SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Oleh
Natalis Candra Setyawan NIM: 044114017
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
i SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Oleh
Natalis Candra Setyawan NIM: 044114017
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu
dan menjadi seorang saudara
dalam kesukaran
(Amsal 17:17)
Kupersembahkan kepada:
1.
Bapak dan ibuku
vii
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Metafora dalam Tabloid Bola Edisi Januari-Maret 2008” disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana S-1 di Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya kebaikan, bantuan, dan dukungan baik secara material maupun spiritual dari berbagai pihak. Kebaikan,
bantuan, dan dukungan tersebut senantiasa hadir dalam kehidupan penulis terutama saat menjalani perkuliahan di Universitas Sanata Dharma.
Oleh karena itu, perkenankan penulis menyampaikan terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu dan memperlancar proses penulisan skripsi ini. 1. Bapak Drs. Hery Antono, M.Hum., selaku pembimbing I yang dengan
sabar dan penuh perhatian memberi dorongan, masukan, dan kritikan kepada penulis.
2. Bapak Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., selaku pembimbing II yang
telah memberi masukan kepada penulis dengan penuh perhatian.
3. Bapak Drs. B. Rahmanto, M.Hum., Bapak Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum.,
Bapak Drs. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Bapak Drs. F.X Santosa, M.S., Ibu S.E Peni Adji, S.S., M.Hum., dan Ibu Dra. Tjandrasih Adji, M.Hum. atas bimbingannya selama penulis menjalani studi di Universitas Sanata
viii
peminjaman buku dan tabloid yang diperlukan penulis serta fasilitas komputer yang membantu penulis dalam pengetikan skripsi ini.
6. Bapak T. Martin dan Ibu Chatarina Sri Wahini yang selalu mendoakan,
memberi semangat, dukungan, dan usaha keras untuk memenuhi kebutuhan penulis selama studi di Yogyakarta.
7. Adik-adikku, Wulan Daru Agustina dan Nia Dewi Nugrahaningrum yang selalu memberi dukungan kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.
8. Heti Susilo Asih yang telah memberikan semangat, dorongan, dan cinta kasih kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.
9. Teman-teman Sastra Indonesia angkatan 2004 yang telah memberikan arti
sebuah persahabatan dan kesatuan dalam studi di Universitas Sanata Dharma.
10.Teman-teman KKN Cangkring yang telah memberi semangat dalam penulisan skripsi.
11.Pengurus dan jemaat GITJ Jepara Pepanthan Yogyakarta yang selalu
ix membantu penyelesaian skripsi ini.
Penulis telah berusaha dengan semaksimal mungkin dalam menyusun skripsi ini, namun penulis menyadari skripsi ini jauh dari sempurna. Penulisan ini masih
memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan skripsi ini.
x
Skripsi ini membahas metafora dalam Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008. Tujuanya adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis metafora dalam Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008 dan (2) mendeskripsikan bentuk satuan lingual metafora dalam Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak. Metode simak adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa yang disimak dalam penelitian ini pemakaian metafora dalam Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008. Metode ini diterapkan dengan teknik catat, yaitu kegiatan mencatat data yang telah diperoleh dalam kartu data.
Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode agih dan metode padan referensial. Metode agih diterapkan dengan teknik dasar bagi unsur langsung, dilanjutkan dengan teknik ganti dan teknik parafrasa. Teknik ganti digunakan untuk menganalisis data yang makna kiasnya sama dengan makna kias dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005), dan teknik parafrasa digunakan untuk menganalisis data yang maknanya tidak sama dengan makna yang ada dalam KBBI. Metode padan referensial digunakan untuk menganalisis data yang maknanya belum terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005).
xi
xii
This research discussed metaphors in Bola tabloid, January-March 2008 edition. The purpose of conducting this research was (1) to describe the kinds of metaphor in Bola magazine and (2) to describe metaphor’s unit of language in Bola magazine.
Data gathering technique that was used was identification method. It was conducted by identifying the use of language. The use of language that was analyzed in this research was the use of metaphor in Bola tabloid, January-March 2008 edition. This method was applied by note technique, which is an activity of noting data that was founded in data card.
Method that was used in analyzing the data was distributional method and referential method. Distributional method was applied with segmenting immediate constituents technique. It was continued by change technique and paraphrase technique. Change technique was used to analyze the data, which intrinsic meaning was the same with the extrinsic founded in Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI), while paraphrase technique was used to analyze the data, which meaning is not the same with what is found in KBBI. Referential method was used to analyze the data which meaning is not yet found in KBBI.
Results of this research were in the form of descriptions on the kinds of metaphor. They were metaphors, which meaning were not found in KBBI and metaphors, which meaning were not yet found in the KBBI. Besides, the unit of language that formed the metaphor in Bola tabloid, January-March 2008 edition involved: Polymorphism words, monomorpheme words, phrase and clause.
xiv
HALAMAN JUDUL ……… i
HALAMAN PENGESAHAN PEMBINBING ……… ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ……… iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ……….. iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……… v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ……….. vi
KATA PENGANTAR ……….. vii
ABSTRAK ………. x
ABSTRACT ……… xii
DAFTAR ISI ………. xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ……….. 1
1.2Rumusan Masalah ……… 4
1.3Tujuan Penelitian ………. 4
1.4Manfaat Hasil Penelitian ……… 5
1.5Tinjauan Pustaka ………. 5
1.6Landasan Teori ……… 7
xv
1.6.5Medan Makna ……… …… 9
1.6.6Gaya Bahasa ……….. 10
1.6.7Metafora ………... 10
1.6.8Kata ……….. 11
1.6.9Frase ……….. …. 11
1.6.10 Klausa ………. 12
1.6.11 Bahasa Jurnalistik ……….. 12
1.7Metode Penelitian ……… 13
1.7.1Metode dan Teknik Pengumpulan Data ……… 13
1.7.2Metode dan Teknik Analisis Data ………. …... 13
1.7.3Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data ……… 17
1.8Sistematika Penyajian ………. 17
BAB II JENIS-JENIS METAFORA DALAM TABLOID BOLA EDISI JANUARI-MARET 2008 2.1 Pengantar ……… 19
xvi dengan Makna Kias
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga (2005)……….. 19
2.2.2 Metafora dalam Tabloid Bola Edisi Januari-Maret 2008 Makna Kiasnya Tidak Sama dengan Makna Kias dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) ……….. 34
2.3 Metafora dalam Tabloid Bola Edisi Januari-Maret 2008 yang Maknanya Belum Terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005)… 38
2.3.1 Metafora Julukan ………. 38
2.3.2 Metafora Tempat ………. 43
2.3.3 Metafora Nama Daerah ……… 44
2.3.4 Metafora Energi ……… 49
2.3.5 Metafora Tindakan ……… 50
2.3.6 Metafora Profesi ……….. 54
xvii
DALAM TABLOID BOLA EDISI JANUARI-MARET 2008 3.1 Pengantar ……….. 61 3.2 Bentuk-Bentuk Satuan Lingual Metafora
yang Maknanya Sudah Terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga (2005)………. 61 3.2.1 Metafora Berbentuk Kata ……… 61 3.2.1.1 Metafora Berbentuk
Kata Monomorfemik ………. 62 3.2.1.2 Metafora Berbentuk
Kata Polimorfemik………. …… 62
3.2.2 Metafora Berbentuk Frase ……… 63 3.2.3 Metafora Berbentuk Klausa ………. 64
3.3 Bentuk-Bentuk Satuan Lingual Metafora yang Maknanya Belum Terdapat dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga (2005) ………..……… 65 3.3.1 Metafora Berbentuk Kata………. 65
xviii
3.3.2 Metafora Berbentuk Frase ……….. 67 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
3.1Kesimpulan ……….. 70
3.2Saran ………. 71
TABEL DAN DIAGRAM
Diagram 1. Metafora yang makna kiasnya
sama dengan makna kias dalam KBBI……… 33 Tabel 1. Perbedaan Makna Kias yang
Ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005)
dengan Makna Kias Berdasarkan Konteks …….. 37
Tabel 2. Kaitan Metafora dan Pihak yang Dijuluki ……… 43 Tabel 3. Bentuk-Bentuk Satuan Lingual Metafora
yang Maknanya Sudah Terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga (2005) ………..……… 65
Tabel 4. Bentuk-Bentuk Satuan Lingual Metafora yang Maknanya Belum Terdapat
1 1.1Latar Belakang
Hubungan dalam masyarakat tidak terlepas adanya sebuah komunikasi. Dalam hubungan ini, pesan yang akan disampaikan oleh setiap peserta komunikasi
diwujudkan dalam kode-kode tertentu, yaitu dalam bentuk lisan dan tulis. Komunikasi dapat berjalan baik bila pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan
baik pula. Hubungan komunikatif yang demikian disebut peristiwa bahasa (Tarigan, 1987:8).
