• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Perairan pantai utara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah merupakan wilayah provinsi yang telah dilakukan pengembangan budidaya rumput laut. Wilayah penelitian dilakukan di wilayah sentra budidaya rumput laut Gracillaria sp. Sentra budidaya rumput laut Provinsi Jawa Tengah berada di Kabupaten Brebes. Sentra pembudidaya rumput laut Kabupaten Bekasi tersebar di tiga Kecamatan yaitu Babelan, Tarumajaya, dan Muaragembong. Sentra pembudidaya rumput laut Kabupaten Brebes tersebar di dua Kecamatan yaitu Randusanga Wetan dan Randusanga Kulon.

Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Brebes ditentukan menjadi lokasi penelitian untuk mewakili daerah pemula dan hingga kini menjadi ikon daerah kampung rumput laut Gracillaria sp diantara daerah-daerah serupa lainnya se-pulau Jawa. Alasan ke-dua adalah daerah tersebut penghasil produk rumput laut jenis Gracillaria spyang paling besar di perairan pulau Jawa. Alasan ke-ketiga adalah memiliki pengalaman mengelola usaha rumput laut Gracillaria sp dalam waktu lebih dari enam bulan hingga sepuluh tahun.

Pengumpulan data penelitian dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan sejak bulan Juli 2011 hingga Oktober 2011.

Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan survei atau menggunakan paradigma kuantitatif (Singarimbun dan Sofyan 1989).Penelitian ini bersifat penelitian penjelasan (eksplanatory) yaitu menjelaskan fenomena kompetensi pembudidaya dalam mengelola usaha budidaya polikultur perikanan rumput laut. Penjelasan phenomena melingkupi penjelasan hubungan kausalitas antara peubah-peubah penelitian yang diuji melalui pengujian hipotesis. Penelitian ini juga didukung dengan data dan informasi kualitatif.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah kepala keluarga pembudidaya yang mengelola usaha rumput laut polikultur yang telah melakukan usaha minimal setengah tahun. Lamanya waktu budidaya enam bulan pada umumnya pembudidaya telah panen minimal dua kali. Hasil panen menjadi batasan sesuai kebutuhan penelitian karena jumlah produksi rumput laut menjadi salah satu indikator pengukuran kompetensi. Penentuan populasi penelitian ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan sentra produksi rumput laut Gracillaria terbesar dalam jumlah dan paling awal berkembang di Pulau Jawa. Populasi berjumlah 457 orang dari Kabupaten Bekasi di Provinsi Jawa Barat dan dari Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah.

Data sekunder jumlah populasi pembudidaya rumput laut tidak cukup dijadikan patokan/dasar pengambilan sampel maka sampel diambil secara sensus sampling terhadap responden yang berhasil ditemui di lapangan dengan kriteria responden telah memproduksi minimal dua kali panen atau enam bulan. Jumlah sampel didasarkan untuk memenuhi ketentuan criteria sample berdasarkan SEM yaitu (a) sample besar antara 100 – 200, dan (b) jumlah sampel ditentukan berdasarkan jumlah peubah/parameter yang diestimasi dikalikan 5 – 10 (Kusnendi 2008), maka responden yang berhasil ditemui dilapangan sebanyak 200 yang terdiri atas 100 pembudidaya Kabupaten Bekasi dan 100 pembudidaya Kabupaten Bekasi layak dijadikan sampel penelitian. Secara rinci disajikan pada table 15.

Tabel 15. Jumlah Populasi dan Sampel Berdasarkan Wilayah Penelitian

No. Provinsi/Kabupaten Kecamatan Desa Populasi

(orang)

Sampel

(orang) 1 Jawa Barat

Kabupaten Bekasi

Tarumajaya Samudera Jaya 53 33

Babelan Hurip Jaya 52 42

Muaragembong Pantai Mekar Pantai Sederhana 11 20 8 17 Total 1 : 136 100 2 Jawa Tengah Kabupaten Brebes

Brebes Randusanga Wetan Randusanga Kulon 200 121 54 46 Total 2 : 321 100

Total 1 dan Total 2 : 457* 200**

Keterangan :

* : Data Sekunder

Analisis Data

Analisis data adalah kategorisasi, penataan, manipulasi, dan peringkasan data untuk memperoleh jawab bagi pertanyaan penelitian. Kegunaan analisis adalah mereduksi data menjadi perwujudan yang dapat difahami dan ditafsirkan dengan cara tertentu hingga relasi masalah penelitian dapat ditelaah serta diuji (Kerlinger 2006).

