam bingkai proses perubahan struktur (transformasi struktural) yang sedang berlangsung dalam masyarakat sebagai hasil dari pembangunan (Sumodiningrat, Santosa & Maiwan 1999).
proses pembangunan yang secara nyata dalam jangka panjang kelak akan membawa dampak perubahan visi (Sumodiningrat, Santosa & Maiwan 1999).
Ketidakberdayaan penduduk miskin untuk keluar dari kemiskinan disebabkan oleh terperangkapnya penduduk miskin dalam lingkaran kemiskinan sehingga para pakar berpendapat bahwa pengentasan penduduk dari kemiskinan dapat dilakukan melalui pemutusan rantai lingkaran kemiskinan.
Chambers (dalam Dharmawan, dkk., 2009) menyatakan bahwa kemiskinan adalah suatu integrated concept yang memiliki lima dimensi, yaitu: 1) kemiskinan (proper), 2) ketidakberdayaan (powerless), 3) kerentanan menghadapi situasi darurat (state of emergency), 4) ketergantungan (dependence), dan 5) keterasingan (isolation) baik secara geografis maupun sosiologis.
Salim (dalam Dharmawan et al, 2009) menyatakan bahwa penduduk miskin dapat dicirikan dengan: 1) Rata-rata tidak mempunyai faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, peralatan kerja, dan keterampilan, 2) Mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, 3) Kebanyakan bekerja atau berusaha sendiri dan bersifat usaha kecil (sektor informal), setengah menganggur atau menganggur (tidak bekerja), 4) Kebanyakan berada di pedesaan atau daerah tertentu perkotaan (slum area), dan 5) Kurangnya kesempatan untuk memperoleh (dalam jumlah yang cukup): bahan kebutuhan pokok pakaian, perumahan, fasilitas kesehatan, air minum, pendidikan, angkutan, fasilitas komunikasi, dan kesejahteraan sosial lainnya.
dihasilkan oleh Pendataan Keluarga, yaitu: 1) Data demografi, misalnya jumlah jiwa dalam keluarga menurut jenis kelamin, dll.; 2) Data keluarga berencana, misalnya Pasangan Usia Subur (PUS), peserta Keluarga Berencana (KB), dan lain-lain.; 3) Data tahapan keluarga sejahtera, yaitu jumlah keluarga yang masuk dalam kategori keluarga pra-sejahtera, sejahtera I, II dan III.; 4) Data individu, seperti nomor identitas keluarga, nama, alamat, dan lain-lain.
Data kemiskinan dilakukan lewat pentahapan keluarga sejahtera yang dibagi menjadi lima tahap, yaitu: 1) Keluarga Pra Sejahtera (sangat miskin); 2) Keluarga Sejahtera I (miskin); 3) Keluarga Sejahtera II; 4) Keluarga Sejahtera III; 5) Keluarga Sejahtera III plus. Hal ini dapat dilihat lebih rinci pada Tabel 1.
Tabel 1. Tahapan keluarga sejahtera
Tahap Deskripsi Indikator
• Memiliki pakaian yang
berbeda untuk aktivitas (misalnya: di rumah, bekerja/ sekolah dan bepergian)
• Bagian terluas lantai
rumah bukan dari tanah (misalnya: bambu/kayu berkualitas rendah).
• Melaksanakan ibadah • Bila anak sakit dibawa
Keluarga
• Paling kurang sekali
seminggu keluarga makan daging atau ikan atau telur
• Setahun terakhir
seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru
• Luas lantai rumah
paling sedikit 8m2 untuk tiap orang/
• Punya penghasilan
tetap
• Usia 10-60 tahun dapat
baca tulis huruf latin
• Usia 6-15 tahun
• Memiliki tabungan keluarga / barang yang mudah
dijual dengan nilai Rp 500.000, seperti: sepeda motor (kredit/ non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya
• Rekreasi bersama (6 bulan sekali) • Meningkatkan pengetahuan agama
• Memperoleh berita dari surat kabar, radio, TV, dan
majalah
• Menggunakan sarana transportasi
Keluarga
• Memiliki tabungan keluarga
• Makan bersama sambil berkomunikasi • Mengikuti kegiatan masyarakat • Rekreasi bersama (6 bulan sekali)
• Memperoleh berita dari surat kabar, radio, TV, dan
majalah
• Menggunakan sarana transportasi
Belum dapat memenuhi beberapa indikator
• Aktif memberikan sumbangan material secara
teratur
• Aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan.
Keluarga
• Aktif memberikan sumbangan material secara
teratur
B. Bantuan Tunai Bersyarat
Salah satu bentuk intervensi untuk memutus rantai kemiskinan sebagai diuraikan di atas adalah melalui Bantuan Tunai Bersyarat (Conditional Cash Transfer/CCT) yang merupakan bantuan sosial yang bersifat inovatif dan semakin populer. Pendekatan ini memberikan uang kepada keluarga miskin yang diberikan berdasarkan perilaku tertentu dan dimaksudkan sebagai investasi sumber daya manusia (SDM) dan diorientasikan sebagai bagian dari strategi pemberantasan kemiskinan. Contohnya untuk menjaga anak-anak untuk tetap sekolah atau secara rutin memeriksakan ibu hamil dan balita pada pusat layanan kesehatan. Pendekatan ini sangat berbeda dengan bantuan tunai tak bersyarat yakni bantuan bagi orang-orang/kelompok yang berbasis pada kriteria penerima yang sebelumnya sudah ditentukan (pre-determined eligibility). Transfer sosial semisal pensiun bagi warga yang sudah tua, hambatan fisik, anak-anak, dll., merupakan bantuan tunai tanpa syarat yang biasa dijalankan pemerintah di berbagai negara di dunia
Habibullah (2011) menjelaskan bahwa Program CCT pertama kali diimplementasikan di sejumlah Negara Amerika Latin dan Karibia. Meksiko meluncurkan the Programa de Educación, Saludy Alimentación (PROGRESA) pada tahun 1997. Brazil memiliki Programa Nacional de Bolsa Escola dan Programa de Erradicaçao do Trabalho Infantil, (PETI). Kolumbia meluncurkan the Familias en Acción program (FA), Honduras the Programa de Asignación Familiar (PRAF), Jamaica mengintroduksi the Program of Advancement through Health and Education (PATH), dan Nikaragua memperkenalkan the Red de Protección Social (RPS). Selanjutnya Program CCT semakin marak di berbagai Negara.
