• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Metode Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap orientasi dan tahap eksplorasi.

1. Tahap orientasi adalah tahap dimana peneliti mengumpulkan data secara umum tentang sang tokoh dan seluruh karya-karyanya dan juga seluruh pemikirannya dalam semua bidang.43

2. Tahap eksplorasi yaitu tahap dimana seorang peneliti mengumpulkan data data yang lebih terarah sesuai fokus penelitian atau bidang yang diteliti.

42 M. Burhan Bungin, “Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi,Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-Ilmu Lainnya”, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 133.

43 Nursapia Harahap, “Penelitian Kepustakaan”,Jurnal Iqro, Vol, 8, No. 1, (20140, h. 70.

36

D. Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini digunakan metode analisis deskriptif dengan teknik analisis data yaitu induktif dan deduktif. Metode deskriptif, yaitu dengan menggambarkan secara tepat masalah yang akan diteliti sesuai dengan data yang diperoleh kemudian dianalisa44

1. Deduktif, yaitu kebalikan dari metode induktif. Metode ini membahas data- data yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus dari data-data tersebut.

E. Instrumen Penelitian

Menurut Suharsimi, instrumen penelitian merupakan alat bantu dalam pengumpulan data.45 Instrumen penelitian merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam suatu penelitian, karena fungsinya sebagai sarana pengumpul data yang banyak menentukan keberhasilan suatu penelitian yang dituju. Oleh karena itu, instrumen penelitian yang digunakan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari penelitian itu sendiri. Adapun instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini yakni peneliti, jurnal-jurnal, buku, dan leptop.

F. Teknik Pengelolaan Data dan Analisis Data

Teknik pengolaan data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data yang disajikan dalam bentuk narasi kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk

44 Kazwaini, “Epistemologi Perpajakan Dalam Pemikiran Al-Mawardi”, Jurnal An-nida, Vol 41, No. 1, (2017), h. 86.

45 SuharsimiArikunto, Prosedur Peneliti Suatu Pendekatan Praktik (Edisi revisi;Jakarta:

Rineka Cipta, 2006), h.68.

verbal yang diolah menjadi jelas, akurat, dan sistematis.46 Peneliti melakukan pencatatan dan berupaya mengumpulkan informasi mengenai ketentuan pajak bumi dan bangunan menurut undang-undang nomor 12 tahun 1985 dan kekhalifaan pada masa Umar bin Khattab.

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, seperti kajian kepustakaan yang sudah di tuliskan dalam catatan peneliti. Adapun teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknis analisis data dari Miles dan Huberman, sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitia ini dilakukan dengan mencari, mencatat, dan mengumpulkan data melalui hasil kajian pustaka terkait fokus penelitian.

2. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses perangkuman data dengan cara memilih hal- hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Pada reduksi data, peneliti menfokuskan pada objek pajak, subjek pajak, cara penetapan pajak, dan mekanisme penangihan.

3. Penyajian Data

Setelah data direduksi, maka langka selanjutnya adalah penyajian data.

46 Pawito, Penelitian komunikasi kualitatif, Cet.1. (Yogyakarta: PT Lkis, 2008), h. 89.

38

Dalam penyajian data, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Penyajian data dilakukan untuk mempermudah peneliti untuk dapat mendeskripsikan data sehingga akan lebih mudah dipahami kesimpulan mengenai rumusan masalah sebelumnya.

4. Penarikan Kesimpulan/ Verifikasi

Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah langkah terakhir dalam menganalisis data penelitian kualitatif. Akan tetapi, kesimpulan awal biasanya masih bersifat sementara sehingga dapat berubah apabila tidak ditemukan bukti yang dapat mendukung pada tahap pengumpulan data selanjutnya. Namun sebaliknya, apabila kesimpulan awal tersebut didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang andal dan teruji (kredibel).

