120 b. Ideologi Domestikasi
2. Metode Penerjemahan
Terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, setiap pakar penerjemahan mengelompokkan penerjemahan-penerjemahan di bawah ini ke dalam jenis, metode atau teknik. Penulis, dalam hal ini, mengadopsi pendapat Newmark (1988) dalam pengelompokan metode penerjemahan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah metode diartikan sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (2005: 740).
Berkaitan dengan batasan istilah metode penerjemahan (Translation Method), Molina dan Albir (2002: 507) menyatakan bahwa
”Translation method refers to the way of a particular translation process that is carried out in terms of the translator’s objective, i.e., a global option that affects the whole texts”. Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode penerjemahan lebih cenderung pada sebuah cara yang digunakan oleh penerjemah dalam proses penerjemahan sesuai dengan tujuannya, misalnya sebuah opsi global penerjemah yang mempengaruhi keseluruhan teks. Jadi metode penerjemahan sangat mempengaruhi hasil terjemahan. Artinya hasil terjemahan teks sangat ditentukan oleh metode penerjemahan
commit to user
122
yang dianut oleh penerjemah karena maksud, tujuan dan kehendak penerjemah akan berpengaruh terhadap hasil terjemahan teks secara keseluruhan. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Newmark dalam Ordudary (2007: 1) yang menyatakan: “[w]hile translation methods relate to whole texts, translation procedures are used for sentences and the smaller units of language”. Selanjutnya Newmark (1988: 45) telah mengelompokkan metode-metode penerjemahan berikut ke dalam dua kelompok besar. Empat metode pertama lebih ditekankan pada bahasa sumber (Bsu), yaitu word-for-word translation, literal translation, faithful translation, dan semantic translation dan empat metode kedua lebih ditekankan pada bahasa sasaran (Bsa), adaptation, free translation, idiomatic translation, dan communicative translation.
a. Metode Kata-demi-kata
Newmark (1988: 45) mengatakan bahwa dalam metode penerjemahan kata-demi-kata (word-for-word translation), biasanya kata-kata dalam teks sasaran (Tsa) langsung diletakkan di bawah versi teks sumber (Tsu). Metode penerjemahan ini disebut juga penerjemahan antar baris (interlinear translation). Metode penerjemahan ini sangat terikat pada tataran kata, sehingga susunan kata sangat dipertahankan. Dalam melakukan tugasnya, penerjemah hanya mencari padanan kata dari bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa). Susunan kata dalam kalimat terjemahan sama persis dengan susunan kata dalam kalimat bahasa sumber
commit to user
123
(Bsu). Setiap kata diterjemahkan satu-satu berdasarkan makna umum atau di luar konteks, sedangkan kata-kata yang berkaitan dengan budaya diterjemahkan secara harfiah. Umumnya metode ini digunakan pada tahapan prapenerjemahan pada saat penerjemah menerjemahkan teks yang sukar atau untuk memahami mekanisme bahasa sumber dan biasanya digunakan pada tahap analisis atau tahap awal pengalihan.
Berikut adalah beberapa contoh hasil terjemahan yang menggunakan contoh metode penerjemahan kata-demi-kata menurut beberapa pakar tersebut di atas(Catford, 1978: 25; Soemarno, 1983: 25; Nababan, 2003: 30; Machali, 2009: 50-51):
1. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing that.
Tsa : *Lihat, kecil anak, kamu semua harus tidak melakukan ini.
Jika dianalisis, teks sumber (Tsu) benar-benar diterjemahkan secara kata-demi-kata ke dalam teks sasaran (Tsa). Perhatikanlah kata look
diterjemahkan menjadi ‘lihat’, demikian pula tanda baca koma (,) kembali digunakan. Frasa little guy diterjemahkan ‘kecil anak’ tanpa mengubahnya menjadi ‘anak kecil’. Hal ini benar-benar kaku dan rancu, tidak sesuai dengan struktur frasa bahasa Indonesia.Kemudian kalimat you-all shouldn’t be doing that diterjemahkan kata-demi-kata menjadi ‘kamu semua harus tidak melakukan ini’. Ini pun diterjemahkan kata-demi-kata. Namun demikian terjemahan tersebut masih bisa dimengerti karena struktur kalimatnya interlinear dengan struktur kalimat bahasa Indonesia.
commit to user
124
Berdasarkan hasil terjemahan tersebut, kalimat teks sumber (Tsu) yang dihasilkan sangatlah rancu dan janggal karena susunan frasa “kecil anak” tidak berterima dalam tatabahasa Indonesia dan makna frasa “harus tidak” itu kurang tepat. Seharusnya kedua frasa tersebut menjadi “anak kecil” dan “seharusnya tidak”. Demikian pula dengan kata “that” yang sebaiknya diterjemahkan menjadi “itu” bukan “ini”. Oleh karena itu alternatif terjemahan dari kalimat tersebut menjadi: ‘Lihat, anak kecil, kamu semua seharusnya tidak melakukan itu.’