Rawlings (2004) menjelaskan bahwa CCT bertujuan untuk memperbaiki program bantuan sosial tradisional dalam berbagai macam cara, seperti:
tunai secara langsung ke rumah tangga miskin, serta mensyaratkan transfer tersebut diberikan bersamaan dengan keikutsertaan dalam program perawatan kesehatan dan pendidikan, dan juga menargetkan ibu rumah tangga sebagai penerima bantuan. b. Menjawab masalah kemiskinan yang ada sekarang dan di masa
depan dengan bertujuan untuk menumbuhkembangkan akumulasi SDM diantara kaum muda sebagai cara untuk mendobrak siklus kemiskinan antar generasi, dan juga menyediakan dukungan pendapatan sebagai cara untuk menangani kemiskinan dalam jangka pendek.
c. Menargetkan penduduk miskin biasanya melalui pemetaan kemiskinan untuk mengidentifikasi daerah-daerah miskin dan melakukan perkiraan dan uji kepemilikan untuk memilih rumah tangga individu.
d. Menyediakan uang tunai, yang lebih fleksibel, efisien dan efektif dari segi biaya dibandingkan pemberian bantuan natura.
e. Mengembangkan sinergi dalam pembangunan manusia dengan memusatkan pada aspek pelengkap investasi dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan gizi.
f. Menerapkan evaluasi secara strategis. Distribusi informasi dari hasil evaluasi yang memberikan bukti empiris akan efektivitas program CCT turut membantu dalam menjaga kesinambungan program tersebut di tengah berubahnya rezim politik.
sosial yang mendorong mereka melakukan tindakan yang tepat akan mendorong perbaikan kesejahteraan.
Menargetkan kemanfaatan secara langsung bagi populasi yang amat miskin, program semacam ini dimaksudkan untuk mengurangi kemiskinan saat ini melalui kemanfaatan moneter dan menyentuh langsung kebutuhan nyata (in-kind) sebagaimana halnya mereduksi tingkat kemiskinan di masa depan, memperkuat investasi dalam pendidikan, kesehatan, dan gizi.
Lebih jauh Habibullah (2011) menjelaskan bahwa pelaksanaan CCT di berbagai negara selalu diikuti pengukuran dampak. Hasil evaluasinya menunjukkan keberhasilan CCT meningkatkan indikator perbaikan SDM. Indikator-indikator ini umumnya sejalan dengan kewajiban yang ditetapkan dalam program CCT, seperti pendidikan dan kesehatan.
Dampak CCT terhadap Pendidikan
Program CCT di Meksiko (yang dikenal dengan Progresa), berhasil meningkatkan angka partisipasi sekolah jenjang SLTP sebesar 6 persen pada kelompok pria dan 9 persen pada kelompok wanita. Progresa juga berhasil meningkatkan angka transisi sekolah dari jenjang SD ke SLTP sebesar 15 persen pada kelompok wanita yang umumnya mereka putus sekolah sebelum masuk SMP. Anak-anak dari keluarga penerima Progresa memasuki usia sekolah relatif lebih muda dan kejadian tidak naik kelas lebih kecil ketimbang anak-anak dari keluarga non penerima program (Bappenas, 2009).
jenjang SLTP. Alasan utamanya, angka partisipasi sekolah jenjang SD umumnya sudah lebih tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa dampak CCT pada partisipasi sekolah akan tinggi jika dilaksanakan pada lokasi dimana angka partisipasi sekolah masih rendah di Kolumbia, misalnya, angka partisipasi SLTP meningkat 30 persen poin, dan angka kehadirannya meningkat 43 persen poin. Di Bangladesh ada sekitar tiga juta anak-anak tidak terdaftar di SD. Meski relatif kecilnya CCT yang ditargetkan pada kelompok anak yang sulit dijangkau termasuk anak jalanan, program CCT di Bangladesh berhasil meningkatkan angka partisipasi SD mencapai 9 persen poin.
Dampak CCT terhadap Kesehatan
C. Program Keluarga Harapan di Indonesia
Secara eksplisit negara melalui konstitusi mengamanatkan bahwa “Negara memelihara fakir miskin dan anak-anak yang terlantar, mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, serta bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan sosial yang layak yang diatur dengan undang-undang” UUD 1945). Sejalan dengan ini, Edi Suharto (2007) mengungkapkan:
“Sebagai salah satu bentuk kebijakan sosial dan public goods, pelayanan sosial tidak dapat dan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada masyarakat dan pihak swasta. Sebagai lembaga yang memiliki legitimasi publik yang dipilih dan dibiayai oleh rakyat, negara memiliki kewajiban (obligation) dalam memenuhi (to fulfill), melindungi (to protect) dan menghargai (to respect) hak-hak dasar, ekonomi, dan budaya warganya. Mandat negara untuk melaksanakan pelayanan sosial lebih kuat daripada masyarakat atau dunia usaha. Berdasarkan konvensi internasional, mandat negara dalam pelayanan sosial bersifat ‘wajib’. Sedangkan, mandat masyarakat dan dunia usaha dalam pelayanan sosial bersifat ‘tanggungjawab’ (responsibility)” (h. 15)
Di samping UUD 1945, terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan yang menjamin hak kelompok masyarakat miskin. Sejalan dengan ketentuan tersebut, kebijakan penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan 4 (empat) strategi utama, yaitu perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan UKM dan pembangunan infrastruktur pedesaan, sebagaimana terlihat dalam Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan bahwa PKH berada pada klaster 1 dalam skema kebijakan nasional penanggulangan kemiskinan.
dengan mengadopsi Bantuan Tunai Bersyarat (Conditional Cash Transfers) yang sudah banyak diterapkan di berbagai negara. Landasan hukum PKH adalah UU No. 40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial Nasional, UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2010 tentang Rencana Tindak Percepatan Pencapaian Sasaran Program Pro-Rakyat, dan Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
PKH juga dimaksudkan sebagai bagian dari upaya pencapaian Millennium Development Goals. Tujuan Pembangunan Milenium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota PBB untuk melaksanakan 8 (delapan) tujuan pembangunan, yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, kelestarian lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global dalam pembangunan. Tujuan pembangunan Milenium ditargetkan untuk dapat dicapai pada tahun 2015.
