• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE UJICOBA

Dalam dokumen VALUE Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan (Halaman 37-47)

Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2010

METODE UJICOBA

Indonesia memilih siswa Sekolah Dasar Kelas 4 menjadi sampel studi karena anak-anak pada tahun ke empat masa sekolah dasar merupakan masa transisi perkembangan membaca anak, pada masa ini anak-anak sudah belajar membaca dan memulai dengan membaca untuk belajar. Informasi dasar yang akan diperoleh dari study PIRLS adalah tidak hanya informasi yang berkaitan dengan prestasi kemampuan membaca melalui tes membaca secara tertulis, melainkan juga informasi yang berkaitan dengan proses perkembangan pembelajaran membaca melalui beberapa faktor seperti; kebiasaan siswa, lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah melalui Kuesioner yang diberikan kepada siswa, orangtua, guru, dan sekolah. Untuk menjaring informasi tersebut dibutuhkan pengakuan siswa, guru membaca atau guru kelas, orangtua, dan kepala sekolah menjadi responden dalam studi ini.

Sampel sekolah telah ditetapkan oleh IEA, Puspendik bertugas memberikan data seluruh

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 30 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah baik negeri

maupun swasta di seluruh indonesia yang diperoleh dari data UASBN 2008/2009, kecuali sekolah dasar di Propinsi Papua dan seluruh SLB tidak termasuk dalam populasi studi ini. Hal ini disebabkan lemahnya kondisi teknis pelaksanaan studi untuk sekolah kategori tersebut. Secara umum kegiatan tersebut meliputi:

1. Penyusunan Instrumen Tes 2. Pengumpulan Biodata Siswa

3. Proses Sampling dan Penyusunan Formulir Identifikasi Siswa serta guru 4. Pengumpulan Data Tes

5. Penskoran Hasil Tes 6. Entri Data

7. Verifikasi dan Analisis 8. Data Penyusunan Laporan

Ujicoba dilakukan pada bulan april 2010.

Jumlah sekolah sampel adalah 26 sekolah dengan total kelas sampel 34 kelas yang terdiri dari 1001 responden siswa yang menyebar di 15 propinsi.

Untuk memperoleh 26 sekolah tersebut, IEA melakukan teknik sampling dengan pendekatan systematic random sampling untuk data survei ujicoba dan kemudian menentukan setidaknya satu kelas untuk setiap sekolah sampel, sering disebut dengan istilah sampling kelas utuh secara random (randomly sampling intact classes).

Tabel 1. Daftar sekolah sampel ujicoba PIRLS 2011.

No ID Sek Nama Sekolah Provinsi 6 9003 SD NEGERIKARSANAGARA

7 9017 SD NEGERI SUKAMULYA 06 8 9018 SD NEGERI PASIRTANJUNG III 9 9004 SDN 1 BEJI

Jawa Tengah 10 9015 SDN 02 BOTOSARI

11 9016 SD 2 SOJOMERTO 12 9024 SD KUSUMA BHAKTI

13 9025 MI MUHAMMADIYAH SUMBER MENDEN 14 9026 MI SIROJUL MUTA'ALIMIN

15 9005 SDN KROPOH 1

Jawa Timur 16 9006 SDN MINDI I

17 9014 SDN WARUNGDOWO I 18 9023 SD ISLAM

19 9013 SD NEGERI 014 KUARO Kalimantan Timur

20 9022 SD NEGERI 3 HALONG Maluku

21 9012 SD NEGERI 1 TOTODOKU Maluku Utara

22 9011 SD NEGERI 001 KABUN Riau

23 9007 SDN INPRES 3/77 PATTIMPA Sulawesi Selatan 24 9010 SDN 1 WASILOMATA II Sulawesi Tenggara

25 9009 SDN 4 SURULANGUN Sumatera Selatan

26 9008 SDN 106164SAMBI REJO TIMUR Sumatera Utara

Studi Internasional KeterbacaanProgress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2010.