Analisis data merupakan suatu upaya penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah untuk dibaca dan mudah diinterpretasikan, untuk itu diperlukan alat statistik. Alat analisis data menggunakan : (1) analisis deskriptif yang bertujuan menyederhanakan data ke dalam bentuk deskriftif atau keragaan data dari setiap peubah yang diamati, (2) Uji beda t-test untuk menganalisis perbedaan diantara dua pembudidaya Kabupaten Bekasi dan Brebes, dan (3) analisis hubungan causal antar peubah dengan menggunakan uji statistik non parametric yaitu Structural Equation Modeling (SEM). Metode analisis deskripsi, uji beda t-test dan SEM digunakan sebagai alat bantu analisis statistik sesuai dengan tujuan penelitian.

Analisis data pada model hipotetik persamaan struktural (Structural Equation Modeling, SEM) disusun berdasarkan kerangka pikir penelitian. Model hipotetik persamaan structural menggambarkan jalur pengaruh peubah-peubah laten eksogen yaitu X1, X2, X3, dan X4 terhadap peubah laten endogen yaitu Y1, Y2, dan Y3 (Gambar 7) dan dapat disusun persamaan structural sebagai berikut :

(1) Kompetensi Pembudidaya dalam Mengelola Usaha Rumput Laut, yaitu Y1 = 1.1X1 + 1.2X2 + 1.3X3 + 1.4X4 + ζ1

(2) Produktivitas Pembudidaya Rumput Laut

Y2 = 2.1X1 + 2.2X2 + 2.3X3 + 2.4X4 + 2.1 + ζ2

(3) Pendapatan Rumput Laut Y3 = 3Y2 + ζ3

1 Є .1 Є1.2 Є1.3 Є1.4 Є1.5 Є1.6 Є .7 Karakteristik Pembudidaya (X1) Efektivitas penyuluhan (X2) Kompetensi pembudidaya (Y1) X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X4.2 X4.3 X4.4 Proses belajar (X3) (X3) Pendapatan (Y3) Y2.1 Y2.2 3.2 ζ1 δ4.1 δ4.2 δ4.3 δ4.4 δ4.5 δ .1 δ2.2 δ .3 δ2.4 δ2.5 δ2.6

Gambar 7. Diagram Jalur Model Hipotetik Persamaan Struktural Pengembangan Kompetensi Pembudidaya dalam Mengelola Usaha Rumput Laut

Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y1.4 Y1.5 Y1.6 Y1.7 X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 Kelembagaan RL (X4) X3.1 X3.2 X3.3 X3.5 X3.4 λX3.1 λX . λX . λX3.4 λX . λ1.1 λ1.2 λ1.3 λ1.4 λ1.5 λ1.6 δ3.1 δ3.2 δ3.3 δ3.4 δ3.5 X4.1 X4.5 λx4.1 λx4.2 λx4.3 λx4.4 λx4.5 1.1 1.3 1.4 λy1.1 λy1.2 λy . λy . λy . λy1.6 λy1.7 Produktivitas (Y2) λX2.1 λX2.2 λX . λX . λX . λX2.6 λX2.1 λX2.2 2.1 ζ2 ζ3 2.3 2.4 2.2 2.1 1.2 Є 2.1 Є 2.2 δ1.1 δ1.2 δ1.3 δ1.4 δ1.5 δ1.6

Model hipotetik persamaan structural diuji kesesuaian dengan data empiris dengan beberapa ukuran kesesuaian model Goodness-of-Fit-Test (GFT). Menurut Joreskog & Sorbon dalam Kusnendi (2008) bahwa suatu model struktural diindikasikan sesuai atau fit bila memenuhi tiga jenis GFT, yaitu: 1) p-value ≥ 0,05, 2) Root Means Square Error of Approximation (RMSEA) ≤ 0,08, dan Comparative Fit Indeks (CFI) ≥ 0,90.