Merujuk pada Sistem Jaminan Sosial Nasional berdasarkan UU No. 40 Tahun 2004, PKH menjadi model jaminan yang unik. Di satu sisi, PKH merupakan bantuan sosial yang dimaksudkan demi mempertahankan kehidupan (life survival) dalam kebutuhan dasar terutama pendidikan dan kesehatan. Di sisi lain, PKH bernuansa pemberdayaan yakni menguatkan rumah tangga miskin agar mampu keluar dari kemiskinannya melalui promosi kesehatan dan mendorong anak bersekolah. Dana yang diberikan kepada RTSM secara tunai melalui Kantor Pos dimaksudkan agar penerima dapat mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan yakni anak-anak harus bersekolah hingga SMP, anak balita harus mendapatkan imunisasi, dan ibu hamil harus memeriksakan kandungan secara rutin (berkala).
Menurut definisinya, Program Keluarga Harapan adalah program yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Sebagai imbalannya RTSM diwajibkan memenuhi persyaratan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan. UPPKH adalah unit pengelola PKH yang dibentuk baik di pusat dan daerah. Di Pusat adalah UPPKH Pusat dan di Daerah adalah UPPKH Kabupaten/ Kota. Peserta PKH adalah RTSM yang memenuhi satu atau beberapa kriteria yaitu memiliki Ibu hamil/ nifas, anak balita atau anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan SD, anak usia SD dan SLTP dan anak 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar. Pendamping PKH adalah pekerja sosial yang direkrut oleh UPPKH melalui proses seleksi dan pelatihan untuk melaksanakan tugas pendampingan RTSM penerima program dan membantu kelancaran pelaksanaan PKH. Penyelenggaraan PKH bersifat multisektor baik di Pusat maupun di Daerah yang melibatkan instansi pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan hingga Desa serta masyarakat.
Program PKH dilaksanakan secara berkelanjutan yang dimulai dengan uji coba di beberapa propinsi. Tujuan uji coba adalah untuk menguji berbagai instrumen yang diperlukan dalam pelaksanaan PKH, seperti antara lain metode penentuan sasaran, validasi data, verifikasi persyaratan, mekanisme pembayaran, pengaduan masyarakat. Pasca uji coba, PKH diharapkan dapat dilaksanakan di seluruh provinsi setidaknya sampai dengan tahun 2015, sesuai komitmen pencapaian MDGs. Selama periode tersebut, target penerima (beneficiaries) akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencakup seluruh RSTM.
Peserta PKH yang masih memenuhi kriteria dan persyaratan dimungkinkan menerima bantuan selama maksimal 6 tahun. Untuk itu, setiap 3 tahun akan dievaluasi dalam rangka resertifikasi terhadap status kepesertaan. Apabila setelah resertifikasi 3 tahun peserta dinilai tidak lagi memenuhi persyaratan, maka RTSM dikeluarkan sebagai penerima PKH (exit strategy). Namun jika sebelum 3 tahun menurut hasil verifikasi status kemiskinan oleh UPPKH Pusat bersama BPS ditemukan bahwa RTSM sudah meningkat kesejahteraannya dan atau tidak lagi layak sebagai RTSM sesuai kriteria yang ditetapkan, maka yang bersangkutan dikeluarkan dari kepesertaan PKH pada akhir tahun yang berjalan. Apabila setelah 6 tahun kondisi RTSM masih berada di bawah garis kemiskinan, maka untuk exit strategy PKH berkoordinasi dengan program terkait lainnya untuk rujukan (referral system), seperti antara lain ketenagakerjaan, perindustrian, perdagangan, pertanian, pemberdayaan masyarakat.
cakupan sasaran, pengembangan PKH tetap dilaksanakan khususnya pada perluasan kecamatan di provinsi yang telah melaksanakan PKH.
PKH memberikan bantuan tunai kepada RTSM dengan mewajibkan RTSM tersebut mengikuti persyaratan yang ditetapkan program.
Ketentuan Penerima Bantuan
Penerima bantuan PKH adalah RTSM sesuai dengan kriteria BPS dan memenuhi satu atau beberapa kriteria program yaitu memiliki Ibu hamil/nifas, anak balita atau anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan SD, anak usia SD dan SLTP dan anak 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar. Sebagai bukti kepesertaan PKH diberikan kartu peserta PKH atas nama Ibu atau perempuan dewasa. Kartu tersebut digunakan untuk menerima bantuan PKH. Selanjutnya kartu PKH dapat berfungsi sebagai kartu Jamkesmas untuk seluruh keluarga penerima PKH tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas 2009.
Penggunaan bantuan PKH ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, karenanya bantuan akan lebih efektif dan terarah, jika penerima bantuannya adalah ibu atau wanita dewasa yang mengurus anak pada rumah tangga yang bersangkutan (dapat nenek, tante/bibi, atau kakak perempuan). Dalam kartu peserta PKH yang tercantum adalah nama ibu/wanita yang mengurus anak, bukan kepala rumah tangga. Pengecualian dari ketentuan di atas dapat dilakukan pada kondisi tertentu, misalnya bila tidak ada perempuan dewasa dalam keluarga maka dapat digantikan oleh kepala keluarga.
Kewajiban Penerima PKH
Berkaitan dengan kesehatan, RTSM yang sudah ditetapkan menjadi peserta PKH dan memiliki kartu PKH, diwajibkan memenuhi persyaratan kesehatan yang sudah ditetapkan dalam protokol pelayanan kesehatan. Adapun peserta PKH yang dikenakan persyaratan kesehatan adalah RTSM yang memiliki Ibu hamil/nifas, anak balita atau anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan SD. Persyaratan dimaksud dapat dilihat dalam Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Persyaratan Kesehatan Bagi Peserta PKH
Kategori Persyaratan Kesehatan Anak usia
0-6 tahun
1 Anak usia 0-28 hari (neonatus) harus diperiksa kesehatannya sebanyak 3 kali
2 Anak usia 0-11 bulan harus diimunisasi lengkap (BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis B) dan ditimbang berat badannya secara rutin setiap bulan.
3 Anak usia 6-11 bulan harus mendapatkan Vitamin A minimal sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun yaitu bulan Februari dan Agustus.
4 Anak usia 12-59 bulan perlu mendapatkan imunisasi tambahan dan ditimbang berat badannya secara rutin setiap 3 (tiga) bulan. Anak usia 5-6 tahun ditimbang berat badannya secara rutin setiap 3 (tiga) bulan untuk dipantau tumbuh kembangnya dan atau mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/Early Childhood Education) apabila di lokasi/posyandu terdekat terdapat fasilitas PAUD.
