BAB II KAJIAN TEORI
C. Pendekatan-Pendekatan Konseling
2. Model Pelaksanaan Konseling
Pelaksanaan wawancara konseling tidak dapat lepas dari fase konseling. Fase-fase yang digunakan di hampir semua pendekatan konseling memiliki kesamaan urutan. Yang membedakan adalah pada fase ketiga dan keempat, yakni fase penggalian latar belakang masalah (analisis kasus) dan penyelesaian masalah. Pada kedua fase ini, masing-masing pendekatan memiliki metode atau cara sendiri-sendiri sesuai dengan kasus atau masalah yang dihadapi oleh konseli (Winkel dan Sri Hastuti, 2004:889-897). Dan yang akan lebih banyak dijabarkan pada bagian ini adalah fase 3 dan 4.
a. Model Trait-Factor Counseling
Tujuan pelaksanaan konseling dengan pendekatan TF adalah untuk membantu konseli dalam memecahkan dan mengatasi permasalahannya yang berkaitan dengan suatu pilihan, baik pilihan program studi atau pilihan jabatan/pekerjaan. Disini konselor dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas memberikan informasi yang berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh konseli (program studi atau dunia kerja).
Pada fase analisis kasus, konselor bersama konseli menggali bersama data yang berkaitan dengan latar belakang masalah yang dihadapi konseli. Data yang digali mencakup 3 unsur pokok:
1) Data tentang konseli, seperti kemampuan intelektual/taraf inteligensi; kemampuan belajar; bakat khusus; arah minat; cita-cita; sifat kepribadian yang menyolok; harapan-harapan; nilai-nilai yang dikejar; keterampilan motorik yang menyolok; perasaan yang utama; dan data lain yang relevan.
2) Data tentang keluarga, seperti harapan dan keluarga; kewajiban terhadap keluarga; kemampuan ekonomi keluarga; posisi konseli dalam keluarga; dan data lain yang relevan.
3) Data tentang lingkungan hidup, seperti prospek masa depan pekerjan yang didambakan dan kualifikasi yang dituntut; ciri-ciri khas dari program studi yang didambakan dan kualifikasi yang dituntut; dan data lain yang relevan. Untuk konseli yang belum memiliki alternatif, berarti bersama konselor mencari alternatif pilihan.
Pada fase penyelesaian masalah, konselor mengajak konseli untuk berdiskusi tentang alternatif-alternatif pilihan yang telah ditentukan pada fase 3. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1) Konselor bersama konseli meninjau pro-kontra atau untung-rugi dari masing-masing alternatif pilihan yang telah dipilih pada fase 3. Tujuan dari proses ini adalah untuk memperjelas alternatif pilihan dan semakin mendekatkan pada pilihan yang paling tepat.
2) Setelah meninjau pro-kontra dari masing-masing alternatif, konseli dapat menjawab YA/TIDAK dari pertanyaan “bisakah/mungkinkah?” dan “inginkah?” dari masing-masing alternatif tersebut.
3) Apabila ternyata masih ada lebih dari satu alternatif pilihan. Maka, konselor mengajak konseli untuk membuat urutan prioritas dari masing-masing alternatif pilihan. Tujuan dari penyusunan prioritas ini adalah agar konseli semakin berusaha untuk dapat diterima pada pilihannya.
b. Model Konseling Behavioristik
Tujuan layanan konseling dengan pendekatan konseling behavioristik ini adalah untuk membantu konseli atau siswa mengatasi masalah yang berkaitan
dengan perilakunya yang kurang baik atau salah suai saat ini yang disebabkan oleh pengalaman masa lalunya, pikirannya yang irrasional terhadap perilakunya tersebut dan perasaan negatifnya terhadap perilaku tersebut.
Pada fase analisis masalah, konselor menggali latar belakang masalah yang dihadapi konseli dengan mengikuti sistematika yang sudah baku untuk pendekatan ini. Sistematika tersebut menggunakan paradigma A-B-C yang diterapkan terhadap analisis pada masa sekarang dan masa lampau (=sejumlah tahun). Sebagai catatan, dalam proses penggalian masalah ini sebaiknya meninjau B terlebih dahulu, yang meliputi perilaku (R) serta perasaan dan pikiran (r). Berikut disajikan proses analisis kasus berdasarkan keterangan di atas dan urutan yang dimaksudkan.
