• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paten Minuman Serbuk Instan Berenergi Berbahan Baku Tepung Pisang dan Proses

3. VALUASI PATEN LIPI

3.5 Paten Minuman Serbuk Instan Berenergi Berbahan Baku Tepung Pisang dan Proses

a. Deskripsi Teknologi

Teknologi ini berupa produk pangan berupa suatu minuman serbuk instan berenergi yang berbahan baku tepung pisang matang dengan bahan pengisi serpihan pisang yang dapat dikonsumsi sebagai minuman siap saji yang berenergi. Minuman serbuk instan berenergi dalam teknologi ini berbahan baku tepung pisang matang dengan komposisi sebagai berikut: tepung pisang matang sebanyak 5-15 persen berat, coklat bubuk sebanyak 1,5 persen berat, susu full cream sebanyak 15 persen berat, krimer sebanyak 12,5 persen berat, garam sebanyak 0,5 persen berat, vitamin sebanyak 0,5 persen berat, gula pasir sebanyak 40 persen berat, dan serpihan pisang sebanyak 15-25 persen berat. Proses pembuatan minuman serbuk instan berenergi tersebut terdiri dari tahapan: pembuatan tepung pisang matang, pembuatan serpihan pisang, penimbangan bahan sesuai dengan formulasi, pencampuran bahan A, pengadukan bahan A, pembagian bahan A sesuai formulasi, penambahan bahan B, pengadukan campuran, dan pengemasan produk. Produk menurut invensi ini memiliki keunggulan, di antaranya praktis dan mengandung energi sebesar 3,85 kcal/g yang memenuhi persyaratan makanan berenergi tinggi.

b. Gambaran Umum Industri

Pasar minuman berenergi di Indonesia mengalami penurunan 2 persen dari tahun 2015. MARS Indonesia melalui report business “Studi Pemasaran Produk Minuman 2016”, diketahui bahwa tiga tahun terakhir pasar minuman berenergi sangat lesu. Dilihat dari jumlah konsumen, konsumsi minuman berenergi mengalami penurunan jumlah konsumen di semua segmen pasar, kecuali segmen kelas bawah (SES D/E).

Di tahun 2013, pangsa pasar minuman berenergi berhasil di pimpin oleh merek Kuku Bima Energi. Tahun 2014 posisi market leader mampu di rebut oleh merek Kratingdaeng dengan market share sebesar 32,8 persen. Sayangnya, Kuku Bima Energi dan Kratingdaeng hanya mampu mempertahankan posisi sebagai market leader masing-masing hanya satu tahun saja, pada tahun 2015 merek Extra Joss

43

sukses memimpin pasar dengan market share paling besar diantara merek lainnya. MARS Indonesia, menyebutkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, ekspor minuman berenergi (jenis cair) Indonesia secara tren terus mengalami peningkatan, dengan laju pertumbuhan rata-rata 7,4 persen per tahun.

Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Walaupun demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997 adalah ke Cina. Jumlah produksi pisang secara nasional sebanyak 4.177.155 ton pada tahun 2013. Di Indonesia terdapat daerah penghasil Pisang terbesar yaitu : Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Nusa Tengara Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Timur dan Bali. (Kajian Business Plan Tepung Pisang di Kabupaten Sentra Pisang Jawa Barat 2006)

Bagi komoditas pisang sendiri, adanya diversifikasi produk olahan berbentuk tepung pisang merupakan peluang berkembangnya industri hilir pisang seperti makanan bayi, biskuit rasa pisang, aneka snack dan bakery yang akan meningkatkan nilai tambahpisang. Pada saat ini industri tepung pisang di Indonesia masih belum berkembang dibandingkan industri tepung yang lainnya dan kebutuhan tepung pisang masih harus dipenuhi dari impor. Pengembangan industri tepung pisang diharapkan dapat memenuhi pasaran domestik untuk mengurangi impor tepung pisang bahkan dapat diekspor dan tepung pisang dapat digunakan untuk mensubstitusi tepung terigu.

c. Analisa Porter’s 5 forces

Dari hasil investigasi diketahui bahwa kondisi pasar untuk minuman energi pada dasarnya cukup jenuh oleh produk dari perusahaan besar, walaupun invensi ini memiliki keunggulan yang cukup kompetitif dari bahan baku dan rasa, cukup sulit untuk masuk dan merebut pasar. Secara garis besar kondisi pasar, resiko dan bisnis kurang mendukung (cenderung negatif) bagi invensi minuman berenergi berbahan

44

dasar tepung pisang untuk masuk (figur 15). Oleh karena itu besaran fee royalti dipatok kecil (2%).