BAB IV HASIL

Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat penting artinya bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila yang bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu perlu dikelola dengan baik sehingga dapat meningkatkan peran serta masyarakat sesuai dengan kemampuannya. Disamping itu pajak bumi dan bangunan memberikan keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih baik bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat dari padanya. Sesuai dengan amanat yang terkandung dalam garis-garis besar haluan pajak bumi dan bangunan pada Tahun 1983 perlu diadakan pembaharuan sistem perpajakan, sehingga dapat mewujudkan peran serta dan kegotong-royongan masyarakat sebagai potensi yang sangat besar dalam pembangunan nasional. Sistem perpajakan yang berlaku selama ini, khususnya pajak kebendaan dan pajak kekayaan, telah menimbudkan beban pajak berganda bagi masyarakat, dan oleh karena itu perlu diakhiri melalui pembaharuan sistem perpajakan yang sederhana, mudah, adil, dan memberi kepastian hukum, untuk mencapai maksud tersebut di atas perlu disusun Undang- undang tentang pajak bumi dan bangunan.

39

40

A. Ketentuan Undang-Undang nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bagunan

Pajak bumi dan bangunan dikenakan terhadap objek pajak berupa tanah dan atau bangunan yang didasarkan pada azas kenikmatan dan manfaat, dan dibayar setiap tahun. Pajak bumi dan bangunan pengenaannya didasarkan pada Undang- undang No. 12 tahun 1985 tentang pajak bumi dan bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.12 tahun 1994. Namun demikian dalam perkembangannya PBB sektor pedesaan dan perkotaan menjadi pajak daerah yang diatur dalam Undang-Undang No.28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) Pasal 77 sampai dengan Pasal 84 mulai tahun 2010.

Dalam bab I diatur tentang Ketentuan Umum yang memberikan penjelasaan tentang istilah-istilah teknis atau definisi-definisi pajak bumi dan bangunan seperti pengertian :

a. Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya.

Pengertian ini berarti bukan hanya tanah permukaan bumi saja tetapi betul- betul tubuh bumi dari permukaan sampai dengan magma, hasil tambang, gas material yang lainnya.

b. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan.

1. Ketentuan Umum

Pasal 1 Yang dimaksud dalam Undang-undang ini dengan :

a. Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya;

b. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan;

c. Nilai Jual Obyek Pajak adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi juai beli, Nilai Jual Obyek Pajak oleh Presiden Republik Indonesia.ditentukan melalui perbandingan harga dengan obyek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau Nilai Jual Obyek Pajak pengganti;

d. Surat Pemberitahuan Obyek Pajak adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data obyek pajak menurut ketentuan undang- undang ini;

e. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terhutang kepada wajib pajak.

2. Obyek Pajak

Yang menjadi obyek pajak adalah bumi dan/atau bangunan.

Objek PBB adalah bumi dan/atau bangunan, dimana pengertian bumi dan/atau bangunan adalah sebagai berikut :

“Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia, dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Bangunan, adalah

42

kontruksi teknik yang di tanam atau di lekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan.”

Yang menjadi obyek pajak adalah bumi dan/atau bangunan.

a. Klasifikasi obyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri Keuangan.

Tidak semua objek bumi dan bangunan akan dikenakan PBB, ada juga objek yang di kecualikan dari pengenaan pajak bumi dan bangunan.

a. Obyek Pajak yang tidak dikenakan pajak bumi dan bangunan adalah obyek pajak

1) Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan

2) Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis.

3) Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.

4) Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik

5) Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.

b. Obyek pajak yang digunakan oleh negara untuk penyelenggaraan pemerintahan, penentuan pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut dengan

Peraturan Pemerintah. Batas nilai jual Bangunan Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah) untuk setiap satuan bangunan.

c. Batas nilai jual Bangunan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat

d. Akan disesuaikan dengan suatu faktor penyesuaian yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

3. Subyek Pajak

Subyek pajak adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan. Namun, tidak jarang ada objek pajak yang diakui oleh lebih dari satu orang subjek pajak, yang berarti ada satu objek pajak tetapi memiliki beberapa wajib pajak.

Apabila terjadi statu kejadian dimana satu objek pajak dimiliki/dikuasai oleh beberapa subjek pajak atau satu objek pajak belum diketahui dengan jelas siapa Wajib Pajaknya, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat perjanjian (agreement) antara para pihak yang berkepentingan terhadap objek pajak tersebut. Dalam perjanjian tersebut salah satu pasalnya biasanya membahas siapa yang akan melakukan kewajiban pembayaran pajak termasuk pajak bumi dan bangunan. Apabila dalam perjanjian tidak disebutkan atau memang terjadi lebih dari satu yang memanfaatkan objek pajak sehingga belum diketahui siapa yang menjadi wajib pajak Direktorat Jenderal Pajak dapat menetapkan subjek pajaknya (UU No 12 tahun 1994 Pasal 4 ayat 3).