1) Konselor bersama konseli meninjau B pada masa sekarang yang meliputi R dan r. Kemudian di lihat S (pengalaman/kejadian yang menjadi stimulus terhadap B). Setelah itu konselor meminta konseli untuk mengungkapkan C dari B, yang biasanya berupa perasaan dan pikiran yang positif atau efek yang positif pada diri konseli.
2) Konselor bersama konseli melaksanakan proses yang sama seperti pada (1) di atas, tetapi fokusnya pada masa lampau. Jadi, di sini digali pengalaman atau kejadian yang sama atau mirip yang dialami konseli saat ini.
3) Berdasarkan dua proses di atas, dapat dikatakan bahwa konseli telah melakukan proses belajar dan terbentuk suatu pola A, B, C.
Pada fase penyelesaian masalah, konselor bersama konseli mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi konseli. Pertamakali yang dilakukan adalah mengubah terlebih dahulu r-kognitif yang salah/keliru/kurang tepat/kurang sesuai, karena menjadi landasan untuk mengubah R. Selanjutnya prosedur yang ditempuh adalah sebagai berikut:
1) Konselor menjelaskan proses belajar yang telah berlangsung di masa lampau, sampai terbentuk pola A-B-C.
2) Konselor dapat menanyakan pengalaman positif di masa lampau (A), baik yang sama atau mirip dengan yang dialami saat ini, tetapi tidak menimbulkan r yang negatif melainkan r yang positif. Penggalian ini bertujuan untuk mengimbangi pengalaman yang negatif dan menyadarkan konseli karena mungkin konseli sudah membuat generalisasi yang negatif atas pengalaman tersebut. Proses ini menjadi titik tolak bagi perubahan r-kognitif yang negatif.
3) Konselor mengajak konseli untuk mengembangkan r-kognitif yang baru (r-kognitif yang positif), yang berisikan tanggapan kognitif yang lain terhadap A yang sudah terjadi dan kiranya masih akan terjadi. Ini akan menjadi landasan untuk R yang baru. Meskipun demikian, diharapkan r-kognitif yang lama sudah mulai melemah, karena r-r-kognitif tersebut tidak begitu saja langsung hilang.
4) Konselor membantu konseli merencanakan bentuk tingkah laku yang baru (R), yang lebih bersifat positif, dan akan dilaksanakan konseli sesudah proses konseling. Konseli dituntut merencanakan dan melaksanakan sesuatu yang konkret dan realistis, karena hal ini akan membantu melestarikan perubahan dalam r.
c. Model Konseling Rational Emotive Therapy
Tujuan dari layanan konseling dengan pendekatan ini adalah untuk membantu klien/konseli yang menghadapi masalah yang berkaitan dengan emosi, kognisi dan perilaku. Dengan kata lain, dalam pendekatan RET konselor berusaha untuk memperbaiki dan mengubah sikap, cara berpikir, persepsi, keyakinan serta
pandangan konseli yang irrasional menjadi rasional, sehingga ia dapat mengembangkan dirinya dan mencapai realisasi diri yang optimal.
Pada pendekatan ini, konselor membantu konseli dengan mendasarkan pada sistematika atau urutan yang telah baku yakni A-B-C-D-E. Pada fase 3 konselor bersama konseli menggali latar belakang masalah yang sedang dihadapi oleh konseli. Dengan berpatokan pada sistematika yang baku tersebut, maka yang dilakukan dalam fase 3 ini adalah:
1) Konselor bersama konseli menggali kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman yang baru-baru ini terjadi (3-4 minggu terakhir) (A).
2) Konselor menggali B atau tanggapan kognitif (r-kognitif) yang irrasional pada konseli terhadap pengalaman atau kejadian tersebut di atas (A). 3) Setelah menggali kejadian (A) dan tanggapan kognitif (B) yang irrasional
konseli, konselor dan konseli melihat akibat (C) dari tanggapan kognitif tersebut, baik dalam alam perasaan (r-afektif) yang tidak wajar, maupun dalam perilaku nyata (tindakan yang salah suai=R).
Setelah konselor bersama konseli menggali A-B-C atas masalah yang dihadapi konseli, selanjutnya konselor dan konseli bersama-sama mencari jalan keluar atas masalah tersebut dengan menggunakan sistematika D-E. Proses penyelesaian masalah tersebut adalah:
1) Pada tahap ini (D), konselor berusaha membantu konseli untuk mengubah pikiran konseli yang irrasional dengan menjelaskan alasan konseli mengalami masalah yakni B-irrasional (yang perlu diubah) terhadap A, menantang konseli mengenai B-irrasional dengan pertanyaan yang mengharuskan konseli berefleksi, dan memberikan alasan dan contoh untuk mengajak konseli agar berpikir lebih rasional.