Ibu hamil dan ibu nifas
1. Selama kehamilan, ibu hamil harus melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan sebanyak 4 (empat) kali yaitu sekali pada usia kehamilan 3 bulan I, sekali pada usia kehamilan 3 bulan II, dua kali pada 3 bulan terakhir, dan mendapatkan suplemen tablet Fe.
2. Ibu melahirkan harus ditolong oleh tenaga kesehatan.
Berkaitan dengan pendidikan, peserta PKH diwajibkan memenuhi persyaratan berkaitan dengan pendidikan jika memiliki anak berusia 7-15 tahun. Anak peserta PKH tersebut harus didaftarkan/terdaftar pada satuan pendidikan (SD/MI/SDLB/ Salafiyah Ula/Paket A atau SMP/MTs/SMLB/ Salafiyah Wustha / Paket B termasuk SMP/MTs terbuka) dan mengikuti kehadiran di kelas minimal 85 persen dari hari sekolah dalam sebulan selama tahun ajaran berlangsung. Apabila ada anak yang berusia 5-6 tahun yang sudah masuk sekolah dasar dan sejenisnya, maka yang bersangkutan dikenakan persyaratan pendidikan.
Jika peserta PKH memiliki anak usia 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar, maka peserta diwajibkan mendaftarkan anak tersebut ke satuan pendidikan yang menyelenggarakan program Wajib Belajar 9 tahun/pendidikan kesetaraan. Apabila anak yang bersangkutan bekerja/pekerja anak atau telah meninggalkan sekolah dalam waktu yang cukup lama, maka anak tersebut harus mengikuti program remedial untuk mempersiapkannya kembali ke satuan pendidikan. Dalam rangka pelaksanaan remedial tersebut satuan pendidikan harus menyediakan program remedial. Apabila anak yang bersangkutan dengan usia tersebut di atas masih buta aksara, maka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan keaksaraan fungsional di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terdekat.
Besaran bantuan untuk setiap RTSM peserta PKH mengikuti skenario bantuan yang telah ditetapkan. Dengan adanya perbedaan komposisi anggota keluarga RTSM, maka besar bantuan yang diterima setiap RTSM akan bervariasi. Contoh variasi besar bantuan, baik per tahun maupun per triwulan, berdasarkan komposisi anggota keluarga.
peserta atau penerima bantuan PKH memperoleh bantuan. Untuk itu, dalam rancangan PKH disusun exit strategy yang dilakukan melalui resertifikasi.
Resertifikasi adalah proses evaluasi status kepesertaan PKH untuk menentukan apakah peserta masih layak atau tidak sebagai penerima bantuan. Resertifikasi dilakukan oleh UPPKH Pusat berkoordinasi dengan BPS, di mana pelaksana program akan mendatangi peserta PKH dengan melihat secara langsung kondisi mereka dan mengajukan pertanyaan seperti pada saat registrasi awal, yaitu antara lain informasi dasar kepesertaan (nama, alamat, umur dan jenis kelamin), kondisi ekonomi peserta (pekerjaan saat ini, tempat bekerja dan penghasilan yang diterima), status pendidikan anggota keluarga (orang tua dan anak-anak), kondisi tempat tinggal dan sebagainya. Data yang diperoleh dari hasil resertifikasi akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan keberlanjutan kepesertaan dalam PKH. Proses resertifikasi diharapkan dilakukan setiap tiga tahun, selama kepesertaan suatu RTSM dalam PKH.
BAB III
DAMPAK PROGRAM KELUARGA HARAPAN TERHADAP RUMAH TANGGA SANGAT MISKIN
A. Metode Penelitian
Guna mengetahui dampak PKH, digunakan rancangan penelitian sebagai berikut.
Desain dan Sampel
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain non-eksperimental. Artinya, peneliti tidak melakukan intervensi terhadap rumah tangga sangat miskin (RTSM). Penelitian ini hanya mengukur dampak dari PKH. PKH merupakan program yang telah terjadi sebelum penelitian ini dilakukan, dan tidak dirancang sejak awal menjadi bagian penelitian ini.
Untuk melengkapi temuan dan kredibilitas penelitian, metode kualitatif dijadikan sebagai metode pelengkap, dengan teknik pengumpulan data berupa pengamatan (observasi) dan wawancara terhadap ibu rumah tangga yang menjadi responden penelitian. Di samping itu, dilakukan juga Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion) melibatkan orang-orang kunci yang dianggap representative sebagai sumber data kualitatif, antara lain Ketua RT, Petugas posyandu, penggerak PKK, tokoh masyarakat sekitar, Pendamping PKH, petugas puskesmas, dan staf PKH Kantor Dinas Sosial Kota/Kabupaten.
ditetapkan sebagai unit analisis penelitian. Alasan menetapkan ibu sebagai responden adalah bahwa PKH berfokus pada kesehatan dan pendidikan dengan maksud anak-anak RTSM memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan, dan ibu hamil memeriksakan kandungannya secara berkala. Karenanya, peran ibu sangat penting. dan dianggap paling mengetahui informasi terkait program dan dampaknya kepada rumah tangga masing-masing.
Populasi penelitian ini adalah 386898 (tiga ratus delapan puluh enam ribu delapan ratus sembilan puluh delapan) RTSM yang tersebar di tujuh propinsi yang menjadi lokasi pelaksanaan PKH yang tercatat pada tahun 2007. Dengan menggunakan perhitungan berdasarkan margin of error 5% dan confidence level 95%, jumlah minimum sampel jika dilakukan secara acak sederhana adalah 384 RTSM (Hamburg, 1985). Jumlah ini besarnya kira-kira satu permil dari populasi.