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 31 Dalam kerangka kerja PIRLS 2011, survei

kemampuan membaca ini dirancang untuk mengetahui kemampuan anak Sekolah Dasar dalam memahami bermacam ragam bacaan dengan cara melibatkan anak-anak dalam proses membaca. Penilaian difokuskan pada tiga aspek dalam belajar membaca siswa, yaitu: a) tujuan membaca, b) proses pemahaman, dan c) kebiasaan dan perilaku membaca

Setiap orang yang gemar membaca dikarenakan adanya suatu ketertarikan terhadap sesuatu, ingin mendapatkan kesenangan, membutuhkan informasi di kalangan sosial, atau membaca untuk mempelajari sesuatu. PIRLS membagi aspek tujuan membaca menjadi dua hal, yaitu; 1) Membaca cerita atau karya sastra, 2) Membaca untuk memperoleh dan menggunakan informasi. Tujuan membaca menjadi panduan dalam memilih bahan bacaan yang ada dalam masing-masing soal. Masing-masing bacaan yang terpilih memiliki karakteristik yang berbeda yang digunakan sesuai dengan salah satu dari kedua tujuan membaca di atas. Persentase masing-masing aspek tujuan, dan proses pemahaman bahan bacaan, yang diberikan dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Persentase Pembagian Aspek Membaca dalam Buku Tes

TUJUAN MEMBACA

Membaca cerita/karya sastra 50%

Membaca untuk memperoleh dan menggunakan informasi

50%

PROSES PEMAHAMAN

Mencari informasi yang dinyatakan secara eksplisit 20%

Menarik kesimpulan secara langsung 30%

Menginterpretasikan dan mengiintegrasikan gagasan dan informasi

30%

Menilai dan menelaah isi bacaan, penggunaan bahasa, dan unsur-unsur teks

20%

Ujicoba dilakukan dengan memberikan tes pada siswa dibagi menjadi dua bagian, sesuai dengan buku tes yang terdiri dari dua bagian.

Kedua bagian tes tersebut harus dikerjakan oleh siswa pada hari yang sama dengan jeda waktu istirahat diantaranya.Masing-masing bacaan diberi waktu 40 menit dan waktu istirahat tidak lebih dari 20 menit.

Berdasarkan temuan PIRLS Reading Development Group, asesmen yang valid untuk menguji kemampuan membaca dengan kedua aspek membaca adalah setidaknya enam jam menempuh asesmen. Dikarenakan faktor manajerial asesmen dan kesanggupan siswa menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya diputuskan waktu asesmen adalah 80 menit untuk masing-masing siswa dengan waktu pengisian kuesioner 15-30 menit. Untuk merangkum enam jam menjadi 80 menit, PIRLS melakukan teknik matrix sampling, dengan cara membagi bacaan ke

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 32 dalam beberapa blok. Dalam PIRLS 2011, sama

dengan PIRLS 2006, lebih dari lebih dari enam jam waktu tes dibagi menjadi 40 menit untuk setiap bacaan, sehingga didapat 10 blok bacaan. Untuk ujicoba digunakan hanya delapan blok.

Tipe pertanyaan yang diberikan pada bacaan PIRLS adalah pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda (multiple choice) dan uraian (constructed response). PIRLS menggunakan kedua tipe soal dengan tujuan untuk menjaring informasi pemahaman dan kesulitan siswa, tidak hanya memberikan perangkat penilaian yang mudah dengan pilihan ganda tetapi menggunakan tipe soal uraian supaya dapat melihat hasil pemikiran siswa.

Setiap pertanyaan pilihan ganda bernilai satu, sedangkan untuk pertanyaan uraian bernilai satu, dua, atau tiga tergantung dengan seberapa jauh pemahaman bacaan yang dibutuhkan.Di bawah ini framework bacaan yang diteskan pada ujicoba PIRLS 2011.

Tabel 3. Tabel Desain Buku Tes Ujicoba PIRLS 2011

Tujuan Membaca BLOK

Membaca cerita/karya sastra (Literasi) L1 L2 L3 L4 Membaca untuk memperoleh dan

menggunakan informasi (Informasi) I1 I2 I3 I4

Tabel 4. Tabel Matrik Bacaan Buku Tes Ujicoba PIRLS 2011

Judul Bacaan Soal Pilihan Ganda

Soal Uraian

Jumlah Soal

Buku Tes Blok

Sang Pemburu 7 10 17 1 L1

Misteri Gigi

Raksasa 9 6 15 1 I1

Wawancara dengan Seorang Ilmuwan

6 8 14 2 I2

Kisah Pot yang

Kosong 11 6 17 2 L2

Monster Laut 7 9 16 3 L3

Dimana Ada

Madu 8 6 14 3 I3

Mengendarai

Angin 6 9 15 4 I4

Kue Untuk

Musuh 7 10 17 4 L4

Studi Internasional KeterbacaanProgress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2010.