Model struktural menggambarkan arah hubungan kausalitas antar peubah disertai besaran nilai koefisien. Hasil model structural tersebut berguna untuk dijadikan dasar penyusunan strategi penyuluhan partisipatif bagi masyarakat pembudidaya yang menekuni usaha budidaya rumput laut tambak secara polikultur (diversifikasi). Adapun notasi peubah yang akan diuji disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16. Notasi Peubah dan Indikator Penelitian No. Peubah dan Indikator Notasi

Peubah

Notasi Indikator 1. Karakteristik pribadi pembudidaya X1

a. Umur X1.1

b. Tingkat pendidikan formal X1.2

c. Pengalaman berusaha X1.3

d. Jumlah anggota keluarga X1.4

e. Luas lahan X1.5

f. Motivasi menekuni usaha rumput laut X1.6 2. Tingkat Efektivitas Penyuluhan X2

a. Keberfungsian penyuluhan X2.1 b. Ketepatan program penyuluhan X2.2 c. Ketepatan tujuan penyuluhan X2.3 d. Konvergensi model komunikasi X2.4 e. Kesesuaian peran tenaga penyuluhan X2.5 f. Ketepatan orientasi penyuluhan masa depan X2.6 3. Proses belajar pembudidaya X3

a. Tingkat kemampuan belajar pembudidaya (Learner) X3.1 b. Akses sumber informasi X3.2 c. Intensitas interaksi pembudidaya dengan sumber

informasi

X3.3 d. Dukungan fasilitas belajar X3.4 e. Akses materi pembelajaran X3.5 f. Tingkat orientasi belajar X3.6

4. Dukungan kelembagaan X4

a. Lembaga penyedia sarana produksi X4.1

b. Lembaga penyedia modal X4.2

c. Lembaga penyedia informasi X4.3 d. Lembaga pemasaran hasil X4.4

e. Kebijakan daerah X4.5

Tabel 16. Lanjutan

No. Peubah dan Indikator Notasi Peubah

Notasi Indikator a. Pengetahuan mengelola usaha Y1.1 b. Kesediaan mengembangkan usaha Y1.2 c. Ketrampilan non teknis budidaya rumput laut Y1.3 d. Ketrampilan teknis budidaya rumput laut Y1.4

e. Motif berusaha Y1.5

f. Pemecahan masalah Y1.6

g. Adaptasi lingkungan Y1.7

6. Tingkat produktivitas usaha rumput laut Y2

a. Jumlah produksi Y2.1

b. Mutu produk Y2.2

c. Diversifikasi usaha Y2.3

7. Tingkat pendapatan usaha rumput laut Y3

Data dan Instrumentasi

Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diterima langsung dari responden penelitian yaitu pembudidaya perikanan rumput laut. Data primer diperoleh melalui teknik : (1) wawancara terstruktur yaitu menggali data secara langsung dari sumber pertama dengan menggunakan pedoman wawancara terstruktur maupun yang tidak terstruktur, (2) wawancara tidak terstruktur, dan (3) pengamatan langsung kegiatan pembudidayaan polikultur perikanan rumput laut.

Data primer yang dikumpulkan adalah data dengan skala nominal, ordinal, interval, dan rasio yang diperoleh langsung dari responden. Data skala nominal meliputi indentitas responden seperti jenis kelamin, agama. Data berskala nominal diperlukan untuk melengkapi deskripsi atau gambaran responden. Data berskala ordinal meliputi variabel independen dan dependen yang berskala ordinal (berjenjang). Data berskala interval dan rasio meliputi jenis data variabel bebas dan terikat yang berskala interval dan rasio. Data berskala ordinal ditransformasi menjadi skala interval sesuai dengan tuntutan teknik pengolahan dengan uji statistik non parametrik SEM.

Data sekunder diperoleh dari pencatatan dan dokumentasi data yang telah tersedia di instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa yang

meliputi data : potensi produksi, profil kelembagaan, profil agribisnis rumput laut daerah-daerah potensial, demografi, kebijakan pemerintah pusat dan daerah, data hasil kunjungan lapang daerah budidaya rumput laut, data jumlah penyuluh.

