Bab 1 Pendahuluan
1.6 Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah : 1. Studi Pustaka
Pada tahap ini penelitian dimulai dengan mencari referensi yang di dapat dari jurnal, buku, artikel ilmiah, dan makalah dari berbagai sumber yang berhubungan dengan Decision Support System (sistem pendukung keputusan), Metode AHP, dan Tidakan Triage (triase) yang dilakukan berdasarkan prioritas.
2. Analisa dan Perancangan
Pada tahap ini penulis melakukan analisis terhadap berbagai kebutuhan dalam penelitian yang dicapai dari implementasi transposisi segitiga dengan metode AHP dan segera melakukan perancangan diagram alir (flowchart), UML, dan diagram ishikawa.
3. Implementasi Sistem
Pada tahap ini akan dilakukan pengkodean (coding) dalam bahasa pemrograman Java.
4. Pengujian Sistem
Pada tahap ini, sistem yang telah dibangun akan dilakukan pengujian 5. Dokumentasi
Pada tahap ini dilakukan pembuatan laporan dari hasil analisa dan perancangan sistem dalam format penulisian berbentuk skripsi.
1.7. Sistematika Penulisan
Agar pembahasan menjadi lebih sistematis, skripsi ini dibuat dalam lima bab, meliputi :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang penelitian, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini berisi penjelasan singkat mengenai keputusan, Triase dan metode AHP.
sistem pendukung
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
Bab ini berisi uraian, analisis proses dan analisis sistem rancangan struktur program yang akan diangun.
BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM
Bab ini membahas implementasi dari sistem yang telah dibangun, yaitu antarmuka dari sistem dan penjelasan akan setiap form yang ditampilkan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisikan kesimpulan dan saran pada dari seluruh laporan pada skripsi ini.
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. Triase
Triase atau triage telah didefinisikan sebagai proses pengkategorian pasien berdasarkan kebutuhan mereka untuk perawatan medis. Pengambilan keputusan triase merupakan tugas yang sangat rumit berdasarkan beberapa ketidakpastian dan informasi yang ambigu. Selain karakteristik yang ditentukan oleh pedoman banyak faktor lain seperti penilaian ahli perawat, pengalaman, dan sumber daya lebih berkontribusi pada kompleksitas pengambilan keputusan yang harus dibuat dalam jangka waktu yang tepat dan memastikan intervensi perawatan medis terjadi pada kepentingan pasien.
Triase diambil dari bahasa Perancis “Trier” artinya mengelompokkan atau memilih. Triase juga memiliki fungsi penting di dalam IGD dan apabila banyak pasien yang datang disaat yang bersamaan maka untuk hal ini perlu memastikan agar pasien yang ditangani berdasarkan urutan kegawatannya.
Petugas kesehatan IGD dalam melakukan triase harus berdasarkan standar ABCDE. Standar prinsip penanganan awal meliputi survey primer dan sekunder, dalam penatalaksanaan primer yang diprioritaskan pada ABCDE (Airway, dengan cervical spine control, Breathing dan circulation dengan control perdarahan, disability dan exposure) bisa juga seperti jalannya nafas, warna kulit, kelembapan, suhu, nadi, tingkat kesadaran dan inveksi visual untuk luka dalam, atau nyeri dada karena masalah jantung. Perawat triase menggunakan ABC seperti jalan nafas, pernapasan dan sirkulasi, serta dengan warna kulit, kelembaban, suhu, nadi, respirasi dan tingkat kesadaran untuk memprioritaskan perawatan yang diberikan kepada pasien di ruang gawat darurat. Perawat triase juga memberikan prioritas pertama untuk pasien gangguan jalan nafas, bernafas atau sirkulasi terganggu.
Pasien yang memiliki masalah yang sangat mengancam kehidupan diberikan pengobatan langsung baik dalam keadaan apapun bahkan jika mereka dalam keadaan sudah tidak tertolongkan lagi.
Pendekatan Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure (ABCDE) adalah pendekatan sistematis untuk penilaian langsung dari perawatan pasien yang sakit kritis atau cedera. Pendekatan ini berlaku di semua keadaan darurat klinis.
Hal ini dapat digunakan di jalan tanpa peralatan (Gambar 2.1), dalam bentuk yang lebih maju, pada saat kedatangan layanan medis darurat, di ruang gawat darurat, di bangsal umum rumah sakit, atau di unit perawatan intensif.
