• Tidak ada hasil yang ditemukan

Minat Membaca

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 38-43)

a. Hakikat Minat Membaca

Minat diungkapkan oleh Jahja (2013: 63) sebagai sebuah dorongan yang menyebabkan terikatnya perhatian individu pada objek tertentu seperti pekerjaan, pelajaran, benda, dan orang. Oleh sebab itu, objek kajian minat dapat menjadi sangat luas dan bergantung pada arah dorongan yang dimiliki oleh seseorang. Selain itu, minat berhubungan dengan sesuatu yang menguntungkan dan dapat menimbulkan kepuasan serta motivasi bagi seseorang. Menguntungkan dalam hal ini bukan kecenderungan yang selalu bersifat materi namun juga unsur yang lebih bersifat kepuasan batin yaitu kesenangan pribadi. Bagi sebagian orang, sebuah kegiatan bisa jadi merupakan aktifitas tambahan yang terkesan biasa saja. Namun bagi seseorang yang benar-benar berminat pada hal tersebut, aktifitas yang dimaksud dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

Definisi minat yang lain diungkapkan oleh Hurlock (2011: 114) sebagai kebutuhan yang menimbulkan motivasi dan kesenangan bagi seseorang. Kebutuhan tersebut akan senantiasa terpuaskan apabila dapat terpenuhi yang pada akhirnya muncul perasaan senang. Perasaan senang merupakan hasil yang didapat dari terpenuhinya kebutuhan seseorang akan

sesuatu. Kebutuhan tersebut bukan hanya merujuk pada hal yang bersifat urgensi namun juga keinginan seseorang akan sesuatu hal. Keinginan tersebut didasari oleh motivasi dan dorongan dari dalam diri seseorang.

Basuki dan Hariyanto (2014: 190) mengemukakan minat merupakan keinginan yang terbentuk melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek, aktivitas, konsep dan keterampilan untuk tujuan mendapatkan perhatian atau penguasaan. Pengalaman yang dikemukakan oleh Basuki dan Haryanto minimal didapat dari kegiatan melihat maupun mendengar. Bagi seseorang yang belum merasakan sendiri sebuah aktifitas yang menarik perhatiannya, namun telah melihat atau mendengar sekilas tentang aktifitas tersebut, akan timbul sebuah ketertarikan dari dalam diri. Pada akhirnya, orang tersebut akan mencari cara agar dapat melakukan aktifitas yang menarik perhatiannya itu. Setelah merasakan dan mendapat kesenangan dari aktifitas yang dijalani, maka akan tumbuh sifat kebutuhan yang juga merupakan bagian dari minat.

Beberapa pengertian minat selalu terhubung dengan motivasi yang artinya ialah dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya (Uno, 2007: 3).

Minat diungkapkan secara lebih spesifik lagi yaitu minat untuk membaca menurut Sutarno (2006: 27) ialah kecenderungan hati yang tinggi seseorang kepada suatu sumber bacaan tertentu yang dipengaruhi oleh faktor ketertarikan, kemauan, kegemaran, dan hobi membaca. Faktor-faktor tersebut bersinergi dan saling mengisi tergantung situasi dan kondisi emosional seseorang. Faktor yang telah bersinergi tersebut yang pada akhirnya mengantarkan seseorang untuk bertindak mencari cara agar ketertarikan atau kemauan yang ia miliki dalam membaca dapat terpenuhi. Pada seseorang yang belum mahir membaca, mungkin setelah melihat beraneka ragam bentuk dan warna dari buku bacaan akan membuat orang tersebut merasa tertarik dan menimbulkan suatu usaha untuk dapat mahir membaca. Sebaliknya, pada seseorang yang telah mahir membaca, beraneka informasi dan jenis bacaan tertentu maupun bacaan yang bervariasi membuat seseorang cenderung ingin terus melakukan kegiatan membaca sehingga hal tersebut menjadi suatu kegemaran dan hobi.

Bafadal (2005: 191) menyatakan bahwa minat membaca merupakan kecenderungan atau tendensi seseorang dalam melakukan kegiatan baca yang didorong oleh motivasi. Ketika kecenderungan untuk membaca lebih besar daripada kecenderungan lain yang ada, maka akan timbul suatu minat membaca bagi seseorang. Motivasi yang mempengaruhi seseorang sehingga berminat untuk melakukan kegiatan membaca juga bermacam-macam mulai dari mengisi waktu luang, mencari hiburan, mendapatkan informasi yang bersifat urgensi, maupun memenuhi informasi harian.

