• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Minat Belajar Siswa Kelas V SD Negeri Margomulyo 1

Minat adalah ketertarikan terhadap suatu objek yang relatif menetap dan mengandung unsur senang untuk berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan bidang itu.

2. Belajar

Belajar adalah aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, dan sikap.

3. Minat Belajar

Minat belajar adalah perasaan tertarik dan senang terhadap suatu mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran, yang relatif bersifat menetap. Hal ini mencakup mengenai perhatian serta konsentrasi pada mata pelajaran tersebut.

4. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah hasil belajar akademik siswa yang dapat dilihat dari nilai-nilai akademik siswa.

D.Batasan Masalah

Penelitian ini berfokus pada masalah hubungan minat belajar dan prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri Margomulyo 1 Seyegan Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012. Minat belajar siswa memiliki hubungan dengan prestasi belajar, jika minat belajar siswa tinggi maka akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

E.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana minat belajar siswa kelas V SD Negeri Margomulyo 1 Seyegan Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/1012.

2. Untuk mengetahui bagaimana prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri Margomulyo 1 Seyegan Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/1012.

3. Untuk mengetahui apakah ada hubungan yang positif dan signifikan antara minat belajar dengan prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri Margomulyo 1 Seyegan Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012.

4. Untuk mengetahui besar sumbangan minat belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri Margomulyo 1 Seyegan Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian tersebut bermanfaat bagi : 1. Bagi Guru

a. Memberikan masukan dan inspirasi kepada guru dalam mengembangkan minat belajar siswa dalam pembelajaran.

b. Sebagai bahan masukan kepada guru untuk melakukan penelitian 2. Bagi Siswa

Menumbuhkan minat belajar siswa dalam usaha mencapai prestasi belajar yang baik.

3. Bagi Sekolah,

a. Dapat menambah dokumen hasil penelitian Non-Penelitian Tindakan Kelas (Non-PTK).

b. Memberi inspirasi dalam menciptakan suasana yang mampu meningkatkan minat belajar siswa.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat menambah pengetahuan tentang cara penulisan sebuah laporan penelitian khususnya Non-Penelitian Tindakan Kelas (Non-PTK).

7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Minat

1. Pengertian Minat

Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah minat.

Menurut Hurlock (1978:114) minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Anak yang berminat terhadap sebuah kegiatan, baik permaian maupun pekerjaan, akan berusaha keras untuk belajar dibandingkan dengan anak yang kurang berminat atau merasa bosan.

Moh. Surya (2003:67) menyatakan bahwa minat sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu obyek. Prinsip dasarnya ialah bahwa motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya.

Menurut Mardapi (2008:112) minat adalah watak yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek, aktivitas, pengertian, keterampilan untuk tujuan perhatian atau penguasaan.

Winkel (1989:105) menjelaskan minat sebagai kecenderungan subjek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi tertentu atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Perasaan dimaksud adalah perasaan momentan dan intensional. Momentan berarti

bahwa perasaan timbul pada saat tertentu. Intensional berarti bahwa reaksi perasaan diberikan terhadap sesuatu, seseorang atau situasi tertentu. Minat menimbulkan rasa tertarik dan senang, sebagai guru dapat melakukan usaha-usaha antara lain:

a. Membina hubungan akrab dengan siswa.

b. Menyajikan bahan pelajaran yang tidak terlalu di atas daya tangkap siswa, namun juga tidak terlalu jauh di bawahnya.

c. Menggunakan media pengajaran yang sesuai. d. Bervariasi dalam prosedur mengajar.

Maka dapat disimpulkan bahwa minat sebagai kekuatan pendorong seseorang untuk memperhatikan pada situasi atau aktifitas. Minat relatif bersifat menetap dan mengandung unsur senang untuk berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan bidang itu.

2. Pentingnya Minat

Syah (2003:151) menjelaskan secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan gairah yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Namun terlepas dari masalah populer atau tidak, minat seperti yang dipahami dan dipakai oleh orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu.

Nurkancana (1983:225) menyatakan bahwa minat yang timbul dari kebutuhan anak, akan menjadi faktor pendorong bagi anak dalam

melaksanakan usahanya. Jadi dapat dilihat bahwa minat adalah sangat penting dalam pendidikan, sebab merupakan sumber dari usaha. Anak tidak perlu mendapat dorongan dari luar, apabila pekerjaan yang dilakukannya cukup menarik minatnya.