Tujuan dari pendekatan ABCDE adalah :
1. untuk memberikan perawatan yang menyelamatkan jiwa
2. untuk memecah situasi klinis yang kompleks menjadi bagian yang lebih mudah dikelola
3. untuk melayani sebagai algoritma penilaian dan pengobatan
4. untuk membangun kesadaran situasional bersama di antara semua penyedia perawatan
5. untuk menghemat waktu menetapkan diagnosis dan perawatan akhir.
Gambar 2.1. Pendekatan ABCDE Tanpa Menggunakan Peralatan
Prinsip triase dilakukan berdasarkan sistem prioritas. Prioritas adalah penentuan atau penyeleksian yang mana harus didahulukan mengenai penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa seperti yang tertera pada tabel 2.1. berikut :
Tabel 2.1. Prioritas Pasien
Prioritas Kondisi
Pasien dengan kondisi mengancam
nyawa, anggota badan, atau kecacatan Prioritas I Merah(emergency)
memerlukan evaluasi dan intervensi segera.
Tingkat medium, potensial mengancam nyawa atau fungsi vital Prioritas II Kuning(urgent)
bila tidak segera ditangani dalam jangan waktu singkat.
Tingkat rendah, hanya perlu Prioritas III Hijau(non-urgent)
pelayanan biasa, tidak perlu segera Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah, hanya perlu Prioritas 0 Hitam
terafi suportif. Contonya seperti henti jantung kritis.
2.2. Rumah Sakit
Pelayanan kesehatan kegawatdaruratan merupakan hak asasi dan kewajiban yang harus diberikan perhatian penting kepada setiap orang. Pemerintah dan segenap masyarakat bertanggungjawab dalam pemeliharaan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kegawatdaruratan sebagai bagian utama dari pembangunan kesehatan sehingga pelaksanaannya memiliki sistem pelayanan yang terstruktur.
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Bedasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, rumah sakit umum diklasifikasikan menjadi:
Rumah Sakit Umum Kelas A
Rumah Sakit Umum Kelas B
Rumah Sakit Umum Kelas C
Rumah Sakit Umum Kelas D
Klasifikasi Rumah Sakit Umum ditetapkan berdasarkan pelayanan, sumber daya manusia, peralatan, sarana dan prasarana, administrasi dan manajemen.
Kemampuan suatu fasilitas kesehatan secara keseluruhan dalam kualitas dan kesiapan dalam melakukan pusat rujukan penderita dari pra rumah sakit.
Rumah sakit khususnya IGD mempunyai tujuan agar tercapai pelayanan kesehatan yang optimal pada pasien secara cepat dan tepat serta terpadu dalam penanganan tingkat kegawatdaruratan sehingga mampu mencegah resiko kecacatan dan kematian (to save life and limb) dengan respon time selama 5 menit dan waktu definitif ≤ 2 jam. Salah satu bagian di Rumah Sakit yang memberikan pelayanan adalah Instalasi Gawat Darurat, yang merupakan gerbang utama jalan masuknya penderita gawat darurat.
2.2.1 Instalasi Gawat Darurat
Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah suatu tempat/unit di rumah sakit yang memiliki tim kerja dengan kemampuan khusus dengan peralatan yang memberikan pelayanan pasien gawatdarurat merupakan bagian dari rangkaian upaya penanggulangan pasien yang terorganisir. Instalasi Gawat Darurat merupakan unit penting bagian dari suatu rumah sakit yang berfungsi sebagai pintu utama dalam penanganan kasus kegawatdaruratan, dimana suatu instalasi bagian rumah sakit yang melakukan tindakan berdasarkan triase terhadap pasien, salah satu indikator keberhasilan penanggulangan medik dalam menangani pasien perlu kecepatan memberikan pertolongan kepada penderita gawatdarurat baik dalam pada keadaan rutin sehari-hari atau sewaktu bencana. Keberhasilan waktu tanggap atau response time sangat tergantung pada kecepatan yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan untuk menyelamatkan nyawa seseorang di tempat kejadian, dalam perjalanan hingga pertolongan ke rumah sakit. Bila pelayanan pasien gawatdarurat dikatakan terlambat apabila > 15 menit.