Instrumentasi

Instrumentasi atau alat ukur (kuesioner) adalah alat pengumpulan data penelitian. Instrumen yang disusun haruslah memiliki criteria axhaustive dan mutually exlusive agar mampu menampung segala kemungkinan jawaban dari responden (Danim 2007). Kriteria axhaustive adalah pertanyaan disusun secara tuntas, lengkap dan mendalam. Alternatif jawaban yang disediakan mampu menampung segala kemungkinan jawaban responden. Kriteria mutually exlusive adalah pertanyaan disusun tidak tumpang tindih (overlap) sehingga jawaban yang diajukan peneliti hanya satu kemungkinan yang dipilih responden.

Kuesioner berisi butir-butir pertanyaan yang disusun berdasarkan variabel- variabel yang disusun dari hasil kajian teoritik. Pertanyaan yang diajukan secara tertulis berupa pertanyaan-pertanyaan maupun pernyataan yang dinyatakan secara tertutup dan terbuka. Pertanyaan tertutup disajikan dengan cara memberikan alternatif jawaban-jawaban yang telah ditentukan. Pertanyaan terbuka disajikan dengan cara memberikan kesempatan pada responden untuk memberikan alternatif jawaban.

Validitas Instrumen

Suatu instrument penelitian akan bernilai ditentukan oleh kemampuan pengukuran instrument yang disebut kuesioner. Kuesioner yang tepat memiliki kemampuan mengukur apa yang seharusnya diukur (valid). Validitas adalah sebuah alat ukur yang menunjukkan kemampuannya mengukur apa yang seharusnya diukur. Kuesioner riset yang valid adalah instrument yang mampu mengukur besarnya nilai variabel yang diteliti (Suliyanto 2006).

Pengujian validitas kuesioner dilakukan pada pembudidaya yang mengusahakan rumput laut jenis Gracillaria sp di empat daerah yaitu Bekasi, Subang, Indramayu dan Cirebon. Jumlah pembudidaya yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil perhitungan uji validitas terhadap 30 orang pembudidaya rumput laut

Gracillaria Sp diperoleh nilai koefisien dengan rentang 0.13 hingga 0.86. Instrumen yang valid apabila nilai koefisien memenuhi kriteria r hitung r tabel pada taraf alpha 0.05. Dengan demikian 220 pertanyaan diperoleh nilai r hitung kurang dari r tabel (n=30) dengan nilai 0.361 dinyatakan tidak valid. Ketidakvalidan instrument disebabkan ; (1) tidak relevannya pertanyaan dengan kondisi pembudidaya. Salah satu contoh ketidakrelevanan adalah tidak relevannya pertanyaan pengolahan rumput laut karena kemampuan produksi pembudidaya terbatas pada produksi rumput laut kering, dan (2) pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner kurang tepat dan menimbulkan perbedaan penafsiran. Dengan demikian untuk menghasilkan instrumen yang valid maka dilakukan dengan : (1) menghilangkan 73 pertanyaan yang tidak mendukung, (2) memperbaiki 34 pertanyaan yang kurang tepat sehingga dihasilkan instrument yang layak dipergunakan untuk penelitian.

Reliabilitas Instrumen

Instrumen yang reliable menentukan hasil penelitian. Instrumen yang reliable ditentukan kemampuan pengukuran atas pertanyaan-pertanyaan yang dituangkan dalam kuesioner pada lokasi penelitian yang berbeda dan waktu yang berbeda akan diperoleh hasil yang sama.

Pengertian alat ukur yang reliable adalah kemampuan alat ukur mengungkap data yang cukup dapat dipercaya (Suliyanto 2006). Uji reliabilitas instrument menggunakan metode Alpha Cronbach dengan 5 kriteria ukuran dari skala 0 hingga 1. Berdasarkan uji reliabilitas pada 30 orang pembudidaya rumput laut Gracillaria sp diperoleh hasil alpha cronbach dengan rentang 0.817 hingga 0.835 dengan kriteria sangat reliable. Hasil pengujian reliabilitas pada pembudidaya rumput laut maka diperoleh hasil tercantum yang pada Tabel 17.