2. Tsu : I like that clever student.
Tsa : *Saya menyukai itu pintar anak.
Kalimat Tsu diterjemahkan kata-demi-kata. I diterjemahkan ’saya’,
like diterjemahkan ’menyukai’ dan yang paling rancu adalah frasa that clever student diterjemahkan menjadi ’itu pintar anak’. Maka dari itu, hasil terjemahannya tidak berterima dalam bahasa Indonesia karena susunan kata yang benar bukan ’itu pintar anak’ tetapi ’anak pintar itu’, sehingga kalimat yang benar seharusnya:
”Saya menyukai anak pintar itu.”
3. Tsu : I will go to New York tomorrow.
Tsa : Saya akan pergi ke New York besok. 4. Tsu : Joanne gave me two tickects yesterday.
Tsa : Joanne memberi saya dua tiket kemarin.
Kalimat ke-3 dan ke-4 ini walaupun diterjemahkan secara
commit to user
125
karena kebetulan struktur kalimat teks sumber (Tsu) dan struktur kalimat teks sasaran (Tsa) sama. Maka dari itu, hasil terjemahannya tidak separah hasil terjemahan kalimat ke-1 dan ke-2. Artinya bahwa hasil terjemahan kedua kalimat tersebut masih dalam kategori berterima walaupun masih terasa janggal.
b. Metode Harfiah
Penerjemahan harfiah (literal translation) atau disebut juga penerjemahan lurus (linear translation) berada di antara penerjemahan kata-demi-kata dan penerjemahan bebas (free translation) (Newmark, 1988: 46). Dalam proses penerjemahannya, penerjemah mencari konstruksi gramatikal bahasa sumber (Bsu) yang sepadan atau dekat dengan bahasa sasaran (Bsa). Penerjemahan harfiah ini terlepas dari konteks. Penerjemahan ini mula-mula dilakukan seperti penerjemahan kata-demi-kata, tetapi penerjemah kemudian menyesuaikan susunan kata-katanya sesuai dengan gramatika bahasa sasaran (Soemarno, 1983: 25; Nababan, 2003: 33; Moentaha, 2006: 48; Machali, 2009: 51). Perhatikan beberapa contoh berikut:
1. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing that.
Tsa : Lihat, anak kecil, kamu semua seharusnya tidak berbuat seperti itu. Frasa little guy sudah diterjemahkan sesuai dengan struktur frasa bahasa Indonesia menjadi ‘anak kecil’ dan kalimat you-all shouldn’t be doing that sudah diterjemahkan menjadi ‘kamu semua seharusnya tidak berbuat seperti itu’ dengan cukup baik dan berterima.
commit to user
126
2. Tsu : It’s raining cats and dogs. Tsa : Hujan kucing dan anjing.Kalimat Tsu ini sudah diterjemahkan ke dalam Tsa dengan metode harfiah. Dalam hal ini terjadi pergeseran (transposition) jumlah dari bentuk jamak cats and dogs menjadi bentuk tunggal ‘kucing dan anjing’.
3. Tsu : His heart is in the right place.
Tsa : Hatinya berada di tempat yang benar.
Frasa his heart diterjemahkan dengan tepat secara harfiah menjadi frasa ’hatinya’ karena sudah mengikuti struktur frasa bahasa Indonesia. Kata ganti empunya his yang menempel sebelum kata benda heart diterjemahkan menjadi ’nya’ yang menempel setelah kata benda ’hati’. Demikian pula dengan frase the right place yang diterjemahkan menjadi ’tempat yang benar’ sesuai dengan struktur frasa bahasa Indonesia.
4. Tsu : Sooner or later the weather will change.
Tsa : Lebih cepat atau lebih lambat cuaca akan berubah.
Kalimat Tsu sudah diterjemahkan dengan tepat secara harfiah ke dalam Tsa karena telah mengikuti struktur kalimat bahasa sasaran (Bsa). Frasa sooner or better sebagai adverbial diterjemahkana ke dalam ‘lebih cepat atau lebih baik sebagai adverbial juga. Demikian pula kalimat the weather will change yang berjenis kala (tense) simple future tense
diterjemahkan ke dalam jenis kala (tense) yang sama, yaitu menjadi ‘cuaca akan berubah’.