KAJIAN PUSTAKA
2.1.11 Model Pembelajaran Artikulasi
pembelajaran kooperatif merupakan istilah yang mengacu pada banyak cara untuk melakukan dan mengatur kelas. Pembelajaran kooperatif berguna untuk mengatur siswa di kelas agar aktif dalam proses pembelajaran.
Dari beberapa uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam sebuah kelompok. Model pembelajaran kooperatif terdiri atas berbagai tipe, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Artikulasi.
2.1.11 Model Pembelajaran Artikulasi
Huda (2014: 268) menyebutkan bahwa “model Artikulasi merupakan model pembelajaran yang prosesnya berlangsung layaknya pesan berantai”. Artinya, materi yang diberikan oleh guru harus disampaikan kepada teman satu kelompok. dalam model Artikulasi ini siswa dituntut untuk siap menyampaikan dan menerima pesan. Selain itu model Artikulasi juga menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran.
Menurut Huda (2014: 269) manfaat dari penerapan model Artikulasi yaitu siswa menjadi lebih mandiri, siswa dapat bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar, penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu, adanya interaksi antar siswa dalam kelompok kecil, masing -masing siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara atau tampil di depan kelas menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Menurut Sohimin (2014: 27) langkah-langkah penerapan model Artikulasi yaitu:
(1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. (2) Guru menyampaikan materi pelajaran.
24 (3) Guru membentuk siswa menjadi kelompok berpasangan, setiap kelompok
terdiri dari dua siswa.
(4) Guru menugaskan salah satu siswa dari sebuah pasangan untuk menceritakan materi yang baru disampaikan oleh guru kepada teman satu kelompoknya, dan pasangannya mendengarkan sambil membuat catatan kecil, kemudian keduanya berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya (5) Guru menugaskan siswa secara bergiliran/diacak untuk menyampaikan
hasil wawancaranya dengan teman pasangannya di depan teman-temannya.
(6) Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami.
Kelebihan model Artikulasi yaitu: (1) Semua siswa terlibat dalam pembelajaran; (2) Melatih kesiapan siswa; (3) Melatih daya serap atau pemahaman siswa dari orang lain; (4) Cocok untuk tugas sederhana; (5)Siswa menjadi lebih mandiri; (6) Meningkatkan partisipasi anak; (7) Lebih mudah dalam membentuk kelompok.
Kelemahan model Artikulasi yaitu: (1) Hanya untuk mata pelajaran tertentu saja; (2) Waktu yang dibutuhkan banyak; (3) Materi yang didapat sedikit; (4) Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor; (5) Lebih sedikit ide yang muncul.
Solusi untuk mengatasi kelemahan pada model Artikulasi yaitu: (1) Menerapkan model Artikulasi pada mata pelajaran dan materi yang sedikit agar waktu yang digunakan tidak terlalu banyak serta semua materi dapat tersampaikan; (2) Guru harus memancing siswa dengan pertanyaan agar siswa
25 dapat menyampaikan ide-ide yang dimilikinya.
1.2.12 Penerapan Model Artikulasi pada Materi Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia.
Untuk menerapkan model Artikulasi pada pembelajaran materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diperlukan langkah-langkah berikut:
(1) Guru menjelaskan materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
(2) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil yang
beranggotakan 2 orang untuk menjelaskan kembali materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang telah diberikan oleh guru.
(3) Guru memberi waktu 10-15 menit kepada siswa untuk menjelaskan materi
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada teman satu kelompok dan membuat ringkasan.
(4) Guru menunjuk siswa secara acak untuk mempresentasikan hasil
wawancara bersama teman satu kelompoknya.
(5) Guru menjelaskan kembali materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
yang sekiranya belum dipahami oleh siswa.
(6) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
2.2 Kajian Empiris
Beberapa hasil penelitian yang mendukung pada penelitian ini di antaranya adalah:
1) Ni Luh Eni Agustini, A. A. Gede Agung, dan Ni Ketut Suarni dari Universitas Pendidikan Ganesha yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Artikulasi Berbantuan Media Kartu Gambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak TK” pada tahun 2014. Hasil
26 penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I diperoleh rata-rata hasil sebesar 9,45. Sedangkan pada siklus II diperoleh rata-rata hasil sebesar 13,7. Dari hasil tersebut dapat diketahui terjadinya peningkatan hasil belajar siswa. 2) Hasmiati Pese, Hendrik Arung Lamba, dan Muhammad Ali dari Universitas
Tadulako yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Artikulasi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Kelas VIIIB SMP Negeri 2 Marawola” pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I diperoleh ketuntasan belajar klasikal sebesar 73,68% dan daya serap klasikal sebesar 72,98%. Sedangkan pada siklus II diperoleh ketuntasan belajar klasikal sebesar 89,47% dan daya serap klasikal sebesar 85,26%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar mengalami peningkatan.