2) Pada tahap ini (E), konseli diharapkan sudah mulai menampakkan cara berpikir yang lebih rasional, berperasaan yang wajar dan mulai merencanakan perilaku yang tepat dan sesuai.
d. Model Konseling Eklektik (Interview for Adjustment/IA)
Tujuan dari layanan konseling dengan pendekatan ini adalah untuk membantu konseli melakukan perubahan sikap dan tindakan penyesuaian diri terhadap situasi yang tidak dapat diubah dan harus diterima seadanya (a change case).
Dalam pendekatan ini, sistematika yang diterapkan konselor dalam membantu konseli sifatnya tidak baku. Hal ini berbeda dengan pendekatan lain yang sistematikanya bersifat baku atau harus dilaksanakan menurut urutan yang benar. Konselor dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan lain dengan menyesuaikan kondisi yang dihadapi atau data yang dibutuhkan untuk membantu konseli menyelesaikan masalahnya.
Pada fase penggalian latar belakang masalah konseli, konselor bersama konseli berdiskusi tentang:
1) Asal usul masalah.
2) Unsur-unsur yang pokok dan tidak pokok. 3) Siapa-siapa saja yang terlibat.
4) Perasaan dan pikiran konseli.
5) Lain-lain segi/aspek yang dianggap perlu.
Setelah menggali latar belakang masalah konseli dan mendapatkan data yang dibutuhkan, konselor bersama konseli bersama-sama mendiskusikan beberapa hal untuk menyelesaikan masalah konseli. Maka, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1) Konselor menjelaskan kepada konseli sebab konseli menghadapi masalah ini, dengan catatan kalau memang diperlukan.
2) Konselor membantu konseli untuk lebih berpikir kritis, dewasa dan konstruktif. Maka, konseli diharapkan dapat membuat perubahan dalam pandangan dan sikap yang diperlukan agar dapat menghadapi situasi yang ada secara konstruktif, meskipun pandangan dan sikap ini tidak dapat diubah begitu saja. Isi pandangan dan sikap yang baru ini tergantung pada inti kasus pada fase 3.
3) Kemudian konseli diminta untuk membuat merencanakan tindakan yang akan diambil setelah keluar dari ruang konseling, termasuk memilih beberapa alternatif pelaksanaan kalau ternyata kasus menuntut demikian (ada pengembangan dari “change case” menjadi “choice case”)
e. Model Konseling dengan Pendekatan Eklektik (Decision Making Interview)
Tujuan dari layanan konseling dengan pendekatan ini adalah untuk membantu konseli untuk menyelesaikan masalahnya yang berkaitan dengan pemilihan suatu alternatif (choice case).
Pada fase analisis masalah, sistematika yang digunakan sama dengan fase 3 pada model konseling dengan pendekatan eklektik untuk IA. Yang membedakan adalah pada pendekatan ini ada alternatif-alternatif pilihan yang harus dipilih oleh konseli. Jadi, pada umumnya untuk kasus-kasus yang ditangani dengan pendekatan ini sudah jelas isi dari alternatif-alternatif yang tersedia, dimana salah satunya harus dipilih, dan jumlah alternatif yang ada. Tetapi, apabila isi dan jumlah alternatif belum jelas, maka konselor bersama konseli melakukan inventarisasi alternatif untuk memperjelas dua hal tersebut.
Pada fase penyelesaian masalah, dengan mendasarkan pada ciri khasnya dari suatu “choice case”, maka konselor mengajak konseli untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan alternatif-alternatif pilihan yang tersedia dan membantu konseli untuk membuat pilihan atas alternatif-alternatif tersebut. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah:
1) Mendiskusikan norma/patokan yang akan diterapkan bila tinjauan ini ternyata relevan.
2) Konselor mengajak konseli untuk melihat pro dan kontra dari masing-masing alternatif yang tersedia. Sebaiknya dalam proses ini konseli dilibatkan agar konseli juga ikut berpikir.