44

Subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi wajib pajak menurut Undang-undang ini.

Dalam hal atas suatu obyek pajak belum jelas diketahui wajib pajaknya, Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagai wajib pajak. Subyek pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat memberikan keterangan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak bahwa ia bukan wajib pajak terhadap obyek pajak dimaksud. Bila keterangan yang diajukan oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) disetujui, maka Direktur Jenderal Pajak membatalkan penetapan sebagai wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimanya surat keterangan dimaksud. Bila keterangan yang diajukan itu tidak disetujui, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan surat keputusan penolakan dengan disertai alasan-alasannya. Apabila setelah jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterimanya keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan keputusan, maka keterangan yang diajukan itu dianggap disetujui.

4. Tarif Pajak

Tarif pajak yang dikenakan atas obyek pajak adalah sebesar 0,5% (lima persepuluh persen). Mengenai cara menghitung pajak Pasal 6

(1) Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Obyek Pajak

(2) Besarnya Nilai Jual Obyek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri Keuangan, kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai perkembangan daerahnya.

(3) Dasar penghitungan pajak adalah nilai jual kena pajak yang ditetapkan serendah-rendahnya 20% (dua puluh persen) dan setinggi-tingginya 100%

(seratus persen) dari Nilai Jual Obyek Pajak.

(4) Besarnya persentase Nilai Jual Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam`

ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional.

Dengan melihat ketentuan pajak diatas, bahwasanya sebagai penulis juga sebagai peneliti bahwasanya pajak yaitu kontribusi wajib pajak negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang. Dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi dalam pembangunan sarana dan prasarana. Salah satu aspek penunjak dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan nasional selain dari aspek sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya lainnya adalah ketersediaan dana pembangunan baik yang diperoleh dari sumber-sumber pajak maupun non pajak.

Pembangunan nasional yang baik dan berkesinambungan akan berjalan lancar, oleh karena itu harapan kami diperlukan berbagai macam faktor pendorong yaitu dukungan dan partisipasi dari seluruh masyarakat baik yang berada di daerah maupun yang berada di pusat serta dana yang bersumber dari

46

pajak dan non pajak. Sektor pajak merupakan sumber penerimaan negara yang sangat potensial.

B. Perbandingan ketentuan Undang-Undang nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bagunan dengan kebijakan Kharaj pada masa khaifah Umar bin Khattab

Pajak (Dharibah) merupakan salah satu bentuk muamalah dalam bidang ekonomi sebagai alat pemenuhan kebutuhan negara diantaranya untuk pembangunan sarana dan prasarana dan masyarakat untuk membiayai berbagai kebutuhan bersama (kolektif), seperti keamanan kesehatan, dan pendidikan.

Untuk itu, tentu diperlukan adanya tentara, polisi,pegawai serta perlengkapan lainnya, tenaga kesehatan dan rumah sakit, para guru dan gedung sekolah. Jika sumber-sumber seperti zakat, ghanimah, danlain-lain tidak mencukupi, maka ulil Amri dapat menetapkan pajak (Dharibah) sebagai pendapatan tambahan dan dipungut hanya dalam keadaanterjadinya kekosongan atau kekurangan Baitul Mal (kas Negara). Sungguhpun tidak diperbolehkan oleh ulama, pelaksanaannya harus sesuai dengan rambu-rambu syariat. Jika tidak, pajak akan keluar dari jalurnya sebagai alat pemenuhan kebutuhan Negara dan masyarakat, menjadi alat penindas dari penguasa kepada rakyat.

Islam sebagai Agama memiliki seperangkat aturan atau syariat yang mengatur tata cara hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan antar sesama manusia dalam seluruh aspek. Dalam bidang Ekonomi, Alqur‟an dan Hadis mengatur bagaimana tata cara individu dan negara memperoleh

pendapatan, sehingga terpenuhi47. Berbagai kebutuhan seluruh umat manusia, baik kebutuhan pribadi maupun kebutuhan Negara. Pada dasarnya pajak sebagai sumber pendapatan Negara dalam Al-Qur‟an maupun hadis dibenarkan, karena Islam sudah mewajibkan zakat bagi orang-orang yang sudah terpenuhi ketentuan mengenai zakat. Namun bisa sajaterjadi suatu kondisi di mana zakat tidak lagi mencukupi pembiayaan Negara.