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 33 HASIL UJICOBA DAN PEMBAHASAN

Bacaan Ujicoba PIRLS

Berdasarkan hasil analisis data ujicoba PIRLS, diperoleh informasi sebagai berikut:

1. Ketepatan jawaban siswa dalam membaca teks dan tingkat kesukaran soal.

a. Rata-rata ketepatan jawaban siswa berkaitan dengan tes membaca, hanya 34.12%siswa yang menjawab secara tepat. Rata-rata angka ketepatan jawaban yang paling rendah adalah 3.4%, sedangkan rata-rata angka ketepatan jawaban yang paling tinggi adalah 94.1%.

Rata-rata angka ketepatan jawaban siswa untuk soal pilihan ganda lebih tinggi daripada soal isian.

b. Dilihat dari tingkat kesukaran soal, rata-rata tingkat kesukaran tes membaca sebesar 0.01 Tingkat kesukaran soal yang paling rendah adalah sebesar-3.85,(soal mudah) sedangkan yang paling tinggiadalah sebesar 3.00 (soal sukar).

Rata-rata tingkat kesukaran bentuk soal pilihan ganda lebih rendah daripada bentuk soal isian.

c. Rata-rata ketepatan jawaban siswapada membaca cerita/karya sastra (literacyexperience) hanya sebesar 38.32%. Rata-rata angka ketepatan jawaban yang paling rendah adalah 3.4%, sedangkan rata-rata angka ketepatan jawaban yang paling tinggi adalah 94.1%.

Rata-rata angka ketepatan jawaban

untuk soal pilihan ganda lebih tinggi daripada soal isian.

d. Rata-rata tingkat kesukaran tes membaca

cerita/karya sastra

(literacyexperience)sebesar 0.03 (skala -5 s.d. +5).Tingkat kesukaran soal yang paling rendah adalah sebesar -3.85, sedangkan yang paling tinggiadalah sebesar 3.00.

Rata-rata tingkat kesukaran bentuk soal pilihan ganda lebih rendah daripada bentuk soal isian.

e. Rata-rata ketepatan jawaban siswa pada membaca teks yang berjenis memperoleh dan menggunakan informasi (acquire, use info) hanya sebesar 29.53%. Rata-rata angka ketepatan jawaban yang paling rendah adalah 4.10%, sedangkan rata-rata angka ketepatan jawaban yang paling tinggi adalah 88.00%. Rata-rata angka ketepatan jawaban untuk soal pilihan ganda lebih tinggi daripada soal isian.

f. Rata-rata tingkat kesukaran tes membaca teks yang berjenis memperoleh dan menggunakan informasi (acquire, use info)sebesar 0.37 (skala -5 s.d. +5).Tingkat kesukaran soal yang paling rendah adalah sebesar -3.20, sedangkan yang paling tinggiadalah sebesar 2.72. Jika dilihat dari bentuk soal, maka rata-rata tingkat kesukaran bentuk soal pilihan ganda lebih rendah daripada bentuk soal isian

2. Kemampuan siswa dalam proses pemahaman teks

a. Rata-rata ketepatan jawaban siswa dalam proses pemahaman teks yang berkaitan

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 34 dengan mengambil informasi secara

eksplisit merupakan rata-ratayang paling tinggi, sedangkan proses pemahaman teks

yang berkaitan dengan

menginterpretasikan dan

mengintegrasikan gagasan dan informasi merupakan rata-rata yang paling rendah.

b. Kemampuan siswa dalam memahami teks yang berjenis literacy experience (berpengalaman sastra) yang berkaitan dengan mengambil informasi secara eksplisit merupakan rata-rata yang paling tinggi yaitu 55.45%, sedangkanyang paling rendah adalah pemahaman teks yang berkaitan dengan menginterpretasikan dan mengintegrasikan gagasan dan informasi, yaitu sebesar 27.31%.