Tabel 3. Distribusi Sampel Penelitian Dampak PKH
Propinsi Populasi Target dan Kecamatan Sampel Acak
Fraksi (dalam permil) DKI Jakarta 4556 Jakarta Utara (Penjaringan,
Koja, Cilincing)
60 13.17
Gorontalo 2480 Bone Bolango (Tapa, Bone Pantai)
60 24.19
Jawa Barat 76847 Garut (Cisurupan, Karangpawitan, Kadungora)
78 1.02
Jawa Timur 220123 Sidoarjo (Tarik, Wonoayu, Krian)
98 0.45
Sumatera Barat
3587 Pesisir Selatan (Linggo Sari Baganti, Lunang Silaut)
60 16.73
Sulawesi Utara 13771 Manado (Tikala, Wanea, Tuminting)
63 4.58
Nusa Tenggara Timur
65534 Kupang (Alak, Kelapa Lima) 66 1.01
Jumlah 485
Instrumen
Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumennya. Instrumen persepsi bantuan terdiri atas sejumlah pengukur variabel sebagai berikut. Persepsi kesesuaian bantuan
memiliki lima pilihan respons, yakni “Sangat Tidak Sesuai” (skor 1), “Tidak Sesuai” (skor 2), “Cukup Sesuai” (skor 3), “Sesuai” (skor 4), dan “Sangat Sesuai” (skor 5). Instrumen persepsi kecukupan jumlah bantuan memiliki enam pilihan respons, yakni “Sangat Tidak Cukup” (1), “Tidak Cukup” (2), “Agak Tidak Cukup” (3), “Agak Cukup” (4), “Cukup” (5), dan “Sangat Cukup” (6). Instrumen
persepsi ketepatan waktu penerimaan pembayaran dari penyelenggara PKH memiliki empat pilihan respons, yakni “Lebih dari 20 hari setelah waktu yang ditentukan” (skor 1), “11 sampai 20 hari setelah waktu yang ditentukan” (skor 2), “1 sampai 10 hari setelah waktu yang ditentukan” (skor 3), dan “Tepat waktu (tidak terlambat)” (skor 4). Persepsi keadilan distribusi/ penyebaran dana bantuan memiliki lima pilihan respons, yakni “Sangat Tidak Adil” (1), “Tidak Adil” (2), “Cukup Adil” (3), “Adil” (4), dan “Sangat Adil” (5).
pendamping, kesempatan berbagi ide/gagasan/pemikiran dengan pendamping, kesempatan berbagi pengalaman dan keluh kesah dengan pendamping, koordinasi antara pendamping dengan ketua kelompok PKH dan pemangku kepentingan lain.
Instrumen persepsi manfaat terdiri atas tiga hal dan memiliki lima pilihan respons, yakni “Sangat Kurang” (1), “Kurang” (2), “Cukup” (3), “Baik” (4), dan “Sangat Baik” (5). Pertama, persepsi manfaat fisik dengan indikator sebagai berikut: persepsi manfaat PKH pada sumber daya fisik (sandang, pangan, papan), sumber daya badan (kesehatan), sumber daya keuangan/penghasilan (rupiah), dan produk/jasa yang dihasilkan keluarga. Kedua,
persepsi manfaat psikis dengan indikator sebagai berikut: rasa syukur menjadi bagian PKH, kepuasan terhadap kondisi keluarga saat ini, perasan bangga terhadap kualitas keluarga, optimisme menghadapi masa depan. Ketiga, persepsi manfaat sosial
dengan indikator sebagai berikut: persepsi manfaat PKH pada akses atau kemudahan memperoleh pekerjaan, perasaan dapat mengandalkan anggota komunitas (tetangga, dan sebagainya), kemandirian hidup, komunikasi dengan sesama anggota masyarakat, dan partisipasi dalam kegiatan di lingkungan.
Instrumen Partisipasi dalam bidang Kesehatan mengukur hal-hal sebagaimana nampak dalam Tabel 4.
Tabel 4. Rancangan Instrumen Partisipasi RTSM Dalam Bidang Kesehatan
No Indikator Penyekoran
1 Presensi atau kehadiran dalam pertemuan (pertemuan awal untuk mengikuti sosialisasi program, perbaikan data peserta, penandatanganan perjanjian komitmen, dll).
1 = Tidak pernah hadir;
2 = Hadir kurang dari 50% jumlah pertemuan;
3 = Hadir sama dengan atau lebih dari 50% jumlah pertemuan;
2 Kepemilikan kartu kesehatan: Kartu Menuju Sehat, Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), kartu JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat), kartu JAMKESDA (Jaminan Kesehatan Daerah), kartu JAMPERSAL (Jaminan Persalinan).
1 = Memiliki 1 kartu; 2 = Memiliki 2 kartu; 3 = Memiliki 3 kartu; 4 = Memiliki lebih dari 3 kartu
3 Pelayanan Antenatal Care
(Pemeriksaan Selama Masa Hamil) di Fasilitas Kesehatan, yakni (a) sekali pada usia kehamilan 3 bulan I, (b) sekali pada usia kehamilan 3 bulan II, (c) dua kali pada 3 bulan terakhir
1 = Tidak Memperoleh Pemeriksaan, atau Diperiksa namun bukan di Fasilitas Kesehatan;
2 = 1 Kali Pemeriksaan;
3 = 2 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;
4 = 2 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan;
5 = 3 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;
6 = 3 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan;
7 = 4 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;
8 = 4 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan
4 Pemberian Tablet Fe (Ibu hamil)
1 = Tidak memperoleh; 2 = Memperoleh 5 Pertolongan Tenaga Kesehatan
Terlatih (Dokter, Perawat, dan/ atau Bidan Desa) pada Ibu Melahirkan
1 = Tidak Memperoleh Pertolongan saat melahirkan;
2 = Memperoleh Pertolongan namun bukan dari tenaga kesehatan;
3 = Memperoleh Pertolongan dari tenaga kesehatan namun yang tidak terlatih; 4 = Memperoleh Pertolongan Tenaga
6 Care (Pemeriksaan Kesehatan Ibu pada Minggu I, IV dan VI setelah melahirkan) pada Ibu Nifas
1 = Tidak Memperoleh Pemeriksaan, atau Diperiksa namun bukan di Fasilitas Kesehatan;
2 = 1 Kali Pemeriksaan;
3 = 2 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;
4 = 2 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan;
5 = 3 Kali Pemeriksaan namun Tidak Sesuai Waktu yang Ditentukan;
6 = 3 Kali Pemeriksaan Sesuai Waktu yang Ditentukan
7 Pelayanan Postnatal Care pada Anak Neonatus 0-28 hari
1 = Tidak Memperoleh Pemeriksaan; 2 = 1 Kali Pemeriksaan;
3 = 2 Kali Pemeriksaan; 4 = 3 Kali Pemeriksaan;
5 = Lebih dari 3 Kali Pemeriksaan 8 Penimbangan dan Pencatatan
Berat Badan Bayi Setiap Bulan di Fasilitas Kesehatan pada anak 0 -11 bulan
1 = Tidak pernah ditimbang atau Ditimbang namun bukan di Fasilitas Kesehatan; 2 = Ditimbang namun tidak rutin; 3 = Ditimbang cukup rutin (pernah
tidak ditimbang dalam bulan-bulan tertentu);
4 = Ditimbang secara rutin setiap 1 bulan sekali;
5 = Ditimbang secara rutin setiap 1 bulan lebih dari sekali
9 Imunisasi Lengkap (BCG, DPT 1-3, Polio 1-4, Campak, Hepatitis B 1-3) pada anak 0-11 bulan
1 =Tidak pernah diimunisasi; 2 =Memperoleh 1 vaksin; 3 =Memperoleh 2 vaksin; 4 =Memperoleh 3 vaksin; 5 =Memperoleh 4 vaksin; 6 =Memperoleh 5 vaksin;
10 Pemberian Suplemen Tablet Vitamin A 2 kali (Februari & Agustus) pada Anak ½ - 1 tahun
1 = Tidak Memperoleh; 2 = Memperoleh 1 kali;
3 = Memperoleh 2 Kali namun bukan pada waktu yang ditentukan;
4 = Memperoleh 2 Kali sesuai waktu yang ditentukan (Februari & Agustus) 11 Penimbangan dan Pencatatan
Berat Badan Anak Setiap 3 Bulan di Fasilitas Kesehatan serta Imunisasi Tambahan pada Anak 1 - 5 tahun
1 = Tidak pernah ditimbang atau Ditimbang namun bukan di Fasilitas Kesehatan; 2 = Ditimbang namun tidak memperoleh
imunisasi tambahan;
3 = Ditimbang namun tidak rutin dan mendapat imunisasi tambahan; 4 = Ditimbang cukup rutin (pernah tidak
ditimbang dalam triwulan tertentu) dan mendapat imunisasi tambahan; 5 = Ditimbang secara rutin setiap 3
bulan sekali dan mendapat imunisasi tambahan.