3) Adi Ika Rachmawan dan Nur Kholis dari Universitas Negeri Surabaya yang berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Artikulasi dengan Tipe Explicit Instruction Pada Standar Kompetensi Menggunakan Hasil Pengukuran Listrik di SMK Negeri 2 Surabaya” pada tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata -rata hasil belajar siswa menggunakan model Artikulasi sebesar 82,00. Sedangkan siswa yang dibelajarkan menggunakan model explicit instruction mendapat nilai rata-rata sebesar 72,89. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model Artikulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
4) Waris Leluhur pada Jurnal Ilmiah Progressif yang berjudul “Pengaruh Persepsi Pembelajaran Model Artikulasi dengan Media LCD Proyektor dan
27 Tingkat Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VIII SMP Negeri 1 Licin Semester 2 Tahun Pelajaran 2011-2012” pada tahun 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Artikulasi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan koefisien determinasi berganda (R square) sebesar 0.656, yang berarti kontribusi teori dalam penelitian ini adalah sebesar 65.6% dan sisanya 34.4% dipengaruhi oleh hal-hal lain yang tidak diteliti, artinya bahwa prestasi belajar siswa 65.6% dipengaruhi secara positif oleh metode Artikulasi dan media LCD Proyektor. Sedangkan yang 34.4% dipengaruhi oleh hal-hal diluar variabel bebas tersebut, seperti latar belakang sosial siswa, kondisi keluarga, kemampu an serta sikap guru, dan sebagainya.
5) Evia Anjar Susanti, Wardi Syafmen, dan Yelli Ramalisa pada jurnal Edumatica yang berjudul “Studi Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe The Learning Celll dan Tipe Artikulasi di Kelas VII SMPN 7 MA. Jambi” pada tahun 2011. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model Artikulasi lebih baik yaitu 66,67, sedangkan rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu 63,41. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Artikulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
6) Fistisia Rahmadini pada Jurnal Pendidikan Ekonomi yang berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Artikulasi Dibandingkan dengan Pembelajaran Kooperatif Learning Tipe NHT (Numbered Head Together) dalam Mata Pelajaran Ekonomi Siswa
28 Kelas X SMA Negeri 2 Bukittinggi” pada tahun 2013. Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar yang menggunakan model Artikulasi dan yang menggunakan model NHT. Pada saat menggunakan model Artikulasi rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu sebesar 80,75, sedangkan saat menggunakan model NHT rata-rata hasil belajar yang dapat diperoleh siswa hanya sebesar 76,62. Jadi, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Artikulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa lebih baik dibanding model NHT.
7) Rohmah Nuriati , Bambang Priyo Darminto, dan Mita Hapsari Jannah pada Jurnal Pendidikan Matematika yang berjudul “Eksperimentasi Model Pembelajaran Artikulasi dengan Mengunakan Alat Peraga pada Materi Bangun Ruang” pada tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang diperoleh saat menggunakan model Artikulasi sebesar 95, sedangkan saat menggunakan model konvensional sebesar 91. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa model Artikulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibanding model konvensional.
8) Afrian Junianto pada Jurnal FKIP yang berjudul “Peningkatan Aktivitas dan hasil belajar IPS melalui Model Artikulasi dan Media Power Point” pada tahun 2014. Pada penelitian ini terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar yaitu pada siklus I sebesar 83,38 dan pada siklus II sebesar 85,49. Selain hasil belajar terdapat peningkatan pula pada aktivitas belajar siswa yaitu pada siklus I sebesar 69% dan pada siklus II sebesar 82,5%. Dapat disimpulkan bahwa model Artikulasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
29 performansi guru, serta belum menerapan model Artikulasi pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Peningkatan Pembelajaran Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melalui Model Artikulasi pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 2 Somawangi Banjarnegara.
2.3 Kerangka Berpikir
Pembelajaran IPS pada umumnya masih berpusat pada guru dan belum menggunakan model pembelajaran Kooperatif yang inovatif, sehingga siswa cenderung pasif dan mudah bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan siswa tidak dapat mampu mengembangkan potensinya, sehingga hasil belajar siswa kurang dan tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal.
Berdasarkan kondisi tersebut perlu adanya perubahan agar pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan, sehingga diharapkan aktivitas dan hasil belajar meningkat. Agar pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan, maka guru perlu menerapkan model pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan sebagai inovasi peningkatan kualitas pembelajaran yaitu model Artikulasi. Melalui model pembelajaran Artikulasi, siswa dapat bekerja sama dengan teman satu kelompoknya dan saling membantu dalam memahami materi, sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dalam model Artikulasi siswa dikelompokan bersama teman satu bangku. Kemudian siswa menjelaskan
30 kembali materi yang telah dijelaskan oleh guru kepada teman satu kelompoknya secara bergantian, sehingga pencapaian hasil belajar diharapkan dapat meningkat.
Berikut ini adalah gambaran secara umum kerangka berpikir:
2.4 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir, dapat diajukan hipotesis sebagai berikut: “melalui penerapan model Artikulasi pada mata pelajaran IPS kelas V materi proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat meningkatkan performansi guru, aktivitas, dan hasil belajar siswa.
Kondisi awal Guru menggunakan model konvensional Tindakan Guru melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model artikulasi. Kondisi akhir Performansi guru meningkat. Aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat.
31