Kegagalan dalam penanganan kasus kegawatdaruratan umumnya disebabkan oleh kegagalan mengenal risiko tinggi, keterlambatan rujukan, kurangnya sarana yang memadai maupun pengetahuan dan keterampilan tenaga medis, paramedis, masalah dalam pelayanan kegawatdaruratan, maupun kondisi ekonomi. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2006), petugas kesehatan IGD pada suatu rumah sakit terdiri dari dokter ahli, dokter umum, dan tenaga keperawatan yang dibantu oleh perwakilan unit-unit lain. Mengingat banyaknya kasus gawat darurat yang paling sering ditemukan di IGD seperti trauma, jantung, stroke, anak dan korban masal, maka untuk memenuhi standar pelayanan 24 jam/. Seorang petugas kesehatan harus mampu bekerja dalam menanggulangi semua kasus gawatdarurat, Pengetahuan, sikap dan keterampilan petugas kesehatan IGD yang sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan klinis agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan pemilahan saat triase sehingga dalam penanganan pasien bisa lebih optimal dan teratur.
2.3. Metode AHP
Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki.
Menurut Saaty, hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi-level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya hingga level terakhir dari alternatif.
Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis. sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibandingkan dengan metode yang lainnya karena ada beberapa alasan, yaitu sebagai berikut:
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih sampai pada subkriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif.
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
2.3.1 Tahapan Metode AHP
Dalam tahapan metode AHP (Analytical Hierarchi Process) ada beberapa prinsip diantaranya yaitu :
a. Decomposition
Decomposition adalah proses menganalisa permasalahan riil dalam struktur hirarki dari unsur – unsur pendukungnya. Struktur hirarki secara umum dalam metode AHP dapat dilihat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2. Struktur Hierarki
b. Comperative judgment
Comperative judgment berarti membuat suatu penilaian tentang kepentingan relatif antara dua elemen pada suatu tingkat tertentu yang disajikan dalam bentuk matriks dengan menggunakan skala prioritas. Jika terdapat n elemen, maka akan diperoleh matriks pairwise comparison (matriks perbandingan) berukuran n x n dan banyaknya penilaian yang diperlukan adalah n(n-1)/2.
Ciri utama dari matriks perbandingan yang dipakai dalam metode AHP adalah elemen diagonalnya dari kiri atas ke kanan bawah adalah satu karena elemen yang dibandingkan adalah dua elemen yang sama. Kriteria dan alternatif
dilakukan dengan perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty dapat diukur menggunakan tabel analisis seperti tabel dibawah ini :
Tabel 2.2. Kriteria Penilaian AHP
Nilai Keterangan
1 Sama Penting
2 Mendekati sedikit lebih penting 3 Sedikit lebih penting
4 Mendekati lebih penting 5 Lebih penting
6 Mendekati sangat penting 7 Sangat penting
8 Mendekati mutlak 9 Mutlak sangat penting
c. Synthesis of priority
Setelah matriks perbandingan untuk sekelompok elemen selesai dibentuk maka langkah berikutnya adalah mengukur bobot prioritas setiap elemen tersebut terhadap tujuan pengambilan keputusan, dilakukan analisis prioritas elemen dengan metode perbandingan berpasangan antar dua elemen sehingga semua elemen yang ada tercakup. Prioritas ini ditentukan berdasarkan pandangan para pakar dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pengambilan keputusan, baik secara langsung (diskusi) maupun secara tidak langsung (kuisioner).
d. Logical consistency
Logical consistency, yaitu yang membedakan dengan metode yang lainnya adalah tidak adanya syarat konsistensi mutlak. Dengan metode AHP yang memakai persepsi manusia sebagai inputannya maka ketidakkonsistenan itu
mungkin terjadi karena manusia mempunyai keterbatasan dalam menyatakan persepsinya secara konsisten terutama dalam membandingkan banyak elemen. Berdasarkan kondisi ini maka manusia dapat menyatakan persepsinya dengan bebas tanpa harus berpikir apakah persepsinya akan konsisten atau tidak.
Adapun langkah – langkah secara umum yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah adalah sebagai berikut:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Hasil perkalian tersebut kemudian dijumlahkan pada setiap baris.