Pada masa Rasulullah Saw menerapkan jizyah, yakni pajak yang dibebankan kepada non muslim, khususnya ahli kitab, sebagai jaminan perlindungan jiwa, harta milik, kebebasan menjalankan ibadah, serta pengecualian dari wajib militer. Besarnya jizyah adalah satu dinar pertahun untuk setiap orang laki-laki dewasa yang mampu membayar. Perempuan, anak- anak, pengemis, pendeta, orang tua, penderita sakit jiwa dan semua yang menderita penyakit dibebaskan dari kewajiban ini. Disamping itu, Rasulullah Saw juga menerapkan sistem kharaj, yaitu pajak tanah yang dipungut dari kaum non muslim ketika wilayah khaibar ditaklukkan, tanah hasil taklukan diambil alih oleh kaum muslimin dan pemilik lamanya diberi hak untuk mengolah tanah tersebut dengan status sebagai penyewa dan bersedia memberikan setengah hasil produksinya kepada negara. Rasulullah Saw mengirim orang-orang yang ahli untuk menaksir jumlah keseluruhan hasil produksi. Setelah mengurangi sepertiga sebagai konpensasi dari kemungkinan kelebihan penaksiran, dan sisanya yang dua pertiga dibagi-bagikan, setengahnya untuk negara dan

47 Gusfahmi, Pajak Menurut Syariah Edisi Revisi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), h.12

48

setengahnya untuk para penyewa. Dalam perkembanganya, kharaj-inilah yang menjadi sumber pemasukan bagi Negara.

Konsep Pajak dalam bahasa Arab pajak disebut kharaj yang berasal dari kata kharaj yang berarti mengeluarkan. Secara etimologis kharaj adalah sejenis pajak yang dikeluarkan pada tanah yang ditaklukkan dengan kekuatan senjata,terlepas dari apakah si pemilik seorang muslim. Dalam pengertian lain, kharaj adalah sesuatu yang dikeluarkan. Misalnya dengan dikeluarkannya pungutan dari hasil tanah pertanian. Dapat dikatakan pula bahwa kharaj adalah hasil bumi yang dikenakan pajak atas tanah yang dimiliki oleh non muslim.

Dalam istilah lain kharaj adalah uang sewa yang menjadi milik negara akibat pembebasan tanah itu oleh tentara Islam. Tanah itu dipandang sebagai milik negara dan disewakan kepada penduduk muslimin dan Irfan Mahmud Ra‟ana, sistem ekonomi pemerintahan Umar Ibn Khattab.48

Secara etimologi mempunyai arti sebagai iuran yang wajib dibayar oleh rakyat sebagai sumbangan kepada negara / pemerintah sehubungan dengan pendapatan, pemilikan, harga beli barang dan sebagainya. Jenis-jenis Pajak dalam Islam ada beberapa macam pajak diantaranya Jizyah. Jizyah adalah pajak yang dikenakan pada kalangan non muslim sebagai imbalan untuk jaminan yang diberikan oleh suatu Negara Islam pada mereka guna melindungi kehidupannya.

Pada masa Rasulullah saw. Besarnya jizyah satu dinar pertahun untuk orang dewasa yang mampu membayarnya. Perempuan, anak-anak, pengemis, pendeta, orang tua, penderita sakit jiwa dan semua yang menderita penyakit dibebaskan

48 Rachmatullah Oky, “Teori Pajak Menurut Abu Yusuf Sebuah Alternatif Solusi Perpajakan Di Indonesia” Iqtishoduna, Vol. 8, No.1 (2019), h.7.

dari kewajiban ini.Pembayaran tidak harus berupa uang tunai, tetapi dapat juga berupa barang dan jasa. Sistem ini terus berlangsung hingga masaHarun ar- Rasyid. Dasar hukum ini terdapat dalam surat at-Taubah ayat 29 yaitu sebagai berikut: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Sistem pajak lainnya ialah ushr, sebuah jenis pajak yang telah berlangsung pada masa arab jahiliyah, khususnya di Makkah yang merupakan pusat perdagangan terbesar pada masa itu. Pada masa pemerintahannya Rasulullah Saw. menerapkan ushr sebagai bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang dan dibayar hanya sekali dalam setahun, serta hanya berlaku terhadap barang-barang yang bernilai lebih dari 200 dirham. Kemudian, dalam tradisi Islam abad pertengahan telah beredar pernyataan yang dihubungkan kepada Nabi Muhammad Saw., bahwa penguasa adalah bayang-bayang Allah di bumi.