12 Penimbangan dan Pencatatan Berat Badan Setiap 3 Bulan di Fasilitas Kesehatan [Pemantauan / Monitoring Tumbuh Kembang Anak] pada Anak 5-6 tahun
1 = Tidak pernah ditimbang atau Ditimbang namun bukan di Fasilitas Kesehatan; 2 = Ditimbang namun tidak rutin; 3 = Ditimbang cukup rutin (pernah tidak
ditimbang dalam triwulan tertentu); 4 = Ditimbang secara rutin setiap 3 bulan
sekali;
13 Kebiasaan makan sehari-hari
• Makan sebelum sarapan
pagi
• Sarapan pagi
• Makan antara sarapan pagi
dan makan siang
• Makan siang
• Makan antara makan siang
dan makan malam
• Makan malam • Makan setelah setelah
makan malam
Setiap jenis kebiasaan makan diberi skor 1 (kumulatif). Contoh: bila dilakukan semuanya, skornya 7.
14 Kelompok Makanan yang Berbeda (Rata-rata tiap hari)
1 = Bila makan hanya 1 jenis makanan tiap hari;
2 = Bila makan 2 jenis makanan yang berbeda tiap hari;
3 = Bila makan 3 jenis makanan yang berbeda;
4 = Bila makan 4 jenis makanan yang berbeda;
5 = Bila makan 5 jenis; 6 = Bila makan 6 jenis;
7 = Bila makan lebih dari 6 jenis.
Catatan : Data mengenai tinggi badan dan berat badan anak banyak dalam pelaksanaanya tidak diperoleh, sehingga indeks status gizi belum dapat dikalkulasi.
Instrumen Partisipasi dalam bidang Pendidikan mengukur hal-hal sebagaimana nampak dalam Tabel 5.
Tabel 5. Rancangan Instrumen Partisipasi RTSM Dalam Bidang Pendidikan
No. Indikator Penyekoran
1 Presensi (kehadiran) Pertemuan (pertemuan awal untuk mengikuti sosialisasi program, perbaikan data peserta, penandatanganan perjanjian komitmen, dll)
1 = Tidak pernah hadir;
2 = Hadir kurang dari 50% jumlah pertemuan;
3 = Hadir sama dengan atau lebih dari 50% jumlah pertemuan;
2 Pendaftaran Anak 6-15 tahun ke Satuan Pendidikan (SD/MI/SDLB/ Salafiyah Ula/Paket A, atau SMP/ MTs/SMLB/ Salafiyah Wustha / Paket B termasuk SMP/MTs terbuka)
1 = Anak tidak didaftarkan; 2 = Anak didaftarkan
3 Pendaftaran Anak ke program Remedial atau Persiapan Pendidikan (seperti: rumah singgah, rumah perlindungan sosial anak/RPSA, panti sosial asuhan anak, dll), dan selanjutnya mendaftarkan anak tersebut ke satuan pendidikan formal atau non formal / Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/ PKBM, sanggar kegiatan belajar/ SKB, dsb)
1 = Anak tidak didaftarkan sama sekali; 2 = Anak didaftarkan ke Program
Persiapan, namun selanjutnya tidak didaftarkan ke Satuan Pendidikan; 3 = Anak didaftarkan ke Program
Persiapan dan selanjutnya ke Satuan Pendidikan
4 Rerata Presensi (Kehadiran/Tatap Muka) Anak 6-15 tahun di Kelas Per Bulan, selama tahun ajaran berlangsung atau ketentuan tatap muka Paket A/Paket B/SMP terbuka/keaksaraan fungsional 5 Pendaftaran Anak 15-18 tahun
ke Satuan Pendidikan yang menyelenggarakan program Wajib Belajar 9 tahun atau pendidikan kesetaraan (Keaksaraan Fungsional, Paket A setara SD atau Paket B setara SMP atau pesantren setara SD/SMP)
1 = Anak tidak didaftarkan; 2 = Anak didaftarkan
6 Ketersediaan Fasilitas Fisik (meja belajar bersama, meja belajar khusus untuk anak, rak buku, kamar atau ruang belajar) di Rumah
1 = Tidak ada;
7 Ketersediaan Tenaga Pendidikan (Guru)
1 = Tidak ada Guru, diajar oleh Non-Guru;
2 = Ada Guru namun tidak lengkap; 3 = Ada Guru lengkap namun tidak
profesional (sering terlambat, tidak mampu mendidik dengan baik, malas mengajar, dsb);
4 = Ada Guru lengkap dan profesional; 5 = Ada Guru lengkap dan sangat
profesional 8 Ketersediaan Pakaian dan
perlengkapan penting untuk sekolah (tas, sepatu sekolah, seragam, baju pramuka, baju olahraga, alat tulis)
1 = Tidak ada;
2 = Ada namun tidak lengkap; 3 = Ada dan cukup lengkap; 4 = Ada dan lengkap
9 Ketersediaan Fasilitas Fisik Sekolah (Ruang Kelas, Toilet, Tempat Bermain)
1 = Tidak ada;
2 = Ada namun tidak lengkap; 3 = Ada dan cukup lengkap; 4 = Ada dan lengkap 10 Ketersediaan Buku-buku Pelajaran 1 = Tidak ada;
2 = Ada namun tidak lengkap; 3 = Ada dan cukup lengkap; 4 = Ada dan lengkap
11 Partisipasi Anak Sekolah 1 = Manipulasi/Dekorasi/Tokenisme; 2 = Ditetapkan, namun diberi informasi/
Diberi Informasi dan Nasihat; 3 = Keputusan Atas Inisiatif Orang
Dewasa, Dilakukan Bersama Anak; 4 = Anak Memiliki Inisiatif dan
Diarahkan Oleh Orang Dewasa; 5 = Keputusan Atas Inisiatif Anak,
12 Keterlibatan Orangtua Dalam Jam Belajar Anak
1 = Tidak pernah terlibat;