Bahasa sering digunakan untuk mengukapkan sesuatu hal, baik itu secara
langsung atau pun tidak langsung. Bahasa secara langsung merupakan penyampaiam bahasa yang langsung berdasarkan makna yang ingin disampaikan atau bermakna leksikal, sedangkan bahasa tidak langsung merupakan bahasa yang digunakan untuk
menyampaikan hal dengan menggunakan bahasa kias (Sri Utami, 2004:1).
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara
langsung, makna metafora adalah makna kias. Metafora memegang penting dalam menentukan hubungan antara pengetahuan manusia dengan dunia yang ingin dinyatakan (Keraf, 1984:139). Menurut Kridalaksana (1993:136) metafora adalah
Metafora juga terdapat dalam ragam jurnalistik seperti di dalam Tabloid Bola.
Metafora digunakan di dalam ragam jurnalistik karena untuk menarik dan memperindah bahasa jurnalistik. Menurut Rahardi (2006:21) bahasa dalam jurnalistik
harus memiliki sifat-sifat khusus atau ciri-ciri khas, seperti harus singkat, padat, sederhana, lugas, jelas dan menarik.
Bertolak dari hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti metafora dalam
Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008. Peneliti memilih Tabloid Bola karena tabloid tersebut sudah mencakup Pulau Jawa, Sumatra, Bali, dan NTB. Selain itu, Tabloid
Bola mempunyai tiras yang sangat tinggi. Peneliti akan meneliti jenis-jenis metafora berdasarkan maknanya yang sudah terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) dan maknanya tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga (2005) serta bentuk-bentuk satuan lingual metafora dalam Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008.
Hal pertama yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah jenis-jenis metafora
yang maknanya sudah terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) ataupun metafora yang maknanya tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga (2005). Perhatikan data berikut.
(1) Tim yang diketuai Jopie Leepel dengan tiga pelatih kawakan, Tumpak Sihite, Max Pieters, dan Muhardi, ini juga sudah menentukan kriteria guna menjaring pemain terbaik. (Bola, 11/1/08/ 8)
Pada data (1) ditemukan metafora, yaitu menjaring. Salah satu makna menjaring menurut KBBI adalah ‘ki menyeleksi’ (2005:460). Dilihat dari makna tersebut
menyeleksi karena kata menjaring biasanya digunakan untuk menjaring ikan. Pada
konteks ini ada perpindahan makna yang semula menjaring digunakan untuk mengambil ikan tetapi pada data (1) menjaring digunakan untuk menyeleksi pemain.
Pada data (1) menjaring dapat diganti dengan menyeleksi.
(2) Konsentrasi pencarian Lazio terpusat pada kiper dan striker. Si Elang memang membutuhkan portiere baru.(Bola, 1/1/08/7)
Makna elang, menurut KBBI adalah ‘burung buas yang mempunyai daya penglihatan tajam, paruhnya bengkok dan cengkeramannya kuat, menangkap mangsanya dengan
menyambar’ (2002 : 292). Dilihat dari makna tersebut, kata elang mempunyai unsur makna burung (hewan), perkasa, dan mahir menyambar (dalam menangkap
mangsanya).
Makna elang tersebut digunakan untuk memetaforakan Lazio (tim sepak bola dari Italia) dengan sebutan Si Elang. Lambang bendera Lazio bergambarkan elang,
sehingga Lazio dijuluki Si Elang.
Metafora juga terbentuk oleh beberapa satuan lingual seperti kata, frase, dan
klausa. Berikut contoh metafora yang terbentuk oleh kata, frase dan klausa.
(3) Tottenham mendatangkan Huddlestone dari Derby Country pada Juli 2005. Tom, yang saat itu berusia 18 tahun, pindah ke White Hart Line dengan nilai tranfer 2,5 juta pound (Rp 46,5 miliar). Namun, pihak Spurs menganggapnya masih terlalu hijau untuk dipromosikan ke tim utama guna mendampingi Edgar Davids atau Michael Carrick. (Bola, 8/1/08/ 12)
Pada data (3) di atas, ditemukan metafora hijau,. Metafora ini merupakan satuan
Pada data berikut ditemukan juga metafora yang berbentuk satuan lingual
berupa klausa.
(4) Fergie pun menegaskan ia tidak akan menganakemaskan siapa pun dari pemainnya untuk tampil di final.(Bola, 20/6/08/hlm.12)
1.2Rumusan Masalah
Peneniti merumuskan masalah penelitiannya sebagai berikut:
1. Apa saja jenis metafora dalam Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008 berdasarkan makna yang sudah terdapat dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga (2005) dan makna yang tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005)?
2. Apa saja bentuk satuan lingual metafora yang terdapat dalam Tabloid Bola
edisi Januari-Maret 2008?
1.3Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan jenis-jenis gaya bahasa metafora dalam Tabloid Bola
edisi Januari-Maret 2008 berdasarkan makna yang sudah terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) dan makna yang tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005).
1.4Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini berupa metafora yang maknanya sudah terdapat dalam KBBI dan metafora yang maknanya tidak terdapat dalam KBBI serta
bentuk-bentuk satuan lingual yang membentuk-bentuk metafora. Penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan sumbangan terhadap studi linguistik dalam bidang semantik dan sintaksis, dalam bidang sintaksis, penelitian ini dapat
memperkaya kajian bentuk satuan lingual metafora. Manfaat praktis penelitian ini dapat membantu pembaca dalam memahami bentuk-bentuk satuan lingual.
Penelitian ini juga dapat memperkaya kajian tentang metafora dalam bidang olah raga. Manfaat praktis dapat membantu pembaca untuk memahami metafora berdasarkan konteks yang membentuknya. Manfaat lain yaitu di bidang
leksikografi tentang metafora yang tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
1.5Tinjauan Pustaka
Sri Utami (2004) dalam skripsinya “ Metafora dalam novel Jendela – Jendela,
Pintu, dan Atap karya Fira Basuki Tinjauan Semantik dan Pragmatis”: membagi jenis – jenis metafora berdasarkan leksem yang menbentuknya menjadi enam, yakni metafora antropomorfis, metafora binatang, metafora sinestetik, metafora
antropomorfis dan binatang, metafora tumbuhan, dan metafora ukuran. Metafora antropomorfis merupakan metafora yang menghubungkan dengan manusia. Hal – hal
dan segala perasaannya. Metafora binatang adalah metafora yang berhubungan
dengan sifat – sifat binatang. Kegiatan atau segala hal yang berhubungan dengan binatang dapat diasosiasikan untuk membentuk metafora binatang. Metafora binatang
muncul akibat pemilihan kata – kata diambil dari kegiatan yang biasa dilakukan binatang atau hal yang berhubungan unsur binatang.
Metafora sinestika ialah metafora yang didasarkan pada perubahan indera satu
ke indera yang lain. Metafora sinestetik diklasifikasikan berdasarkan perubahan indera yang terjadi dalam metafora tersebut. Metafora antropomorfis dan binatang
adalah metafora yang leksem pembentuknya berhubungan dengan manusia dan binatang. Segala sesuatu yang bisa dilakukan manusia ataupun binatang termasuk dalam metafora ini. Metafora tumbuhan adalah metafora yang berhubungan dengan
tumbuhan. Hal – hal yang berhubungan dengan berbagai tumbuhan , misalnya bagian – bagian dari tumbuhan dalam metafora ini. Metafora ukuran adalah metafora yang berhubungan dengan ukuran. Hal – hal yang berhubungan dengan ukuran seperti
berat, ringan, panjang, pendek, dan sebagainnya.
Maya Meliawati (2000) dalam skripsinya “Metafora dalam Kumpulan Sajak
Potret Pembangunan dalam Puisi Karya Rendra dan Implementasinya sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di SMU”, mengkaji bahwa metafora merupakan ungkapan sesuatu dengan perantaraan benda lain atau menyatakan sesuatu sebagai hal yang
sama atau seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Metafora ini terdiri dari dua term atau dua bagian yaitu term pokok dan term kedua. Term pokok disebut
dibandingkan dan term kedua atau vehicle adalah hal yang dipergunakan sebagai
pembanding. Metafora yang langsung menyebutkan term pokok atau tenor disebut metafora implicit. Disamping itu, ada metafora yang disebut metafora mati, yaitu
metafora yang sudah klise sehingga tidak dikenal lagi sebagai metafora.
Pada penelitian ini metafora dibagi menjadi dua yaitu metafora yang maknanya terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) dan
metafora yang maknanya belum terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005).
1.6Landasan Teori
Dalam landasan teori ini dipaparkan tentang makna leksikal, makna kias,
referen, konteks, gaya bahasa, metafora, satuan lingual berupa kata, frase, dan klausa. 1.6.1 Makna Leksikal
Makna leksikal adalah Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan
referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer, 1990:62). Berikut contoh
makna leksikal pada kata merumput. (5) Ayah sedang merumput di sawah.