Figur 16. Analisis Porter’s Five Forces minuman berenergi berbahan dasar tepung pisang

d. Perhitungan DCF

Perhitungan DCF untuk minuman serbuk instan berenergi berbahan baku tepung pisang dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan :

 Produk dijual dengan kemasan sachet 30 gram dan kemasan pack isi 10, hal ini

dilakukan dengan melihat pesaing produk ini, yakni minuman sereal energen.

 Kapasitas produksi mempertimbangkan kemampuan perusahaan pemula dan

45

Perhitungan Rugi Laba Tahunan

Dari perhitungan ini diketahui prosentase EBIT terhadap pendapatan rata-rata sebesar 23,12%. TAHUN 0 1 2 3 4 ... 19 Kapasitas 50% 75% 100% 100% 100% 100% Kapasitas produksi 120,000 180,000 240,000 240,000 240,000 240,000 Pendapatan Pendapatan dr hrg jual 3,000 360,000,000 540,000,000 720,000,000 720,000,000 720,000,000 720,000,000 360,000,000 540,000,000 720,000,000 720,000,000 720,000,000 720,000,000 Biaya Produksi Bahan Baku 80,616,000 120,924,000 161,232,000 161,232,000 161,232,000 161,232,000 Utilitas 8,520,000 12,780,000 17,040,000 17,040,000 17,040,000 17,040,000 Tenaga Kerja 65,650,000 98,475,000 131,300,000 131,300,000 131,300,000 131,300,000 Packaging 180,000 270,000 360,000 360,000 360,000 360,000 Maintenance 1,782,720 2,674,080 3,565,440 3,565,440 3,565,440 3,565,440 Technical Supervision 6,500,000 9,750,000 13,000,000 13,000,000 13,000,000 13,000,000 Asuransi 4,256,300 6,384,450 8,512,600 8,512,600 8,512,600 8,512,600 Laboratorium 3,030,000 4,545,000 6,060,000 6,060,000 6,060,000 6,060,000 Payroll overhead 3,030,000 4,545,000 6,060,000 6,060,000 6,060,000 6,060,000 Overhead 1,782,720 2,674,080 3,565,440 3,565,440 3,565,440 3,565,440 175,347,740 263,021,610 350,695,480 350,695,480 350,695,480 350,695,480 Biaya Usaha GSA 3.00% 10,800,000 16,200,000 21,600,000 21,600,000 21,600,000 21,600,000 Royalty 2.00% 7,200,000 10,800,000 14,400,000 14,400,000 14,400,000 14,400,000 262,800,000

Sewa Lahan dan Kantor - - - - - -Pengiriman 600 72,000,000 108,000,000 144,000,000 144,000,000 144,000,000 144,000,000 90,000,000 135,000,000 180,000,000 180,000,000 180,000,000 180,000,000 Depresiasi Peralatan Utama 20 13,150,000 13,150,000 13,150,000 13,150,000 13,150,000 13,150,000 Peralatan Bantu - - - - - -Utilitas - - - - - -Bangunan - - - - - - -13,150,000 13,150,000 13,150,000 13,150,000 13,150,000 13,150,000

TOTAL BIAYA 278,497,740 411,171,610 543,845,480 543,845,480 543,845,480 543,845,480 #REF!

