• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.3 Uraian Teoritis

2.3.5 Minat

Stiggins (dalam Ikbal, 2011: 12) mendefinisikan minat sebagai dimensi dari

aspek afektif yang banyak berperan dalam kehidupan manusia. Sementara itu, afektif adalah aspek yang mengidentifikasi dimensi-dimensi perasaan dari kesadaran emosi, disposisi dan kehendak yang memengaruhi pikiran dan tindakan seseorang. Dimensi afektif juga mencakup tiga hal penting, seperti: 1) berhubungan dengan perasaan mengenai objek yang berbeda; 2) berbagai perasaan tersebut memiliki arah yang dimulai dari titik netral ke sisi berlawanan, tidak positif dan negative; dan 3) berbagai perasaan yang memiliki perbedaan intensitas dari kuat ke sedang dan menuju lemah.

Sandjaja (dalam Ikbal, 2011: 13) mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari atau mencoba banyak aktivitas dalam bidang tertentu. Selain itu, minat diartikan sebagai sikap positif terhadap aspek lingkungan. Minat juga dipandang sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan perasaan senang. Widyastuti (dalam Ikbal, 2011: 12) menyatakan minat adalah keinginan yang didukung dengan keinginan setelah melihat,

mengamati, membandingkan dan mempertimbangkan dengan kebutuhan serta keinginan.

2.3.5.1. Ciri-Ciri Minat

Para ahli sebelumnya telah memaparkan pendapat mereka tentang minat, sehingga dari beberapa pengertian minat tersebut diketahui bahwa minat memiliki ciri dan karakteristik tertentu. Ciri dan karakteristik tersebut akan menjadi perbedaan antara satu pendapat dengan lainnya, seperti motivasi dan dorongan emosional. Crow (dalam Hurlock, 1994: 215) membagi ciri-ciri minat seperti:

- Perhatian terhadap objek yang diamanit dengan sadar dan spontan, wajar dan tanpa paksaan. Faktor ini diperlihatkan dengan perilaku tidak goyah dikarenakan orang lain selama ia fokus terhadap apa yang diminatinya tersebut;

- Senang terhadap objek yang menarik perhatian, dimana hal ini ditunjukkan dengan kepuasan setelah mendapatkan suatu hal yang diinginkannya;

- Konsisten terhadap objek yang diminati selama objek tersebut efektif baginya;

- Mencari objek yang diminati, dimana faktor ini ditunjukkan dengan tidak putus asa untuk mengikuti model yang diinginkan; dan

- Pengalaman yang didapat selama perkembangan individu bersifaat bawaan. Selain itu, menjadi sebab akibat dari pengalaman masa lalu, dimana individu tertarik pada suatu yang ia inginkan karena pengalaman menguntungkan bagi dirinya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa minat diperoleh dari adanya konsistensi terhadap objek secara sendiri, spontan, wajar dan tanpa paksaan.

Konsistensi tersebut diperoleh dari pengalaman selama perkembangan individu dan bukan bersifat bawaan.

2.3.5.2. Faktor yang Memengaruhi Minat

Ada banyak faktor yang dianggap mampu memengaruhi minat, baik dari individu maupun lingkungan masyarakat yaitu:

1. Faktor dorongan dari dalam (internal), yaitu berhubungan dengan dorongan fisik, motif, mempertahankan diri dari kelaparan, ketakutan, kesakitan dan lain sebagainya. Sedangkan, faktor motif sosial adalah faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan berbagai aktivitas demi pemenuhan kebutuhan sosial, seperti hunting foto demi memenuhi tugas pameran dan lain sebagainya;

2. Faktor emosional atau perasaan, dimana faktor ini merupakan pemacu minat individu. Apabila faktor ini menghasilkan emosi atau perasaan senang, maka perasaan ini akan membangkitkan dan memperkuat minat yang sudah ada.

Kedua penjelasan tentang faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa minat bersifat pribadi. Perkembangan minat dimulai sejak masa anak-anak yang tertanam di dalam diri manusia ataupun lingkungan masyarakat.

2.3.5.3. Cara Mengukur Minat

Wood dan Marquis (dalam Susilowati, 2010: 33) menyebut bahwa penemuan suatu objek oleh seseorang yang dapat terhubung, maka ia menaruh minat terhadap temuannya tersebut. Artinya, minat dapat menimbulkan kesanggupan atau pengalaman yang berhubungan dengan objek seperti individu

yang minat dalam membaca buku karena ia dibebankan tugas mengulas buku.

Sehingga, hal tersebut mengharuskannya untuk membaca buku dan menelaahnya.

Sedangkan, Super dan Crities mengatakan bahwa ada empat cara mengenal bakat dan digolongkan menjadi empat bagian pula, seperti:

1. Menanyakan atau menuliskan kegiatan-kegiatan yang paling digemari, baik bersifat tugas maupun bukan. Meskipun cara ini mengandung kelemahan, tetapi keguanaannya begitu besar dalam dunia pendidikan dan sangat bermanfaat apabila adanya ketepatan penggunaan yang disertai dengan pendekatan yang baik kepada subjek bersangkutan;

2. Mengobservasi secara langsung atau mengetahui hobi serta banyak aktivitas lainnya yang dilakukan subjek (manifest interest);

3. Penyimpulan tes secara objektif (tested interest), dimana nilai yang tinggi biasanya menunjukkan minat yang tinggi pula terhadap suatu hal.

Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah meskipun hal tersebut sering terjadi akan tetapi tidak selalu bersifat demikan; dan

4. Penggunaan alat terstandarisir (inventoried interest), dimana minat dinyatakan kepada subjek yang bersangkutan. Kemudian, subjek tersebut merasa senang atau tidak terhadap sejumlah aktivitas atau sesuatu yang ia nyatakan.

2.3.5.4. Aspek-Aspek Minat

Terdapat dua aspek di dalam minat yaitu kognitif dan afektif (Hurlock, 2004: 116) dengan penejelasan sebagai berikut:

a. Aspek Kognitif, hal ini didasarkan pada perkembangan konsep anak tentang bidang yang berkaitan dengan minat, seperti minat anak terhadap sekolah.

Seorang anak yang beranggapan bahwa sekolah sebagai tempat di mana mereka dapat belajar tentang hal baru dan menimbulkan keingintahuan.

Mengukur aspek kognitif dapat dilihat melalui kebutuhan akan informasi dan rasa ingin tahu.

b. Aspek Afektif, dimana aspek ini berkembang dari pengalaman pribadi yang berasal dari sikap orang yang penting seperti orangtua, guru dan teman sebaya terhadap aktivitas yang sejalan dengan minat tersebut.

- Pengalaman dari Sikap Orangtua, yaitu sikap orangtua yang memberikan perhatian dan dukungan keinginan anak dalam suatu hal.

Semakin besar perhatian dan dukungan orangtua, maka akan semakin senang dan besar pula minat anak. Sebaliknya, semakin kurang perhatian dan dukungan orangtua maka minat pun akan semakin berkurang.

- Pengalaman dari Sikap Guru, dimana pendidik merupakan orangtua anak ketika mereka berada di sekolah. Selain itu, guru juga menjadi faktor penentu besarnya minat siswa akan suatu hal.

- Pengalaman Teman Sebaya, sebagai seorang anak mereka akan selalu mencari lingkungan yang sesuai dengan dirinya. Artinya, anak akan berhubungan dengan teman sebayanya. Hal tersebut tentu akan menjadi pengalaman yang akan memengaruhi pola pikir anak.