METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis isi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Analisis isi dapat dilakukan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi baik surat kabar, berita radio, iklan televisi, film, maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain.
Krippendorf (1980) membagi unit analisis dalam 5 variasi, yaitu: physical, syntactical, refential, proposional dan thematic units (Birowo,2004:152). Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti secara syntactical units terdiri dari simbol-simbol yang muncul, dalam penelitian ini adalah simbol-simbol kekerasan.
Unit sintaksis berupa kata atau simbol, penghitungannya adalah frekuensi kata atau simbol kekerasan. Misalnya, berapa jumlah adegan kekerasan dalam film. Peneliti dalam penelitian ini ingin melihat frekuensi kekerasan fisik dan kekerasan non fisik yang ditampilkan dalam film The Raid: Redemption.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan tabel frekuensi. Untuk uji penelitiannya terancang secermat mungkin sebelum penelitian dilakukan serta kesimpulan melalui generalitas. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif dapat didefinisikan sebagai suatu metode untuk
mendeskripsikan hasil penelusuran informasi ke fakta yang diolah menjadi data. Tujuan penggunaan jenis penelitian ini adalah menggambarkan sistematika fakta atau karakteristik secara faktual dan seksama. Secara keseluruhan, penelitian ini bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi dalam sebuah media dengan menggunakan teknik symbol coding yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis kemudian diberi interpretasi. (Rakhmat, 1998: 24).
Teknik yang digunakan oleh peneliti yaitu dengan teknik analisis isi. Analisis isi (content analysis) adalah analisis yang dirancang untuk menghasilkan penghitungan yang objektif, terukur, dan teruji atas isi pesan yang nyata (manifest content of messages). Analisis ini menganalisis tatanan pertandaan yang bersifat denotatif. Analisis ini berfungsi paling baik dalam skala besar dimana semakin banyak yang dianalisis, maka semakin akurat analisisnya. Analisis ini berjalan melalui identifikasi dan penghitungan unit-unit terpilih dalam sebuah sistem komunikasi. Analisis isi harus non-selektif, analisisnya mencakup keseluruhan pesan, atau sistem pesan, atau secara tepat pada sampel atau objek penelitian yang tersedia. Sehingga analisis ini diklaim memiliki objektivitas ilmiah (Fiske, 1990: 188-189).
3.2.1 Analisis Isi (Content Analysis)
Analisis isi ini memiliki sifat penelitian yang kuantitatif, dimana penelitian kuantitatif adalah suatu kegiatan pengumpulan data kuantitatif, sedangkan data kuantitatif merupakan data yang menunjukkan besaran, ukuran, frekuensi dan wujudnya berupa angka. Sehingga sesuai dengan sifat, tujuan dan definisi analisis isi dimana ini adalah teknik penelitian untuk uraian yang objektif, sistematis dan kuantitatif, sehingga peneliti betul-betul dibatasi dalam proses penelitiannyan karena ia tidak menggunakan subyektifitas dalam proses meneliti. Jadi, sifat dan tujuan analisis isi kuantitatif secara ringkas dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Analisis isi kuantitatif hanya dapat digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifes (nyata).
2. Analisis isi kuantitatif yang dipentingkan adalah objektivitas,validitas dan reliabilitas. Tidak boleh ada penafsiran dari peneliti.Peneliti hanya boleh membaca apa yang disajikan dan terlihat dalam teks.
3. Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan ”apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak menyelidiki ”bagaimana yang dikatakan” (how).
4. Analisis isi bertujuan melakukan generalisasi bahkan melakukan prediksi. Uji statistik yang digunakan dalam analisis isi secara tidak langsung memang bertujuan agar hasil penelitian yang dilakukan dapat menggambarkan fenomena keseluruhan dari suatu isu / peristiwa bahkan bisa melakukan prediksi. Jika keadaan dan kondisi yang diteliti sama dengan yang sedang diteliti, maka keadaan yang sama tersebut apabila diteliti akan menemukan hasil yang sama jika diteliti oleh peneliti lain (Sobur, 2006: 70-71).
Analisis isi kuantitatif hanya mengungkap data yang ditunjukkan oleh angka-angka. Analisis isi kuantitatif berupaya untuk menjadikan penelitiannya objektif. Objektifitas ditampilkan dengan tidak memasukkan unsur mitologi atau hubungan semu pada data-data yang dianalisis. Penelitian ini berupaya untuk menggeneralisasikan fakta yang ditemukan.
Analisis isi (content analysis) adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicabel) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya (Krippendorf,1993: 15). Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar dalam komunikasi, bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verbal maupun nonverbal. Sejauh ini makna komunikasi menjadi amat dominan dalam setiap peristiwa komunikasi.
Beberapa peneliti juga mendefenisikan analisis isi, antara lain Holsti (1969) yang mendefenisikan analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi yang dilakukan secara objektif dan identifikasi sistematis dari karakteristik pesan. Sementara Weber (1994) mendefenisikan analisis isi adalah metode penelitian dengan menggunakan seperangkat prosedur untuk membuat inferensi yang valid dari teks.
