DAFTAR LAMPIRAN
2. TINJAUAN PUSTAKA Pesantren
Pengertian pesantren
Pesantren merupakan lembaga dan wahana pendidikan agama sekaligus sebagai komunitas santri yang “ngaji” ilmu agama Islam. Pesantren sebagai lembaga tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (Madjid 1997) sebab keberadaannya mulai dikenal di bumi Nusantara pada periode abad ke 13-17 M, dan di Jawa pada abad ke 15-16 M (Mastuhu 1994). Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri di bawah pimpinan kiai dan dibantu oleh ustaz yang berdomisili bersama-sama santri dengan masjid sebagai pusat aktivitas belajar mengajar, serta pondok atau asrama sebagai tempat tinggal para santri dan kehidupan bersifat kreatif, seperti satu keluarga (Mastuhu 1994, Dhofier 2011). Secara sederhana pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan Islam berasrama, dimana masjid menjadi pusat kegiatan dan kiai sebagai figur sentral. Pembahasan mengenai pesantren tidak hanya hitam dan putih sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga membahas akar filosofi pesantren, roh jihadnya, keilmuan, lingkunga, sistem pendidikan, manajemen SDM, sampai kemandiriannya (Okky 2013).
Kata “pesantren” berasal dari kata “santri” yang mendapat imbuhan “pe” dan akhiran “an” yang tertulis “pesantrian” dan untuk memudahkan penyebutannya diucapkan “pesantren”. Santri berasal dari kata “sastri” (bahasa Hindu) artinya “ahli kitab suci agama
Hindu” dengan asimilasi bahasa ke-Indonesiaan dan untuk membedakan pengertiannya maka dikatakanlah “santri” artinya “ahli kitab suci agama Islam” yang secara terminologis adalah “orang yang fokus belajar tentang ilmu pengetahuan agama Islam” (Mastuhu 1994, Depag 2004). Orang yang fokus belajar, dia harus konsen sehingga santri mutlak memiliki pondok, mesjid, dan kiai (ulama) sebagai guru spiritual. Inilah ciri khas pesantren sekaligus membedakan-nya dengan lembaga pendidikan Islam lainnya.
Terlepas dari asal kata pesantren, yang jelas ciri-ciri umum keseluruhan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang asli Indonesia, sebagai warisan budaya bangsa yang terus berkembang. Bahkan pada saat memasuki millennium ketiga ini menjadi salah satu penyangga yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia (Dhofier 2011).
Mastuhu (1994) menyebutkan belum ada rumusan secara tertulis mengenai pesantren. Dari hasil penelitiannya terhadap 6 pesantren, Mastuhu merumuskan bahwa tujuan pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhitmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat, menjadi pelayan masyarakat yang mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, meyebarkan agama atau menegakkan Islam dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia (Mastuhu 1994).
Elemen-elemen pesantren
Elemen-elemen pesantren meliputi: (1) pelaku: kiai, ustaz, santri dan pengurus; (2) sarana perangkat keras: masjid, rumah kiai, rumah ustaz, pondok, gedung sekolah, tanah untuk berbagai keperluan pesantren; dan (3) sarana perangkat lunak: tujuan, kurikulum,
10
sumber belajar (kitab, buku, cara belajar yang mencakup metode bandongan, sorongan, halaqah, dan menghafal), dan evaluasi belajar mengajar (Mastuhu 1994; Dhofier 2011).
Kiai merupakan elemen yang paling esensial dari sebuah pesantren. Kiai seringkali sebagai pendiri pesantren. Sudah sewajarnya bahwa pertumbuhan pesantren semata-mata tergantung pada kemampuan pribadi sang kiai. Kebanyakan kiai beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai suatu kerajaan kecil dimana kiai sebagai sumber mutlak dari kekuasaan dan kewenangan (power and authority). Tidak seorang pun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kiai (dalam lingkungan pesantrennya) kecuali kiai lain yang lebih besar pengaruhnya. Meskipun kebanyakan kiai tinggal di perdesaan, namun mereka dianggap dan menganggap diri memiliki posisi atau kedudukan yang menonjol baik tingkat lokal maupun nasional. Dengan demikian, mereka merupakan pembuat keputusan yang efektif dalam sistem kehidupan sosial, tidak hanya dalam kehidupan keagamaan tetapi juga soal-soal politik (Dhofier 2011).