Makna kata merumput dalam KBBI mempunyai arti ‘menyambit rumput’ (2005:969).
Sementara itu Kridalaksana (1993:133) berpendapat makna leksikal adalah
makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa dan lain-lain;makna leksikal ini dipunyai unsur-unsur bahasa lepas dari penggunaannya atau konteksnya.
Dari pengertian di atas, makna leksikal adalah makna yang sebenarnya atau makna yang mempunyai referen dengan hasil penglihatan.
1.6.2 Makna Kias
Semua bentuk bahasa (baik kata, frase, maupun kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut makna
kias (Chaer, 1990:79). Makna kias menurut Kridalaksana (1993:132) adalah pemakaian kata dengan makna yang tidak sebenarnya.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna kias
merupakan makna yang tidak merujuk pada makna yang sebenarnya. 1.6.3 Referen
Menurut Lyons (via Brown, 1996:28) referen adalah hubungan yang ada
antara kata-kata dan barang-barang adalah hubungan referensi: kata-kata mengacu pada (refer to) barang-barang. Menurut Kridalaksana (1993:186) Referen adalah
unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa:mis. benda yang kita sebut ‘rumah’ adalah referen dari rumah.
Kedua pendapat mengenai referen di atas peneliti menggunakan pendapat
1.6.4 Konteks
Kontek adalah 1. Aspek-aspek lingkungan fisik atau sosial yang kait-mengait dengan ujaran tertentu; 2. Pengetahuan yang sama-sama dimiliki pembicara dan
pendengar sehingga pendengar paham akan apa yang dimaksud pembicara (Kridalaksana, 1993:120).
Konteks adalah satu situasi yang terbentuk karena terdapat setting, kegiatan,
dan relasi. Jika terjadi interaksi antara tiga komponen itu, maka terbentuklah konteks (Parera, 2004:227).
Pengertian tentang konteks dapat disimpulkan bahwa konteks merupakan hubungan yang saling kait mengkait dalam sebuah ujaran, pengetahuan yang sama-sama dimiliki pembicara dan pendengar sehingga pendengar paham akan apa yang
dimaksud pembicara. 1.6.5 Medan Makna
Medan makna adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang
menggambarkan bagian bidang kehidupan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan
(Kridalaksana, 1993:134).
Medan makna adalah satu jaringan asosiasi yang rumit berdasarkan pada similaritas/kesamaan, kontak/hubungan, dan hubungan-hubungan asosiatif dengan
penyebutan satu kata (Parera, 2004:138).Dapat disimpulkan dari berbagai pendapat bahwa medan makna adalah penyebutan sebuah kata yang maknanya saling
1.6.6 Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya
bahasa harus mengandung tiga unsur berikut: Kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf, 1981:113).
Menurut Tarigan (1985:5) gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu
penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk menyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca.
Jenis-jenis gaya bahasa yaitu gaya bahasa pertentangan, gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertautan, dan gaya bahasa perulangan. Gaya bahasa metafora termasuk gaya bahasa perbandingan.
1.6.7 Metafora
Menurut Tarigan (1985:15) metafora merupakan sejenis gaya bahasa perbandingan yang sangat singkat, jelas, dan tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua
gagasan, yang satu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi objek dan yang satu lagi merupakan pembanding antara dua hal atau benda untuk menciptakan suatu
leksem mental yang hidup walaupun tidak dinyatakan secara ekplisit dengan penggunaan kata – kata seperti, ibarat, bak, sebagai, umpama, laksana, penaka,
serupa seperti pada perumpamaan ( Dale dalam Tarigan, 1985:15)
Metafora adalah semacam anlogi yang membandingkan dua hal secara
langsung, tetapi bentuk yang singkat (Keraf, 1984:139).
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metafora adalah salah satu
gaya bahasa yang membandingkan hal yang satu dengan hal yang lain tanpa menggunakan kata pembanding dan mempunyai makna kias.
1.6.8 Kata
Kata adalah 1. Morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas;2.
Satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (mis. batu, rumah, datang, dsb) atau gabungan morfem (mis. pejuang, mengikuti, pancasila, mahasiswa dsb) (Kridalaksana, 1993:98). Menurut Ramlan (1980:12) Kata ialah
bentuk bebas yang paling kecil atau dengan kata lain, setiap satu bentuk bebas merupakan kata. Jadi, kata dapat disimpulakan yaitu satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri, terjadi morfem tunggal atau gabungan morfem.
1.6.9 Frase
Frase ialah suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih,
baik dalam bentuk sebuah pola dasar kalimat maupun tidak (Parera, 1988:32). Sementara Kridalaksana (1993:59) berpendapat frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif; gabungan itu dapat rapat, dapat renggang; mis.
1.6.10 Klausa
Klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subyek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi
kalimat (Kridalaksana, 1993:110). Berikut contoh klausa yang terdiri dari subyek dan predikat.
(6) Ibu pergi. S P
Klausa dijelaskan sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari P, baik disertai
S, O, PEL, dan KET ataun tidak. Dengan ringkas, klausa adalah (S) P (O) (PEL) (KET) (Ramlan, 1981:62).
Dari pengertian di atas klausa adalah kelompok kata yang mempunyai predikat, karena predikat merupakan inti dari sebuah kalimat.
1.6.11 Bahasa Jurnalistik
Kalimat jurnalistik yang baik mempunyai ciri yang enak dan terus mengalir, bersifat lugas dan tegas, padat dan tidak berbelit, cermat, sehingga orang merasa
mudah menangkap makna atau memahami maksudnya (Rahardi, 2006:5).
Masih menurut Rahardi (2006:21) bahasa dalam jurnalistik harus memiliki sifat-sifat khusus atau ciri-ciri khas, seperti harus singkat, padat, sederhana, lugas,
jelas dan menarik.
Bertolak dari hal tersebut, peneliti menemukan gaya bahasa metafora yang
yang maknanya sudah terdapat dalam KBBI dan metafora yang maknanya tidak
terdapat dalam KBBI. 1.7 Metode Penelitian
Setiap penelitian bahasa memiliki tiga tahapan strategis, yaitu tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Pembagian itu dikatakan menurut tahapan strategisnya karena terkumpulnya data dan
terolahnya data serta disajikannya hasil analisis data itu berturut – turut merupakan strategi yang kedua dan ketiga (Sudaryanto, 1984:30).
1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak. Metode simak yaitu cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan
menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun, 2006:90).
Untuk melaksanakan metode simak dipergunakan teknik tertentu, yaitu teknik catat. Tenik catat adalah kegiatan mencatat data yang telah diperoleh dalam kartu data
(Sudaryanto, 1984:40).
1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode agih. Metode agih
adalah metode analisis data yang alat penentunya ada di dalam dan merupakan bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto, 1993:15). Metode agih dengan teknik dasar
Teknik ganti digunakan untuk menganalisis data yang sama maknanya dengan makna
yang ada dalam KBBI, seperti data di bawah ini.
(7) Tim yang diketuai Jopie Leepel dengan tiga pelatih kawakan, Tumpak Sihite, Max Pieters, dan Muhardi, ini juga sudah menentukan kriteria guna menjaring pemain terbaik. (Bola, 11/1/08/ 8)
Pada data (7) ditemukan metafora. Metafora itu adalah menjaring. Salah satu makna menjaring menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) adalah ‘ki
menyeleksi’ (2005:460). Dilihat dari makna tersebut menjaring mempunyai arti ‘menyeleksi’. Pada data (7) menjaring dapat diganti dengan menyeleksi. Hal itu
terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(7a) Tim yang diketuai Jopie Leepel dengan tiga pelatih kawakan, Tumpak Sihite, Max Pieters, dan Muhardi, ini juga sudah menentukan kriteria
guna menyeleksi pemain terbaik.
Teknik lain dalam menganalisis data yaitu menggunakan teknik parafrasa (lihat Sudaryanto, 1993:83). Teknik parafrasa digunakan untuk menganalisis data
yang maknanya tidak sama dengan makna yang ada dalam KBBI, seperti data di bawah ini.
(8) Bila Federer sudah kenyang makan asam garam dengan mengumpulkan 12 gelar grand slam, Djokoviv baru dalam tahap untuk mengejar titel grand slam meskipun kemampuannya dari hari ke hari makin baik. (Bola, 25/1/08/ 11) Pada data (8) ditemukan metafora. Metafora itu adalah kenyang makan asam garam.
