• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.7 Metode Penelitian

Setiap penelitian bahasa memiliki tiga tahapan strategis, yaitu tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Pembagian itu dikatakan menurut tahapan strategisnya karena terkumpulnya data dan terolahnya data serta disajikannya hasil analisis data itu berturut – turut merupakan strategi yang kedua dan ketiga (Sudaryanto, 1984:30).

1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak. Metode simak yaitu cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun, 2006:90).

Untuk melaksanakan metode simak dipergunakan teknik tertentu, yaitu teknik catat. Tenik catat adalah kegiatan mencatat data yang telah diperoleh dalam kartu data (Sudaryanto, 1984:40).

1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode agih. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya ada di dalam dan merupakan bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto, 1993:15). Metode agih dengan teknik dasar bagi unsur langsung, dilanjutkan dengan teknik ganti (lihat Sudaryanto, 1993:48).

Teknik ganti digunakan untuk menganalisis data yang sama maknanya dengan makna yang ada dalam KBBI, seperti data di bawah ini.

(7) Tim yang diketuai Jopie Leepel dengan tiga pelatih kawakan, Tumpak Sihite, Max Pieters, dan Muhardi, ini juga sudah menentukan kriteria guna menjaring pemain terbaik. (Bola, 11/1/08/ 8)

Pada data (7) ditemukan metafora. Metafora itu adalah menjaring. Salah satu makna menjaring menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) adalah ‘ki menyeleksi’ (2005:460). Dilihat dari makna tersebut menjaring mempunyai arti ‘menyeleksi’. Pada data (7) menjaring dapat diganti dengan menyeleksi. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut

(7a) Tim yang diketuai Jopie Leepel dengan tiga pelatih kawakan, Tumpak Sihite, Max Pieters, dan Muhardi, ini juga sudah menentukan kriteria guna menyeleksi pemain terbaik.

Teknik lain dalam menganalisis data yaitu menggunakan teknik parafrasa (lihat Sudaryanto, 1993:83). Teknik parafrasa digunakan untuk menganalisis data yang maknanya tidak sama dengan makna yang ada dalam KBBI, seperti data di bawah ini.

(8) Bila Federer sudah kenyang makan asam garam dengan mengumpulkan 12 gelar grand slam, Djokoviv baru dalam tahap untuk mengejar titel grand slam meskipun kemampuannya dari hari ke hari makin baik. (Bola, 25/1/08/ 11) Pada data (8) ditemukan metafora. Metafora itu adalah kenyang makan asam garam. Makna kenyang makan asam garam, menurut KBBI adalah ‘ki pengalaman hidup, liku-liku hidup, suka duka dlm kehidupan’ (2005:69). Dilihat dari makna tersebut kenyang makan asam garam mempunyai makna kias yaitu ‘berpengalaman dalam

kehidupan’ dan mempunyai unsur makna pengalaman dalam kehidupan. Pada data (8) kenyang makan asam garam bukan bermakna pengalaman hidup karena data (8) berhubungan dengan dunia olah raga. Jadi kenyang makan asam garam pada data (8) mempunyai makna ‘berpengalaman bermain’. Hal itu terbukti dengan penggatian sebagai berikut:

(8a) Bila Federer sudah berpengalaman bermain dengan mengumpulkan 12 gelar grand slam, Djokoviv baru dalam tahap untuk mengejar titel grand slam meskipun kemampuannya dari hari ke hari makin baik.

Kata hidup diganti bermain. Hal itu untuk menunjukkan keberadaan metafora asam garam dengan konteks data (8).

Teknik lain dalam menganalisis data yaitu menggunakan teknik perluas (lihat Sudaryanto, 1993:37). Teknik perluas digunakan untuk menentukan metafora, dengan cara memperluas sebuah data. Seperti data di bawah ini

(9) Setahun kemudian, di turnamen yang sama, dia kembali ke babak akhir. Kali ini dia menantang Xia Xuanze (Cina). Namun, lagi-lagi dia tak mampu memecahkan telor menjadi juara All England. (Bola, 04/03/08/1).

Dalam data (9) untuk mengidentifikasi memecahkan telor merupakan metafora dapat dibandingkan dengan kalimat sebagai berikut

(10) Heru memecahkan telor ayam.

Data (10) menggunakan teknik perluasan dengan menambah kata ayam, sehingga data (10) memecahkan telor bukan metafora karena konteks data tersebut mengacu

pada telur ayam. Memecahkan telor pada data (9) berupa metafora karena memecahkan telor dapat diganti dengan kata berhasil. Berikut penggantiannya.

(9a) Setahun kemudian, di turnamen yang sama, dia kembali ke babak akhir. Kali ini dia menantang Xia Xuanze (Cina). Namun, lagi-lagi dia tak mampu berhasil menjadi juara All England.

Metode lain yang digunakan dalam analisis data yaitu metode padan. Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:13). Pada penelitian ini digunakan metode padan referensial. Metode padan referensial yaitu metode yang menggunakan alat penentunya berupa referen bahasa (Sudaryanto, 1993:14). Berikut contoh analisis data menggunakan metode padan referensial.

(11) Konsentrasi pencarian Lazio terpusat pada kiper dan striker. Si Elang memang membutuhkan portiere baru.(Bola, 1/1/08/7)

Makna elang, menurut KBBI adalah ‘burung buas yang mempunyai daya penglihatan tajam, paruhnya bengkok dan cengkeramannya kuat, menangkap mangsanya dengan menyambar’ (2005 : 292). Dilihat dari makna tersebut, kata elang mempunyai unsur makna burung (hewan), perkasa, dan mahir menyambar (dalam menangkap mangsanya).

Makna elang tersebut digunakan untuk memetaforakan Lazio (tim sepak bola dari Italia) dengan sebutan Si Elang. Referen elang yang ditunjuk oleh kata elang dalam data (11) dipadankan dengan hal tertentu-dalam hal ini tim sepakbola

Lazio-yang memeliki gambaran seperti referen elang dan mempunyai lambang bendera bergambarkan elang. Hal itu terbukti dengan penggantian berikut

(11a) Konsentrasi pencarian Lazio terpusat pada kiper dan striker. Lazio memang membutuhkan portiere baru.

Data (11a) menyatakan bahwa julukan Lazio adalah Elang. Hal itu dapat diperoleh dari pemahaman makna yang tersusun dari konteks penggunaan satuan lingual tersebut. Jelaslah dalam data (11) yang dimaksud Elang bukanlah burung karena ungkapan itu digunakan dalam pernyataan yang berkaitan dengan konteks dunia persepakbolaan. Tampak dalam contoh itu hubungan antara kata Lazio, kiper, dan striker. Dari keadaan itu dapat dikatakan bahwa Si Elang merupakan metafora yang mengiaskan Lazio sebagai suatu tim dalam dunia olah raga.

1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Hasil analisis data disajikan secara informal dan formal. Metode penyajian informal adalah perumusan hasil analisis data dengan kata-kata biasa, dengan terminologi yang bersifat teknis (Sudaryanto, 1993:145). Penyajian hasil analisis data secara informal karena peneliti menyajikan hasil analisis dengan kata-kata biasa.

Metode penyajian formal adalah perumusan analisis data dengan tanda dan lambang (Sudaryanto, 1993:145). Penyajian hasil analisis data secara formal berupa diagram dan tabel.

Dokumen terkait