2. Menentukan prioritas kriteria.
a. Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang diberikan.
b. Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk merepresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang lainnya.
3. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk
memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah:
a. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
b. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.
c. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata.
4. Mengukur Konsistensi
Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan berdasarkan
pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah sebagai berikut:
a. Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemen kedua dan seterusnya.
b. Jumlahkan setiap baris.
c. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang bersangkutan.
d. Jumlahkan hasil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya disebut λ maks.
5. Menghitung indeks konsistensi(Consistency Index) dengan rumus :
Dimana n = banyaknya elemen
6. Menghitung rasio konsistensi (Consistency Ratio) dengan rumus:
Dimana :
CR = Consistency Ratio CI = Consistensy Index
IR = Index Random Consistency
7. Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Namun jika Rasio Konsistensi (CI/CR) kurang atau sama dengan 0,1, maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar.
Dimana RI : random index yang nilainya dapat dilihat pada table di bawah ini.
Tabel 2.3. Ratio Index
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 0 0 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49
Setelah nilai-nilai elemen Dalam menyelesaikan suatu masalah dalam algoritma yang digunakan, langkah untuk penyajian sebuah algoritma yang baik adalah dengan mempunyai output yang efektif.
2.3.2 Contoh Penerapan Metode AHP Pada IKM
Industri usaha kecil menengah (IKM) di kabupaten Lampung Tengah belum berkembang secara optimal, salah satu sebabnya adalah karena masalah finansial.
Untuk menyelesaikannya perlu dengan solusi menyeleksi IKM yang sesuai untuk mengembangkan industri tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan kriteria dan intensitas pada masing-masing kriteria dalam urutan hirarkinya dapat dilihat pada Gambar 2.3.
berikut:
Gambar 2.3. Urutan Hirarki Penentuan Prioritas Pengembang IKM
Setelah disusun hirarki dari permasalahan yang dihadapi, langkah selanjutnya yaitu menetapkan perbandingan berpasangan antara kriteria-kriteria dalam bentuk matriks. Setelah nilai-nilai elemen matrix diketahui maka selanjutnya hitung nilai prioritas tiap kriteria. Setelah didapatkan nilai prioritas untuk masing - masing
kriteria, selanjutnya memeriksa konsistensi perbandingan antar kriteria tersebut dengan langkah – langkahnya.
Setelah nilai konsistensi rasio diperoleh, maka diperiksa apakah masih memenuhi rasio konsistensi yang diperbolehkan yaitu sama dengan atau kurang dari 10%, apabila melebihi batas maka perbandingan antar elemen tidak konsisten dan perbandingan antar elemen dapat diulang. Untuk intensitas-intensitas tiap kriteria dilakukan langkah-langkah yang sama untuk menghitung prioritas dan konsistensi rasio, setelah didapatkan nilai prioritas dan konsistensi maka diperbolehkan maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengalikan nilai prioritas intensitas dan prioritas untuk mendapatkan prioritas global.
2. Hasilnya dibagi dengan prioritas terbesar yang bersesuaian.
3. Penghitungan nilai IKM dilakukan dengan mengalikan nilai prioritas berdasarkan data nilai intensitas dengan nilai kriteria yang bersesuaian.
Kemudian hasilnya dijumlahkan maka diperoleh total nilai hasil perhitungan setiap IKM.
4. Matriks perbandingan berpasangan dilakukan untuk penilaian perbandingan antara satu kriteria dengan kriteria lain, dapat dilihat pada tabel 2.4.
Tabel 2.4. Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria
Kriteria Tenaga Kapasitas
Investasi Nilai Bahan
kerja Produksi Produksi Baku
Tenaga
Tabel 2.4. di atas menunjukkan perbandingan berpasangan untuk kriteria tenaga kerja, kapasitas produksi, investasi, nilai produksi, bahan baku. Untuk perbandingan dengan kriteria yang sama akan bernilai 1 karena keduanya sama penting. Untuk kriteria kapasitas produksi dengan:
kriteria tenaga kerja bernilai 5 artinya bahwa kriteria kapasitas produksi sangat penting dari kriteria tenaga kerja.
Kriteria tenaga kerja dengan kriteria investasi bernilai 3 artinya bahwa kriteria tenaga kerja lebih penting dari kriteria investasi, dan seterusnya.