Tabel 17. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian

No. Peubah Nilai Alpha Cronbach

1 Karakteristik Pembudidaya (X1.7) 0.826

2 Efektivitas Penyuluhan (X2) 0.817

3 Proses Belajar (X3) 0.823

4 Dukungan Kelembagaan 0.835

5 Kompetensi Budidaya Rumput Laut (Y1) 0.832

Definisi Operasional dan Pengukuran Peubah

Definisi operasional dipergunakan untuk dijadikan pedoman tentang batasan pengertian suatu hal atau kegiatan. Menurut Nazir (1999), definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan pada suatu variabel dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan atau memberikan operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut.

Pengukuran adalah pemberian angka pada obyek-obyek atau kejadian- kejadian menurut sesuatu aturan (Kerlinger 2006). Dengan kata lain pengukuran merupakan suatu upaya menilai sesuatu berdasarkan pada satuan nilai tertentu. Pengukuran peubah penelitian yang digunakan disesuaikan dengan definisi operasional peubah.

Tiap peubah diukur dengan skala yang berbeda-beda sesuai dengan definisi operasional dan indikator. Peubah, indikator jenis ordinal diukur dengan skala Likert, Skala Likert adalah menyajikan pilihan respon untuk memberikan persepsi/jawaban dengan gradasi dari paling negatif hingga paling positif dengan jumlah nilai 1 paling negatif hingga 5 pilihan respon paling positif. Penelitian ini menggunakan 4 pilihan. Gradasi jenjang pengukuran disesuaikan dengan peubah dan indikator yang diamati, yaitu :

(1) skor 1: tidak setuju; skor 2 : kurang setuju; skor : 3 setuju; skor 4 : sangat setuju. (2) skor 1: tidak sesuai; skor 2 : kurang sesuai; skor : 3 sesuai; skor 4 : sangat sesuai (3) skor 1: rendah; skor 2 : kurang tinggi; skor : 3 tinggi; skor 4 : sangat tinggi (4) skor 1: tidak tersedia; skor 2 : sedikit; skor : 3 tersedia; skor 4 : sangat banyak (5) skor 1 : sulit; skor 2 : agak mudah; skor : 3 mudah; skor 4 : sangat mudah

Seluruh peubah berskala ordinal ditransformasi menjadi interval. Proses transformasi menurut Sumardjo (1999) dilakukan untuk mendapatkan keseragaman kisaran nilai dari tiap indikator dan peubah yaitu antara nilai terendah 0 hingga tertinggi 100. Adapun rumus transformasi adalah sebagai berikut :

(1) Transformasi Indeks Indikator

Jumlah skor yang dicapai per indikator – Jumlah skor terkecil Indeks transformasi = x100 % indikator Jumlah skor maksimum tiap indikator – Jumlah skor terkecil

(2) Transformasi Indeks Variabel

Jumlah indeks indikator tiap variabel

Indeks transformasi = x 100 % variabel Jumlah total indeks maksimum tiap variabel

Berdasarkan kerangka berfikir penelitian maka peubah-peubah penelitian dirumuskan, dioperasionalkan dan diukur. Secara lebih terinci dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya.

(1). Karakteristik Pribadi (X1)

Karakteristik pribadi pembudidaya rumput laut adalah gambaran demografi pembudidaya rumput laut yang melekat pada pribadinya yang menunjukkan tingkat kemampuan internal pembudidaya mengelola usaha rumput laut polikultur. Peubah karakteristik pembudidaya adalah : usia, pendidikan formal, pendidikan non formal, pengalaman berusaha, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, pendapatan dan motivasi berusaha disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18. Indikator, Parameter dan Pengukuran Peubah Karakteristik Pembudidaya

Sub Peubah Parameter Pengukuran

X1.1. Umur Jumlah tahun umur seorang pembudidaya rumput laut dihitung sejak tanggal lahir hingga penelitian ini dilakukan.

Jumlah tahun umur responden pada saat penelitian dilakukan

X1.2 Tingkat Pendidikan formal

Jumlah tahun lamanya mengikuti sekolah formal yang ditempuh responden

Tingkat pendidikan formal yang ditamatkan.