Makna kenyang makan asam garam, menurut KBBI adalah ‘ki pengalaman hidup, liku-liku hidup, suka duka dlm kehidupan’ (2005:69). Dilihat dari makna tersebut
kehidupan’ dan mempunyai unsur makna pengalaman dalam kehidupan. Pada data
(8) kenyang makan asam garam bukan bermakna pengalaman hidup karena data (8) berhubungan dengan dunia olah raga. Jadi kenyang makan asam garam pada data (8)
mempunyai makna ‘berpengalaman bermain’. Hal itu terbukti dengan penggatian sebagai berikut:
(8a) Bila Federer sudah berpengalaman bermain dengan mengumpulkan 12
gelar grand slam, Djokoviv baru dalam tahap untuk mengejar titel grand slam meskipun kemampuannya dari hari ke hari makin baik.
Kata hidup diganti bermain. Hal itu untuk menunjukkan keberadaan metafora asam garam dengan konteks data (8).
Teknik lain dalam menganalisis data yaitu menggunakan teknik perluas (lihat
Sudaryanto, 1993:37). Teknik perluas digunakan untuk menentukan metafora, dengan cara memperluas sebuah data. Seperti data di bawah ini
(9) Setahun kemudian, di turnamen yang sama, dia kembali ke babak akhir. Kali ini dia menantang Xia Xuanze (Cina). Namun, lagi-lagi dia tak mampu memecahkan telor menjadi juara All England. (Bola, 04/03/08/1).
Dalam data (9) untuk mengidentifikasi memecahkan telor merupakan metafora dapat dibandingkan dengan kalimat sebagai berikut
(10) Heru memecahkan telor ayam.
Data (10) menggunakan teknik perluasan dengan menambah kata ayam, sehingga
pada telur ayam. Memecahkan telor pada data (9) berupa metafora karena
memecahkan telor dapat diganti dengan kata berhasil. Berikut penggantiannya.
(9a) Setahun kemudian, di turnamen yang sama, dia kembali ke babak akhir.
Kali ini dia menantang Xia Xuanze (Cina). Namun, lagi-lagi dia tak mampu berhasil menjadi juara All England.
Metode lain yang digunakan dalam analisis data yaitu metode padan. Metode
padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:13). Pada penelitian ini
digunakan metode padan referensial. Metode padan referensial yaitu metode yang menggunakan alat penentunya berupa referen bahasa (Sudaryanto, 1993:14). Berikut contoh analisis data menggunakan metode padan referensial.
(11) Konsentrasi pencarian Lazio terpusat pada kiper dan striker. Si Elang memang membutuhkan portiere baru.(Bola, 1/1/08/7)
Makna elang, menurut KBBI adalah ‘burung buas yang mempunyai daya penglihatan tajam, paruhnya bengkok dan cengkeramannya kuat, menangkap mangsanya dengan
menyambar’ (2005 : 292). Dilihat dari makna tersebut, kata elang mempunyai unsur makna burung (hewan), perkasa, dan mahir menyambar (dalam menangkap mangsanya).
Makna elang tersebut digunakan untuk memetaforakan Lazio (tim sepak bola dari Italia) dengan sebutan Si Elang. Referen elang yang ditunjuk oleh kata elang
Lazio-yang memeliki gambaran seperti referen elang dan mempunyai lambang bendera
bergambarkan elang. Hal itu terbukti dengan penggantian berikut
(11a) Konsentrasi pencarian Lazio terpusat pada kiper dan striker.
Lazio memang membutuhkan portiere baru.
Data (11a) menyatakan bahwa julukan Lazio adalah Elang. Hal itu dapat diperoleh dari pemahaman makna yang tersusun dari konteks penggunaan satuan lingual
tersebut. Jelaslah dalam data (11) yang dimaksud Elang bukanlah burung karena ungkapan itu digunakan dalam pernyataan yang berkaitan dengan konteks dunia
persepakbolaan. Tampak dalam contoh itu hubungan antara kata Lazio, kiper, dan striker. Dari keadaan itu dapat dikatakan bahwa Si Elang merupakan metafora yang mengiaskan Lazio sebagai suatu tim dalam dunia olah raga.
1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil analisis data disajikan secara informal dan formal. Metode penyajian informal adalah perumusan hasil analisis data dengan kata-kata biasa, dengan
terminologi yang bersifat teknis (Sudaryanto, 1993:145). Penyajian hasil analisis data secara informal karena peneliti menyajikan hasil analisis dengan kata-kata biasa.
Metode penyajian formal adalah perumusan analisis data dengan tanda dan lambang (Sudaryanto, 1993:145). Penyajian hasil analisis data secara formal berupa diagram dan tabel.
1.8Sistematika Penyajian
Laporan penelitian ini dibagi menjadi tiga bab. Bab I berisi (1) pendahuluan,
(4) manfaat penelitian, (5) tinjauan pustaka, (6) landasan teori, (7) metode penelitian,
(8) sistematika penyajian. Bab II berisi tentang apa saja jenis-jenis gaya bahasa metafora. Bab III berisi apa saja bentuk satuan lingual yang menyatakan gaya bahasa
19 2.1Pengantar
Pada bab ini akan dipaparkan jenis-jenis metafora yang terdapat dalam Tabloid
Bola edisi Januari-Maret 2008. Dalam penelitian ini ditemukan dua jenis metafora, yaitu metafora yang maknanya sudah terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga (2005) dan metafora yang maknanya tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005).
2.2Metafora dalam Tabloid Bola Edisi Januari-Maret 2008 yang Maknanya Sudah Terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005) Metafora yang maknanya sudah terdapat dalam KBBI dapat dibagi menjadi dua.
Pertama, metafora yang makna kiasnya sama dengan makna kias dalam KBBI. Kedua, metafora yang makna kiasnya tidak sama dengan makna kias dalam KBBI.
2.2.1 Metafora dalam Tabloid Bola Edisi Januari-Maret 2008 yang Makna Kiasnya Sama dengan Makna Kias dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga (2005)(KBBI).
Berikut data metafora yang makna kiasnya sama dalam KBBI.
Pada data (12) ditemukan metafora, yaitu menjaring. Salah satu makna kias
menjaring menurut KBBI adalah ‘ki menyeleksi’ (2005:460). Menjaring pada data (12) dapat dikatakan sebagai metafora karena kata menjaring biasa digunakan untuk
memperoleh ikan di laut. Seperti contoh di bawah ini. (13) Nelayan itu sedang menjaring ikan.
Data (13) menjaring berarti cara memperoleh ikan, tetapi data (12) bukan bermakna
cara memperoleh ikan melainkan menyeleksi pemain. Kata menjaring digunakan untuk memetaforakan menyeleksi. Karena kata menjaring merupakan cara
menangkap ikan dengan jaring dan ikan yang besar dapat masuk ke dalam jaring dan ikan kecil-kecil dapat lolos dari jaring tersebut.. Jadi menjaring pada data (12) merupakan metafora, sehingga dapat digantikan sebagai berikut.
(12a) Tim yang diketuai Jopie Leepel dengan tiga pelatih kawakan, Tumpak Sihite, Max Pieters, dan Muhardi, ini juga sudah menentukan kriteria guna menyeleksi pemain terbaik.
Jadi menjaring pada data (12) memetaforakan menyeleksi.
(14) Usai kemenangan angka mutlak diraih atas Tito, Jones menyatakan siap terbang ke Wales menantang Joe Calzaghe. (Bola, 22/1/08/ 6)
Pada data (14) ditemukan metafora, yaitu terbang. Salah satu makna kias terbang,
menurut KBBI adalah ‘ki naik pesawat’ (2005:1181). Kata terbang biasa digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang bisa terbang seperti burung, pesawat, dan
mengacu pada seseorang yang naik pesawat bukan terbang menggunakan sayap,
melainkan menggunakan pesawat terbang. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(14a) Usai kemenangan angka mutlak diraih atas Tito, Jones menyatakan siap naik pesawat ke Wales menantang Joe Calzaghe.
Jadi pada data (14) kata terbang memetaforakan naik pesawat.
(15) Duet yang tersisa adalah pasangan yang bermain sebagai gelandang. Namun, kans mereka cukup tipis karena timnya rontok sebelum mencapai final. (Bola, 22/1/08/ 7)
Pada data (15) ditemukan metafora, yaitu rontok. Salah satu makna kias rontok, menurut KBBI adalah ‘ki kalah’ (2005:962). Kata rontok biasa digunakan untuk mengungkapkan daun yang jatuh dari tangkai karena sudah tua atau layu, tetapi data
(15) rontok digunakan untuk menyatakan kalah dalam pertandingan. Kata rontok digunakan untuk memetaforakan kalah. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut.
(15a) Duet yang tersisa adalah pasangan yang bermain sebagai gelandang. Namun, kans mereka cukup tipis karena timnya kalah sebelum
mencapai final.
Jadi pada data (15) kata rontok memetaforakan kalah.
