DAFTAR LAMPIRAN
3. METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran
Pangan sebagai penentu keberlangsungan hidup manusia, saat ini dihadapkan pada beberapa persoalan hingga terjadi krisis di berbagai wilayah dunia termasuk Indonesia. Krisis pangan tidak hanya terkait dengan ketersediaan pangan, tetapi juga terjadi dalam budaya pertanian serta keberlanjutannya. Keterbukaan pasar bebas juga menjadi salah satu tantangan nyata bagi keberlanjutan pangan. Pangan harus tersedia sepanjang waktu, diperlukan upaya sungguh-sungguh dan kearifan masyarakat untuk mempertahankan keberlanjutan pangan.
Keberlanjutan pangan merupakan produk dari rangkaian kegiatan pembangunan pertanian mensyaratkan tersedianya: lahan pertanian, benih dan bibit, infrastruktur dan sarana, sumber daya manusia (SDM), pembiayaan petani, kelembagaan petani, serta teknologi dan industri hilir (Kementan 2014). Sumber pangan manusia yang terus berkembang seiring tingkat pertumbuhan manusia dan perubahan sumber daya alam (SDA), dapat mengakibatkan ketersediaan pangan tidak seimbang. Hal ini memicu terjadinya persoalan pada berbagai aspek kehidupan. Ketidakseimbangan juga terjadi pada lingkungan hidup yang mengakibatkan sumber pangan tidak dapat dikembangkan lagi. Kerusakan yang terjadi umumnya akibat perilaku manusia yang kurang arif dan bijak untuk mengambil sebesar-besarnya sumber daya yang disediakan Tuhan bagi umatNya. Dengan alasan tersebut, sangat penting melakukan perubahan pola pikir manusia dengan energi yang digerakkan oleh ajaran nilai-nilai luhur yang bersumber dari Tuhan, yaitu agama.
Pesantren sebagai salah satu lembaga sosial yang berbasis agama, memiliki potensi dan kekuatan yang diharapkan mampu menjadi penggerak nilai-nilai luhur dalam kehidupan termasuk menjaga tradisi pertanian. Pesantren yang sudah mengakar dalam masyarakat, untuk mempertahankan keberadaannya dituntut memiliki peran ganda (multifungsi). Pesantren sebagai lembaga keagamaan tidak hanya membangun karakter manusia tetapi juga berpartisipasi dalam pembangunan, termasuk dalam pembangunan pertanian khususnya keberlanjutan pangan. Selain itu, pesantren sebagai sebuah institusi berpengaruh terhadap konvensi sosial (pasar dan setting administrasi) serta struktur sosial yang terkait dengan perilaku manusia (nilai, aturan, kebiasaan, moral dan sebagainya).
Kondisi demikian mendesak pesantren membangun paradigma baru menuju pesantren masa depan yang mampu menjawab tuntutan masyarakat dan mewujudkan keberlanjutan pangan. Untuk itu, penelitian ini menggali 2 kondisi, yaitu kondisi pesantren yang diasumsikan sebagai faktor intern dan kondisi sistem pertanian yang diselenggarakan pesantren saat ini yang diasumsikan sebagai faktor ekstern. Kondisi pesantren difokuskan pada aspek manajemen, sumber daya manusia (SDM), dan tradisi pesantren. Keragaan pesantren ini menentukan keunggulan-keunggulan pesantren. Sistem pertanian pesantren digali berdasarkan aspek lahan, pembiayaan dan teknologi yang diterapkan pesantren selama ini yang mengarah pada kondisi keberlanjutan pangan.
Dua kondisi tersebut selanjutnya digunakan sebagai pendorong perubahan pesantren yang dirancang melalui sebuah kerangka pendekatan sistem secara holistik dan terstruktur. Berdasarkan teori manajemen perubahan (Sobirin 2006) dan konsep pembangunan berkelanjutan (WCED 1987), pola perubahan pesantren dirancang dengan mengintegrasikan faktor intern dan ekstern. Perubahan pesantren merupakan suatu
keniscayaan yang harus dikelola dengan baik, melalui proses transformasi. Pola transformasi pesantren terintegrasi berdasarkan aspek biofisik, struktural dan kultural.