X1.3. Pendidikan non formal

Jumlah jam mengikuti kegiatan pendidikan non formal

responden. Frekuensi mengikuti pelatihan/kursus budidaya rumput laut. X1.4. Pengala- man beru- saha

Jumlah tahun menekuni budidaya rumput laut secara tumpangsari di tambak.

Jumlah tahun lamanya membu- didayakan rumput laut polikultur dengan komoditas ikan lainnya. X1.5. Jumlah

tanggu- ngan

Jumlah anggota keluarga yang tinggal bersama dalam tempat tinggal yang sama (satu atap) dan menjadi tanggungan kepala keluarga/responden.

Jumlah orang yang menjadi tanggungan

X1.6. Luas lahan Luas lahan yang digarap/ diusahakan responden untuk budidaya rumput laut, yang meliputi : (1) lahan milik sendiri, (2) sewa, (3) bagi hasil

Jumlah hektar tambak yang ditanami rumput lautsecara polikultur

Tabel 18. Lanjutan

Sub Peubah Parameter Pengukuran

X1.7. Motivasi Motivasi usaha yang melatarbelakangi minat pembudidaya menekuni usaha rumput laut polikultur

Tingkat dorongan yang paling me-nentukan minat

pembudidaya me-nekuni usaha rumput laut yaitu : (1) intrinsic yaitu dilatarbelakangi dorongan berprestasi, peningkatan ekonomi keluarga, mengikuti tren lingkungan sosial dan memanfaatkan fasilitas yang ada. (2) ekstrinsik yaitu

dilatarbelakangi stimulasi harga, minat pada manfaat rumput laut, stimulasi intervensi (bantuan), tersedianya fasilitas.

(2). Tingkat Efektivitas Penyuluhan (X2)

Efektivitas penyuluhan adalah terselenggarakannya kegiatan pendidikan non formal yang bertujuan mengembangkan perilaku pembudidaya yang kompeten. Tingkat efektivitas penyuluhan ditinjau dari aspek: (1) tingkat keberfungsian kegiatan penyuluhan sesuai ketentuan UU SP3K Pasal 4, (2) ketepatan program penyuluhan, (3) ketepatan tujuan penyuluhan, (4) konvergensi model komunikasi, (5) kesesuaian peran penyuluh, dan (6) ketepatan orientasi penyuluhan.

Tabel 19. Indikator, Parameter dan Pengukuran Peubah Tingkat Efektivitas Penyuluhan

Indikator Parameter Pengukuran X2.1. Keberfungsian

penyuluhan

(a) Proses pembelajaran

Tingkat keberfungsian kegiatan pembelajaran diukur dengan : (a)Tingkat perolehan pembelajaran :

(1) teknis budidaya, (2) pemasaran, (3) pengemasan,

(4) pengolahan rumput laut, (5) saluran tambak/pengairan. (6) teknologi baru.

(7) manajemen.

(b)Tingkat kelengkapan pembelajaran budidaya rumput laut polikultur yang diperoleh pembudidaya

(c) Tingkat kedalaman pembelajaran budidaya rumput laut polikultur yang diperoleh pembudidaya.

Tabel. 19. Lanjutan

Indikator Parameter Pengukuran X2.2 Ketepatan program penyuluhan (a) Perencanaan Partisipasi menyampaikan masalah dan kebutuhan dalam penentuan : (1) program dan (2) monev. (b) Pelaksanaan Parti- sipasi pembudidaya atas terlaksananya kegiatan: (1) sosialisasi kegiatan (2) penyuluhan untuk masyarakat (c) Monitoring dan evaluasi : partisipasi pembudidaya dalam penilaian atas hasil kegiatan/program yang telah dilaksanakan. (d) Pemanfaatan hasil, meliputi: (1) peningkatan pendapatan, (2) Pertumbuhan/ kondisi yang lebih baik atas seluruh komoditas yang diusahakan.