Untuk menjadi seorang kiai, seorang calon harus berusaha keras melalui jenjang bertahap. Pertama, ia biasanya merupakan anggota keluarga kiai. Setelah menyelesaikan pelajarannya di berbagai pesantren, kiai pembimbingnya yang terakhir akan melatih mendirikan pesantrenya sendiri. Campur tangan kiai biasanya lebih banyak lagi, antara lain calon kiai dicarikan jodoh, dan diberikan didikan istimewa agar menggunakan waktu terakhirnya di pesantren khusus untuk mengembangkan bakat kepemimpinannya. Masyarakat biasanya mengharap seorang kiai dapat menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi kitab-kitab yang ia ajarkan, kiai akan semakin dikagumi.
Menurut tradisi, santri terdiri atas 2 golongan, yaitu santri mukim dan santri kalong. Santri mukim merupakan murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Santri kalong adalah murid yang berasal dari desa-desa sekitar pesantren, biasanya tidak menetap dalam pesantren. Dhofier (2011) menguraikan alasan seorang santri pergi dan menetap di suatu pesantren karena berbagai alasan, antara lain: ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam secara lebih mendalam di bawah bimbingan kiai yang memimpin pesantren; ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun hubungan dengan pesantren-pesantren terkenal; serta ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh kegiatan sehari-hari di rumah keluarganya.
Masjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dari pesantren. Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Para kiai menganggap masjid sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, menanamkan kedisiplinan santri, terutama dalam praktek sholat 5 waktu, khutbah, sholat Jumat dan pengajaran kitab- kitab klasik (Dhofier 2011). Seorang kiai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren biasanya diawali dengan mendirikan masjid di dekat rumahnya.
Pondok, asrama bagi santri, merupakan ciri khas tradisi pesantren yang membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjod yang berkembang kebanyakan wilayah Indonesia. Selain itu pondok sebagai penopang utama pesantren untuk dapat terus berkembang. Ada 3 alasan utama pesantren perlu dilengkapi dengan asrama (Dhofier 2011), yaitu:
(1). Kemasyuran seorang kiai dan kedalaman pengetahuan tentang Islam menarik santri-santri dari berbagai wilayah untuk datang dan menetap di dekat kediaman kiai dalam waktu yang lama
(2). Hampir semua pesantren berlokasi di perdesaan, yang tidak tersedia bangunan kost-kostan untuk menampung santri
(3). Ada sikap timbal balik antara kiai dan santri, santri menganggap seorang kiai sebagai bapaknya sendiri, sedang kiai menganggap santri sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa dilindungi.
Pentingnya pondok tergantung kepada jumlah santri yang menetap. Bagi pesantren besar, pondok terdiri atas beberapa blok tempat tinggal yang terorganisir ke dalam kelompok bagian. Santri tidak diijinkan untuk tinggal di luar komplek pesantren kecuali bagi santri yang berasal dari lingkungan sekitar. Keadaan kamar-kamar pondok biasanya sangat sederhana.
Pada masa lalu, pengajaran kitab Islam klasik merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utamanya adalah untuk mendidik calon-calon ulama. Sekarang, kitab-kitab klasik yang diajarkan pesantren digolongkan ke dalam 8 kelompok jenis pengetahuan: (1) nahwu (syntax) dan shorof (morfologi); (2) fiqh; (3) usul fiqh; (4) hadist; (5) tafsir; (6) tauhid; (7) tasawuf dan etika; serta (8) cabang lain seperti tarikh dan balaghah. Kitab-kitab tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang terdiri dari berjilid-jilid tebal. Semuanya digolongkan ke dalam 3 tingkatan, yaitu kitab dasar, tingkat menengah dan tingkat tinggi (Dhofier 2011).
Nilai-nilai yang mendasari pesantren dapat digolongkan menjadi 2 kelompok: (1) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak, bercorak fikih-susfistik, berorientasi pada kehidupan ukhrawi; dan (2) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relatif, bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan sehari- hari menurut hukum agama. Kedua kelompok ini memiliki hubungan vertikal. Kelompok pertama superior di atas kelompok nilai kedua, dan nilai kedua tidak boleh bertentangan dengan kelompok nilai pertama. Dalam hal ini, kiai menjaga kelompok nilai pertama, sedangkan ustaz dan santri menjaga kelompok nilai kedua. Hal inilah yang menjadi alasan kiai memiliki kekuasaan mutlak di pesantren (Mastuhu 1994).