(16) Para pecinta Eredivisie di Indonesia pasti belum melupakan kisah pahit pada Desember lalu, yaitu ketika pemogokan polisi Belanda memaksa dua laga tertunda. (Bola, 11/03/08/18)
Pada data (14) ditemukan metafora, yaitu pahit. Salah satu makna pahit, menurut
mengungkapkan rasa tidak sedap seperti rasa empedu tetapi data (16) pahit digunakan
untuk mengungkapkan hal menyedihkan. Karena menyedihkan merupakan rasa yang sangat sakit di dalam hati sehingga diibaratkan rasa hati yang sangat pahit. Pada data
(16) kata pahit memetaforakan rasa yang menyedihkan. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(16a) Para pecinta Eredivisie di Indonesia pasti belum melupakan kisah
menyedihkan pada Desember lalu, yaitu ketika pemogokan polisi Belanda memaksa dua laga tertunda.
Jadi pada data (16) kata pahit memetaforakan menyedihkan.
(17) Ketua Umum Persik, H.A. Maschut, kini sedang menggodok perubahan status. (Bola, 12/02/08/7)
Pada data (17) ditemukan metafora, yaitu menggodok. Salah satu makna kias menggodok, menurut KBBI adalah ‘ki mempertimbangkan’ (2005:367). Kata
menggodok biasa digunakan untuk merebus sesuatu masakan hingga masak atau matang, tetapi pada data (17) menggodok bukan untuk merebus masakan tetapi
mempertimbangkan status. Perubahan makna ‘menggodok’ yang semula untuk merebus masakan digunakan untuk memetaforakan mempertimbangkan perubahab status. Pada data (17) menggodok mempunyai makna yang sama dalam KBBI yaitu
‘mempertimbangkan’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(17a) Ketua Umum Persik, H.A. Maschut, kini sedang mempertimbangkan
perubahan status.
(18) Secara umum kedua kubu terlihat bermain terlalu hati-hati sehingga jarang menelorkan peluang matang lewat permainan terbuka. (Bola, 12/02/08/16)
Pada data (18) ditemukan metafora, yaitu menelorkan. Salah satu makna kias
menelorkan menurut KBBI adalah ‘ki menghasilkan’ (2005:1164). Kata menelorkan biasa digunakan untuk menyatakan ayam yang mengeluarkan telur, tetapi data (18) bukan mengeluarkan telur, melainkan menghasilkan peluang. Perubahan makna
‘menelorkan’ (ayam yang mengeluarkan telur) berubah menjadi sesuatu yang menghasilkan peluang matang. Jadi menelorkan pada data (18) dapat dikatakan
sebagai metafora. Pada data (18) menelorkan mempunyai makna ‘menghasilkan’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(18a) Secara umum kedua kubu terlihat bermain terlalu hati-hati sehingga
jarang menghasilkan peluang matang lewat permainan terbuka. Jadi pada data (18) menelorkan memetaforakan menghasilkan.
(19) Repotnya, tidak ada lagi pengatur lain yang bisa menekan si pemilik. Sejak payung yang menaungi media elektronik di Afrika, United Radio and Television Network of Africa (URTNA), bubar. (Bola, 18/1/08/ 11) Pada data (19) ditemukan metafora, yaitu payung. Salah satu makna kias payung,
menurut KBBI adalah ‘ki pelindung’ (2005:839). Kata payung biasa digunakan untuk menyatakan alat yang berguna sebagai pelindung dari sinar panas matahari dan hujan tetapi data (19) payung digunakan untuk menyatakan seseorang yang sebagai
pelindung. Perubahan makna payung yang semula alat untuk melindungi dari sinar matahari dan hujan berubah menjadi seseorang yang menjadi pelindung pada data
payung mempunyai makna yang sama dalam KBBI yaitu ‘pelindung’. Hal itu terbukti
dengan penggantian sebagai berikut
(19a) Repotnya, tidak ada lagi pengatur lain yang bisa menekan si pemilik.
Sejak pelindung yang menaungi media elektronik di Afrika, United Radio and Television Network of Africa (URTNA), bubar.
Jadi pada data (19) payung memetaforakan pelindung.
(20) Dalam tiga laga kala itu, Rice berhasil membawa Arsenal selalu menang. Itulah sebabnya ketika Wenger bergabung ia dipercaya menjadi tangan kanan The Profesor. (Bola, 21/03/08/Edisi Khusus)
Pada data (20) ditemukan metafora, yaitu tangan kanan. Salah satu makna kias tangan kanan menurut KBBI adalah ‘ki pembantu utama’ (2005:1137). Frase tangan kanan biasa digunakan untuk menyatakan bagian badan dari siku sampai ke ujung jari yang
berada di kanan tubuh, tetapi data (20) tangan kanan bukan berarti anggota tubuh yang berada di kanan, melainkan sebagai pembantu utama. Tangan kanan digunakan untuk memetaforakan pembantu utama karena tangan kanan merupakan tangan yang
sering digunakan untuk berbuat sesuatu. Jadi, tangan kanan dipakai untuk memetaforakan pembantu utama. Pada data (20) tangan kanan mempunyai makna
‘pembantu utama’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(20a) Dalam tiga laga kala itu, Rice berhasil membawa Arsenal selalu menang. Itulah sebabnya ketika Wenger bergabung ia dipercaya menjadi
pembantu utama The Profesor.
(21) “Bagi saya, itu salah satu penampilan terbaik Inter musim ini. Saya sangat gembira melihat tim ini memiliki hati baja, “ imbuh Presiden Inter, Massimo Moratti. (Bola, 01/02/08/3)
Pada data (21) ditemukan metafora, yaitu hati baja. Salah satu makna kias hati baja,
menurut KBBI adalah ‘ki sesuatu yg keras dan kuat (semangat, kemauan)’ (2005:91). Kata hati biasa digunakan untuk menyatakan organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambilsari-sari
makanan di dalam tubuh dan menghasilkan empedu dan baja digunakan untuk menyatakan logam keras. Pada data (21) hati baja bukan mengacu pada organ tubuh
yang berada di rongga atas perut dan bukan logam keras melainkan memetaforakan semangat yang kuat. Hati baja digunakan memetaforakan semangat yang kuat karena hati merupakan pusat perasaan dan semangat sedangkan baja merupakan logam yang
kuat dan keras. Jadi, hati baja memetaforakan semangat yang kuat. Pada data (21) hati baja mempunyai makna ‘semangat yang kuat’. Hal itu terbukti dengan penggatian sebagai berikut
(21a) “Bagi saya, itu salah satu penampilan terbaik Inter musim ini. Saya sangat gembira melihat tim ini memiliki semangat yang kuat, “ imbuh
Presiden Inter, Massimo Moratti.
Jadi data (21) hati baja memetaforakan semangat yang kuat.
Pada data (22) ditemukan metafora, yaitu berbunga-bunga. Salah satu makna kias
berbunga-bunga, menurut KBBI adalah ‘ki bangga’ (2005:177). Satuan lingual berbunga-bunga biasa digunakan untuk menyatakan mempunyai hiasan yang
bagus, tetapi pada data (22) berbunga-bunga bukan menyatakan hiasan yang bagus-bagus melainkan rasa bangga atau membahagiakan. Berbunga-bunga digunakan untuk memetaforakan bangga karena bunga merupakan tumbuhan yang elok dan
baunya harum, sehingga bangga diibaratkan rasa yang bangga. Jadi, berbunga-bunga pada data (22) merupakan metafora yang menyatakan rasa bangga. Pada data (22)
berbunga-bunga mempunyai makna ‘bangga’. Hal itu terbukti dengan penggantian berikut
(22a) Mancini masuk pada menit ke-83, menggantikan Hernan Crespo.
Bermain selama 10, memakai seragam bernomor punggung 17, namum pengalaman singkat itu sudah cukup untuk membuat Mancini bangga.
Jadi pada data (22) berbunga-bunga memetaforakan rasa bangga.
(23) Seharusnya I Gigliati tidak kalah dalam derby Toscana karena memiliki banyak peluang emas. (Bola, 14/03/08/7)
Pada data (23) ditemukan metafora, yaitu peluang emas. Salah satu makna kias
peluang emas menurut KBBI adalah ‘ki kesempatan yang baik’ (2005:846). Peluang biasa digunakan untuk menyatakan kesempatan dan emas digunakan untuk
mulia yang sangat mahal dan bagus. Jadi pada data (23) peluang emas digunakan
untuk memetaforakan kesempatan yang baik.. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut.
(23a) Seharusnya I Gigliati tidak kalah dalam derby Toscana karena memiliki banyak kesempatan yang baik.
Jadi data (23) peluang emas memetaforakan kesempatan yang baik.