Karena berasal dari Allah, jadi semua langkah dan kebijakan penguasa dipastikan benar adanya. Salah satu kebijakan yang dibuat dan diterapkan sampai sekarang dan hamper di semua negara adalah pajak. Sepanjang sejarah, ada tiga konsep makna yang pernah diberikan kepada lembaga Negara yang dihidupinya.

1. pajak dengan konsep upeti atau persembahan.

50

2. Pajak dengan konsep “kontraprestasi”.

3. pajak dengan konsep etik atau ruh zakat.

Dari ketiga konsep tentang perpajakan tersebut, pada zaman modern saat ini jelas berbeda jauh. Hal ini bisa kita lihat di Negara Indonesia yang memberlakukan pajak kepada setiap individu. Dalam hal bumi dan bangunan pun juga seperti itu, baik itu orang dari kalangan atas, kalangan49 menengah, ataupun kalangan bawah semua harus membayar pajak untuk pendapatan dan pembangunan Negara. Pajak yang dilaksanakan di Indonesia apakah sudah berjalan dengan sesuai dan bagaimana pajak pada masa Rasulullah saw.

Sebenarnya para pembayar pajakpun (tax payer) Muslim banyak yang mempertanyakan tentang bagaimana pandangan Islam terhadap pajak. Mereka mempertanyakan karena pajak yang ditetapkan pemerintah makin hari makin banyak saja jenis dan jumlahnya dan dirasakan sebagai beban yang sangat berat.

Hal tersebut dikarenakan fenomena perekonomian dunia telah berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan zaman dan perubahan teknologi informasi yang berkembang pesat. Banyak nilai-nilai baru yang dibentuk namun sulit untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, sehingga terkadang membawa kebaikan namun adakalanya menyesatkan.

Globalisasi ekonomi yang diwarnai dengan bebasnya arus barang modal dan jasa, serta perdagangan antar negara, telah mengubah suasana kehidupan menjadi individualistis dan persaingan yang amat ketat. Disamping itu di Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki populasi terbesar sehingga hal ini

49 Yusuf Qardlawi, “Hukum Zakat”. (Jakarta; Pustaka Litera InterNusa, 1997). h. 12.

mengindikasikan bahwa potensi pajak di indonesia masih sangat besar untuk lebih dieksplor. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya masyarakat membayar pajak karena memang kepatuhan seseorang dalam melaksanakan kewajiban – kewajibannya haruslah didukung oleh pemahanan akan fungsi serta pentingnya pajak bagi kelangsungan suatu negara.

Disebagian Negara berkembang, pajak merupakan sumber utama penerimaan Negara yang dapat menunjang jalannya roda pemerintahan dalam hal pembiayaan pembangunan, sehingga tanpa pajak bisa jadi sebagian besar kegiatan negara sulit untuk dapat dilaksanakan. Dana pajak digunakan untuk pembiayaan dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat, sehingga setiap warga negara mulai dilahirkan sampai dengan meninggal dunia dapat menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak. Pajak juga digunakan untuk mensubsidi barangbarang yang sangat dibutuhkan masyarakat, membayar utang negara ke luar negeri, membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) baik dalam hal pembinaan maupun permodalan.

Pajak adalah kewajiban yang ditetapkan oleh wajib pajak, yang harus disetorkan kepada negara sesuai dengan ketentuan, tanpa mendapatkan prestasi kembali dari negara, dan hasilnya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum di satu pihak dan untuk merealisasi sebagian tujuan ekonomi, sosial, politk, dan tujuan-tujuan lain yang ingin dicapai oleh negara. Pajak adalah iuran

Pajak adalah kewajiban yang ditetapkan oleh wajib pajak, yang harus disetorkan kepada negara sesuai dengan ketentuan, tanpa mendapatkan prestasi kembali dari negara, dan hasilnya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum di satu pihak dan untuk merealisasi sebagian tujuan ekonomi, sosial, politk, dan tujuan-tujuan lain yang ingin dicapai oleh negara. Pajak adalah iuran

Dokumen terkait