Karakter Pesantren
Pesantren menganut sistem pendekatan holistik, artinya para pengasuh pesantren memandang bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan kesatupaduan atau lebur dalam totalitas kegiatan hidup sehari-hari. Bagi warga pesantren, belajar di pesantren tidak mengenal hitungan waktu. Dalam pandangan mereka, setiap peristiwa yang terjadi merupakan bagian dari keseluruhan dan selalu berhubungan satu dengan yang lainnya dan akhirnya pasti bertemu pada kebenaran Tuhan (Mastuhu 1994).
Sejak awal berdirinya, filosofi pesantren adalah medan perang, medan pelatihan dan pencetak generasi pejuang bukan sebuah kenikmatan apalagi fasilitas duniawi. Kiai tidak memungut biaya pendidikan bahkan awalnya kiailah yang menghidupi santri. Kiai tidak pernah memanggil santrinya untuk datang, tidak pernah menawarkan fasilitas pesantren. Sebagaimana diuraikan oleh Okky (2013):
“Pada mulanya ada seorang kiai yang mendirikan masjid di sebuah tempat. Lalu beberapa orang datang menemui sang kiai untuk meminta diajar, menuntut ilmu. Lama kelamaan, semakin banyak orang yang datang kepada kiai tersebut, sehingga
12
rumah kiai pun tidak mencukupi lagi untuk menampung mereka. Untuk itu atas inisiatif para santri sendiri, mereka mendirikan pemodokan di sekitar rumah kiai sebagai fasilitas pendidikan mereka sendiri.”
Dhofier (2011) menjelaskan bahwa banyak bukti menunjukkan perjuangan keras kiai dari bawah untuk mengembangkan pesantrennya, dan hanya kemudian mereka menjadi kaya. Dengan kata lain, proses atau jalan bagi pesantren untuk dapat memiliki sumber- sumber kekayaan yang cukup tidak hanya satu. Okky (2013) menambahkan kiai tidak akan pernah hanya memikirkan dunia. Akan tetapi kiai boleh saja kaya dengan syarat pesantren yang dikelolanya lebih kaya lagi untuk memajukan umat. Sebab fungsi pesantren adalah lembaga “mundzirul qaum” (pemberi peringatan kepada kaumnya). Fasilitas diberikan
setelah adanya kuantitas yang berkualitas. Dengan begitu untuk mendukung kehidupannya menurut Okky (20113), pesantren boleh mempunyai unit usaha ekonomi. Pesantren harus memiliki koperasi, punya perkebunan, lahan pertanian, peternakan, ataupun basis-basis ekonomi lainnya. Tapi semua itu bukan untuk kepentingan kiai pribadi melainkan untuk kemandirian pesantren.
Etik ekonomi para kiai meyakini bahwa kekayaan semata-mata milik Allah, yang dipegang oleh manusia itu adalah sebagai “amanat” (titipan) dari Allah. Kekayaan hanya boleh dibelanjakan hanya untuk kepentingan keagamaan. Dengan demikian para kiai beranggapan bahwa kekayaan tidak boleh dibelanjakan semata-mata hanya untuk kepuasan fisik (Dhofier 2013).
Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama dan tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Fikih adalah ilmu umum, karena dengan itu seharusnya santri bermuammallah. Matematika juga ilmu agama, karena dengan itu manusia tahu perhitungan tahun untuk penentuan waktu ibadah.