(24) Akhir pekan ini, Pedrosa sudah memperoleh lampu hijau dari dokter untuk turun di tes resmi Moto GP. (Bola, 15/02/08/14)
Pada data (24) ditemukan metafora, yaitu lampu hijau. Salah satu makna kias lampu hijau, menurut KBBI adalah ‘ki isyarat (izin) untuk menjalankan suatu rencana’
(2005:631). Satuan lingual lampu hijau digunakan untuk menyatakan lampu lalu lintas yang berwarna hijau, mengisyaratkan kendaraan boleh jalan. Pada data (24) lampu hijau bukanlah lampu yang berwarna hijau dan mengisyaratkan kendaraan
boleh jalan, tetapi data (24) lampu hijau merupakan izin untuk menjalankan suatu rencana. Perpindahan makna lampu hijau dari makna yang semula lampu yang
berwarna hijau pada data (24) mengalami perpindahan makna. Jadi pada data (24) lampu hijau merupakan metafora.. Hal itu terbukti dengan penggatian sebagai berikut
(24a) Akhir pekan ini, Pedrosa sudah memperoleh izin dari dokter untuk turun
di tes resmi Moto GP.
Jadi data (24) lampu hijau memetaforakan izin.
Pada data (25) ditemukan metafora, yaitu tenggelam. Salah satu makna kias
tenggelam, menurut KBBI adalah ‘ki hilang’ (2005:1173). Kata tenggelam diguanakan untuk menyatakan masuk terbenan dalam air, sehingga tidak kelihatan.
Makna tenggelam yang semula mengacu pada benda yang masuk dalam air, tetapi pada data (25) tenggelam digunakan untuk mengungkapkan pemain muda yang sering hilang karena masalah. Tenggelam digunakan untuk memetaforakan hilang
karena kata tenggelam untuk mengungkapkan benda yang masuk kedalam air lalu tidak kelihatan atau hilang. Jadi data (25) tenggelam merupakan metafora yang
menyatakan hilang. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(25a) Banyak contoh pemain yang langsung gemilang dalam usia belia, tapi kemudian hilangkarena masalah nonteknis.
Jadi data (25) tenggelam memetaforakan hilang.
(26) Setidaknya dalam 10 tahun terakhir Kamboja menjadi anak bawang di Asia Tenggara. Namun, jangan kaget kalau dalam beberapa tahun mendatang negara itu lebih kuat. (Bola, 4/1/08/ 21)
Pada data (26) ditemukan metafora, yaitu anak bawang. Salah satu makna kias anak bawang, menurut KBBI adalah ‘ki peserta bermain yg tdk masuk hitungan (hny
sebagai penggenap)’ (2005:42). Pada data (26) anak bawang mempunyai makna ‘pemain yang tidak masuk hitungan’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(26a) Setidaknya dalam 10 tahun terakhir Kamboja menjadi peserta pemain yang tidak masuk hitungan di Asia Tenggara. Namun, jangan kaget
Jadi data (26) anak bawang memetaforakan peserta pemain yang tidak masuk
hitungan.
(27) Serghei Dubrovin dikenal sebagai pelatih bertangan besi. Dia tak segan-segan membangkucadangkan pemain terbaik jika yang bersangkutan indisipliner. (Bola, 8/1/08/ 8)
Pada data (27) ditemukan metafora, yaitu bertangan besi. Salah satu makna kias bertangan besi, menurut KBBI adalah ‘ki kekuasaan (tindakan) keras’
(2005:1137).kata tangan digunakan untuk mengacu anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan tangan sampai ujung jari, ditambah afiks ber-
menjadi bertangan yang mempunyai makna mempunyai tangan. Kata Besi digunakan untuk menyatakan logam yang keras. Satuan lingual bertangan besi merupakan makna kias yang mengacu pada tindakan yang keras. Pada data (27) bertangan besi
mempunyai makna ‘bertindak dengan keras’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(27a) Serghei Dubrovin dikenal sebagai pelatih yang bertindak secara keras.
Dia tak segan-segan membangkucadangkan pemain terbaik jika yang bersangkutan indisipliner.
Jadi pada data (27) bertangan besi memetaforakan tindakan secara keras.
(28) Nancy, kandidat peringkat kedua tatu malah kampiun Ligue 1, bersipa memperlihatkan kepantasan mereka hadir di papan atas dengan mencoba membekap OM, Rabu (23/1). (Bola, 22/1/08/ 18)
Pada data (28) ditemukan metafora, yaitu papan atas. Salah satu makna kias papan atas, menurut KBBI adalah ‘ki kelas utama’ (2005:827). Kata papan digunakan untuk
lebih tinggi. Pada data (28) papan atas bukanlah papan yang berada di tempat yang
tinggi, melainkan posisi kelas utama. Papan atas digunakan untuk memeatforakan kelas utama karena papan merupakan tempat dan atas merupakan bagian yang paling
tinggi. Jadi data (28) papan atas mengacu pada kelas utama atau kelas tertinggi. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(28a) Nancy, kandidat peringkat kedua tatu malah kampiun Ligue 1, bersiap
memperlihatkan kepantasan mereka hadir di kelas utama dengan mencoba membekap OM, Rabu (23/1).
Jadi data (28) papan atas memetaforakan kelas utama.
(29) Tanpa mengurangi rasa sportivitas atau mencari kambing hitam, serta bukan pula cinta kedaerahan, dalam skala resmiyang lebih mapan dan event besar seperti Piala Dunia, Eropa, Amerika, dan Afrika sampai Piala AFF, biasanya pemain terbaik diambil dari tim finalis. (Bola, 18/1/08/ 2)
Pada data (29) ditemukan metafora, yaitu kambing hitam. Salah satu makna kias kambing hitam, menurut KBBI adalah ‘ki orng yg dl suatu peristiwa sebenarnya tdk
bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan’ (2005:497). Kata kambing digunakan untuk menyatakan binatang pemamah biak dan pemakan rumput,
sedangkan hitam mengacu pada warna dasar yang seperti warna arang. Pada data (29) kambing hitam bukanlah mengacu pada kambing yang berwarna hitam melainkan orang yang selalu menjadi tumpuan kesalahan. Kambing hitam digunakan untuk
memetaforakan seseorang yang menjadi tumpuan kesalahan karena kambing merupakan hewan yang suka dihina dan warna hitam merupakan warna yang biasa
yang menyatakan ‘orang yang dulu suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi
dipersalahkan’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut
(29a) Tanpa mengurangi rasa sportivitas atau mencari orang yang dulu suatu
peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan, serta bukan pula cinta kedaerahan, dalam skala resmi yang lebih mapan dan event besar seperti Piala Dunia, Eropa, Amerika, dan Afrika sampai Piala
AFF, biasanya pemain terbaik diambil dari tim finalis.
Jadi data (29) kambing hitam memetaforakan orang yang dulu suatu peristiwa
sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan.
(30) Gol semata wayang lewat tendangan jarak jauh di luar kotak pinalti tersebut terasa bermakna.(Bola, 08/02/08/4)
Pada data (30) ditemukan metafora, yaitu semata wayang. Salah satu makna kias semata wayang, menurut KBBI adalah ‘ki hanya satu-satunya’ (2005:722). Kata mata
digunakan untuk menyataka alat indra penglihatan, semata yang mengaju pada jumlah mata yang hanya satu. Kata wayang digunakan untuk menyatakan alat yang
menyerupai tokoh kerajaan yang terbuat dari kulit dan hanya satu sisi. Satuan lingual semata wayang digunakan untuk memetaforakan jumlah yang hanya satu karena semata mengacu pada mata yang berjumlah satu dan wayang hanya mempunyai satu
mata. Jadi data (30) semata wayang merupakan metafora dan mempunyai makna ‘jumlah yang hanya satu’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut.
(31) Tuan rumah punya Arjen Robben, yang piawai memanfaatkan kecepatannya memancing pelanggaran lawan. (Bola, 22/02/08/14) Pada data (31) ditemukan metafora, yaitu memancing. Salah satu makna memancing,
menurut KBBI adalah ‘ki menjebak dengan umpan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya)’ (2005:820). Kata memancing biasa digunakan untuk menyatakan
kegiatan menangkap ikan dengan pancing, tetapi data (31) memancing bukan menangkap ikan dengan menggunakan kail, melainkan menjebak pelanggaran lawan. Memancing digunakan untuk memetaforakan menjebak. Karena kata memancing
biasa digunakan untuk menyatakan kegiatan mencari ikan dengan cara kail diberi umpan. Jadi data (31) memancing merupakan metafora. Hal itu terbukti dengan
penggantian sebagai berikut
(31a) Tuan rumah punya Arjen Robben, yang piawai memanfaatkan kecepatannya menjebak pelanggaran lawan.
2.2.2 Metafora dalam Tabloid Bola Edisi Januari-Maret 2008 yang Makna Kiasnya Tidak Sama dengan Makna Kias dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005)
Berikut data metafora yang bermakna kias, tetapi maknanya tidak sama dengan makna kias dalam KBBI.
