BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Metode Proyek Menghias Kelas
Metode proyek menurut Moeslichatoen (2004: 137) merupakan salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak dengan persoalan sehari-hari yang harus dipecahkan secara berkelompok. Metode proyek berasal dari
gagasan John Dewey tentang konsep “learning by doing” yakni
proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan- tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama proses penguasaan anak tentang bagaimana melakukan suatu pekerjaan yang terdiri atas serangkaian tingkah laku untuk mencapai tujuan.
Di dalam kehidupan berkelompok, masing-masing anak belajar untuk dapat mengatur diri sendiri agar dapat membina persahabatan, berperan serta dalam keguatan kelompok,
memecahkan masalah yang dihadapi kelompok, dan bekerja sama mencapai tujuan bersama (Gordon, 1985: 17 dalam Moeslicatoen, 2004: 137-138). Misalnya anak dihadapkan pada suatu masalah begaimana menyiapkan perayaan lebaran itu mereka harus bekerjasama untuk menghadapi itu dan memecahkan bersama, masing-masing anak tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus berbagi pekerjaan untuk diselesaikan secara perseorangan atau dalam kelompok 2 atau 3 orang untuk mencapai tujuan bersama (Moeslichatoen, 2004: 138).
Karena berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari, metode proyek diharapkan dapat menjadi wahana untuk
menggerakkan kemampuan kerjasama dengan sepenuh hati, dan meningkatkan keterampilan dan menumbuhkan minat dalam memecahkan masalah tertentu secara efektif dan kreatif (Moeslichatoen, 2004: 138).
2. Tujuan dan Manfaat Metode Proyek
Tujuan metode proyek menurut Moeslichatoen (2004: 146) yaitu untuk melatih anak memperoleh keterampilan memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari baik secara mandiri maupun kelompok, keterampilan bekerja secara terpadu untuk mencapai tujuan kelompok, keterampilan kerjasama secara harmonis, bekerja secara tuntas. Pada tujuan metode proyek ini, anak dilatih untuk mendapat keterampilan memecahkan persoalan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat secara mandiri maupun kelompok. Selain itu juga melatih anak-anak untuk saling bekerjasama dalam pekerjaannya demi mencapai tujuan bersama secara harmonis, karena kerjasama dalam metode proyek dapat meningkatkan keterampilan sosial anak.
Manfaat metode proyek seperti diungkapkan Moeslichatoen (2004: 142) bahwa perkembangan suatu metode terletak pada kekkuatannya dalam memotivasi anak. Metode proyek merupakan salah satu metode yang dapat memberikan pengalaman belajar pada anak dalam memecahkan masalah yang mmiliki nilai praktis yang sangat penting bagi pengembangan pribadi anak yang sehat dan realistik. Pribadi yang sehat adalah pribadi yang memiliki ciri-ciri sikap kemandirian, percaya diri, dapat menyesuaikan diri dan dapat
mengembangkan hubungan antar pribadi yang saling memberi dan menerima.
Manfaat metode proyek ditinjau dari pengembangan pribadi sosial, intelektual maupun pengembangan kreatifitas antara lain yaitu memberikan pengalaman kepada anak dalam mengatur dan mendistribusikan kegiatan, belajar bertanggung jawab terhadap pekerjaan masing-masing, mempuk semangat gotong royong dan kerjasama di antara anak-anak yang terlibat, memberikan
kesempatan kepada anak untuk mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam melaksanakan pekerjaan dengan cermat, mampu mengeksplorasikan bakat, minat dan kemampuan anak, memberikan peluang kepada setiap anak baik individual maupun kelompok untuk mengembangkan kemampuan yang telah dimilikinya yaitu
kemampuan yang telah dimilikinya yaitu keterampilan yang sudah dikuasainya untuk mewujudkan daya kreativitasnya secara optimal.
3. Tahap-Tahap Pelaksanaan Metode Proyek
Tahap-tahap pelaksanaan metode proyek menurut
Moeslichatoen (2004: 145-150) ada 3 tahap, yaitu tahap rancangan persiapan, rancangan pelaksanaan dan rancangan evaluasi. Tahapan yang pertama adalah persiapan metode proyek. Pada tahap persiapan ini yang dilakukan guru adalah: (a) menetapkan tujuan dan tema kegiatan sesuai dengen metode proyek, (b) Menetapkan rancangan bahan dan alat yang akan diperlukan dalam metode proyek, (c) Menetapkan rancangan pegelompokan anak untuk melaksanakan kegiatan proyek, (d) Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, (e) Menetapkan rancangan penilaian kegiatan pengajaran dengan metode proyek.
Tahapan yang kedua dari metode proyek adalah pelaksanaan kegiatan meliputi: (a) kegiatan apa yang harus dilakukan anak secara mandiri atau tim kecil (2 atau 3 anak), (b) hasil yang diharapkan dari masing-masing kegiatan, (c) Bagaimana cara mengerjakan masing- masing bagian pekerjaan yang harus diselesaikan, (d) bahan dan alat apa yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, (e) memadukan kegiatan-kegiatan itu untuk menghasilkan sesuatu karya sesuai dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai.