Sesuai dengan tujuan pesantren dan pendekatan holistik yang digunakan, serta fungsinya sebagai lembaga pendidikan, sosial dan agama, pesantren menganut prinsip- prinsip sebagai berikut (Mastuhu 1994):
(1) Theocentric, prinsip yang berpadangan bahwa semua kejadian berasal,
berproses, dan kembali kepada kebenaran Tuhan, semua kegiatan dan aktivitas merupakan bagian integral dari totalitas kehidupan;
(2) Sukarela dan mengabdi, semua kegiatan sebagai ibadah kepada Tuhan, sehingga penyelengaraan pesantren dilaksanakan secara sukarela dan mengabdi kepada sesama dalam rangka mengabdi kepada Tuhan;
(3) Kearifan, bersikap dan berperilaku sabar, rendah hati, patuh pada ketentuan hukum agama, mampu mencapai tujuan tanpa merugikan orang lain dan mendatangkan manfaat bagi kepentingan bersama;
(4) Kesederhanaan, identik dengan kemampuan bersikap dan berpikir wajar, proporsional dan tidak tinggi hati, dalam kehidupan sehari-hari sederhana dalam bertutur kata dan wajar dalam penampilan;
(5) Kolektivitas, menekankan kebersamaan dari pada individual, dengan memegang nilai: dalam hal hak orang mendahulukan kepentingan orang lain, dalam hal kewajiban orang harus mendahulukan kewajiban diri sendiri sebelum orang lain, dalam hal memutuskan pilihan orang harus memelihara hal-hal yang baik yang telah ada dan mengembangkan hal-hal baru yang baik;
(6) Mengatur kegiatan bersama, semua kegiatan dan aktivitas diatur secara bersama, diorganisasikan, sepanjang tidak menyimpang dari akidah syariah agama dan tata tertib pesantren, semua anggota bebas berpikir dan bertindak;
(7) Kebebasan terpimpin, berpijak pada ajaran bahwa semua mahluk pada ahkirnya tidak dapat keluar melampaui ketentuan sunnatullah, masing-masing manusia dilahirkan menurut fitrahnya dan masing-masing individu memiliki kecenderungannya sendiri-sendiri, namun mereka juga memiliki keterbatasan baik kultural maupun struktural. Oleh karena itu pesantren memberlakukan kebebasan dan keterikatan sebagai hal kodrati yang harus diterima dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya dalam kehidupan;
(8) Mandiri, mengatur dan bertanggung jawab atas keperluannya sendiri, namun tidak bertentangan dengan prinsip kolektivitas sebab ajarannya adalah saling menolong dan bekerjasama;
(9) Pesantren tempat mencari ilmu dan mengabdi, ilmu dipandang sebagai sesuatu yang suci, berpikir dalam kerangka keagamaan (semua peristiwa empiris dipandang dalam struktur relevansinya dengan ajaran agama);
(10)Tanpa ijazah, keberhasilan bukan ditandai oleh ijazah tetapi dengan prestasi kerja yang diakui oleh masyarakat umum dan direstui oleh kiai;
(11)Restu kiai, melakukan hal-hal yang berkenan di hadapan kiai. Konsep Transformasi
Transformasi pada hakikatnya merupakan proses perubahan ke arah lebih baik. Transformasi sering diartikan adanya perubahan atau perpindahan bentuk yang jelas. Adapun kata transformasi berasal dari dua kata dasar, ‘trans dan form.’ Trans berarti
melintasi (across), atau melampaui (beyond). Kata form berarti bentuk. Karena itu transformasi mengandung makna perpindahan, dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain yang melampaui perubahan rupa fisik luar saja.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), transformasi adalah sebuah kata benda yang berarti perubahan rupa baik dalam bentuk, sifat, fungsi dan sebagainya. Transformasi dalam bentuk kata kerja menjadi mentransformasikan, yang berarti mengubah rupa, bentuk (sifat, fungsi, dan sebagainya) dan juga berarti mengalihkan. Pengertian sama dijelaskan oleh kamus Advanced English-Indonesian Dictionary (1988) menjelaskan yang dimaksud transformation adalah perubahan bentuk dan dalam bentuk kata kerja mengubah bentuk. Selanjutnya, Oxford Learner’s Pocket Dictionary (1995) menyebutkan transform sebagai kata kerja adalah ”change completely the appearance or the character of”. Berarti perubahan bentuk penampilan atau karakter secara total.
Transformasi mengandung makna, perubahan bentuk yang lebih dari, atau melampaui perubahan bungkus luar saja.
Transformasi dalam ensiklopedi umum merupakan istilah ilmu eksakta yang kemudian diintrodusir ke dalam ilmu sosial dan humaniora, yang memiliki maksud perubahan bentuk dan secara lebih rinci memiliki arti perubahan fisik maupun nonfisik (bentuk, rupa, sifat, dan sebagainya). Istilah transformasi jika tanpa dikaitkan dengan sesuatu yang lain menurut Gunawan sebagaimana dikutip oleh Amin (1993), merupakan upaya pengalihan dari sebuah bentuk kepada bentuk yang lebih mapan. Sebagai sebuah proses, transformasi merupakan tahapan, atau titik balik yang cepat bagi sebuah makna perubahan. Pemakaian kata transformasi menjelaskan perubahan yang bertahap dan terarah tetapi tidak radikal.