(a) (a1) Tingkat partisipasi pembudidaya menyampaikan aspirasi untuk menentukan perencanaan, meliputi : (a1.1) masalah, (a2.2) kebutuhan. (a2) Tingkat partisipasi menyampaikan aspirasi untuk menentukan rencana monev, meliputi : (a2.1) masalah, (a2.2) kebutuhan

(b) (b1) Tingkat partisipasi pembudidaya pada kegiatan sosialisasi program penyuluhan. (b2) Tingkat partisipasi

pembudidaya menjadi tenaga swadaya program penyuluhan. (c) Tingkat partisipasi

menyampaikan : (c1)

keluhan/dampak negative yang ditimbulkan program (c2) memperbaiki dampak yang ditimbulkan program. (c3) menyampaikan hasil penilaian atau pengamatan terhadap kegiatan/program yang telah dilaksanakan.

(d) Tingkat perolehan manfaat atas program yang telah dilaksanakan : (1) perolehan peningkatan pendapatan yang lebih baik dari sebelumnya.

(2) perolehan peningkatan/ pertumbuhan yang baik pada semua komoditas yang diusahakan di tambak. X2.3 Ketepatan

tujuan penyuluhan

Ketepatan tujuan penyuluhan sesuai dengan :

kebutuhan pembudidaya (a) Cara pandang (b) Nilai yang dimiliki

pembudidaya (c) Kebutuhan

(a) Tingkat perubahan cara pandang :

(a1) inovasi rumput laut tepat dibudidayakan di lokasi setempat.

(a2) ketepatan teknik budidaya sesuai dengan kemampuan pembudidaya. (b) Tingkat perubahan nilai :

(b1) semangat (b2) kedisiplinan. (c) Ketepatan pemenuhan

kebutuhan : (c1) pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga (c2) sesuai harapan.

Tabel 19. Lanjutan

Indikator peubah Parameter Pengukuran (d) Ketepatan sasaran

penyuluhan

(d) Tingkat ketepatan

penyuluhan inovasi budidaya rumput laut dapat dijangkau khalayak pembudidaya. X2.4 Konver-gensi

mo-del komu- nikasi

(a) Penerapan model komunikasi dialogis (b) Penerapan model

komunikasi konvergen

(a) Tingkat keterbukaan komunikasi yang diterapkan dalam penyuluhan (b) Tingkat keinginan/kesediaan penyuluh berkomunikasi dengan pembudidaya (c) Penerapan model komunikasi dialogis (d) Penerapan model komunikasi konvergen (e) Cara berkomunikasi yang

terjalin diantara pembudidaya dan penyuluh

(c) Tingkat keterbukaan komunikasi yang diterapkan dalam penyuluhan

(d) Tingkat keinginan/kesediaan penyuluh berkomunikasi dengan pembudidaya (e) Kemampuan menjalin

komunikasi yang merakyat antara penyuluh dengan pembudidaya.

X2.5 Kesesuaian peran tenaga penyuluhan

Peran penyuluhan sebagai

agent of change

Tingkat pelaksanaan peran penyuluh dalam membantu meningkatkan :

(a) kemajuan usaha pembudidaya

(b) Pemasaran rumput laut (c) pencapaian kebutuhan

pembudidaya X2.6 Ketepatan

orientasi penyuluhan masa depan

(a) tingkat kemampuan mengembangkan kearifan lokal.

(b) Kemampuan menjalin kerjasama/ koordinasi antar pihak pemangku kepentingan.

(a) Tingkat kemampuan mengembangkan teknologi lokal yang dihasilkan pem- budidaya

(b) (b1) Tingkat kemampuan penyuluh memperbaiki pemasaran rumput laut pembudidaya.

(b2) Tingkat kemampuan penyuluh membantu mempertemukan pembudi- daya dengan pihak pelaku pasar rumput laut.

(3) Proses Belajar Pembudidaya (X3)

Proses belajar adalah keaktifan pembudidaya memperoleh pengalaman dan berlatih yang terus menerus dalam menguasai pengetahuan, ketrampilan mengelola usaha budidaya rumput laut polikultur hingga mencapai suatu kematangan belajar.

Tabel 20. Indikator, Parameter, Pengukuran Peubah Proses Belajar Pembudidaya

Indikator peubah Parameter Pengukuran

X3.1. Kemampuan belajar Pembudidaya (learner)

(a) Kemampuan menemukan cara berbudidaya rumput laut yang cocok dengan lingkungan tambak. (b) Kemampuan menemukan

cara meningkatkan produksi rumput laut.