3) Setelah meninjau norma/patokan dan melihat pro dan kontra dari masing-masing alternatif, selanjutnya konselor dapat mengajukan pertanyaan kepada konseli untuk mengarahkan pada pemilihan alternatif yang paling tepat. Pertanyaan tersebut berupa “Benarkah/Mungkinkah?” dan “Inginkah?”. Pertanyaan tersebut harus dijawab dengan “Ya-Tidak”. Untuk alternatif yang paling masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan dijawab dengan “Ya”. Ada kemungkinan terdapat lebih dari satu alternatif yang cenderung dipilih oleh konseli tetapi tidak dapat dipilih kedua-duanya, maka dapat dibuat suatu kompromi dengan mengambil sesuatu dari masing-masing alternatif tersebut. Pada dasarnya hendaklah dilihat baik-baik inti masalah dan isi alternatif-alternatif.
4) Setelah dibuat pilihan secara tegas, barangkali perlu mengambil suatu tindakan penyesuaian diri. (ada pengembangan dari “choice case” menjadi “change case”)
D. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja
Tugas-tugas perkembangan remaja merupakan tugas-tugas yang muncul dan harus dipenuhi oleh individu/remaja, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas selanjutnya. Tujuan dari adanya tugas-tugas perkembangan remaja ini adalah sebagai petunjuk bagi remaja untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat bagi mereka; berguna untuk memotivasi remaja untuk melaksanakan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial seusia mereka; dan memberitahukan kepada mereka apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka kalau sampai pada tingkat perkembangan selanjutnya (Ridwan, 1998:143).
Havighurst (dalam Hurlock 1997:10) mengungkapkan tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh seorang remaja. Tugas-tugas perkembangan tersebut adalah:
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita.
2. Mencapai peran sosial sebagai pria dan wanita
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif 4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab 5. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa
lainnya.
6. Mempersiapkan karier ekonomi
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
8. Memperoleh peringkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku-mengembangkan ideologi.
Sedangkan Winkel dan Sri Hastuti (2004, 142 dan 148) memisahkan tugas-tugas perkembangan siswa SMP dan SMA. Perbedaan ini salah satunya dikarenakan rentang umur di masing-masing jenjang berbeda. Dimana rentang umur siswa SMP sekitar 12-15 tahun, sedangkan siswa SMA sekitar 16-19 tahun. Tugas perkembangan siswa SMP adalah:
1. Menerima peranannya sebagai pria atau wanita yang berkembang.
2. Memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari orangtua dan kenalan dewasa yang lain.
3. Menambah bekal pengetahuan dan pemahaman sebagai dasar untuk pendidikan lebih lanjut.
4. Mengembangkan kata hati berdasarkan penghayatan pribadi terhadap nilai-nilai kehidupan (values).
Tugas perkembangan siswa SMA adalah:
1. Mengembangkan rasa tanggung jawab, sehingga dapat melepaskan diri dari ikatan emosional yang kekanak-kanakan dan membuktikan diri pantas diberi kebebasan yang sesuai bagi umurnya.
2. Mempersiapkan diri untuk memasuki corak kehidupan orang dewasa. 3. memantapkan diri dalam memainkan peranan sebagai pria dan wanita
(sexual roles)
4. Merencanakan masa depannya di bidang studi dan pekerjaan, sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang dianut dan keadaan masyarakat yang nyata.
Dalam buku panduan pelayanan Bimbingan dan Konseling di SMA/K, Madrasah Aliyah dan sederajat, yang diterbitkan oleh Pusat Kurikulum tahun 2003, dikemukakan pula tugas-tugas perkembangan siswa SMA/K, MA dan sederajat, yaitu:
1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat.
4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan program kurikulum dan persiapan karir atau melanjutkan pendidikan tinggi, serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
5. Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
7. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
8. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual, serta apresiasi seni.
9. Mencapai kematangan dalam sistem etika, nilai kehidupan dan moral. Tugas-tugas perkembangan tersebut dituntut untuk dipenuhi oleh remaja, baik yang diusahakan sendiri maupun atas bantuan orang lain. Hal ini dengan tujuan agar remaja tersebut dapat memasuki tahap perkembangan selanjutnya secara lebih baik. Apabila tugas-tugas tersebut tidak terpenuhi, maka remaja tersebut akan menghadapi masalah atau kesulitan yang dapat mengganggu aktifitasnya, perkembangan pribadinya, proses persiapan kariernya, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, maupun dalam belajar di sekolah. Di sekolah, pemenuhan kebutuhan remaja akan tugas-tugas perkembangannya diusahakan dengan memberikan pendidikan, pengajaran atau pelatihan dan pembimbingan.