• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode penelitian

Dalam dokumen Konflik Antara Pdam Duri Dan Pelanggannya (Halaman 37-44)

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Metode penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif dan wawancara. Penelitian kualitatif merupakan sebuah penelitian yang memusatkan perhatiannya kepada data dan memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas yang kemudian memunculkan teori baru yang lebih kompleks.

Metode penelitian kualitatif ini sangat cocok digunakan dalam penelitian yang kajiannya merupakan antropologi hukum. Dimana tulisan mengenai PDAM dan pelanggannya ini memfokuskan penelitian kajian mengenai konflik yang terjadi yang dilatar belakangi karena ketidaktersediaannya air. Teknik

pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian guna mendapat data-data dilapangan antara lain :

1.5.1 Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan pengamatan, yang melibatkan pengamat secara langsung dengan aktifitas-aktifitas lapangan yang akan ditelitinya. Di dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen penelitian yang paling utama, peneliti menggunakan dirinya sendiri untuk melakukan observasi untuk melengkapi data yang dibutuhkan. Dalam hal ini, penulis akan melakukan pengamatan baik itu secara tidak langsung seperti selalu memperhatikan kejadian-kejadian yang terjadi terkait dengan permasalahan kelangkaan air bersih yang sedang dihadapi oleh PDAM dan masyarakat Duri.

Dalam melakukan pengamatan, antropolog harus menempatkan posisinya di tengah-tengah persoalan, dimana pada hakikatnya bahwa antropolog harus bersifat netral dan tidak memihak pada siapapun. Hal ini akan menjaga kemurnian data yang diperoleh, sehingga peneliti mampu mendeskripsikan fenomena yang terjadi tanpa mengurangi kemurnian data dengan perasaan-perasaan atau identitas yang dimiliki oleh peneliti, atau yang dalam antropologi disebut dengan Emic view (native’s point of view).15

1.5.2 Wawancara

Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam topik tertentu.

Wawancara pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dilakukan seorang peneliti untuk memperoleh pemahaman secara holistik mengenai pandangan atau perspektif (inner perspectives) seseorang terhadap isu, tema atau topik tertentu.16

Penelitian ini berlokasi di tanah kelahiran penulis yaitu Kota Duri yang merupakan salah satu Ibu Kota Kecamatan Mandau, Kecamatan terluas di Kabupaten Bengkalis, Riau. Diawali dengan rasa kecintaan penulis sebagai orang Duri maka muncullah penelitian ini. Duri adalah kampung halaman penulis yang

Dalam penelitian mengenai kasus sengketa ini, peneliti akan menggunakan metode wawancara yang akan dilakukan dengan informan-informan yang menurut penulis mampu menjawab semua data yang dibutuhkan. Sebagai instrument utama, penulis harus mampu menjalin rapport (hubungan) yang baik dengan para informannya. Dengan menjalin hubungan baik dengan para informan, maka penulis akan lebih mudah untuk masuk kedalam permasalahan penelitian dengan melakukan wawancara ataupun wawancara mendalam dengan informan. Kedudukan informan dalam penelitian kualitatif adalah informan sebagai guru bagi penulis, yang akan menjelaskan tentang objek kajian yang akan diteliti oleh penulis.

Informan penelitian ini merupakan semua orang yang terkait dengan PDAM, masyarakat yang mengamati serta merasakan permasalahan kelangkaan air bersih, PT. CPI yang bekerja sama dengan PDAM, dan khususnya masyarakat yang menjadi pelanggan (langsung/tidak langsung) yang terikat dengan PDAM.

1.5.3 Rangkaian Pengalaman Penelitian di Lapangan

16

Sumber : Dawson (2009:27) yang dipaparkan lewat tulisan Prof.Dr.H. Mudjia Rahardjo dalam blog-nya tanggal 15 Juni 2012 (http://mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/400-hakikat-wawancara-dalam-penelitian-kualitatif.html)

dipenuhi dengan warna-warni budaya masyarakatnya sebagai tempat yang sangat ramai dikunjungi para calon urban. Ketertarikan yang membuatnya menjadi salah satu destinasi tempat tinggal dikarenakan banyaknya perusahaan yang bergerak dibidang Migas (Minyak dan Gas) yang beroperasi di wilayah ini. Tuntutan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi adalah sebagai alasan utama perpindahan penduduk ke Kota ini. Rasa kecintaan penulis ini disebabkan karena situasi lingkungan yang beraneka ragam yang menurut penulis saling menjaga toleransi antara satu dengan yang lainnya, meskipun pada dasarnya toleransi itu berbeda dengan apa yang ada didalam hati pemiliknya. Akan tetapi hubungan baik dengan para sahabat berbeda etnis dan keyakinan, serta sosialisasi yang baik dengan lingkungan menjadikan saya nyaman berada di antara keberagaman tersebut. Rasa kecintaan inilah yang kemudian mewujudkan keinginan saya untuk melakukan penelitian di wilayah ini.

Penelitian ini berjudul “Konflik Antara PDAM Duri dan Pelanggannya”. Salah satu alasan Penulis memilih topik ini adalah dikarenakan sulitnya memperoleh air bersih yang sudah dirasakan oleh Masyarakat Duri serta penulis sendiri. Hingga akhirnya PDAM muncul sebagai salah satu solusi yang melegakan hati masyarakat dalam pemenuhan kebutuhannya terhadap air bersih. Pengalaman-pengalaman pribadi tentang air inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menulis karya ilmiah ini. Topik mengenai air ini menjadi menarik menurut penulis ketika PDAM yang selama ini memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat (konsumen) tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan pelanggannya karena beberapa alasan yang dampaknya sangat merugikan pelanggan atau masyarakat.