3. Ciri-ciri Minat

Menurut Hurlock (1978:115) minat memiliki ciri-ciri antara lain : a. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental.

Minat di semua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental. Pada waktu pertumbuhan terlambat dan kematangan dicapai, minat menjadi lebih stabil. Anak yang berkembang lebih cepat atau lebih lambat daripada teman sebayanya. Mereka yang lambat matang, sebagaimana dikemukakan terlebih dahulu, menghadapi masalah sosial karena minat.

b. Minat bergantung pada kesiapan belajar.

Anak-anak tidak dapat mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan mental.

c. Minat berlangsung pada kesempatan belajar.

Kesempatan untuk belajar bergantung pada lingkungan dan minat, baik anak-anak maupun dewasa, yang menjadi bagian dari lingkungan anak. Karena lingkungan anak kecil sebagian besar terbatas pada rumah, minat mereka “tumbuh dari rumah”. Dengan bertambah luasnya lingkup sosial,

mereka menjadi tertarik pada minat orang di luar rumah yang mulai mereka kenal.

d. Perkembangan minat mungkin terbatas.

Ketidakmampuan fisik dan mental serta pengalaman sosial yang terbatas akan membatasi minat anak. Anak yang cacat fisik misalnya, tidak mungkin mempunyai minat yang sama pada olah raga seperti teman sebayanya yang perkembangan fisiknya normal.

e. Minat dipengaruhi budaya.

Anak-anak mendapat kesempatan dari orang tua, guru, dan orang dewasa lain untuk belajar mengenai apa saja oleh kelompok budaya mereka yang dianggap benar atau sesuai. Dengan demikian mereka tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang mereka anggap tidak sesuai. Minat anak tergantung pada lingkup budayanya yang mereka tekuni dengan baik.

f. Minat berbobot emosional.

Bobot emosional merupakan aspek afektif dari minat yang menetukan kekuatannya. Bobot emosional yang tidak menyenangkan akan melemahkan minat seorang siswa. Namun sebaliknya, jika bobot emosional seorang siswa menyenangkan maka akan memperkuat minat seorang siswa tersebut.

g. Minat itu egosentris.

Sepanjang masa kanak-kanak, bahwa minat itu bersifat egosentris. Minat akan menuntun mereka ke arah tujuannya. Misalnya, minat anak pada

mata pelajaran PKn, kepandaian mereka di bidang PKn di sekolah menjadi langkah penting untuk menuju kedudukan yang baik dan menguntungkan di bidang organisasi atau politik.

Mardapi (2008:112) menyebutkan beberapa indikator siswa yang berminat antara lain: manfaat belajar, usaha dalam memahami, membaca buku yang berkaitan dengan bidang studi, bertanya di kelas, bertanya kepada teman, bertanya kepada orang lain, mengerjakan soal dengan sunguh-sungguh.

Menurut Baharuddin (2007:178) siswa yang berminat menunjukkan adanya suatu perhatian “attention” yang dapat diartikan sebagai keaktifan jiwa yang dipertinggi. Menurut Baharuddin dalam, pada buku General Psycology mengemukan dua faktor dalam menarik minat sebagai suatu perhatian yakni objective determinant of attention dan subjective determinant of attention.

a. Faktor-faktor yang dapat menentukan perhatian sebagai berikut: 1) Adanya stimulus yang kuat dapat menarik perhatian.

2) Adanya stimulus yang kualitatif dapat menarik perhatian. 3) Adanya stimulus yang besar atau luas dapat menarik perhatian. 4) Adanya stimulus yang berulang-ulang dapat menarik perhatian. b. Faktor-faktor subjektif yang dapat menentukan perhatian yakni:

1) Adanya stimulus yang pembawaannya mengandung daya tarik. 2) Ada arti dan maksud pada sesuatu dapat menimbulkan daya tarik.