5. Matriks Nilai Kriteria
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan dianalisis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah :
a. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom matrik. Hasil penjumlahan dapat dilihat pada Tabel 2.4.
b. Normalisasi matrik diperoleh dari rumus berikut:
c. Nilai prioritas diperoleh dari rumus berikut:
Hasil perhitungan nilai matriks keriteria dapat dilihat pada Tabel 5 berikut:
Tabel 2.5. Matriks Nilai Kriteria
Kriteria Tenaga Kapasitas
Investasi Nilai Bahan
Jumlah Prioritas
Kerja Produksi Produksi Baku
Tenaga
Pada matriks ini, kolom tenaga kerja dan baris tenaga kerja 0,422 didapat dari nilai kolom tenaga kerja baris tenaga kerja dibagi dengan nilai baris jumlah kolom tenaga kerja pada tabel 2.4. Nilai matriks pada tabel 2.5. di atas diperoleh dari proses tersebut yang dikerjakan berulang-ulang sampai kolom bahan baku baris bahan baku. Kolom jumlah merupakan penjumlahan dari kolom pada setiap barisnya. Misalkan nilai pada kolom jumlah baris tenaga kerja diperoleh dari 0,422 + 0,682 + 0,383 + 0,24 + 0,273. Nilai kolom prioritas diperoleh dari nilai kolom jumlah dibagi dengan jumlah kriteria yaitu 5.
6. Matriks penjumlahan setiap baris kriteria
Matrik penjumlahan setiap baris merupakan matriks hasil perkalian nilai prioritas dari tabel 2.5. dengan matrik perbandingan berpasangan dari tabel 2.4. Hasil perhitungan nilai matriks penjumlahan setiap baris dapat dilihat pada Tabel 2.6. berikut:
Tabel 2.6. Penjumlahan Kriteria
Kriteria Tenaga Kapasitas
Investasi Nilai Bahan
Jumlah
Kerja Produksi Produksi Baku
Tanaga
Nilai 0,4 pada kolom tenaga kerja baris tenaga kerja diperoleh dari nilai prioritas tertinggi pada Tabel 2.5., yaitu 0,4 dikalikan dengan nilai kolom tenaga kerja baris tenaga kerja pada Tabel 2.4., yaitu 1. Nilai 0,08 pada kolom tenaga kerja baris kapasitas produksi diperoleh dari nilai prioritas tertinggi pada Tabel 2.5., yaitu 0,4, dikalikan dengan nilai kolom tenaga kerja baris kapasitas produksi pada Tabel 2.4., yaitu 0,2. Perhitungan tersebut dilakukan sampai semua kolom dan
baris terisi kecuali untuk kolom jumlah. Kolom jumlah pada Tabel 2.6. diperoleh dengan menjumlahkan nilai pada masing-masing baris. Misalnya nilai 1,066 dari kolom jumlah diperoleh dengan menjumlahkan nilai 0,133 + 0,2 + 0,2 + 0,133 + 0,4.
7. Rasio Konsistensi
Perhitungan ini digunakan untuk memastikan bahwa rasio konsistensi (CR) ≤ 0,1. Jika nilai CR > 0,1 maka matriks perbandingan berpasangan harus dihitung
ulang. Hasil perhitungan rasio konsistensi dapat dilihat pada tabel 2.7.
berikut:
Tabel 2.7. Matriks Rasio Konsistensi Kriteria Kriteria Jumlah/baris Prioritas Hasil
Tenaga Kerja 5,6 0,4 6
Kapasitas
3,28 0,205 3,485
Produksi
Investasi 2,666 0,1712 2,8372
Nilai Produksi 2,133 0,143 2,276
Bahan Baku 1,066 0,0808 1,1468
Jumlah 15,745
Kolom jumlah/baris diperoleh dari kolom jumlah pada Tabel 2.7. Kolom prioritas diperoleh dari kolom prioritas pada Tabel 5. Nilai pada kolom hasil diperoleh dari perkalian antara kolom jumlah/baris dengan kolom prioritas. Nilai pada baris jumlah digunakan untuk mengetahui nilai rasio konsistensi kriteria. Berdasarkan nilai pada tabel 2.7., dapat dihitung nilai berikut:
Dari perhitungan di atas, nilai CR < 0,1 sehingga perhitungan rasio konsistensi dari perhitungan kriteria dapat diterima. Selanjutnya adalah menghitung nilai CR intensitas dari masing-masing kriteria. Perhitungan dilakukan dengan cara yang sama dengan penghitungan kriteria yaitu menghitung perbandingan berpasangan.