Banyak sekali kendala yang penulis temui dalam mewujudkan karya ilmiah ini, dimulai dari perang terhadap diri sendiri mengenai keyakinan terhadap terwujudnya tulisan ini, hingga data yang sangat homogen sifatnya di tengah-tengah masyarakat Duri. Semuanya dilalui oleh penulis dengan penuh pergumulan, meskipun sebenarnya situasi ini disebabkan oleh pikiran-pikiran penulis sendiri.

Penelitian ini sebenarnya sudah penulis mulai ketika pertama kali Judul proposal untuk skripsi ini di Acc oleh bapak Ketua Jurusan Antropologi dengan Topik “Sengketa antara PDAM dengan PT. CPI”. Alasan penulis menaikkan judul ini karena apa yang penulis lihat di media cetak dan elektronik yang menyoroti tentang permasalahan kelangkaan air di masyarakat Duri akibat tidak mengalirnya air PDAM. Kelangkaan air ini justru dipicu oleh permasalahan internal PDAM itu sendiri. Hal ini terkait dengan kontrak kesepakatan kerja pada tahun 1994 dengan PDAM Duri melalui PDAM Pusat Kabupaten Bengkalis dan Pemerintah Daerah yang harusnya berakhir setelah 7 tahun masa kerja sama, namun masih berjalan hingga saat ini. Akan tetapi karena sedikitnya data yang mendukung tulisan ini serta sulitnya untuk “masuk” kedalam pihak swasta guna memperoleh data maka saya memutuskan untuk mencari tahu lagi apa yang sebenarnya akan menjadi masalah saya. Hingga akhirnya topik mengenai sengketa pun saya tinggalkan dan beralih ke topik mengenai Konflik ini.

Pada saat di Lapangan, sebagai warga Duri, penulis cukup tahu betul bagaimana respon masyarakat terhadap kinerja PDAM yang dianggap tidak memuaskan pelanggannya. Ketakutan penulis akan adanya bias dalam penelitian

ini pun mulai muncul seiring semakin banyaknya wawancara yang penulis lakukan dengan para warga di berbagai lokasi di Duri. Akan tetapi sebagai peneliti, penulis harus bersikap netral untuk menanggapi setiap informasi yang masuk pada penulis sehingga menghasilkan tulisan yang baik.

Dalam melihat sudut pandang PDAM itu sendiri penulis melakukan PKL (Praktek Kerja Lapangan) dadakan seperti yang biasa dilakukan oleh siswa atau mahasiswa magang disuatu instansi tertentu, dalam hal ini penulis melakukannya di Kantor PDAM Duri. Hampir lebih dari tiga minggu penulis berperan menjadi

karyawan PDAM yang menangani keluhan pelanggan akan kinerja PDAM yang

dinilai tidak baik. Berbagai jenis pelanggan yang masuk ke bagian hubla sering kali menjadi objek pengamatan penulis, berbagai ekspresi (luapan emosi) pelanggan akan ketidakterimaan terhadap apa yang diterimanya sebagai pelanggan merupakan data yang sangat mendukung tulisan ini.

Untuk mewawancarai pihak PDAM bukanlah sesuatu yang mudah bagi penulis, jawaban yang terkesan ditutup-tutupi tak jarang penulis temui ketika berbincang-bincang dengan karyawan PDAM. Kendala tersebut tak lantas menyurutkan niat penulis untuk melanjutkan tulisan ini, sebab data-data yang telah diperoleh oleh penulis sudah cukup menjelaskan bagaimana Konflik yang terjadi di antara keduanya.

Seiring dengan berjalannya percakapan dan candaan yang berlangsung dalam hubungan penulis dengan pihak PDAM maka tak jarang saya menyisipkan pertanyaan saya dalam tiap percakapan tersebut. Dan tak jarang juga penulis mendapatkan jawaban yang tanpa mereka sadari mengalir begitu saja terkait

dengan kinerja PDAM Duri ini. Misalnya ketika salah seorang dari pihak PDAM tersebut saya tanyai seputar artikel yang mereka pajangkan di mading HubLa ; “Bupati Minta PDAM Harus Mandiri”17

17

Terdapat dalam Koran Riau Pos, Judul : Bupati Minta PDAM Harus Mandiri, tanggal 11 Juni 2012 – 08.35 WIB

jawabannya justru menyalahkan pihak Pemda yang membiarkan PDAM sampai selama ini bergantung kepada pihak swasta. Masalah PDAM sebenarnya berakar pada ketiadaan sumber air baku yang hendak dikelola sendiri oleh PDAM dengan sarana dan prasarana milik sendiri yang selama ini semuanya difasilitasi oleh pihak Chevron. Berulangkali wacana mengenai pengadaan sumber air baku juga sudah pernah muncul seperti, Sungai Sekapas dan Sungai Jurong sebagai daerah destinasi sumber air baku tersebut namun sampai saat ini belum jua ter-realisasi.

Dalam dokumen Konflik Antara Pdam Duri Dan Pelanggannya (Halaman 37-44)

Dokumen terkait