c. Kemampuan siswa dalam memahami teks yang berjenis Acquire, Use Info (memperoleh dan menggunakan informasi) yang berkaitan dengan mengambil informasi secara eksplisit merupakan rata-rata yang paling tinggi yaitu 50.21%, sedangkanyang paling rendah adalah pemahaman teks yang berkaitan dengan menginterpretasikan dan mengintegrasikan gagasan dan informasi, yaitu sebesar 17.88%.

d. Jika dibandingkan antar-pemahaman teks berjenis berpengalaman bersastra, dalam mengambil informasi secara eksplisit, maka besar rata-rata pemahaman siswa terhadap teks adalah 55.45. Rata-rata pemahaman siswa terhadap teks HUNTER paling tinggi yaitu sebesar 64.86,

sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman siswa terhadap teks PIE, yaitu sebesar 39.07.

e. Dalam pemahaman teks yang membuat kesimpulan secara langsung, maka besar rata-rata pemahaman siswa terhadap teks adalah 40.71. Rata-rata pemahaman siswa terhadap teks MONSTER paling tinggi yaitu sebesar 48.56, sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman siswa terhadap teks PIE, yaitu sebesar 31.42.

f. Dalam pemahaman teks yang menginterpretasikan dan menginte-grasikan gagasan dan informasi, maka besar rata-rata pemahaman siswa terhadap teks adalah 27.31. Rata-rata pemahaman siswa terhadap teks HUNTER paling tinggi yaitu sebesar 35.10, sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman siswa terhadap teks PIE, yaitu sebesar 14.24.

g. Dalam pemahaman teks yang mengevaluasi isi, bahasa, dan unsur teks, besar rata-rata pemahaman siswa terhadap teks adalah 31.48. Rata-rata pemahaman siswa terhadap teks POT paling tinggi yaitu sebesar 50.00, sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman siswa terhadap teks MONSTER, yaitu sebesar 19.30.

h. Jika dibandingkan antar-pemahaman teks berjenis Acquire, Use Info, dalam mengambil informasi secara eksplisit, maka besar rata-rata pemahaman siswa

Studi Internasional KeterbacaanProgress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2010.

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 35 terhadap teks adalah 50.21. Rata-rata

pemahaman siswa terhadap teks INTERVIEW paling tinggi yaitu sebesar 55.07, sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman siswa terhadap teks WIND, yaitu sebesar 44.03.

i. Dalam pemahaman teks berjenis Acquire, Use Info yang membuat kesimpulan secara langsung, besar rata-rata pemahaman siswa terhadap teks adalah 34.53. Rata-rata pemahaman siswa terhadap teks WIND paling tinggi yaitu sebesar 42.33, sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman siswa terhadap teks GIGI, yaitu sebesar 29.38.

j. Dalam pemahaman teks berjenis Acquire, Use Info yang menginterpretasikan dan mengintegrasikan gagasan dan informasi, maka besar rata-rata pemahaman siswa terhadap teks adalah 17.87. Rata-rata pemahaman siswa terhadap teks WIND paling tinggi yaitu sebesar 23.93, sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman siswa terhadap teks HONEY, yaitu sebesar 14.23.

k. Dalam pemahaman teks berjenis Acquire, Use Info yang mengevaluasi isi, bahasa, dan unsur teks, maka besar rata-rata pemahaman siswa terhadap teks adalah 21.25. Rata-rata pemahaman siswa terhadap teks WINDpaling tinggi yaitu sebesar 28.95, sedangkan yang paling rendah adalah rata-rata pemahaman

siswa terhadap teks HONEY, yaitu sebesar 15.90. TK soal bentuk pilihan ganda sebesar -0.54 (paling rendah -3.85; paling tinggi 2.72), sedangkan rata-rata TK soal bentuk isian sebesar 0.63 (paling rendah-3.20; paling tinggi 3.00).

b. Dilihat dari perbandingan jenis teks, rata-rata TK soal berpengalaman bersastra lebih mudah daripada soal TKmemperoleh dan menggunakan informasi. Rata-rata TK berpengalaman bersastra sebesar -0.03 (paling rendah-3.85; paling tinggi 3.00), sedangkan rata-rata TK soal memperoleh dan menggunakan informasi sebesar 0.37 (paling rendah-3.20; paling tinggi 2.72).