4. Cara Menemukan Minat Siswa

Hurlock (1978:117) mengemukakan beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan minat pada anak, antara lain :

a. Pengamatan Kegiatan

Kita dapat memperoleh petunjuk mengenai minat anak dengan mengamati mainan dan benda-benda yang mereka beli, kumpulkan atau digunakan dalam aktifitas yang mengandung unsur spontanitas.

b. Pertanyaan

Pada saat anak bertanya mengenai sesuatu secara terus-menerus, maka minat anak tersebut lebih besar daripada minatnya mengenai hal yang hanya beberapa kali ditanyakan.

c. Pokok Pembicaraan

Sesuatu yang sering dibicarakan anak dengan orang dewasa atau teman sebaya dapat memberikan petunjuk mengenai minat dan seberapa kuat minat anak tersebut.

d. Membaca

Pada saat anak diberi kebebasan dalam memilih buku untuk dibaca atau dibacakan, anak akan memilih topik yang dapat menarik minatnya.

e. Menggambar spontan

Hal yang digambar atau dilukis oleh anak secara spontan dan seberapa sering anak mengulangnya dapat memberikan petunjuk mengenai minat anak terhadap sesuatu.

f. Keinginan

Ketika anak diberi pertanyaan mengenai apa yang mereka inginkan, mereka dengan jujur akan menyebutkan hal-hal yang paling diminati. g. Laporan mengenai apa saja yang diminati

Ketika anak diberi pertanyaan untuk menyebutkan atau menuliskan mengenai tiga benda atau lebih yang paling diminati, anak-anak akan dapat memberikan petunjuk mengenai hal-hal yang dapat memberikan kepuasan pada diri anak tersebut.

5. Faktor yang Mempengaruhi Minat

Menurut Kartawidjaja (1987:183-184) minat didorong oleh motivasi. Motivasi adalah tenaga yang mendorong setiap individu bertindak atau berbuat untuk tujuan tertentu. Minat berdasarkan komponen drive (dorongan) yang mendorongnya, antara lain: dorongan determinan, dorongan untuk mempertahankan hidup.

a. Dorongan keadaan yang ditimbulkan oleh dorongan untuk mempertahankan hidup.

b. Kegiatan mencapai tujuan. Komponen ini dilandasi oleh komponen dorongan mempertahankan dan dorongan keadaan. Jika tujuan dicapai berarti dorongan sebelumnya sudah terpenuhi.

c. Tercapainya tujuan oleh individu.

d. Mengendurnya dorongan karena tujuan telah dicapai, serta keinginan dan kebutuhan telah terpenuhi.

e. Efek mengendurnya dorongan semula karena munculnya dorongan lain yang baru untuk menghendaki pemuasannya.

W. S. Winkel (1983:31) menjelaskan bahwa perasaan senang menimbulkan minat yang diperkuat dengan sikap positif. Yang mana diantara hal-hal itu timbul lebih dahulu, sukar ditentukan secara pasti. Mungkin pada umumnya berlaku urutan psikologis sebagi berikut: perasaan senang sikap positif minat. Perasaan tidak senang menghambat dalam belajar, karena tidak melahirkan sikap positif dan tidak menunjang minat dalam belajar.

Sardiman (1986:95) menjelaskan beberapa cara untuk menciptakan minat, adalah :

a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan untuk belajar.

b. Menghubungkan pengalamannya dengan persoalan atau masalah pada masa lampau

c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berlomba mendapatkan hasil yang lebih baik

d. Menggunakan berbagai macam cara mengajar supaya siswa tidak merasa bosan

Esti (2006:358-369) mengemukakan bahwa agar siswa-siswi mereka tertarik pada materi yang mereka sampaikan, maka yang harus dilakukan guru adalah:

a. Materi pelajaran yang disampaikan hendakya berguna bagi siswa. b. Menumbuhkan keingintahuan siswa.

c. Cara penyampaian pelajaran menarik dan bervariasi. d. Menggunakan permainan dan simulasi.

e. Menggunakan teknik-teknik kerja sama dalam kelompok. Sedangkan untuk mengetahui minat siswa, yaitu dengan cara : a. Menanyakan kepada siswa secara langsung atau melalui angket.

b. Anak yang berminat terhadap pelajaran cenderung memiliki perhatian lebih dan cenderung lebih antusias dibanding anak yang tidak berminat. c. Anak yang berminat terhadap pelajaran sering bertanya sebagai wujud

rasa keingintahuan terhadap materi pelajaran yang diminatinya.