Tahapan ketiga menetapkan rancangan penilaian. Sesuai dengan tujuan dan tema yang dirancang penilaian kegiatan proyek dengan menggunakan teknik observasi. Yang dirancang untuk observasi dalam kegiatan proyek adalah kualitas peningkatan
keterampilan dalam penyiapan proyek, peningkatan keterampilan dalam bekerjasama, pengembangan kreatifitas anak, dan atanggung jawab menyelesaikan tugas sampai tuntas.
4. Metode Proyek Menghias Kelas
Berdasarkan teori di atas metode proyek menghias kelas merupakan metode yang berusaha meningkatkan aktifitas belajar, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dari orientasi tanggung jawab yang penekanannya pada guru beralih ke tekanan tanggung jawab kepada anak-anak melalui kegiatan menghias kelas. Metode proyek dengan kegiatan menghias kelas diharapkan dapat menjadi wahana untuk menggerakkan kemampuan kerjasama dengan sepenuh hati, dan meningkatkan keterampilan dan
menumbuhkan minat dalam memecahkan masalah tertentu secara efektif dan kreatif.
Metode proyek melalui kegiatan menghias kelas merupakan strategi pengajaran yang melibatkan anak dalam belajar
memecahkan masalah dengan melakukan kerjasama dengan anak lain, masing-masing melakukan bagian pekerjaannya secara
individual atau dalam kelompok kecil untuk menjadi milik bersama. Pada penelitian ini menghias kelas dilaksanakan dengan membuat lukisan dinding dan membuat kolase. Adapun kegiatan tersebut menurut Kathy Charner (1993: 136) diuraikan sebagai berikut:
a. Lukisan Dinding
Kegiatan ini merangsang kreativitas anak dan kerjasama dalam kelompok
Bahan
Kertas putih besar/kertas pembungkus pos Pastel, krayon dan atau spidol
Selotip kertas
Yang harus dilakukan
1) Rekatkan kertas ukuran 1,2 m x 3 m di papan tulis. Letakkan krayon di kursi atau pinggiran papan agar mudah diraih 2) Minta anak-anak memilih tema atau judul lukisan itu
nakal. Pemungutan suara dapat dilakukan untuk memilih judul yang terbaik.
3) Mintalah anak-anak merancang gambar yang berhubunga dengan tema yang ditentukan. Tiap aak membuat sebagian gambar sampai selesai. Jika anda memiliki murid yang sedikit, anak-anak dapat menggambar sekaligus, atau mereka dapat menyelesaikan satu demi satu.
4) Kegiatan tambahan
Jika lukisan sudah jadi, ajaklah anak-anak membicarakan perasaan mereka setelah bekerja dalam kelompok. Anak- anak dapat memutuskan secara kelompok dimana mereka akan menggantung lukisan dinding mereka.
b. Kolase Persahabatan
Anak-anak belajar bergaul dan bekerjasama secara positif . 1) Bahan
Kertas besar (cukup untuk menutup meja), bahan-bahan untuk kolase (potongan kertas, tekstil, tali sepatu, pita dan kertas aluminium), kancing, renda,glitter, guntung, lem, krayon atau spidol.
2) Langkah-langkah
a) Rekatkan kertas menggunakan selotip diatas meja rendah. Kumpulkan semua bahan untuk membuat karya seni di tengah-tengah kertas. Pastikan semua anak-anak yang berdiri disekeliling meja dapat meraihnya.
b) Katakan pada anak-anak, “Kita akan membuat kolase persahabatan. Kita akan berbagi semua hal yang akan kita
c) Biarkan anak-anak menggambar dan merekatkan benda- benda di kertas. Mereka dapat menggunakan semua bahan kolase yang tersedia di meja.
d) Beri semangat anak-anak untuk mengungkapkan diri sendiri. Ingatkan anak-anak agar semua mereka saling berbagi semua bahan bagaimana layaknya sahabat. Bicarakan bagaimana nikmatnya bekersama dalam tugas. e) Pastikan anak-anak mengoleskan tipis-tipis saat
menggunakan lem. Gumpalan lem membuat kertas menjadi berat dan akan menyulitkan saat digantung. f)Ketika anak-anak sudah merasa cukup menghias kertasnya,
biarkan mereka membuat titik, garis dan membuat coret- coret dengan lem diseluruh permukaan karya. Berikan satu wadah glitter dan tabur pada setiap anak kemudian taburkan. Beri semangat anak-anak agar glitter tetap melekat dikertas.
g) Biarkan karya mengering kemudian lepaskan selotip. Goyangkan dengan lembut untuk membuang kelebihan glitter ke meja kemudian kumpulkan untuk tugas berikutnya. Gantungkan karya di dinding agar semua anak bisa menikmatinya (Kathy Charner, 1993: 13).