2 = Memberikan instruksi / menyuruh anak belajar, namun tidak menemani;
3 = Sekadar menemani/ mendampingi anak belajar, namun tidak sering; 4 = Sering Menemani anak belajar; 5 = Sering menemani anak belajar, DAN
memantau Hasil Belajar (nilai ujian); 6 = Bersedia Belajar Bersama anak
(ikut mencoba memahami / diskusi materi pelajaran anak), namun tidak intensif;
7 = Intensif Belajar Bersama Anak; 8 = Intensif Belajar Bersama Anak, DAN
memantau Hasil Belajarnya; 9 = Nomor 8 Terpenuhi DAN Sering
memberikan motivasi dan rangsangan untuk memperkaya pelajaran sekolah sesuai dengan potensi/kapasitas anak
13 Prestasi Belajar Dalam 2 Tahun Ajaran Terakhir
Rerata skor rapor …..
14 Rerata Jam Belajar Anak di Rumah per hari
…… jam
Keterangan : Kategori Partisipasi Anak berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Rencana Aksi Partisipasi Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI (2007), sebagai berikut:
• MANIPULASI, Anak-anak dimanfaatkan oleh orang dewasa untuk kepentingan orang dewasa
• DITETAPKAN, TAPI DIBERI INFORMASI, Orang dewasa memutuskan kegiatan dan terlibat secara sukarela. Anak-anak mengetahui kegiatan tersebut dan mereka mengetahui siapa yang memutuskan untuk melibatkan mereka dan mengapa dilibatkan. Orang dewasa menghargai pandangan dari anak-anak.
• DIBERI INFORMASI DAN NASEHAT, kegiatan didesain dan dilaksanakan oleh orang dewasa tapi anak dimintakan masukannya. Anak-anak ini memiliki pemahaman/pengetahuan mengenai proses dan pandangan mereka diperhatikan secara serius
• KEPUTUSAN ATAS INISIATIF ORANG DEWASA, DILAKUKAN BERSAMA ANAK, Orang dewasa memiliki gagasan awal, tapi anak-anak dilibatkan dalam setiap tahap perencanaan dan pelaksanaan. Anak-anak tidak hanya dipertimbangkan pandangan/masukannya tapi juga dilibatkan dalam pengambilan keputusan
• ANAK MEMILIKI INISIATIF DAN DIARAHKAN (OLEH ORANG DEWASA), Anak-anak memiliki gagasan/inisiatif, merencanakan kegiatan tapi masih mengajak diskusi serta meminta nasehat dan dukungan dari orang dewasa
• KEPUTUSAN ATAS INISIATIF ANAK, DILAKUKAN BERSAMA ORANG DEWASA, Anak-anak memiliki gagasan/ide tentang kegiatan dan memutuskan sendiri bagaimana caranya kegiatan tersebut dilaksanakan. Orang dewasa siap mendampingi tapi tidak ikut mengurusi (pasif)
perasaan tidak menyenangkan (unpleasant feelings), dan ketabahan pribadi (general personal toughness); (b) kegigihan (persistensi), yakni kemauan memberikan upaya terbaik dalam situasi apapun, keyakinan akan kemampuan untuk mencapai tujuan walau ada rintangan-rintangan, dan tidak menyerah. Butir-butirnya diadaptasi dengan mengganti kata “saya” (I)” menjadi “kami” (merujuk pada RTSM), sebagai berikut:
1. Kami mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
2. Kami tidak yakin dapat menangani setiap permasalahan. 3. Kami mencoba melihat sisi humor/menyenangkan dari
persoalan yang ada.
4. Dengan mengatasi stres, kami merasa menjadi kuat.
5. Kami cenderung lama pulih setelah mengalami penderitaan atau masa-masa sulit.
6. Kami cenderung tidak mencapai tujuan bila ada rintangan-rintangan.
7. Kami sulit untuk tetap fokus ketika berada dalam tekanan. 8. Kami tidak mudah terganggu oleh kegagalan.
9. Kami memandang keluarga kami sebagai keluarga yang lemah. 10. Kami tidak dapat menjaga keluarga kami dari perasaan atau
emosi yang tidak menyenangkan.
artinya instrumen reliabel. Butir-butir instrumen menunjukkan Corrected Item-Total Correlation berkisar dari 0.3 sampai 0.7, yang artinya butir-butir valid berkontribusi terhadap konstruk Ketangguhan (Resiliensi).
Mengapa resiliensi RTSM diukur dalam penelitian ini? Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial, definisi Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Salah satu indikator terpenting dari kesejahteraan sosial dalam konteks PKH adalah resiliensi. Edi Soeharto (2010) pernah mengungkap bahwa penelitian PKH:
"… belum banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dikemukakan oleh publik, khususnya yang sering muncul di media, seperti: program bantuan sosial seperti ini menghabiskan uang negara saja, menyebabkan ketergantungan dan kemalasan pada penerimanya, merusak kekuatan dan daya tahan (resilience) sosial, mengikis kearifan lokal, tidak akan mampu mengatasi masalah kemiskinan."