d. Memiliki kreativitas yang diartikan sebagai daya cipta, sebagai kemampuan untuk menciptakan hal yang baru sama sekali atau cukup merupakan gabungan dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

6. Pentingnya Pengukuran Minat

Nurkancana (1983:225-226) menjelaskan beberapa alasan mengapa seorang guru perlu mengadakan pengukuran terhadap minat anak-anak, antara lain sebagai berikut :

a. Untuk meningkatkan minat anak. Setiap guru mempunyai kewajiban untuk meningkatkan minat anak-anak. Minat merupakan komponen yang penting dalam kehidupan pada umumnya dan dalam pendidikan dan pengajaran pada khususnya.

b. Memelihara minat yang baru timbul. Apabila anak menunjukkan minat yang kecil, maka merupakan tugas guru untuk memelihara minat tersebut. Apabila anak telah menunjukkan minatnya, maka guru wajib memelihara minat anak yang baru tumbuh tersebut.

c. Mencegah timbulnya minat terhadap hal-hal yang tidak baik.

Sekolah adalah suatu lembaga yang menyiapkan anak-anak untuk hidup di dalam masyarakat, maka sekolah harus mengembangkan aspek-aspek ideal agar anak-anak menjadi anggota masyarakat yang baik. Dalam keadaan tertentu anak-anak sering menaruh minat terhadap hal-hal yang tidak baik yang terdapat di luar sekolah dan di dalam masyarakat yang jauh dari ideal. Dalam hal keadaan yang demikian sekolah melalui guru-guru hendaknya memberantas minat anak-anak yang tertuju kepada hal-hal yang tidak baik, dan dengan metode yang positif mengalihkan minat anak-anak tersebut kepada hal-hal yang baik.

d. Sebagai persiapan untuk memberikan bimbingan kepada anak tentang lanjutan studi atau pekerjaan yang cocok baginya. Walaupun minat bukan merupakan indikasi yang pasti, tentang sukses tidaknya anak dalam pendidikan yang akan datang atau dalam jabatan, namun interest

merupakan pertimbangan yang cukup berarti apabila dihubungkan dengan data-data yang lain.

7. Indikator Minat Belajar

Berdasarkan teori diatas maka peneliti mengambil kesimpulan mengenai indikator siswa yang mempunyai minat belajar. Berikut ini indikator-indikator minat belajar siswa :

a. Perhatian terhadap pelajaran

Siswa yang mempunyai minat belajar cenderung akan memperhatikan dan menyimak kegiatan pembelajaran. Siswa mempersiapkan diri sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, menyimak setiap penjelasan dari guru, serta mengikuti jam tambahan atau les.

b. Terciptanya konsentrasi pada pelajaran

Siswa yang mempunyai minat belajar akan senantiasa konsentrasi selama mengikuti kegiatan pembelajaran dengan cara menjaga suasana kelas tetap kondusif, tidak ramai atau mengganggu teman, tidak berjalan-jalan pada saat guru menyampaikan materi, tidak mengantuk atau melamun, serta tetap konsentrasi meskipun hampir menjelang waktu istirahat atau pulang sekolah.

c. Respon terhadap pertanyaan dari guru maupun teman

Siswa yang memiliki minat akan menyimak kegiatan pembelajaran sehingga dapat menjawab maupun memberikan pertanyaan yang sesuai

dengan materi yang sedang dibahas, menghargai teman yang sedang menyampaikan pendapat serta memberikan tanggapan.

d. Menyelesaikan tugas yang diberikan guru

Siswa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dengan serius dan penuh rasa tanggung jawab, yaitu dengan memperhatikan petunjuk atau cara mengerjakannya, mengerjakan dengan sungguh-sungguh, dapat bekerjasama dengan teman, dan menyelesaikan dengan tepat waktu. e. Sikap terhadap pelajaran

Minat belajar siswa dapat ditunjukkan dengan sikap siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran seperti membuat catatan pelajaran, mencari sumber belajar yang lain, mempelajari kembali materi pelajaran, mempelajari materi yang akan dibahas keesokan harinya, siap mengikuti ulangan atau ujian, serta menunjukkan sikap senang terhadap pelajaran. f. Rasa suka terhadap objek