Gagasan untuk menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian justru muncul dari orang seperti Bernard Berelson (1959), ia telah menaruh banyak perhatian pada analisis isi. Definisi analisis isi menurut Bernard Berelson:
content analysis is a research technique for the objective, systematic and quantitative description of the manifest content of communication (Bungin, 2004: 173).
Tekanan Berelson adalah menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian yang objektif, sistematis dan deskripsi kuantitatif dari apa yang tampak dalam komunikasi. Analisis isi disebut objektif jikalau peneliti benar-benar melihat apa yang ada dalam teks (film) dan tidak memasukkan subjektifitas (kecenderungan, bias).
3.2.1.aPrinsip Dasar Analisis Isi
Melalui defenisi yang disampaikan Berelson, Stempel (1983) mengemukakan beberapa prinsip dasar analisis isi, yaitu:
1. Prinsip sistematik oleh Berelson diartikan, bahwa ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis. 2. Prinsip obyektif, berarti hasilnya tergantung pada prosedur
penelitian bukan pada orangnya.
3. Kuantitatif, diartikan dengan mencatat nilai-nilai bilangan atau frekuensi untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan.
4. Isi yang nyata, diberi pengertian, yang diteliti dan dianalisis hanyalah isi yang tersurat, yang tampak, bukan makna yang dirasakan oleh si peneliti (Bungin, 2004: 134-135).
Salah satu ciri dari ilmu pengetahuan adalah replicabel dapat dilakukan kembali untuk menguji kebenaran ilmu pengetahuan. Subjektifitas dalam ilmu pengetahuan menjadikan kebenaran hanya bisa diterima dalam diri peneliti. Generalisasi dalam penelitian memungkinkan peneliti lain untuk meneliti penelitian sejenis ditempat yang sama maupun tempat yang berbeda
3.2.1.bPenggunaan Analisis Isi
Wimmer dan Dominick (2000) setidaknya ada lima kegunaan yang dapat dilakukan dalam penelitian analisis isi, yaitu:
1. Menggambarkan isi komunikasi (describing communication content).
2. Menguji hipotesis tentang karakteristik pesan (testing hipotheses of messages characteristics).
3. Membandingkan isi media dengan dunia nyata (comparing media content to the real world).
4. Memperkirakan gambaran kelompok tertentu di masyarakat (assessing the image of particular groups in society).
5. Mendukung studi efek media massa (Bungin, 2004: 135-138).
Penelitian analisis isi kuantitatif memungkinkan untuk menggambarkan fenomena dalam proses komunikasi. Dalam penelitian ini proses komunikasi yang diteliti adalah frekuensi kekerasan dalam film The Raid: Redemption. Realitas nyata dan realitas media selalu menjadi perdebatan yang menarik. Apakah realitas nyata dibentuk oleh realitas media atau realitas media terbentuk dari realitas nyata. Penelitian ini mendukung untuk menemukan jawaban atas kedua pertanyaan di atas.
3.2.1.c Kelebihan dan Keterbatasan Analisis Isi
Bungin (2004: 139-142) mengungkapkan bahwa penggunaan analisis isi juga memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan utama metode ini adalah tidak digunakannya manusia sebagai subjek penelitian. Hal ini menyebabkan penelitian relatif lebih mudah, tidak ada reaksi dari populasi ataupun sampel yang diteliti karena tidak ada orang yang diwawancarai, diminta mengisi kuesioner ataupun diminta datang di laboratorium. Analisis isi juga relatif murah, tidak terbentur masalah perizinan penelitian. Bahan-bahan penelitian mudah didapat terutama di perpustakaan-perpustakaan atau dibagian dokumentasi audio visual. Kelebihan lainnya ialah ketika peneliti tidak dapat melakukan penelitian survei atau pengamatan terhadap populasi, analisis isi dapat digunakan.
Kekurangan analisis isi terpenting adalah hanya meneliti pesan yang tampak, sesuatu yang disembunyikan dalam pesan bisa luput dari analisis isi. Selanjutnya adalah kesulitan menentukan media atau tempat memperoleh pesan-pesan yang relevan dengan masalah yang diteliti
3.2.1.d Tahapan Penelitian Analisis Isi
Untuk memudahkan peneliti melakukan penelitian, penelitian ini dibagi dalam beberapa tahapan penelitian analisis isi, yakni:
1. Menentukan permasalahan.
2. Menyusun kerangkan pemikiran (conceptual atau theoritical framework).
3. Menyusun perangkat metodologi.
4. Analisis data merupakan analisis terhadap data yang berhasil dikumpulkan oleh peneliti melalui perangkat metodologi tertentu.
5. Interpretasi data merupakan interpretasi terhadap hasil analisis data (Bungin, 2004: 139-142).
Permasalahan dalam analisis isi mempengaruhi unit analisis yang akan digunakan. Dalam penelitian ini, peneliti hanya berfokus pada permasalahan kekerasan. Kekerasan dalam penelitian ini terbagi dalam kekerasan fisik dan kekerasan psikologis.