• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Analisis Location Quotient (LQ)

Izin   Gang (HO

5. Wilayah Kabupaten Bogor yang luas, rentang kendali pelayanan perizinan dan pengawasan serta pengendalian penanaman modal

3.3. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Analisis Location Quotient (LQ)

3.3.Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 3.3.1. Analisis Location Quotient (LQ)

Analisis LQ digunakan untuk mengetahui prospek pengembangan suatu wilayah yang berbasiskan potensi keunggulan komparatif serta mengidentifikasikan komoditas unggulan yang menjadi sektor basis dan non basis. LQ merupakan suatu indeks untuk membandingkan pangsa sub wilayah dalam aktivitas tertentu dengan pangsa total aktivitas tersebut dalam total aktivitas wilayah (Widodo, 2004). Pendekatan ini merupakan perbandingan antara fungsi relatif produksi/ luas areal komoditas j pada tingkat wilayah dengan fungsi relatif produksi/ luas areal komoditas j pada tingkat wilayah yang lebih besar. Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

LQij = Xij/Xj Xi/X keterangan :

Lqij = Index Quotient sektori di Kabupaten Bogor

Xij = jumlah PDRB sektor i di Kabupaten Bogor

Xj = total PDRB di Kabupaten Bogor

Xi = jumlah PDRB sektor i di Jawa Barat

X = total PDRB di Jawa Barat

Kriteria penilaian dalam penentuan ukuran derajat basis dan non basis adalah jika nilai indeks LQ > 1 maka komoditas tersebut merupakan komoditas

basis (potensial) sedangkan bila nilai indeks LQ ≤ 1 maka komoditas yang

dimaksud termasuk ke dalam komoditas non basis pada kegiatan perekonomian.

3.3.2. Analisis Tipologi Klassen

Analisis ini digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola pertumbuhan ekonomi daerah (Widodo, 2007). Maka untuk melihat gambaran perkembangan investasi baik PMA dan PMDN suatu daerah maka wilayah diklasifikasikan dilihat pada Tabel 10 sebagai berikut :

 

b. Wilayah maju dan tertekan (Retarted Region) c. Wilayah yang sedang tumbuh (Growth Region)

d. Wilayah yang relatif tertinggal (Relatively Backward Region)

Dalam melakukan analisis perkembangan investasi digunakan dengan melakukan perbandingan antara daerah (kabupaten/kota di Jawa Barat) yang mempunyai rata-rata pertumbuhan investasi dan rata-rata nilai investasi dibandingkan rata-rata pertumbuhan investasi dan rata-rata nilai investasi referensi (Provinsi Jawa Barat).

Tabel 10 Klasifikasi Wilayah Berdasarkan Tipologi Klasen                Rata‐Rata    Pertumbuhan      Xi > X      Xi < X   

gi > g  Rapid Growth Region  

Growth Region

  gi < g  Retarted Region

 

Relatively Backward Region

  keterangan :

Xi = rata-rata nilai investasi kabupaten/kota i di Jawa Barat X = rata-rata nilai investasi seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat gi = rata-rata pertumbuhan investasi kabupaten/kota i di Jawa Barat

g = rata-rata pertumbuhan investasi seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat

3.3.3. Analytical Hierarchy Process

Langkah-langkah dalam metode AHP yang digunakan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

a) Mendefinisikan faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik investasi di

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi investasi merupakan hasil dari penelitian KPPOD dalam melaksanakan peringkat daya saing investasi kabupaten/kota di Indonesia.

b) Membuat struktur hirarki dari sudut pandang manajerial secara menyeluruh. Berdasarkan Permadi (1992), proses penyusunan hirarki lebih bersifat seni daripada ilmu pengetahuan, maka tidak ada bentuk yang baku untuk memecahkan suatu kasus. Biasanya pembuatan hirarki melihat pada contoh hirarki yang sudah pernah dibuat untuk menyelesaikan suatu kasus, kemudian dengan berbagai modifikasi dibuat hirarki sendiri untuk memecahkan kasusnya.