Perasaan suka terhadap materi pelajaran merupakan salah satu pendorong munculnya minat belajar pada diri siswa. Siswa selalu semangat mengikuti kegiatan pembelajaran, mengerjakan tugas-tugas dengan senang hati, serta mempunyai rasa ingin tahu untuk memahami materi yang sedang dibahas.

g. Pengaruh suasana pelajaran

Siswa yang memiliki minat belajar akan menjaga dan menciptakan suasana kelas yang kondusif. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan sikap siswa seperti tidak ramai di kelas, tidak menggangu teman pada

saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, menjaga kebersihan kelas, serta menciptakan hubungan sosial yang baik dengan teman-temannya.

h. Keinginan yang besar terhadap suatu hal

Keinginan untuk mendapatkan prestasi dan cita-cita akan mendorong minat belajar siswa. Untuk mencapai tujuannya tersebut maka siswa akan giat belajar, dapat mengatur waktu bermain dan belajar baik di sekolah maupun di rumah, serta selalu siap untuk mengikuti ulangan atau ujian yang akan mereka hadapi.

B.Prestasi Belajar 1. Pengertian Belajar

Menurut Sukmadinata (2009:272), belajar adalah proses internal yang dimanifestasikan dalam perilaku, suatu upaya untuk mengubah perilaku melalui pengalaman.

Menurut Syah (2003:63) belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.

Winkel (1989:36) mengemukakan belajar ialah suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang

menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan nilai-sikap. Perubahan itu relatif konstan dan berbekas.

Slameto (2010:2) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Menurut Hariyanto dan Suyono (2011:9) belajar adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Dalam konteks ini, belajar dari tidak tahu menjadi tahu atau proses memperoleh pengetahuan.

Surya (2003:32) menyatakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Pada prinsipnya, belajar merupakan perubahan dari diri seseorang.

Hamalik (1983:21) berpendapat belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Sedangkan menurut Sukmadinata (2009:272) belajar adalah proses internal yang dimanifestasikan dalam perilaku, suatu upaya untuk mengubah perilaku melalui pengalaman.

Ahmadi, dkk (1990: 121) berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

2. Ciri-ciri Belajar

Menurut Baharudin (2007:15), ciri-ciri belajar antara lain:

a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior).

b. Perubahan tingkah laku relative permanent.

c. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.

d. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman. e. Pengalaman atau latihan dapat memberi penguatan

Menurut Syah (2002: 117-119) setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan spesifik. Diantara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah :

a. Perubahan itu intensional

Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Siswa dapat merasakan perubahan dalam dirinya. Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari

akan adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnyan ia merasakan adanya perubahan dari dalam, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan tertentu, keterampilan dan sebagainya.

b. Perubahan positif dan aktif

Positif berarti baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti proses kematangan (misalnya bayi yang bisa merangkak setelah bisa duduk), tetapi karena usaha siswa itu sendiri.

c. Perubahan efektif dan fungsional

Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya perubahan tersebut membawa pengaruh, makna, dan manfaat bagi siswa. Selain itu perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan.

3. Unsur-unsur Belajar

Hariyanto dan Suyono (2011: 127) menjelaskan unsur-unsur belajar, yaitu: a. Tujuan belajar yaitu membentuk makna. Makna diciptakan para

pembelajar dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi makna dipengerahui oleh pengertian terdahulu yang telah dimiliki siswa.

b. Proses belajar yaitu proses konstruksi makna yang berlangsung terus menerus, setiap kali berhadapan dengan fenomena atau pengalaman baru diadakan rekonstruksi, baik secara kuat atau lemah.

c. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pelajar sebagai hasil interaksi dengan dunia fisik dan lingkungannya.

Berdasarkan teori mengenai belajar, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa belajar adalah aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, dan sikap.

4. Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Arifin (1988:2-3) kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha”. Prestasi belajar semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain: a. Prestasi belajar sebagi indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang

telah dikuasai anak didik.

b. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan (curiosity) dan merupakan kebutuhan umum pada manusia dan termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan.

c. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik (feed back) dalam meningkatkan mutu pendidikan.

d. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.

e. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik.

Gagne dalam Baharudin (2007:18) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan salah satu umpan balik dari proses belajar yang telah

Dokumen terkait