(32) Bila Federer sudah kenyang makan asam garam dengan mengumpulkan 12 gelar grand slam, Djokoviv baru dalam tahap untuk megejar titel grand slam meskipun kemampuannya dari hari ke hari makin baik. (Bola, 25/1/08/ 11)
Pada data (32) ditemukan metafora, yaitu kenyang makan asam asam garam. Salah satu makna kias asam garam, menurut KBBI adalah ‘ki pengalaman hidup, liku-liku
hidup, suka duka dlm kehidupan’ (2005:69). Dilihat dari makna tersebut asam garam mempunyai makna kias yaitu ‘pengalaman hidup’ dan mempunyai unsur makna pengalaman dalam kehidupan. Kata asam biasa digunakan untuk mengungkapkan
rasa masam dan garam digunakan untuk menyatakan rasa yang asin. Asam garam dipakai untuk memetaforakan pengalaman hidup karena sebuah kehidupan pasti ada
rasa asam, asin, manis dalam menjalani kehidupan. Tetapi, pada data (32) asam garam bukan untuk menyatakan pengalaman kehidupan, melainkan pengalaman dalam bermain (konteks olahraga). Jadi kenyang makan asam garam pada data (32)
mempunyai makna ‘sangat berpengalaman bermain’. Hal itu terbukti dengan penggatian sebagai berikut
megejar titel grand slam meskipun kemampuannya dari hari ke hari
makin baik.
Pada data (32) kenyang makan asam garam memetaforakan sangat berpengalaman
bermain.
(33) Tottenham mendatangkan Huddlestone dari Derby Country pada Juli 2005. Tom, yang saat itu berusia 18 tahun, pindah ke White Hart Line dengan nilai tranfer 2,5 juta pound (Rp 46,5 miliar). Namun, pihak Spurs menganggapnya masih terlalu hijau untuk dipromosikan ke tim utama guna mendampingi Edgar Davids atau Michael Carrick. (Bola, 8/1/08/ 12)
Pada data (33) ditemukan metafora, yaitu hijau. Salah satu makna hijau, menurut KBBI adalah ‘ki belum pengalaman’ (2005:401). Dilihat dari makna tersebut, hijau
mempunyai makna kias yaitu ‘belum pengalaman’. Kata hijau digunakan untuk menyatakan warna dasar yang serupa dengan warna daun. Dilihat dari makna tersebut kata daun digunakan untuk memetaforakan belum berpengalaman. Karena daun yang
masih muda berwarna hijau. Jadi warna hijau diibaratkan daun yang baru tumbuh dan belum mengetahui banyak tentang pertumbuhan. Pada data (33) hijau bukan
bermakna ‘belum pengalaman’, tetapi data (33) mengacu kepada Huddleston yang baru berusia 18 tahun. Jadi pada data (33) hijau mempunyai makna ‘muda’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut.
(33a) Tottenham mendatangkan Huddlestone dari Derby Country pada Juli 2005. Tom, yang saat itu berusia 18 tahun, pindah ke White Hart Line
Spurs menganggapnya masih terlalu muda untuk dipromosikan ke tim
utama guna mendampingi Edgar Davids atau Michael Carrick. Pada data (33) hijau memetaforakan muda.
(34) Situasi pun makin runyam ketika pelatih kedua pemain ikut terlibat adu mulut. (Bola, 07/03/08/3)
Pada data (34) ditemukan metafora, yaitu adu mulut. Salah satu makna adu mulut, menurut KBBI adalah ‘ki bertengkar’ (2005:9). Dilihat dari makna tersebut, adu mulut mempunyai makna kias yaitu ‘bertengkar’. Kata adu digunakan untuk
mengungkapkan bertanding dan kata mulut digunakan untuk mengungkapkan tempat untuk gigi dan lidah, tetapi data (34) adu mulut bukan mengacu pada mulut yang
bertanding, melainkan bertengkar. Karena bertengkar menggunakan mulut untuk mengumpat kepada lawannya. Pada data (34) adu mulut bukan bermakna ‘bertengkar’ melainkan ‘pertengkaran’. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai
berikut.
(34a) Situasi pun makin runyam ketika pelatih kedua pemain ikut terlibat
pertengkaran.
Jadi data (34) adu mulut memetaforakan pertengkaran.
(35) Iran memalingkan muka pada manajer asing sekaligus mengakhiri ketidakpastian dalam beberapa bulan terakhir. (Bola, 8/1/08/ 20)
Pada data (35) ditemukan metafora, yaitu memalingkan muka. Makna memalingkan
muka, menurut KBBI adalah ‘ki tidak setia’ (2005:816). Dilihat dari makna tersebut, memalingkan muka bermakna kias yaitu ‘tidak setia’. Satuan lingual memalingkan
(35) memalingkan muka bukan menyatakan seseorang yang menolehkan muka.
Memalingkan muka pada data (35) digunakan untuk menyatakan pindah karena data (35) terdapat unsur makna mengakhiri dan Iran. Jadi pada data (35) memalingkan
muka bukan bermakna tidak setia, tetapi menyatakan ‘pindah’. Hal itu terbukti dengan penggantian berikut
(35a) Iran pindah pada manajer asing sekaligus mengakhiri ketidakpastian
dalam beberapa bulan terakhir.
Jadi data (35) memalingkan muka memetaforakan pindah.
Dari berbagai contoh data di atas ditemukan metafora dalam Tabloid Bola edisi Januari-Maret 2008 yang makna kiasnya tidak sama dengan makna kias dalam KBBI. Dalam KBBI data tersebut mempunyai makna kias, tetapi makna metafora
dalam konteks kalimat tidak sama dengan makna kias yang ada di KBBI.
Berikut tabel data yang menyatakan perbedaan makna kias yang ada di
Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan konteks yang mempengaruhi sebuah makna kias dalam data.
Tabel 1. Perbedaan Makna Kias yang Ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga(2005)dengan Makna Kias Berdasarkan Konteks. Bentuk Metafora Makna Kias dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia
‘ki pengalaman hidup, liku-liku hidup, suka duka dlm kehidupan’
hijau
2.3Metafora dalam Tabloid Bola Edisi Januari-Maret 2008 yang Maknanya Tidak Terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005). Berikut data metafora yang makna kiasnya belum terdapat dalam KBBI tetapi menjadi sebuah metafora karena terpahami oleh konteks.
2.3.1 Metafora Julukan
Pada data berikut, ditemukan metafora yang digunakan dalam ragam berita olahraga. Metafora itu adalah Si Elang.
(36) Konsentrasi pencarian Lazio terpusat pada kiper dan striker. Si Elang memang membutuhkan portiere baru.(Bola, 1/1/08/7)
Makna elang, menurut KBBI adalah ‘burung buas yang mempunyai daya penglihatan tajam, paruhnya bengkok dan cengkeramannya kuat, menangkap mangsanya dengan
menyambar’ (2002 : 292). Dilihat dari makna tersebut, kata elang mempunyai unsur makna burung (hewan), perkasa, dan mahir menyambar (dalam menangkap mangsanya).
kuat dan tangguh berdiri di atas bendera Lazio, sehingga Lazio diibaratkan sebagai
elang. Hal itu terbukti dengan penggantian berikut
(36a) Konsentrasi pencarian Lazio terpusat pada kiper dan striker.
Lazio memang membutuhkan portiere baru.
Contoh (36a) menyatakan bahwa julukan Lazio adalah Elang. Hal itu dapat diperoleh dari pemahaman makna yang tersusun dari konteks penggunaan satuan lingual
tersebut. Jelaslah dalam contoh (36) yang dimaksud Elang bukanlah burung karena ungkapan itu digunakan dalam pernyataan yang berkaitan dengan konteks dunia
persepakbolaan. Tampak dalam contoh itu hubungan antara kata Lazio, kiper, dan striker. Dari keadaan itu dapat dikatakan bahwa Si Elang merupakan metafora yang mengiaskan Lazio sebagai suatu tim dalam dunia olahraga. Dengan perkataan lain,
metafora jenis ini dapat dikatakan sebagai satuan lingual yang memetaforakan julukan.
Pada data (37) ditemukan metafora. Metafora iru adalah Macan Kemayoran.
(37) Perasaan senada dirasakan Macan Kemayoran. Mereka berharap tren positif ini bisa berlanjut di Copa. “Bukan mau sesumbar tapi kami membidik gelar juara ganda musim ini,” jabar Aliyudin, striker Persija. (Bola, 4/1/08/ 6)
Makna Macan menurut KBBI adalah ‘harimau’ (2005:693) dan Kemayoran
merupakan nama daerah di Jakarta. Dilihat dari makna tersebut Macan Kemayoran merupakan harimau Kemayoran.
suporter Persija mengibaratkan timnya sebagai harimau yang gagah yang barasal dari
Kemayoran. Nama Kemayoran merupakan nama daerah berlatihnya Persija pertama kali, sehingga Persija dijuluki Macan Kemayoran. Hal itu terbukti dengan
penggantian sebagai berikut
(37a) Perasaan senada dirasakan Persija. Mereka berharap tren positif ini bisa berlanjut di Copa. “Bukan mau sesumbar tapi kami
membidik gelar juara ganda musim ini,” jabar Aliyudin, striker Persija.