c. Soal-soal tersebut adalah soal pilihan ganda nomor P31I02M yang menunjukkan angka discrimination -0.05, dan soal pilihan ganda nomor P31I14M yang menunjukkan angka discrimination 0.13 pada bacaan Interview.

d. Pada bacaan Riding The Wind terdapat satu soal yaitu soal nomor P31R12M yang memperlihatkan angka discrimination sebesar 0.10. Demikian pula, pada bacaan Enemy Pie, ada satu soal yang angka discrimination hanya sebesar 0.02 yaitu soal nomor P31P04M. Selanjutnya pada

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 36 bacaan Honey, terdapat 3 soal yang angka

discriminationnya rendah yaitu soal nomor P31W05M sebesar 0.13, soal nomor P31W12M sebesar 0.14, dan soal nomor P31W14M sebesar 0.08.

Kuesioner Ujicoba PIRLS

Berdasarkan hasil analisis data ujicoba PIRLS 2011, diperoleh informasi bahwa:

a. Dalam angket siswa, nomor item yang perlu dievaluasi adalah jenis kepemilikan.

Untuk kepemilikian TV, DVD/VCD, apakah kepemilikan ketiga benda tersebut ataukah cukup diwakili salah satu. Kemudian kepemilikan alat transportasi yang mengukur tingkat SES seseorang. Usul yang perlu dipertimbangkan untuk Negara Indonesia adalah kepemilikan ternak. Detil kecil seperti pada hari sekolah, di luar jam sekolah, hendaknya ditonjolkan jika penjelasan tersebut penting, dengan cara memberi garis bawah atau huruf miring, sehingga siswa tidak mengabaikannya ketika merespon pertanyaan.Apakah responden mengerti bedanya buku cerita dan dongeng merupakan pertanyaan dari penulis.

b. Dalam angket orangtua, nomor item 1 yang membuat kerancuan data, nomor 2-6 orangtua diminta mengingat kejadian 4 sampai 5 tahun yang lalu. Nomor 7 tentang penguasaan menghitung sampai dengan 100 atau lebih sepertinya tidak terlalu penting ditanyakan karena materi itu akan

diajarkan ketika mereka masuk sekolah.

Nomor 18 pilihan jawaban tidak relevan dan lain-lain sepertinya tidak perlu ditawarkan karena tidak akan memberikan informasi apapun.

c. Dalam angket guru, nomor 5A dan 5B hendaknya direvisi bentuk pertanyaan agar tidak memperoleh informasi ganda. Nomor 16 (Tentang Pengajaran di Kelas PIRLS) dan pilihan jawaban soal nomor 3 (Mengajarkan membaca pada kelas PIRLS) hendaknya dikaji ulang.

d. Dalam angket Sekolah, tidak ditemukan adanya item yang mencurigakan.

e. Selain itu untuk keempat angket mohon dipertimbangkan dan diperhatikan tentangpilihan jawaban yang menyatakan persetujuan. Karena sangat setuju, agak setuju, agak tidak setuju, dan sangat tidak setuju, gradasi tingkat persetujuannya belum tentu dimengerti oleh responden.

Demikian juga dengan sangat baik, cukup baik, tidak terlalu baik, dan tidak baik sama sekali. Selain itu penyusun angket harus mempertimbangkan tingkat kemampuan membaca responden.

Studi Internasional KeterbacaanProgress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2010.

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 37 SIMPULAN DAN SARAN

Ujicoba PIRLS 2011 telah dilaksanakan dan diorganisir dengan baik oleh Puspendik sesuai prosedur yang telah ditentukan oleh IEA. Data hasil ujicoba PIRLS 2011 menunjukkan bahwa siswa-siswi Indonesia merasa kesulitan untuk memahami soal-soal tes membaca yang panjang bacaannya beberapa halaman. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembiasan memberi tes membaca yang bacaannya panjang-panjang di sekolah. Selain itu, siswa-siswi Indonesia juga merasa kesulitan untuk soal-soal tes membaca yang berjenis berpengalaman bersastra, terutama yang isi bacaannya TERSIRAT, bukan TERSURAT. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembiasan memberi tes membaca yang pertanyaannya tentang hal yang tersirat. Data hasil analisis ujicoba PIRLS juga menunjukkan bahwa soal bentuk isian dirasa sulit bagi siswa-siswa. Oleh karena itu perlu dilakukan pembiasaan tes membaca dengan bentuk isian/uraian.