Beberapa pendapat ahli di atas disintesiskan menjadi sebuah definisi minat membaca yaitu sebuah dorongan yang dibentuk oleh motivasi, kebutuhan, kesenangan, dan perhatian terhadap aktifitas membaca dalam berbagai tujuan maupun demi memenuhi kepuasan pribadi.

b. Aspek-aspek Minat Membaca

Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai minat membaca, maka dapat teori bahwa minat membaca terdiri dari beberapa aspek. Aspek tersebut tersusun dalam komponen motivasi, kebutuhan, kesenangan, dan perhatian. Aspek-aspek tersebut tersusun dan akan dijabarkan lagi pada uraian berikut:

1) Motivasi

Jahja (2013: 64) mengungkapkan bahwa motivasi muncul oleh dorongan dari dalam diri seseorang untuk menggerakkan tindakan yang akan dilakukan. Dorongan dari dalam untuk berbuat ini juga disebut sebagai motif. Namun motif tidak berdiri dengan sendirinya, namun saling berkaitan dengan alasan yang membuat dorongan tersebut muncul. Alasan tersebut yang pada akhirnya disebut sebagai motivasi.

Sriyanti (2013: 64) menekankan motivasi pada bentuk yang lebih nampak yaitu sebuah dorongan yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan ini cukup kuat untuk menarik seseorang melakukan hal yang sedang menjadi alasan bagi dorongan tersebut. Pada akhirnya, motivasi juga akan dipengaruhi oleh minat dan kebutuhan seseorang. Minat dan kebutuhan orang tersebut akan semakin memperbesar dorongan yang ada bagi seseorang guna mencapai apa yang diinginkan dan dipikirkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disintesiskan bahwa yang dimaksud motivasi ialah dorongan maupun alasan yang membuat seseorang melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuannya.

2) Kebutuhan

Desmita (2011: 59-60) menerangkan bahwa kebutuhan merupakan suatu keperluan asasi yang yang harus dipenuhi untuk mencapai keseimbangan organisme dan muncul ketika seseorang merasa kekurangan serta ketidaksempurnaan yang merusak kesejahteraannya. Kebutuhan itu dapat muncul dalam bentuk yang bermacam-macam, seperti hasrat, keinginan, dorongan, dan sebagainya. Pada akhirnya kebutuhan ini akan membawa seseorang untuk melakukan tindakan guna memenuhi hasrat yang diperlukan. Kebutuhan tersebut akan membuat seseorang merasa terpuaskan apabila dapat terpenuhi. Ketika rasa kebutuhan itu muncul namun tidak terpenuhi maka dalam diri seseorang tersebut akan timbul perasaan kurang.

Hartono dan Soedarmadji (2013: 77) mengungkapkan bahwa kebutuhan merupakan aktualisasi dari apa diperlukan oleh seseorang demi memenuhi hal-hal yang diperlukan demi kelangsungan hidupnya. Kebutuhan nantinya akan terbagi lagi dalam kebutuhan fisiologis, rasa aman, harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut biasanya akan berusaha dipenuhi seseorang sesuai dengan kemampuan dan seberapa keras usaha seseorang memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan terpenuhinya kebutuhan, seseorang akan mengalami rasa berkecukupan atau bahkan rasa puas akibat kebutuhannya terpenuhi secara berlebih.

Berdasarkan paparan di atas dapat disintesiskan bahwa yang dimaksud kebutuhan adalah aktualisasi dari apa yang diperlukan seseorang dan nantinya akan memunculkan suatu usaha demi terpenuhinya keperluan seseorang tersebut serta akan berakibat pada rasa senang dan puas apabila keperluan tersebut dapat terpenuhi. 3) Kesenangan