Pada data (38) ditemukan metafora. Metafora itu adalah Tim Mutiara Hitam. (38) “Kemampuan pemain inti dan pelapis Persipura hampir sama.
Mereka tetap solid, sulit dipukul di Jayapura,” tuturnya. Tim Mutiara Hitam masih memiliki stok pemain dengan kualitas sepadan. (Bola, 4/1/08/ 6)
Makna mutiara menurut KBBI adalah ‘permata berbentuk bulat dan keras, berasal dari kulit kerang mutiara’ (2005:768). Hitam menurut KBBI adalah ‘warna dasar
yang serupa dengan arang’ (2005:405). Dilihat dari makna tersebut mutiara hitam mempunyai makna permata yang berwarna hitam.
Makna Mutiara Hitam tersebut digunakan untuk memetaforakan Persipura (tim sepakbola dari Papua) dengan sebutan Mutiara Hitam. Hal itu karena orang-orang Papua terkenal dengan tubuh yang tegap dan kuat, kulit hitam legam dengan
(38a) “Kemampuan pemain inti dan pelapis Persipura hampir sama.
Mereka tetap solid, sulit dipukul di Jayapura,” tuturnya. Persipura masih memiliki stok pemain dengan kualitas
sepadan.
Pada data (39) ditemukan metafora. Metafora itu adalah Si Putih Hitam. (39) Siena tampaknya akan tetap ada di zona merah. Sebabnya start
mereka di tahun 2008 sangat berat. Si Putih Hitam bertemu pemimpin klasemen, Inter, pada Minggu (13/1). (Bola, 11/1/08/ 2)
Makna Putih menurut KBBI adalah ‘warna dasar yang serupa denga warna kapas’ (2005:913). Makna hitam menurut KBBI adalah ‘warna dasar yang serupa dengan
arang’ (2005:405). Dilihat dari makna tersebut putih hitam mempunyai makna warna dasar yang serupa dengan kapas dan arang.
Makna Putih Hitam tersebut digunakan untuk memetaforakan Siena dengan
sebutan Si Putih Hitam. Hal itu dikarenakan Tim siena menggunakan warna putih hitam pada benderanya, sehingga Siena dijuluki Tim Putih Hitam. Hal itu terbukti
dengan penggantian sebagai berikut.
(39a) Siena tampaknya akan tetap ada di zona merah. Sebabnya start mereka di tahun 2008 sangat berat. Siena bertemu pemimpin
klasemen, Inter, pada Minggu (13/1).
Pada data (40) ditemukan metafora. Metafora itu adalah Tim Singo Edan.
Singo dalam bahasa Indonesianya adalah singa. Makna singa menurut KBBI adalah
‘binatang buas, bentuknya hampir seperti macan’ (2005:1070). Edan dalam bahasa Indonesia adalah gila. Makna gila menurut KBBI adalah ‘sakit jiwa’ (2005:363).
Dilihat dari makna tersebut singo edan mempunyai makna hewan buas yang gila. Makna Singo Edan dipakai untuk memetaforakan Arema (tim sepakbola dari Malang) dengan sebutan Tim Singo Edan. Hal itu dikarenakan Arema mempunyai
Zodiak Leo, jadi Arema memilih simbol singo, lalu dijuluki Tim Singo Edan. Hal itu terbukti dengan penggantian sebagai berikut.
(40a) Penalti Aris Prasetyo membuka skor untuk Arema. Arema akhirnya mempertahankan gelar dengan keunggulan 2-0.
Pada data (41) ditemukan metafora. Metafora itu adalah Ayam Kinantan.
(41) Kekelahan dar Sriwijaya FC masih meninggalkan perasaan dongkol di hati pemain dan ofisial PSMS. Kubu Ayam Kinantan belum bisa menerima kekalahan di Gelora Sriwijaya, Minggu lalu. (Bola, 11/1/08/ 2)
Makna ayam kinantan menurut KBBI adalah ‘ayam aduan’ (2005:569). Dilihat dari
makna tersebut ayam kinantan adalah ayam untuk aduan.
Makna Ayam Kinantan dipakai untuk memetaforakan PSMS (tim sepakbola dari Medan) dengan sebutan Ayam Kinantan. Hal itu dikarenakan orang-orang medan
(41a) Kekelahan dari Sriwijaya FC masih meninggalkan perasaan
dongkol di hati pemain dan ofisial PSMS. Kubu PSMS belum bisa menerima kekalahan di Gelora Sriwijaya, Minggu lalu.
Contoh (36) – (41) di atas menunjukkan adanya penggunaan metafora sebagai pernyataan julukan kepada beberapa kelompok (tim) sepakbola. Hal ini bisa digunakan dalam ragam berita olahraga. Hal itu dapat dilihat dalam tabel berikut
Tabel 2 : Kaitan Metafora dan Pihak yang Dijuluki
No Metafora Pihak yang Dijuluki
1 Si Elang Lazio
2 Macan Kemayoran Persija
4 Mutiara Hitam Persipura
5 Si Putih Hitam Siena
6 Singo Edan Arema (Malang)
7 Ayam Kinantan PSMS Medan
2.3.2 Metafora Tempat
Pada data berikut, ditemukan metafora yang digunakan dalam tabloid Bola. Metafora itu adalah pelabuhan :
Makna leksikal pelabuhan, menurut KBBI adalah ‘tempat berlabuh untuk kapal’
(2005 : 622). Dilihat dari makna tersebut, pelabuhan mempunyai unsur makna tempat berlabuh dan kapal. Data berikut merupakan makna sebenarnya dari pelabuhan.
(43) Pelabuhan itu ditutup karena mengalami perbaikan sehingga kapal-kapal tidak bisa berlabuh.
Dalam data (42) makna pelabuhan tersebut digunakan untuk memetaforakan sebuah
tempat atau tim untuk bermain sepakbola (tempat berlabuh bagi pemain). Hal itu terbukti dengan penggantian berikut.
(42a) Pemain yang akrab disapa Nunung itu memilih Pelita sebagai tempat karier profesional.
Dengan penggatian di atas makna pelabuhan pada data (42) menyatakan ‘tempat'
(Pelita) untuk bermain sepakbola (bagi Nunung). Jelaslah dalam data (42) yang dimaksud pelabuhan bukanlah tempat untuk berlabuh kapal karena ungkapan itu digunakan dalam pernyataan yang berkaitan dengan tim sepakbola. Tampak dalam
contoh itu hubungan antara kata Pelita dan pemain. Dari keadaan itu dapat dikatakan bahwa pelabuhan merupakan metafora bagi tempat awal untuk bermain sepabola bagi
Nunung (Pelita). Dengan kata lain, metafora jenis ini dapat dikatakan sebagai satuan lingual yang memetaforakan tempat.
2.3.3 Metafora Nama Daerah
(43) Rijkaard jelas kalah bersaing jika acuannya adalah Piala Eropa. Maklum, Michels sukses menggapai mahkota tertinggi Benua Biru tersebut pada 1988. (Bola, 25/1/08/ 15)
Makna leksikal benua, menurut KBBI adalah ‘bagian bumi berupa tanah atau daratan
yang sangat luas sehingga bagian tengah benua itu tidak mendapat pengaruh langsung dari angin laut’ (2005 : 136) dan makna leksikal biru adalah ‘warna dasar yang serupa dengan warna langit yang terang serta merupakan warna asli’ (2005 : 156).
Dilihat dari makna tersebut Benua Biru merupakan benua yang berwarna biru mempunyai unsur makna bagian bumi, daratan, dan berwarna biru.
Makna Benua Biru tersebut digunakan dalam data (44) untuk memetaforakan Benua Eropa. Tampak dalam contoh itu terdapat hubungan yang mempengaruhinya yaitu frase Piala Eropa yang terdapat dalam kalimat sebelumnya. Hal itu terbukti
dengan penggantian berikut.
(44a) Rijkaard jelas kalah bersaing jika acuannya adalah Piala Eropa. Maklum, Michels sukses menggapai mahkota tertinggi Eropa
tersebut pada 1988.
Contoh data (44) menyatakan bahwa Eropa mempunyai sebutan Benua Biru. Dari
keadaan itu dapat dikatakan Benua Biru merupakan metafora yang mengiaskan Benua Eropa. Dengan kata lain, metafora ini dapat dikatakan sebagai satuan lingual yang memetafora nama daerah.
Pada data (45) ditemukan metafora. Metafora itu adalah Benua Hitam.