Dalam angket siswa, nomor item yang perlu dievaluasi adalah jenis kepemilikan barang di rumah. Untuk kepemilikian TV, DVD/VCD, apakah kepemilikan ketiga benda tersebut ataukah cukup diwakili salah satu. Kemudian kepemilikan alat transportasi yang mengukur tingkat SES seseorang.

Usul yang perlu dipertimbangkan untuk Negara Indonesia adalah kepemilikan ternak. Detil kecil seperti pada hari sekolah, di luar jam sekolah, hendaknya ditonjolkan jika penjelasan tersebut penting, dengan cara memberi garis bawah atau huruf miring, sehingga siswa tidak mengabaikannya ketika merespon pertanyaan.

Dalam angket orangtua, untuk pertanyaan, seperti pertanyaan tentang orangtua diminta mengingat kejadian 4 sampai 5 tahun yang lalu, membuat kerancuan data. Pertanyaan tentang penguasaan menghitung sampai dengan 100 atau lebih sepertinya tidak terlalu penting ditanyakan karena materi itu akan diajarkan ketika mereka masuk sekolah.

Dalam angket guru, ada pertanyaan yang mengulang, hendaknya direvisi bentuk pertanyaan agar tidak memperoleh informasi ganda.

Pertanyaan tentang Pengajaran di Kelas PIRLS dan tentangcara mengajarkan membaca pada kelas PIRLS hendaknya dikaji ulang. Dalam angket Sekolah, tidak ditemukan adanya item yang mencurigakan.

Selain itu untuk keempat angket perlu dipertimbangkan dan diperhatikan tentangpilihan jawaban yang menyatakan persetujuan. Karena sangat setuju, agak setuju, agak tidak setuju, dan sangat tidak setuju, gradasi tingkat persetujuannya belum tentu dimengerti oleh responden. Demikian juga dengan sangat baik, cukup baik, tidak terlalu baik, dan tidak baik sama sekali. Selain itu penyusun angket harus mempertimbangkan tingkat kemampuan membaca responden.

Dengan hasil analisis nasional ini, semoga dapat menjadi masukan dan pertimbangan dalam melakukan terjemahan dan adaptasi instrumen main survey PIRLS 2011.

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 38 DAFTAR PUSTAKA

Ina V. S Mullis, Michael O. Martin, Ann M. Kennedy dan Pierre Foy, PIRLS 2006 International Report (2007)

Michael O Martin, Ina V.S. Mullis, Ann M. Kennedy, PIRLS 2006 Technical Report (2007)

Ina V.S Mullis, Michael O, Martha, Ann M.

Kennedy, Kathleen L. Trong, dan Marian Sainsbury, PIRLS 2011 Assesment Framework.

(2009).

Studi Internasional KeterbacaanProgress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2010.

VALUE, Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan, Vol.I/No.01/Juni/2012 39 ABSTRACT

The aim of this research is to know if there is a correlation between the ability of the student of junior high school/ Islamic junior high school and the ability of the students in correcting ineffective sentences within the paragraph of a discourse in the 2010/2011 Junior High School/ Islamic Junior High School’s National Final Examination. The results of the analysis are as follows. First, the ability of Junior High School and Islamic Junior High School students in correcting ineffective sentences within the paragraph of a discourse in the 2010/2011 Junior High School/ Islamic Junior High School National Final Examination is “good” (60,54 and 60,53). The ability of the students in some provinces varies from very good to very poor (very good, good, poor, and very poor.

Second, the Junior High School students’ ability in correcting ineffective sentences (Mean 60,54 and SD 13,27) is better than Islamic Junior High School students’ ability (Mean 60,53 and SD 15,13).Third, the difference between Junior High School and Islamic Junior High School students’ ability and their ability in correcting ineffective sentences is insignificant (P-value= 0,996).

Keywords: students’ ability, effective sentence, paragraph, National Final Examination.

KEMAMPUAN SISWA SMP DAN MTs DALAM MEMPERBAIKI KALIMAT TIDAK

Dalam dokumen VALUE Jurnal Evaluasi & Asesmen Pendidikan (Halaman 37-47)

Dokumen terkait