Aspek biofisik, struktural dan kultural pesantren saling terkait dalam proses perubahan pesantren. Sumber daya alam seperti lahan, air serta infrastruktur yang pada dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan perubahan pesantren. Aspek struktural yang terkait sistem manajemen dan kapabilitas organisasi pesantren menjadi landasan yang kuat untuk menggerakan keshalihan sosial. Pesantren yang penuh dengan tata nilai dan etika dapat membawa arah perubahan masyarakat menjadi lebih baik. Terlebih lagi, kepemimpinan pesantren yang khas menjadi kekuatan utama dalam perubahan paradigma tersebut. Aspek kultural yang dimilikinya melandasi upaya nyata pesantren untuk berperan dalam keberlanjutan pangan. Proses keterkaitan ketiga aspek tersebut menghasilkan model transformasi pesantren menjadi sebuah pesantren dengan karakter mandiri, adil dan ekologis.
Penelitian ini menjadi sangat penting bagi pesantren untuk menghadapi perubahan yang dapat terjadi secara terus menerus. Melalui model yang dihasilkan dari penelitian ini, keberlanjutan pangan berdasarkan nilai spiritual, ekologis, dan keshalihan sosial sudah dapat diantisipasi dengan membangun asumsi strategis serta struktur perubahan yang dapat dikelolanya. Penelitian ini juga merancang strategi implementasi model trasnformasi pesantren sebagai langkah perbaikan sistem pertanian menuju keberlanjutan pangan.
Sesuai kerangka pemikiran tersebut dilakukan penelitian dengan proses berpikir logis sebagai mekanisme pendekatan kesisteman terhadap persoalan yang kompleks dan rumit. Dettmer (2007) menerapkan konsep evaporating cloud untuk menyajikan dan menyelesaikan konflik. Solusi diperoleh bukan melalui kompromi tetapi lebih mengutamakan solusi “win-win” dari semua pihak yang berkepentingan, sehingga perancangan solusi dilakukan dengan berpikir kritis (critical thinking). Penggabungan proses berpikir sistem dan berpikir kritis dihasilkan solusi kreatif dari perihal yang dikaji.
Secara ringkas, kerangka pikir secara skematis pada Gambar 8 dengan tujuan memperjelas alur penelitian.
36
Gambar 8. Kerangka pikir penelitian
(Adaptasi konsep Sobirin 2006, Hernaus 2008, Fry 2003, WECD 1987) Kearifan masyarakat
dalam sistem pertanian
Pembiayaan
Lahan & Air Teknologi
Keberlanjutan pangan
Perubahan pesantren secara holistik
Model Transformasi Pesantren
Elemen dan Struktur Sistem
Paradigma baru bagi pesantren
SDM
Manajemen Tradisi
Keunggulan pesantren
Isu pangan Tuntutan pesantren masa depan
Pesantren ideal berkarakter mandiri, adil dan ekologi Strategi implementasi
Keberlanjutan pangan berbasis nilai spiritual, ekologis dan keshalihan sosial
Biofisik
Struktural Kultural
Tahapan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan soft system methodology (SSM) dengan 7 tahapan, yaitu: (1) identifikasi situasi permasalahan yang dihadapi; (2) mengekpresikan situasi permasalahan dalam bentuk rich picture (RP); (3) menyusun root definition (RD) yang sesuai dengan purposeful activity system (PAM); (4) merancang model konseptual dengan pendekatan sistem berdasarkan RD; (5) membandingkan model konseptual dengan situasi permasalahan yang ada; (6) pembahasan untuk perubahan yang diinginkan; dan (7) tindakan perbaikan sebagai solusi (Checkland 1981; Jackson 2003; Checkland & Poulter 2006; Shankar et al. 2009). Raharja (2009) juga menggunakan SSM untuk pengembangan model pengelolaan daerah aliran sungai. Proses pemodelannya teridentifikasi ciri-ciri tidak sistemik dan ciri-ciri organisasi yang mengalami ketidakmampuan belajar.
Perumusan definisi dasar persoalan, digunakan analisis CATWOE, yaitu: Customers, pihak-pihak yang akan diuntungkan atau dirugikan dari kegiatan pemecahan masalah;
Actors, pihak-pihak yang melaksanakan aktivitas pemecahan masalah; Transformation
process, aktivitas mengubah masukan menjadi keluaran; World view, pemahaman berbagai
pihak tentang makna yang mendalam atas situasi permasalahan; Owners, pihak yang dapat menghentikan aktivitas organisasi; Environmental constraints, hambatan dalam lingkungan sistem yang tidak dapat dihindari (Checkland & Poulter 2006; Raharja, 2009; Eriyatno & Larasati, 2013). Skema tahapan penelitian secara ringkas ditampilkan pada Gambar 9.
Gambar 9. Tahapan Penelitian Analisis Sistem
(IDI – FGD)