Menurut Salim (2002), terdapat pembedaan dalam proses perubahan sosial. Dia membagi proses perubahan sosial menjadi dua; proses reproduksi dan proses transformasi.
14
Proses reproduksi adalah proses mengulang-ulang, menghasilkan kembali segala hal yang diterima sebagai warisan budaya dari nenek moyang kita sebelumnya. Dalam hal ini meliputi bentuk warisan budaya dalam kehidupan sehari-hari meliputi; material (kebendaan, teknologi), immaterial (non-benda, adat, norma, nilai-nilai). Sementara proses transformasi adalah suatu proses penciptaan suatu hal yang baru (something new) yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Salim menjelaskan yang berubah adalah apek budaya yang sifatnya material sedangkan sifatnya immaterial sulit sekali diadakan perubahan.
Perubahan selalu terjadi, disadari atau tidak. Begitu pula halnya dengan organisasi. Organisasi hanya dapat bertahan jika dapat melakukan perubahan. Setiap perubahan lingkungan yang terjadi harus dicermati karena keefektifan suatu organisasi tergantung pada sejauhmana organisasi dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Pada dasarnya semua perubahan yang dilakukan mengarah pada peningkatan efektivitas organisasi dengan tujuan mengupayakan perbaikan kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan serta perubahan perilaku anggota organisasi (Robbins 2003). Sobirin (2005) menyatakan ada 2 faktor yang mendorong terjadinya perubahan, yaitu faktor ekstern seperti perubahan teknologi dan semakin terintegrasinya ekonomi internasional serta faktor intern organisasi yang mencakup dua hal pokok yaitu (1) perubahan perangkat keras organisasi (hard system tools) atau yang biasa disebut dengan perubahan struktural, yang meliputi perubahan strategi, stuktur organisasi dan sistem serta (2) Perubahan perangkat lunak organisasi (soft system tools) atau perubahan kultural yang meliputi perubahan perilaku manusia dalam organisasi, kebijakan sumber daya manusia dan budaya organisasi. Setiap perubahan tidak bisa hanya memilih salah satu aspek struktural atau kultural saja sebagai variabel yang harus diubah, tetapi kedua aspek tersebut harus dikelola secara bersama-sama agar hasilnya optimal.
Proses transformasi
Konsep transformasi yang ditulis oleh Gouillert & Kelly (1995) bahwa model transformasi organisasi dieksplorasikan melalui pendekatan pada 4 kategori yang disebut dengan 4 R (Gambar 2), yaitu :
(1) Reframing, pada kategori ini akan terlihat terjadinya pergeseran konsep dalam hal pencapaian tujuan. Hal ini karena sering terjadi bahwa organisasi terhalang oleh pola pikir (mind set) yang membuat organisasi kehilangan kemampuan untuk mengembangkan mental model, dengan reframing diharapkan akan membuka pola pikir baru untuk pencapaian tujuan organisasi.
(2) Restructure, kategori ini sangat terkait dengan bentuk organisasi dan tingkat kompetisi sehingga akan tercipta bentuk organisasi yang diharapkan.
(3) Revitalization, kategori ini lebih merupakan sebuah usaha untuk mendorong pertumbuhan dari seluruh komponen organisasi dan tentu saja dengan pertimbangan kemampuan bersaing untuk mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal.
(4) Renewal, dimensi ini lebih berbicara mengenai pembaharuan organisasi yang sangat kental terkait dengan unsur SDM untuk mempercepat laju proses transformasi organisasi.