652,614,576.00 EBIT 81,502,260 128,828,390 176,154,520 176,154,520 176,154,520 176,154,520 #REF! EBIT (%) 22.64 23.86 24.47 24.47 24.47 24.47 23.12 Biaya Lainnya Bunga KI 15,322,680 14,301,168 13,279,656 12,258,144 11,236,632 -Bunga KMK - - - - - -15,322,680 14,301,168 13,279,656 12,258,144 11,236,632 -EBT 66,179,580 114,527,222 162,874,864 163,896,376 164,917,888 176,154,520 Bagi hasil 10.0% 6,617,958 11,452,722 16,287,486 16,389,638 16,491,789 17,615,452 Pajak 1.0% 661,796 1,145,272 1,628,749 1,638,964 1,649,179 1,761,545 Net Profit 58,899,826 101,929,228 144,958,629 145,867,775 146,776,920 156,777,523

TOTAL BIAYA USAHA

TOTAL DEPRESIASI TOTAL BIAYA PRODUKSI

TOTAL PENERIMAAN

46

Discounted Cash Flow

Dari perhitungan ini diketahui nilai NPV sebesar Rp. 571.658.625 Resume

c. Perhitungan Nilai Teknologi

Perhitungan Lisensi

Rule of 25% dari prosentase rata-rata EBIT terhadap pendapatan: 25% x 23,12% = 5,78%

5,78% x NPV : 5,78% x Rp. 571.658.625= Rp. 33.041.868 Pembulatan = Rp. 33.000.000

TAHUN 0 1 2 3 4 ... 19

Peneri ma a n Penjua l a n - 360,000,000 540,000,000 720,000,000 720,000,000 720,000,000 720,000,000

Moda l Inves tas i (170,252,000)

Moda l Kerja -Total modal (170,252,000) - - - - - -Biaya-Biaya - Bi a ya Produks i - 175,347,740 263,021,610 350,695,480 350,695,480 350,695,480 350,695,480 - Bi a ya Us a ha - 90,000,000 135,000,000 180,000,000 180,000,000 180,000,000 180,000,000 - Bi a ya Keua nga n - 33,290,771 37,104,024 40,917,276 39,997,915 39,078,554 17,615,452 Total biaya 298,638,511 435,125,634 571,612,756 570,693,395 569,774,034 548,310,932 Net Cashflow (170,252,000) 61,361,489 104,874,366 148,387,244 149,306,605 150,225,966 171,689,068

Net Cashflow Accumulated (170,252,000) (108,890,511) (4,016,145) 144,371,099 293,677,704 443,903,670 2,642,113,209

IRR 61.84%

NPV 15% 571,658,625

INVESTASI SDM

Peralatan Utama Rp 263,000,000 Jumlah Tenaga Kerja 6 orang

Utilitas Rp 40,000,000 Biaya bulanan Rp 10,100,000 Shipping equipment Rp 3,000,000 Biaya tahunan Rp 131,300,000 Tanah dan Bangunan Rp 500,000,000

Biaya pra-operasional Rp 45,260,000 851,260,000 Rp

PRODUKSI PER BULAN KAPASITAS PRODUKSI

Bahan Baku Rp 13,436,000 Utilitas Rp 1,420,000

Labor Rp 10,100,000 perhari 1000 sachet/hari

Packing Rp 5,059,167 perbulan 20000 sachet/bulan

Maintc., As., Lab, o.head, dll Rp 297,120 pertahun 240000 sachet/tahun 30,312,287

Rp

BREAK EVEN POINT ANALYSIS PENDAPATAN

BEP 1.14 Harga Pokok Produksi Rp 1,666.44 /papan

ROI 7% Harga jual Rp 3,000.00 /papan

Pendapatan Rp 60,000,000 /bulan

PAY BACK PERIOD IRR & NPV

Total investasi modal kerja Rp 851,260,000 IRR 57.38%

47

Perhitungan Akumulasi Royalti

Analisis menunjukkan kondisi pasar, persaingan dan resiko bisnis ini negatif atau kurang kondusif sehingga nilai royalti dapat dipatok pada 2% dari penjualan. Secara akumulatif perkiraan nilai royalti teknologi ini selama 19 tahun adalah Rp. 262.800.000

Total Nilai Paten

Total nilai paten minuman berenergi berbahan dasar tepung pisang adalah : Nilai fee lisensi + Nilai perkiraan royalti akumulatif :

Rp. 33.000.000 + Rp. 262.800.000= Rp. 295.800.000

3.6 Paten Biskuit Untuk Penyandang Autis