Enoch Markum (2009) menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan bukan semata-mata masalah permodalan dan keterampilan teknis, melainkan masalah bagaimana membangkitkan perasaan mampu mengatasi hidup di kalangan orang miskin dengan cara yang bermartabat dan menjaga harga-diri. Dalam hal inilah, resiliensi memegang peran sentral yang diharapkan dapat menjadi dampak program PKH.
adalah proses menemukenali hal positif dibalik suatu kemalangan dan memanfaatkannya sebagai tenaga untuk memantul bangkit. "Resilience is the result of individuals being able to interact with their environments and the processes that either promote well-being or protect them against the overwhelming influence of risk factors" (Zautra, Hall, & Murray, 2010).
pengharapan; ketangguhan kepribadian; antisipasi dan keteguhan untuk meraih masa depan.
Instrumen Status Sosial Ekonomi berasal dari indikator kemiskinan versi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang dilengkapi dengan kriteria dari Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS). Data kemiskinan dilakukan lewat pentahapan keluarga sejahtera yang dibagi menjadi lima tahap, yaitu: Keluarga Pra Sejahtera (sangat miskin), Keluarga Sejahtera I (miskin), Keluarga Sejahtera II, Keluarga Sejahtera III, Keluarga Sejahtera III Plus. Setiap tahap tersebut memiliki sejumlah indikator. Seluruh RTSM dipetakan dalam hal kepemilikan indikator-indikator tersebut. RTSM dikategorikan dalam salah satu tahap keluarga berdasarkan kepemilikan indikator terbanyak dibandingkan dengan kelompoknya (dihitung berdasarkan skor Z). Kategorisasi berdasarkan skor Z dibuat untuk data sebelum PKH dan data sesudah PKH. Apabila skor Z sebuah RTSM paling tinggi pada kriteria Keluarga Pra Sejahtera (Sangat Miskin), maka ia disimpulkan memiliki status sosial ekonomi tersebut dan diberi skor 1, jika paling tinggi pada Keluarga Sejahtera I, maka diberi skor 2, Keluarga Sejahtera II diberi skor 3, Keluarga Sejahtera III diberi skor 4, dan Keluarga Sejahtera III Plus diberi skor 5. Selisih antara kedua skor merupakan perubahan status sosial ekonomi RTSM.
Analisis Data
Untuk setiap instrumen di atas, RTSM memberikan isian sebanyak dua kali, yakni isian kondisi sebelum/pra PKH dan kondisi sesudah/pasca PKH. Pengolahan data dilakukan secara bertahap.
Kedua, uji t berpasangan (paired-samples t test, untuk skala pengukuran interval) dan uji McNemar (skala pengukuran nominal) dilakukan untuk mengetahui signifikansi perbedaan data variabel secara keseluruhan (agregat tujuh propinsi) antara kondisi sebelum PKH dan kondisi sesudah PKH. Uji hipotesis dilakukan dengan program bantu SPSS 20 for Windows untuk menghasilkan keputusan menolak hipotesis nihil (yang berarti ada perbedaan antar kelompok sampel) jika p <0.05, atau gagal menolak hipotesis nihil (yang berarti tiada perbedaan antar kelompok sampel) jika p >0.05.
Ketiga, analisis jalur (path analysis) dilakukan dengan program bantu LISREL 8.80, untuk mengetahui korelasi prediktif langsung (direct) dan korelasi prediktif tak langsung (indirect) antar variabel. Analisis jalur merupakan suatu metode analisis untuk melihat hubungan antara tiga atau lebih variabel. Menurut Seniati (2009), kriteria untuk menentukan apakah model fit (kesesuaian antara model penelitian atau model pengukuran dengan data empiris) adalah (1) Chi-square: Model fit jika P > 0.05; (2) Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA): Model fit jika RMSEA > 0.05.
Dalam rangka membangun model jalur berdasarkan data empiris, peneliti mentransformasikan skor-skor mentah kondisi sebelum PKH dan kondisi sesudah PKH untuk setiap indikator yang disebutkan dalam tabel-tabel di atas, dengan rumus:
Z =( X – M ) / SD
dalam hal mana:
Z = skor baku (nilai standar)
X = Skor mentah atau angka kasar (raw score) setiap RTSM pada indikator yang bersangkutan.
SD= Simpangan Baku (standard deviation) RTSM pada indikator yang bersangkutan.
Dengan demikian diperoleh:
• Skor Z untuk variabel jumlah bantuan;
• Skor Z untuk variabel persepsi pendampingan;
• Skor Z untuk variabel persepsi manfaat (fisik, psikis, sosial); • Skor Z untuk variabel partisipasi kesehatan, yang merupakan
penjumlahan dari skor Z dari seluruh indikator yang terdapat pada Tabel 4. Karena sudah merupakan skor baku (nilai standar), maka penjumlahan seperti ini dimungkinkan;
• Skor Z untuk variabel partisipasi pendidikan, yang merupakan penjumlahan dari skor Z dari seluruh indikator yang terdapat pada Tabel 5;
• Skor Z untuk variabel status sosial ekonomi.
Selisih antara skor Z sebelum PKH dan skor Z sesudah PKH pada setiap variabel (kecuali variabel jumlah bantuan) itulah yang merupakan perubahan atribut RTSM yang diasumsikan sebagai dampak PKH. Dampak PKH pada variabel yang satu dikorelasikan dengan dampak PKH pada variabel yang lainnya.
Mengenai skor Z, Sutrisno Hadi (1995, h. 96) menjelaskan:
B. Deskripsi Sampel RTSM Peserta PKH
Hasil statistik deskriptif demografis dan psikografis yang terdata diuraikan sebagai berikut:
Tabel 6. Usia Kepala Keluarga
Usia
Tabel 7. Suku Kepala Keluarga
Suku
Arab Keturunan 1 1
Buton 1 1
Gorontalo 58 14 72
Jambak 4 4
Melayu Banjar 1 1
Melayu Gadang 1 1
Minahasa 11 11
Sangir Talaud 1 1
Sangir Tamako 1 1
Siau 1 1
Sikumbang 9 9
Solor 1 1
Sulawesi Mdr 1 1
Sumatra Selatan 1 1
Tabel 8. Agama Kepala Keluarga
Katolik 10 2 12
Kristen 53 41 94
Tabel 9. Status Pernikahan Kepala Keluarga
Status
Tabel 10. Jumlah Anak Kepala Keluarga