Gambar 2. Siklus proses transformasi Sumber: Gouillert & Kelly (1995); Collin & Poras (1996)
Keberlanjutan Pangan
Calgary memberikan definisi sistem pangan yang berkelanjutan sebagai suatu jaringan kolaboratif yang mengintegrasikan beberapa komponen untuk meningkatkan kondisi lingkungan, ekonomi dan kesejahteraan sosial suatu masyarakat. Sistem ini dibangun berdasarkan prinsip-prinsip untuk memajukan nilai-nilai ekologi, sosial dan ekonomi masyarakat dan daerah. Pothukuchi dan Kautman (1999) menggambarkan karakteristik sistem pangan berkelanjutan secara garis bawah sebagai berikut: (1) tahan, yang berarti handal dan tangguh untuk melakukan perubahan termasuk perubahan iklim, kenaikan harga energi, dan lainnya); (2) dapat diakses dan terjangkau bagi semua anggota masyarakat; (3) hemat energi; (4) penggerak perekonomian petani, seluruh masyarakat dan daerah; (5) sehat dan aman; (6) bermanfaat bagi lingkungan atau jinak; (7) kreatif menggunakan reklamasi air dan strategi konservasi untuk irigasi pertanian; (8) menyeimbangkan impor pangan dengan kapasitas lokal; (9) mengadopsi kebijakan regional yang sesuai praktek pertanian dan pillihan tanaman; (10) mengarah pada pertanian organik; (11) memberikan kontribusi untuk kesehatan masyarakat dan ekologi; (12) mempertahankan kualitas tanah dan lahan pertanian melalui daur ulang sampah organik; (13) mendukung multiple forms perkotaan serta produksi pangan perdesaan; (14) memastikan fasilitas pengolahan pangan tersedia bagi petani dan pengolah; (15) diakui melalui komunitas, pasar, restoran, dan sebagaimana; (16) mempertahankan keanekaragaman hayati di agro-ekosistem serta dalam pemilihan tanaman; (17) memiliki fokus pendidikan yang kuat untuk menciptakan kesadaran pangan dan masalah pertanian, dan (18) diperdagangkan secara wajar dengan memberikan upah yang adil bagi produsen dan pengolah lokal dan luar negeri.
16
Menurut United Kingdom pangan yang berkelanjutan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi dan terdiri dari 8 prinsip yang saling terkait, yaitu: (1) lokal dan musiman; (2) organik dan pertanian berkelanjutan; (3) kurangi makanan yang berasal dari hewan dan memaksimalkan standar kesejahteraan; (4) jenis ikan yang diidentifikasi beresiko; (5) produk fair-trade-bersertifikat; (6) mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan; (7) Demokrasi pangan; dan (8) pengurangan limbah dan kemasan.
Pangan dan pertanian berkelanjutan sebagai salah satu sistem yang mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah; melindungi dan meningkatkan ketersediaan dan kualitas air; melindungi keanekaragaman hayati; petani, buruh tani, dan semua aktor lainnya dalam rantai nilai memiliki pendapatan layak huni; makanan yang dimakan terjangkau dan meningkatkan kesehatan; bisnis yang berkelanjutan dapat berkembang; dan aliran energi dan pembuangan limbah, termasuk emisi gas rumah kaca, berada dalam kapasitas bumi untuk menyerap selamanya.
Sistem pangan yang berkelanjutan menurut USDA, menyatukan imperatif ekologi, sosial dan ekonomi, dan didasarkan pada hirarki tujuan dengan ciri-ciri: akses yang adil ke produk lokal dan tepat pada waktunya; akses terhadap produk lokal dan organik baik di pasar lokal dan supermarket; akses petani lokal ke pasar yang berbeda sepanjang tahun; memperkaya keanekaragaman hayati di semua tingkatan; mengurangi emisi gas rumah kaca; berkomitmen untuk perlakuan yang manusiawi dan mengurangi kesakitan semua hewan selama perlakuan; integrasi ke restoran, rumah sakit, sekolah dan lembaga-lembaga publik lokal.
Menurut British Commission on Sustainable Development (2003), sistem pangan berkelanjutan memiliki ciri antara lain: (1) menghasilkan produk aman dan sehat dalam menanggapi tuntutan pasar, dan memastikan bahwa semua para konsumen memiliki akses ke makanan bergizi, dan informasi yang akurat tentang produk makanan; (2) mendukung kelangsungan hidup dan keragaman ekonomi dan masyarakat pedesaan dan perkotaan; (3) mengaktifkan penghidupan yang layak bersumber dari pengelolaan lahan yang berkelanjutan, baik melalui pasar dan melalui pembayaran manfaat publik; (4) menghormati dan beroperasi dalam batas-batas biologis sumber daya alam (terutama tanah, air dan keanekaragaman hayati); (5) secara konsisten mencapai standar tinggi kinerja lingkungan dengan mengurangi konsumsi energi, meminimalkan input sumber daya, dan menggunakan energi terbarukan sedapat mungkin; (6) memastikan lingkungan kerja yang aman, higienis dan kesejahteraan sosial yang tinggi serta pelatihan untuk semua karyawan yang terlibat dalam rantai pangan; (7) secara konsisten mencapai standar tinggi kesehatan dan kesejahteraan hewan; (8) mempertahankan sumber daya yang tersedia untuk pertumbuhan pangan dan memasok manfaat umum lainnya.