Intensitas setiap kriteria memiliki nilai yang identik sehingga perhitungan intensitas hanya dilakukan satu kali. Dengan menggunakan rumus yang sama dengan perhitungan kriteria, maka diperoleh tabel-tabel perhitungan intensitas berikut:
Tabel 2.8. Matriks Nilai Intensitas
INTENSITAS ST T S R SR Jumlah Prioritas
Tabel 2.9. Matriks Penjumlahan Baris Intensitas
Kriteria Jumlah/baris Prioritas Hasil
dari perhitungan intensitas dapat diterima. Setelah diketahui nilai rasio konsistensi intensitasnya, langkah selanjutnya adalah menghitung hasil.
8. Hasil perhitungan
Prioritas hasil perhitungan pada langkah sebelumnya dituangkandalam matrik hasil pada tabel 2.10. berikut:
Tabel 2.10. Matriks Hasil
Kriteria Tenaga Kerja Kapasitas
Investasi Nilai Bahan
Produksi Produksi Baku
ST 0,426 0,4 0,4 0,4 0,4
T 0,262 0,262 0,262 0,262 0,262
S 0,161 0,161 0,161 0,161 0,161
R 0,098 0,098 0,098 0,098 0,098
SR 0,062 0,062 0,062 0,062 0,062
Nilai pada baris ST, T, S, R, SR diperoleh dari kolom prioritas pada Tabel 2.10.
Nilai pada setiap kolom sama. Hal ini disebabkan nilai intensitas pada setiap kriteria adalah identik.
Nilai untuk kriteria tenaga kerja adalah 0,4.
Nilai prioritas untuk kriteria kapasitas produksi adalah 0,205.
Nilai prioritas untuk kriteria investasi adalah 0,1712.
Nilai prioritas untuk nilai produksi adalah 0,143, dan
Nilai prioritas untuk bahan baku adalah 0,0808.
Selanjutnya adalah kriteria-kriteria yang dimiliki pada setiap IKM belum dalam bentuk intensitas, maka dengan proses pengubahan intensitas ini data diubah kedalam bentuk intensitas. Pengubahan tersebut berdasarkan range-range intensitas yang telah di-input-kan oleh user. maka akan dihasilkan data seperti pada Tabel 2.11. berikut:
Tabel 2.11. Matriks IKM yang Dipilih
Nama Tenaga kerja Nilai Kapasitas Nilai
Nilai bb/bp Perusahann (orang) Investasi Produksi Produksi
Lancar snack Tinggi Tinggi Sangat
Tinggi Tinggi
Rendah
Kremes singkong Tinggi Sangat
Sedang Tinggi Tinggi
Tinggi
up2k rizky Kelanting gethuk
Tinggi Sangat
Rendah Sedang sedang
cap kelinci Tinggi
Makmur rahayu
Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi
cap dua wayang
Makmur rahayu
Tinggi Tinggi Rendah Tinggi
Sangat
cap dua wayang tinggi
Spnb Sedang Sedang Rendah Sedang Sedang
Dua putri Tinggi Tinggi Rendah Sangat Sangat
Tinggi Tinggi
Rizky esa Tinggi Tinggi Rendah Sangat Sangat
Tinggi Tinggi
Langkah selanjutnya yaitu melakukan pembobotan nilai IKM berdasarkan data IKM pada Tabel 2.11. Penghitungan nilai IKM dilakukan dengan mengalikan nilai prioritas kriteria dengan nilai intensitas yang bersesuaian. Kemudian hasil dari setiap perkalian tersebut dijumlahkan dan diperoleh total nilai hasil
Langkah selanjutnya yaitu melakukan pembobotan nilai IKM berdasarkan data IKM pada Tabel 2.11. Penghitungan nilai IKM dilakukan dengan mengalikan nilai prioritas kriteria dengan nilai intensitas yang bersesuaian. Kemudian hasil dari setiap perkalian tersebut dijumlahkan dan diperoleh total nilai hasil