Pada dasarnya, kesenang timbul dari sebuah perasaan. Perasaan dapat berbentuk berbagai macam mulai dari sedih, senang, enak, indah, marah, dan lain-lain. Kesenangan akan timbul akibat seseorang mengalami perasaan yang menyenangkan

bagi dirinya. Kesenangan menurut Fudyartanta (2011: 332) merupakan gejolak kegembiraan dari dalam diri seseorang yang biasanya ditandai juga dengan perasaan lega dan puas dalam berbagai taraf. Hal ini dapat dengan ditandai ekspresi muka berbinar-binar, tersenyum dan tertawa, menari-nari, bersorak-sorai, dan lain-lain. Kegembiraan tersebut diaplikasikan oleh seseorang secara spontan dan tanpa terencana ketika seseorang merasa terpenuhi kebutuhan yang dimiliki dan merasa puas akan suatu hal. Taraf kesenangan seseorang juga berbeda yang biasanya disesuaikan dengan tingkat seberapa besar hal yang dinginkan tersebut terpenuhi. Bagi seseorang dengan kebutuhan dan keinginan yang kecil, taraf kesenangan ketika meraih hal tersebut akan kecil. Ketika orang tersebut membutuhkan dan menginginkan sesuatu hal yang lebih sukar dan akhirnya terpenuhi, biasanya taraf kesenangan ketika meraih hal tersebut juga lebih besar.

Berdasarkan uraian di atas dapat disintesiskan bahwa yang dimaksud dengan kesenangan ialah kecenderungan rasa puas dan gejolak kegembiraan yang teraktualisasi dalam diri seseorang ketika suatu hal yang diperlukan dapat terpenuhi yang biasanya ditandai dengan ekspresi wajah berbinar-binar, tersenyum, tertawa, dan sebagainya.

4) Perhatian

Perhatian merupakan aspek yang mengarahkan pikiran seseorang pada satu atau beberapa objek tertentu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sriyanti (2013: 110) yang mengatakan bahwa perhatian merupakan pemusatan seluruh aktivitas individu terhadap suatu objek atau sekumpulan objek atau perangsang. Objek atau perangsang ini nantinya akan memberikan daya tarik pada individu untuk mengarahkan pikirannya. Timbal balik antara minat individu pada objek dan ketersediaan objek tersebut dalam pikiran maupun bentuk konkrit itu akan menjadi sebuah bentuk perhatian seseorang kepada suatu objek atau perangsang.

Pendapat lain tentang perhatian diungkapkan oleh Hartono dan Soedarmadji (2013: 81) yang menyatakan bahwa perhatian merupakan pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu aktifitas. Tertuju di sini dimaksudkan pada konsentrasi yang hanya diarahkan pada aktifitas tersebut. Seseorang yang memiliki konsentrasi tinggi pada

suatu hal tentu tidak dapat teralihkan pada hal lain di luar aktifitas tersebut. Sebaliknya, seseorang dengan konsentrasi rendah pada suatu hal mudah teralihkan pikirannya pada hal lain di luar aktifitas tersebut. Hal ini disebabkan oleh tinggi maupun rendahnya kecenderungan kemauan dalam mengerjakan aktifitas itu. Hal ini saling bertimbalbalik dengan motivasi apa yang melandasi seseorang melakukan aktifitas yang ada.

Berdasarkan paparan yang telah diungkapkan di atas dapat disintesiskan bahwa yang dimaksud dengan perhatian ialah pemusatan tenaga psikis oleh seseorang pada suatu objek maupun aktifitas tertentu yang sedang dikerjakan atau dilakoni.

Berdasarkan hasil uraian di atas, variabel minat membaca disintesiskan menjadi sebuah definisi minat membaca yaitu sebuah dorongan yang dibentuk oleh motivasi, kebutuhan, kesenangan, dan perhatian terhadap aktifitas membaca dalam berbagai tujuan maupun demi memenuhi kepuasan pribadi. Paparan mengenai aspek minat di atas memberikan penjelasan bahwa terdapat hubungan antara aspek minat yang satu dan yang lain. Aspek minat tersebut nantinya disesuaikan dengan objek ataupun aktifitas yang menjadi bahan penelitian yaitu membaca. Aspek minat membaca tinggi tentunya memerlukan semua aktualisasi dari beberapa aspek yang telah disebutkan di atas. Sebaliknya, pada aspek minat membaca rendah hanya sedikit dari aspek minat tersebut yang ditemukan pada bahan penelitian yaitu siswa.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 38-43)

Dokumen terkait