(c) Kemampuan belajar dari kesuksesan orang lain.

(d) Kemampuan menemukan solusi/cara pemecahan masalah

(a) Tingkat keaktifan belajar menemu-kan cara/teknik budidaya rumput laut yang cocok dengan kondisi tambak yang diusahakan.

(b) Tingkat keaktifan belajar pembudi-daya menemukan cara/teknik yang dapat meningkatkan produksi. Tingkat kemampuan belajar pem-budidaya dari kesuksesan orang lain dalam meningkatkan usaha.

(c) Tingkat kemampuan belajar pem-budidaya dari kesuksesan orang lain dalam meningkatkan usaha.

(d) Tingkat keaktifan mencari teknik-teknik yang dapat mengatasi masalah yang dihadapi pembudidaya. X3.2. Akses sumber

informasi

(a) Jumlah sumber informasi interpersonal yang diakses

(b) Jumlah akses sumber informasi yang dijangkau

(a)Jumlah sumber informasi yang diakses seperti : kelompok pembudidaya, pakar/ peneliti, pemberdaya, pedagang, pengusaha, petugas pemerintah. (b)Jumlah sumber informasi yang

dijangkau : berasal dari sekitar tempat tinggal, desa, kota, luar daerah. X3.3. Intensitas interaksi antara pembudidaya dengan sumber informasi

(a) Cara berinteraksi antara pembudidaya dengan sumber informasi (b) Jalinan interaksi

pembudidaya dengan sumber informasi

(a)Cara berinteraksi yang digunakan pembudidaya (kesejajaran/ bermi-tra,

kekerabatan, bisnis oriented dan tidak ada kepedulian).

(b)Tingkat keterjalinan interaksi antara pembudidaya dengan sumber informasi

X3.4. Dukungan Fasilitas belajar

(a) Jumlah fasilitas yang digunakan untuk belajar budidaya rumput laut

(b) Kesesuaian fasilitas dengan kebutuhan belajar

(a) Jumlah fasilitas belajar yang tersedia, antara lain meliputi : (1) ruang/tempat untuk pelatihan, pertemuan dan diskusi, (2) alat peraga, (3) demplot, (4) bahan dan peralatan tambak, (5) media informa-si, (6) dana, (7) sarana tambak yang dikelola, (8) petun-juk teknis budidaya rumput laut, (9) sarana tambak orang lain. (b) Tingkat kesesuaian fasilitas

dengan kebutuhan belajar pembudidaya

Tabel 20. Lanjutan

Indikator peubah Parameter Pengukuran X3.5. Akses materi

pembelajaran

(a) Jumlah materi/informasi yang diakses pembudidaya

(b) Frekuensi akses materi pembelajaran

(c) Cara mendapatkan materi budidaya rumput laut

(a)Jumlah materi/informasi yang diakses, terdiri atas : (1) teknologi budidaya polikultur, (2) informasi pasar, (3) panen, (4) pengolahan dan (5) pemasaran hasil

(b)frekuensi pembudidaya

mengakses materi pembelajaran (c)Cara mendapatkan materi

diperoleh dari kegiatan : (1) pelatihan, (2) belajar kelompok, (3) anjangsana, (4) studibanding, (5) diskusi informal dengan teman, (6) diskusi informal dengan konsumen, (7) tambak percontohan, (8) kegiatan temu usaha.

(4) Dukungan Kelembagaan Budidaya Rumput Laut (X4)

Dukungan kelembagaan adalah tersedianya sistem peraturan/jasa/barang yang dijadikan sebagai landasan atau standar perilaku pembudidaya mengelola usaha budidaya rumput laut polikultur dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempertahankan keberlangsungan usaha rumput laut. Peubah dukungan kelembagaan budidaya rumput laut akan dijelaskan melalui indikator di bawah ini.

Tabel 21. Indikator, Parameter dan Pengukuran Peubah Dukungan Kelembagaan Budidaya Rumput Laut

Indikator Peubah Parameter Pengukuran

X4.1 Sarana produksi budidaya rumput laut (a) Ketersediaan kelembagaan sarana produksi rumput laut yaitu bibit rumput laut, pupuk, obat-obatan,

Dokumen terkait