Fokus tujuan pada puncak hierarki (level 1) adalah meningkatkan investasi swasta di Kabupaten Bogor. Pada tingkat berikutnya yang lebih rendah (level

2) ditetapkan pelaku yang mempengaruhi kebijakan iklim investasi di

Kabupaten Bogor. Level 3 mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi

investasi swasta di Kabupaten Bogor. Sedangkan tingkatan selanjutnya (level 4) merupakan variabel yang mempengaruhi investasi swasta. Struktur hirarki dalam kajian dapat dilihat pada Gambar 4.

c) Menetapkan prioritas dan menyusun matriks banding berpasangan

Dalam menetapkan prioritas, langkah yang dilakukan adalah membuat perbandingan dari setiap elemen yang berpasangan. Bentuk dari perbandingan berpasangan ini berupa matriks. Dari matriks banding berpasangan dapat diketahui pengaruh setiap elemen yang relevan atas setiap kriteria yang berpengaruh terhadap fokus tujuan.

Proses perbandingan berpasangan dimulai pada puncak hirarki lalu pada elemen satu tingkat dibawahnya, dan seterusnya. Untuk melakukan pembandingan digunakan nilai skala banding berpasangan (Tabel 11).

 

Tabel 11 Nilai Skala Banding Berpasangan Intensitas

pentingnya Definisi Penjelasan

1 Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen menyumbangkan sama besar pada sifat itu

3

Elemen yang satu lebih sedikit penting dari elemen yang lain

Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas elemen yang lain

5

Elemen yang satu sangat penting dari elemen yang lain

Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas elemen yang lain

7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lain

Satu elemen dengan kuat disokong dan dominannya telah terlihat dalam praktek 9

Satu elemen mutlak lebih penting dari elemen yang lain

Bukti yang menyokong elemen yang satu atas elemen yang lainnya memiliki tingkat penegasan yang mungkin menguatkan. 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua

pertimbangan yang berdekatan

Kompromi diperlukan diantara dua pertimbangan

Sumber : Saaty (1993)

d) Menghitung Matriks Pendapat Individu

Melalui penyebaran kuisioner terhadap stakeholders, maka terkumpul semua

pertimbangan dari hasil perbandingan berpasangan antarelemen pada langkah c. Selanjutnya adalah menghitung semua pertimbangan yang didapat dari setiap

individu. Prinsip penilaian pada AHP bila terdapat m kriteria yang

dibandingkan, maka harus dihasilkan m matriks, setiap sel mempunyai

karakteristik sedemikian sehingga;

= 1 atau x = 1

Formulasi Matriks Pendapat Individu adalah sebagai berikut:

C C … C

C 1 …

A = C 1 1 …

… … ... 1 …

C 1 1 … 1

Dalam hal ini C , C , …, C adalah set elemen pada suatu tingkat keputusan dalam hirarki. Kuantifikasi pendapat dari hasil komparasi berpasangan membentuk matriks n x n. Nilai merupakan nilai matriks pendapat hasil komparasi yang mencerminkan nilai kepentingan C terhadap C.

 

e) Menghitung Matriks Pendapat Gabungan

Karena jumlah responden tidak hanya satu orang maka disusun Matriks Pendapat Gabungan yang dapat mewakili pertimbangan keseluruhan responden. Tujuan dari penghitungan matriks pendapat gabungan adalah untuk membentuk suatu matriks yang mewakili matriks-matriks pendapat individu yang nilai rasio konsistensinya memenuhi syarat. Metode yang digunakan dapat berupa menggunakan rata-rata hitung atau rata-rata ukur (rata-rata geometrik). Dalam kajian ini metode menghitung matrik pendapat gabungan yang dipakai adalah rata-rata ukur atau rata-rata geometrik dengan asumsi peran setiap responden sama. Berdasarkan Permadi (1992), rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata geometrik adalah sebagai berikut:

… , dimana: = Penilaian gabungan pada elemen

= Penilaian elemen oleh responden ke-i (dalam skala 1/9 – 9)

= Banyaknya Responden

Selanjutnya dengan menggunakan perangkat lunak Expert Choice 2000 yang

dibuat oleh Expert Choice Inc, nilai gabungan pada masing-masing elemen

dimasukkan kembali pada matriks perbandingan berpasangan sehingga diperoleh nilai bobot prioritas (local) dari masing-masing elemen dalam suatu tingkat hirarki.

f) Sintesis

Untuk memperoleh peringkat prioritas menyeluruh (global) bagi suatu

persoalan keputusan, maka dilakukan sintesis pertimbangan sebagaimana yang telah dibuat dalam perbandingan berpasangan dengan cara pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan satu bilangan tunggal yang menunjukkan prioritas setiap elemen.

g) Konsistensi

Dalam pengambilan keputusan, perlu diketahui tingkat konsistensinya. Konsistensi sampai pada tingkatan tertentu diperlukan untuk memperoleh hasil